Share

126. Lepas Kendali

Penulis: Alya Feliz
last update Tanggal publikasi: 2026-07-05 19:20:28

"Astaghfirullahaladzim!" Pak Muhajir kaget bukan main ketika masuk ke kamar Delina.

Setelah diberitahu oleh Muslimah mengenai kedatangan Darwati, dia bergegas datang ke rumah wanita itu.

"Dia menjadi separah ini setelah nekat menggoda Harsa, Kang. Padahal, saya sudah berkali-kali menasehati dia. Tobat, Nduk. Tobat! Saya sudah capek mengurusi dia," ujar Darwati sebelum menangis.

Pak Muhajir membacakan doa-doa untuk Delina, sementara gadis itu sudah seperti mayat hidup. Kondisinya mirip sepert
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Karma Suami Mendua    137. Masih Belum Ketemu

    Kamila berdiri di samping mobilnya dengan perasaan campur aduk. Dia menatap rumah sang mertua dengan jantung berdebar. Antara antusias sekaligus takut. Antusias karena berharap Harsa berada di sana, takut karena suaminya kemungkinan besar sudah pasti tidak berada di sana. Harus ke mana lagi dia mencari keberadaan suaminya? Dia butuh penjelasan kenapa tiba-tiba suaminya menjauh dan tidak pulang. Ketakutan akan diselingkuhi seperti ketika menikah dengan Putra dulu, terus menghantuinya hingga terbawa sampai mimpi. Bahkan ucapan-ucapan Fiona yang biasanya membuatnya percaya, kini tidak lagi bisa menenangkannya. "Papa setia. Beda sama papa Putra. Mama tunggu aja. Nanti juga dia pulang sendiri." Begitu kata Fiona tadi pagi sebelum berangkat sekolah. Tidak! Kamila tidak mau berpangku tangan dan berpasrah diri menunggu nasib seperti dulu. Dia sangat mencintai Harsa, dan dia harus tahu bagaimana nasib pernikahan mereka selanjutnya. Kalaupun Harsa memilih perempuan lain, dia akan mundur de

  • Karma Suami Mendua    136. Harsa Tidak Pulang

    Sudah jam 7 malam, tapi Harsa belum juga pulang. Kamila sebenarnya sudah merasakan perubahan sikap suaminya sejak kemarin, tapi dia tidak menyangka akan separah ini. Setelah sarapan yang terasa dingin dan hambar, Harsa langsung pamit pergi dengan alasan toko akan menerima barang dari supplier. Tapi begitu Kamila datang ke toko setelah dia selesai live produk Unilion, suaminya tidak ada di toko sama sekali. "Dari aku datang, dia sama sekali nggak ke sini, Mbak. Mungkin dia ada dinas di Surabaya? Biasanya kan memang suka mendadak," jawab Anton tadi siang. Kamila tidak mengerti kenapa suaminya tiba-tiba menjauh dan sikapnya sedikit dingin. Apa ada yang salah dengan dirinya? Apa gara-gara dia datang bulan tadi pagi, jadi suaminya merasa kecewa? Tapi biasanya juga tidak masalah, kan? "Mama nggak makan?" Pertanyaan Fiona mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. "Mama nungguin papamu pulang, Nak. Kok belum pulang juga ya? Di Surabaya juga nggak ada," jawabnya dengan hati resah bukan

  • Karma Suami Mendua    135. Gagal Lagi

    Seharian ini, Harsa terlihat murung dan tidak fokus. Kamila tentu saja heran. Padahal, tadi pagi masih baik-baik saja. Mereka masih begitu mesra dan bercanda tawa di atas ranjang. Fiona sampai biasa saja karena sudah terbiasa dengan tingkah mereka. "Mas, kamu kenapa? Setelah pulang dari rumah ibuku, kok kamu jadi sering diam?" tanya Kamila sambil menyodorkan secangkir kopi di atas meja. Kamila curiga penyebab kemurungan suaminya adalah perkataan pedas ibunya. Kalimat apa gerangan yang membuat Harsa tiba-tiba murung dan sering melamun seharian ini? Bahkan, Anton yang mengajaknya mengobrol pun tidak terlalu digubris. Begitu juga telpon dari Erik dan Bariono yang dibiarkan begitu saja tanpa diangkat. "Apa ibuku menyakiti kamu? Beliau ngomong apa? Biasanya kamu nggak begitu mikirin perkataan ibuku," tanyanya lagi sambil memijit pundak suaminya. Siapa tahu sang suami sedang kelelahan dan stres. "Nggak ada apa-apa, Dek. Aku cuma lagi banyak pikiran aja. Soal Unilion," jawab Harsa, lalu

  • Karma Suami Mendua    134. Sebuah Ujian

    Satu tahun kemudian... ------"Mau ke mana, Mas?" Harsa meletakkan sisir di atas meja rias milik istrinya, lalu berbalik untuk melihat Kamila yang sudah cantik paripurna seperti biasanya. Wanita itu akan melakukan siaran live untuk Unilion. Meskipun waktunya tidak selama dulu ketika di awal-awal, tapi tetap saja, Kamila akan tetap bersiap-siap dengan maksimal. "Mau ke rumah ibu, Dek. Mas lupa belum ngasih jatah bulanan," jawabnya sambil mendekati istrinya. "Kamu makin cantik dan seger aja tiap hari. Kalau boleh jujur, aku cemburu karena penonton kamu sekarang lebih banyak laki-lakinya." "Cuma 1 jam aja, Sayang. Kalau kamu keberatan, aku bisa ngambil tawaran kerja secara remote. Kemarin aku iseng ngelamar bagian data entry, ternyata keterima." Harsa berpikir sejenak. "Kenapa nggak ngambil bagian manajer atau yang setara, Dek?" "Ck! Kamu tahu sendiri aku malas berpikir terlalu rumit. Capek tahu, Mas. Aku maunya yang santai aja tapi duitnya banyak. Lagian, aku udah kamu jatah juga

  • Karma Suami Mendua    133. Jasa Kecil Kamila

    [Mil, rame banget penontonmu. Serius kamu udah jadi brand ambassador Unilion? 10rb penonton! Gilaaaa!]Kamila tersenyum saat membaca pesan dari Arin. Sudah seminggu dia menjalani profesi dadakannya sebagai tim online marketing, dan penjualan Unilion langsung meledak, mengalahkan Sayap Biru yang selalu idealis dan jumawa dengan brand ternamanya. Ibu-ibu di negara ini sangat menyukai diskon, apalagi jika itu berupa twin pack. Stok gudang langsung ludes dalam 2 hari, dan bagian produksi sekarang selalu lembur. [Aku cuma bagian marketing online aja, Rin. Nggak ada BA. Kamu juga makin rame gitu. Sukses selalu ya.] Balasnya. Unilion sengaja tidak membuka sistem affiliate. Perusahaan ingin menegaskan pada konsumen bahwa barang yang mereka jual adalah barang original. Meskipun jika melalui affiliate, tetap saja konsumen akan diarahkan untuk membeli langsung di toko official mereka. Tapi Unilion ingin ekslusif. Dan Erik tidak mau karyawannya direpotkan oleh affiliator yang meminta sample g

  • Karma Suami Mendua    132. Menemukan Jalan

    "Dek, bukannya Rendra kemarin masih sama Dewi? Memangnya beneran dia mau menikahi Evelyn?" tanya Harsa heran. Kamila tertawa kecil. "Ya nggak lah, Mas. Aku tadi cuma ngarang aja. Rendra nggak tahu apa-apa. Dia kan sibuk ngurusin Unilion di Madiun." Harsa menaikkan alis. "Lah? Terus, kok kamu tadi tiba-tiba bilang begitu buat apa?" Kamila melihat Erik yang menatapnya sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke arah kopi yang sudah dingin. Dia mengamati pria itu yang terlihat biasa saja saat menyebut nama Evelyn. Berbeda sekali dengan Bariono tadi. Dan itu membuat semuanya menjadi jelas.Hanya Bariono yang benar-benar mencintai Evelyn. Erik hanya sebagai pelampiasan saja, sebagai ajang balas dendam karena rasa sakit hati Evelyn atas pengkhianatan Bariono dulu. Kamila tidak berhak untuk menghakimi kisah mereka bertiga. Semua orang punya kisah masing-masing, dan semua orang pernah khilaf.Dia hanya membantu sahabatnya untuk menentukan masa depannya. Dua orang itu saling gengsi dan takut aka

  • Karma Suami Mendua    7. Diabaikan

    "Fiona, sini peluk papa, Nak." Putra dengan tanpa merasa bersalah, mendekati Fiona yang hendak menyusul Kamila.Sikap istrinya membuat Putra lega bukan main. Istrinya ternyata sangat dewasa. Tidak seperti perempuan lain yang mengamuk dan berbuat kekerasan, Kamila justru bersikap tenang. Dia lega wa

  • Karma Suami Mendua    6. Pura-Pura Tenang

    Hal yang tidak Putra tahu adalah, wanita itu bisa menjadi racun yang mematikan jika dia sengaja disakiti. Dia bisa lebih licik dari iblis dan lebih jahat dari para kriminal. Selama tujuh tahun menikah, kesetiaan Kamila dibalas dengan pengkhianatan. Rasa sakit yang tak terkira harus dibayar. Tidak

  • Karma Suami Mendua    5. Konfrontasi

    Kamila menatap layar televisi yang gelap di hadapannya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di dadanya teramat besar, sampai-sampai dia merasa seperti ditusuk oleh benda tajam. Sakit, tapi tidak tampak."Apa kurangku sampai kamu selingkuh?" Mati-matian Kamila meredakan emosi di dadanya, tapi tetap

  • Karma Suami Mendua    4. Kepergok

    "Udah dibilangin kok. Biar aku coba telepon dia dulu," ucap Harsa sambil menurunkan Fiona yang terbangun."Nggak usah lah, Mas. Biar kami pulang naik travel. Mas lanjutin aja kerjaan di sini." Entah kenapa Kamila benar-benar enggan, meskipun dia penasaran setengah mati.Dia bimbang, apakah harus me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status