LOGIN"Astaghfirullahaladzim!" Pak Muhajir kaget bukan main ketika masuk ke kamar Delina. Setelah diberitahu oleh Muslimah mengenai kedatangan Darwati, dia bergegas datang ke rumah wanita itu. "Dia menjadi separah ini setelah nekat menggoda Harsa, Kang. Padahal, saya sudah berkali-kali menasehati dia. Tobat, Nduk. Tobat! Saya sudah capek mengurusi dia," ujar Darwati sebelum menangis. Pak Muhajir membacakan doa-doa untuk Delina, sementara gadis itu sudah seperti mayat hidup. Kondisinya mirip seperti Sulastri dan Putra. Hanya saja, ada dua qorin anak-anak yang menggelayuti payudara dan kemaluan Delina. Mereka seperti menyedot habis energi perempuan itu. Kondisi itu di luar kemampuannya. Apa yang menimpa Delina adalah hasil dari perbuatannya sendiri semasa hidup di dunia, dan dua jin qorin itu tidak bisa dia usir. "Suruh dia untuk bertaubat, Dar. Dosanya terlalu banyak, terutama pada kedua anaknya yang meninggal sebelum dilahirkan."Darwati mendekati Delina yang menatap kosong langit-lang
Waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi, namun panas matahari terasa seperti sudah jam 12 siang. Darwati menghentikan sepeda motornya di depan rumah Pak Muhajir, yang sayangnya ramai dengan ibu-ibu yang tengah mempritil bawang merah milik tetangga di sebelahnya. Mereka semua mendongak, dan Darwati seperti sedang berdiri di hadapan banyak binatang buas yang siap menerjang kapan saja. Jantungnya berdegup kencang. Kedua tangannya bahkan gemetar karena pandangan mereka terlihat menghakimi. Siapa yang tidak tahu Sulastri? Siapa yang tidak tahu Delina? Orang jahat pasti akan terkenal. Dan sayang sekali, Darwati harus kecipratan meskipun hanya menampung mereka. "Mau apa kamu ke sini? Kapan hari ponakanmu yang datang ke sini untuk mengganggu Kang Muhajir. Sekarang mau apa lagi?" Seruan lantang perempuan seumurannya yang langsung memasang wajah judes itu membuat Darwati berkeringat dingin. "Aku...aku cuma mau ngomong. Kang Muhajir ada?" tanya Darwati dengan suara gemetar. Dia tidak menyangka
"Jadi, gimana kasus Dewi? Anaknya Kardi kok nggak ada yang bener." Bu Aminah terlihat sekali jengkel. "Dari dulu aku nggak suka sama Kardi. Kelihatan sekali mesumnya. Dulu waktu Kang Umar masih hidup dan kerja di pabrik, si Kardi itu suka menggoda ibu. Eh, malah Yu Lastri yang kepincut, padahal sudah menikah sama Kang Muhajir. Ya panteslah kalau dua anaknya menuruni sifatnya." Kamila menghela nafas panjang. Dia sibuk menyuwir-nyuwir jamur tiram setelah sebelumnya menyuwir daging ayam yang sudah digoreng. "Ditangkap polisi, Bu. Kebetulan teman saya punya teman di kepolisian Malang sana, jadinya cepet." "Kamu dan Fiona nggak apa-apa, kan?" "Fiona hampir digorok, Nek. Untung aku bawa spray yang aku isi air sabun sama merica. Kata papa Harsa, ke mana-mana harus bawa itu," sahut Fiona. "Astaghfirullah! Benar-benar nekat sekali si Dewi. Padahal, ibunya sekarang hidupnya ngenes karena dikucilkan oleh tetangga. Kok ya sekarang berulah lagi," ujar Bu Aminah sambil mengelus dada. "Ibu say
Kamila membelai rambut suaminya yang tertidur pulas sambil memeluknya. Setelah insiden di pantai kemarin, mereka tidak langsung pulang. Selain karena mental Kamila dan Fiona tidak baik-baik saja, Harsa benar-benar membutuhkan tidur yang cukup. Mereka akhirnya baru pulang jam 4 sore dan perjalanan ke Surabaya terpaksa ditunda.Tidak mungkin mereka langsung ke Surabaya setelah apa yang terjadi."Makasih udah selalu ada buat aku," bisiknya sebelum mencium kening suaminya.Menikah dengan Harsa membuatnya tidak lagi merasa sendirian. Perasaan yang baru kali ini dia rasakan. Lelaki itu membuatnya merasa aman. Kedatangan Harsa kemarin ke pantai ketika kejadian, membuktikan bahwa pria itu bahkan rela bangun dari tidur nyenyaknya demi dirinya dan Fiona. Hal yang tidak akan mungkin dilakukan oleh Putra.Kamila mendengkus. Putra tidak mau tidurnya diganggu, dan pria itu akan selalu marah jika Kamila membangunkannya hanya untuk menolongnya."Ck, dasar nakal," gumamnya ketika sedikit kesusahan mel
Kebencian dan kecemburuan memang membutakan mata hati manusia. Dewi tidak berpikir dengan jernih ketika menyerang Kamila dan Fiona di Pantai Teluk Asmara. Dia hanya ingin Kamila mati. Dia sangat membenci wanita itu hingga ingin Kamila lenyap dari dunia ini. Kebencian yang mengerikan. Gara-gara perbuatannya, sekarang dia harus ditahan di lapas perempuan Malang dan menunggu proses penyidikan Polres Malang. Tidak ada lagi kebebasan. Tidak ada lagi udara segar yang biasa dihirupnya setiap pagi. Hidupnya sekarang hancur karena ulahnya sendiri. "Kasus apa?" Dewi menoleh. Seorang narapidana yang berwajah masih muda, mengamati Dewi dengan kening berkerut. "Percobaan pembunuhan." "Siapa? Suami? Pelakor? Ibu mertua?" Dewi menggeleng. Dia menunduk menatap lantai. Ternyata, tidak enak berada di penjara. Harus berbagi sel tahanan dengan banyak narapida lain dan dia tidak bisa bebas merebahkan diri. "Sahabat." Narapida lain yang mendengar, langsung menaikkan alis. "Kok bisa? Sahabatmu jah
Iblis akan terus menyesatkan manusia dengan berbagai cara, agar anak-cucu Adam menjadi temannya di neraka kelak. Cara paling mudah adalah dengan menyusupkan sifat iri dengki di hati manusia yang lemah imannya. Orang-orang yang tidak pandai bersyukur adalah target yang paling mudah didekati oleh iblis. Kalau Putra langsung tumbang karena nafsu syahwat, maka Dewi tumbang karena iri dengki pada kehidupan orang lain. Sejak kecil, Dewi hidup dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Bapaknya adalah penjual tahu keliling, sedangkan ibunya adalah buruh tani. Sebenarnya, orang-orang di sekitarnya tidak mempermasalahkan hal itu. Toh orang-orang kampung lainnya juga sama saja. Hidup dengan ekonomi pas-pasan. Tapi suatu hari ketika Dewi sudah kelas 3 SMP, dia mendengar selentingan mengenai bapaknya yang memiliki anak lain selain dirinya. Seorang gadis cantik yang usianya lebih tua darinya, yang sudah SMA. Dewi sejatinya adalah seorang gadis yang pendiam. Tapi, sifat pendiamnya bukanlah pendiam
Pepatah bilang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Bahkan meskipun kedua orangtuanya baik, pasti ada satu benih yang buruk dalam keluarga yang diturunkan oleh nenek moyangnya terdahulu. Kamila menatap uap yang keluar dari teh panas yang baru saja disajikan oleh Bu Muslimah, adik dari Pak Muhajir.
Kamila percaya bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Seperti Dewi yang menemui Putra tengah malam ketika pria itu ingin membunuhnya, yang ternyata mereka pernah menjadi teman tidur, begitu juga dengan Delina. Entah kenapa takdir seperti ingin terus mengujinya dengan masa lalu. Delina datang ke w
"Masih ada yang belum dimengerti?" Faisal menggeleng. "Tidak ada, Bu." "Bagus." Kamila langsung berdiri. Akhirnya selesai juga. Beruntung Faisal gampang diajari. Ternyata pemuda itu dulunya jurusan IPS, jadi paham tentang dasar-dasar akuntansi dan cara membuat laporan keuangan sederhana. "Ya su
"Mas! Aku ke sini karena laper. Pengen ngajak kamu makan siang bareng," protes Kamila dengan nafas terengah-engah sambil memandang langit-langit ruang kantor Harsa. Niat hati ingin mengajak suami makan siang di restoran bersama Fiona, malah gagal karena dia akhirnya terbaring di atas meja kerja su







