Beranda / Rumah Tangga / Karma Suami Mendua / 142. Memaafkan Rebecca

Share

142. Memaafkan Rebecca

Penulis: Alya Feliz
last update Tanggal publikasi: 2026-07-28 16:54:23

Sudah satu menit berlalu sejak wanita yang kini terlihat menyedihkan itu duduk di hadapan Kamila. Tidak ada lagi jejak kesombongan di wajah wanita itu. Hanya ada rasa lelah dan kesakitan.

"Putra sudah lama meninggal. Sekitar dua tahun yang lalu."

Rebecca mendongak dengan mata membelalak. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan kulitnya begitu pucat.

"Ap-apa?"

Kamila mengangguk. "Dia...gagal bertahan."

Tidak mungkin dia menceritakan betapa menderitanya mantan suaminya gara-gara tidak kunjung men
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Karma Suami Mendua    142. Memaafkan Rebecca

    Sudah satu menit berlalu sejak wanita yang kini terlihat menyedihkan itu duduk di hadapan Kamila. Tidak ada lagi jejak kesombongan di wajah wanita itu. Hanya ada rasa lelah dan kesakitan. "Putra sudah lama meninggal. Sekitar dua tahun yang lalu." Rebecca mendongak dengan mata membelalak. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan kulitnya begitu pucat. "Ap-apa?" Kamila mengangguk. "Dia...gagal bertahan." Tidak mungkin dia menceritakan betapa menderitanya mantan suaminya gara-gara tidak kunjung mendapatkan maafnya. Kedengarannya begitu angkuh dan jumawa. Tiba-tiba, terdengar tawa kecil dari Rebecca, membuat Kamila mengernyit. Apa ada yang lucu dari perkataannya? "Dia memang benar-benar mencintai kamu." Kamila mendengus, lalu menggeleng. "Kamu salah. Dia mencintai Delina. Mereka bahkan punya 2 anak di belakangku." Rebecca mungkin terlihat mengerikan dengan kondisinya sekarang. Rambut sangat tipis, kulitnya keriput, dan tubuhnya yang dulu kurus terlihat semakin kurus saja. Seperti mayat

  • Karma Suami Mendua    141. Mulai dari 0

    "Mas..." Harsa yang sejak tadi menatap kosong pada taman rumah sakit, mengerjap ketika istrinya menyentuh lengannya dengan lembut. Dia menoleh dan melihat kedua mata jernih istrinya. Bulu mata yang panjang dan lentik alami membuat mata itu semakin indah. "Semua orang pernah melakukan dosa. Entah itu besar atau kecil. Termasuk kita. Nggak ada salahnya memaafkan. Kematian Ayah Umar adalah qodarullah. Akhir jalan hidupnya sudah ditetapkan sejak sebelum beliau dilahirkan. Jadi, meskipun Bu Sulastri tidak memfitnahnya, dia akan tetap meninggal di hari itu." Harsa menelan ludah. Kalau dipikir-pikir lagi, memang benar. Seharusnya dia mendengarkan nasehat kakeknya puluhan tahun yang lalu. Tapi, dia memilih untuk mengabaikannya dan terus memelihara dendamnya pada Sulastri dan Delina. "Tapi gara-gara kehadiran dia, ayahku difitnah." Masih ada rasa tidak terima di hati Harsa. Nama baik ayahnya tercoreng gara-gara fitnah dari perempuan keji. "Pasti ada alasan kenapa Allah menakdirkan ayahmu

  • Karma Suami Mendua    140. Gagal Periksa

    Takdir manusia memang sudah ditentukan sebelum mereka lahir ke dunia. Tapi, bukan berarti mereka hanya diam saja dan berpangku tangan. Harus ada usaha yang dilakukan, sebagai bentuk ikhtiar. Yang terpenting sudah berusaha semaksimal mungkin. Urusan hasil, hanya Allah yang berhak menentukan. Pagi itu, Kamila terus menyuntikkan semangat ke dalam hati dan pikirannya. Dia terus men-sugesti dirinya sendiri, bahwa apa yang dialami oleh suaminya adalah bagian dari ujian dalam pernikahan mereka. Sejak awal, dia meminta pada Allah untuk tidak diberikan cobaan dalam bentuk orang ketiga. Jadi, seharusnya dia siap jika akhirnya mendapatkan cobaan dalam bentuk lain. Meskipun ada sedikit rasa kecewa karena suaminya susah untuk memiliki anak. "Mama orang baik. Jadi, mama harus memaafkan semuanya." Sentuhan di pipi Kamila membuat lamunannya buyar. Dia menatap Fiona yang kini berdiri di hadapannya dengan mengenakan seragam sekolah. Keningnya berkerut tak mengerti. "Luka itu nggak akan bisa sembuh

  • Karma Suami Mendua    139. Menghapus Kesalahpahaman

    Kamila membuka pintu dengan wajah terlihat marah. Begitu melihat Harsa, mata wanita itu langsung membelalak lebar."Mas?"Harsa berdiri terpaku dengan senyum tipis di bibirnya. Baru dia tinggal sehari, wajah istrinya terlihat sedikit kusut dan kedua matanya terlihat lelah. Meskipun istrinya masih tetap cantik seperti biasanya. Apakah wanita itu tidak bisa tidur juga seperti dirinya? Bukannya dia merasa bangga karena istrinya mengkhawatirkannya. Dia justru merasa sangat bersalah.Selama sesaat, mereka hanya saling menatap. Harsa bisa merasakan kerinduan yang mendalam di sorot mata lembut itu, karena dia juga merasakan hal yang sama. Detik berikutnya, Kamila menubruknya dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat sambil menangis tersedu-sedu."Kamu ke mana aja? Kenapa tiba-tiba menjauh dan nggak pulang? Aku ada salah apa? Apa ada sikapku yang membuatmu marah?" Harsa membalas pelukan istrinya dengan hati yang terasa perih. Dia benar-benar pria yang tidak tahu diri! Sudah mendapatkan istri

  • Karma Suami Mendua    138. Berani Speak Up

    Dada Kamila naik turun menahan amarah. Dia menarik nafas panjang berkali-kali untuk menahan diri agar tidak meledak. Bagaimanapun juga, Bu Karlina adalah ibu kandungnya. "Suamimu mana? Biasanya jam segini udah di rumah. Ini aku bawakan buah salak. Dikasih sama tetangga. Ketimbang nggak dimakan, aku kasih ke kamu aja." Bu Karlina menyelonong masuk dan langsung menuju ke ruang makan. "Kamu masak banyak banget? Ada acara apa?" Kamila menatap ibunya yang terlihat tidak merasa bersalah atau mungkin menyembunyikan sesuatu. Tabiat ibunya yang tidak dia sukai. "Bu, kemarin lusa waktu Mas Harsa ke rumah, ibu ngomong apa saja?" Tidak ada gunanya lagi menahan diri. Dia ingin tahu suaminya kenapa sehingga tidak pulang. "Kapan Harsa ke rumah? Aku nggak menemui dia sama sekali." Bu Karlina menghentikan kegiatannya melihat-lihat lauk di atas meja makan setelah meletakkan sekantong plastik buah salak. Wanita itu mengernyit, terlihat sekali kebingungan. Oke, Kamila harus mengubah pertanyaannya.

  • Karma Suami Mendua    137. Masih Belum Ketemu

    Kamila berdiri di samping mobilnya dengan perasaan campur aduk. Dia menatap rumah sang mertua dengan jantung berdebar. Antara antusias sekaligus takut. Antusias karena berharap Harsa berada di sana, takut karena suaminya kemungkinan besar sudah pasti tidak berada di sana. Harus ke mana lagi dia mencari keberadaan suaminya? Dia butuh penjelasan kenapa tiba-tiba suaminya menjauh dan tidak pulang. Ketakutan akan diselingkuhi seperti ketika menikah dengan Putra dulu, terus menghantuinya hingga terbawa sampai mimpi. Bahkan ucapan-ucapan Fiona yang biasanya membuatnya percaya, kini tidak lagi bisa menenangkannya. "Papa setia. Beda sama papa Putra. Mama tunggu aja. Nanti juga dia pulang sendiri." Begitu kata Fiona tadi pagi sebelum berangkat sekolah. Tidak! Kamila tidak mau berpangku tangan dan berpasrah diri menunggu nasib seperti dulu. Dia sangat mencintai Harsa, dan dia harus tahu bagaimana nasib pernikahan mereka selanjutnya. Kalaupun Harsa memilih perempuan lain, dia akan mundur de

  • Karma Suami Mendua    6. Pura-Pura Tenang

    Hal yang tidak Putra tahu adalah, wanita itu bisa menjadi racun yang mematikan jika dia sengaja disakiti. Dia bisa lebih licik dari iblis dan lebih jahat dari para kriminal. Selama tujuh tahun menikah, kesetiaan Kamila dibalas dengan pengkhianatan. Rasa sakit yang tak terkira harus dibayar. Tidak

  • Karma Suami Mendua    5. Konfrontasi

    Kamila menatap layar televisi yang gelap di hadapannya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di dadanya teramat besar, sampai-sampai dia merasa seperti ditusuk oleh benda tajam. Sakit, tapi tidak tampak."Apa kurangku sampai kamu selingkuh?" Mati-matian Kamila meredakan emosi di dadanya, tapi tetap

  • Karma Suami Mendua    4. Kepergok

    "Udah dibilangin kok. Biar aku coba telepon dia dulu," ucap Harsa sambil menurunkan Fiona yang terbangun."Nggak usah lah, Mas. Biar kami pulang naik travel. Mas lanjutin aja kerjaan di sini." Entah kenapa Kamila benar-benar enggan, meskipun dia penasaran setengah mati.Dia bimbang, apakah harus me

  • Karma Suami Mendua    3. Kejutan yang Gagal

    Hujan turun di sepanjang perjalanan saat mobil Harsa memasuki jalan tol. Kamila duduk di belakang, sedangkan Fiona duduk di depan. Anak itu selalu bersemangat jika sudah bertemu dengan Harsa. Berbeda sekali saat bertemu dengan ayahnya.Banyak orang yang mengira bahwa Fiona adalah anak Harsa, karena

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status