Home / Rumah Tangga / Karma Suami Mendua / 88. Merasa Cemburu

Share

88. Merasa Cemburu

Author: Alya Feliz
last update publish date: 2026-05-20 16:54:39

Sore hari, setelah toko ditutup, Kamila sedikit membanting laporan keuangan selama 2 tahun terakhir ke atas meja.

"Banyak kesalahan dalam laporan keuangan ini. Apa kamu nggak pernah mengeceknya selama ini?"

Nada suara Kamila masih tenang. Dia merasa lelah setelah berkutat dengan laporan itu selama empat jam penuh.

"Masa sih, Dek? Kesalahannya di mana?" tanya Harsa dengan wajah tenang pula.

Kamila menjelaskan semuanya secara rinci, bahkan sampai ke tanggal setiap transaksi.

"Banyak manipula
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Karma Suami Mendua    144. Kembung 1,5 Bulan

    Harsa menatap tak enak pada dokter Andrologi di hadapannya. Setelah istrinya buru-buru keluar sambil menutup hidung, dia langsung berdiri. "Maafkan istri saya, Dok. Dari tadi pagi masuk angin. Mencium bau apapun langsung muntah. Padahal sudah saya larang untuk ikut," kata Harsa dengan terburu-buru. Bukannya tersinggung, dokter itu malah tertawa. Pria berusia 45 tahun itu ikut berdiri."Sepertinya yang perlu diperiksa justru istri anda. Silahkan daftar ke poli kandungan. Bawa istri anda ke sana." Harsa langsung bengong. "Istri saya kenapa, Dok? Ada masalah dengan rahimnya? Dia cuma masuk angin. Apa nggak sebaiknya dibawa ke poli umum saja? Mungkin maag-nya kumat." Dokter itu menggeleng. Pria itu mendekati Harsa dan menggiringnya keluar. "Sudah, bawa saja ke poli kandungan." "Tapi saya belum periksa..." "Nggak usah periksa. Nggak perlu. Selamat ya." Dokter itu menepuk pundak Harsa sambil tersenyum, sebelum meminta perawat untuk memanggil nomor antrian berikutnya. Harsa berdiri de

  • Karma Suami Mendua    143. Mual

    "Udah, nenek tenang aja. Mama saya udah nggak ada dendam sama anaknya nenek. Mama saya kan baik. Saya juga udah punya papa baru, jadi mama udah nggak marah sama papa Putra dan Tante." Fiona tiba-tiba menyeletuk. Mereka semua terdiam. Bu Maria terlihat gelagapan. Tapi kemudian, wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya dan memegang kepala Fiona. Kedua mata Bu Maria berkaca-kaca, dan setetes air mata meluncur di pipinya yang keriput. "Pantaslah kalau ayahnya Rebecca bilang sebelum meninggal, kalian seperti malaikat. Kalian... Kalian mau memaafkan kesalahan anak ibu yang keterlaluan. Semoga Tuhan Yesus selalu memberkati kalian. Aku berdoa dengan setulus hati, semoga kalian masuk surga," ucap Bu Maria sambil berlinang air mata, lalu menegakkan tubuhnya dan memegang tangan Kamila yang ikut menangis. "Perbuatan Rebecca dan Putra memang sudah melewati batas. Tapi, kamu dan anakmu tidak dendam. Aku...aku kagum pada sikapmu, Nak. Pantas saja kamu terlihat bercahaya," lanjut Bu Maria. "Boleh

  • Karma Suami Mendua    142. Memaafkan Rebecca

    Sudah satu menit berlalu sejak wanita yang kini terlihat menyedihkan itu duduk di hadapan Kamila. Tidak ada lagi jejak kesombongan di wajah wanita itu. Hanya ada rasa lelah dan kesakitan. "Putra sudah lama meninggal. Sekitar dua tahun yang lalu." Rebecca mendongak dengan mata membelalak. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan kulitnya begitu pucat. "Ap-apa?" Kamila mengangguk. "Dia...gagal bertahan." Tidak mungkin dia menceritakan betapa menderitanya mantan suaminya gara-gara tidak kunjung mendapatkan maafnya. Kedengarannya begitu angkuh dan jumawa. Tiba-tiba, terdengar tawa kecil dari Rebecca, membuat Kamila mengernyit. Apa ada yang lucu dari perkataannya? "Dia memang benar-benar mencintai kamu." Kamila mendengus, lalu menggeleng. "Kamu salah. Dia mencintai Delina. Mereka bahkan punya 2 anak di belakangku." Rebecca mungkin terlihat mengerikan dengan kondisinya sekarang. Rambut sangat tipis, kulitnya keriput, dan tubuhnya yang dulu kurus terlihat semakin kurus saja. Seperti mayat

  • Karma Suami Mendua    141. Mulai dari 0

    "Mas..." Harsa yang sejak tadi menatap kosong pada taman rumah sakit, mengerjap ketika istrinya menyentuh lengannya dengan lembut. Dia menoleh dan melihat kedua mata jernih istrinya. Bulu mata yang panjang dan lentik alami membuat mata itu semakin indah. "Semua orang pernah melakukan dosa. Entah itu besar atau kecil. Termasuk kita. Nggak ada salahnya memaafkan. Kematian Ayah Umar adalah qodarullah. Akhir jalan hidupnya sudah ditetapkan sejak sebelum beliau dilahirkan. Jadi, meskipun Bu Sulastri tidak memfitnahnya, dia akan tetap meninggal di hari itu." Harsa menelan ludah. Kalau dipikir-pikir lagi, memang benar. Seharusnya dia mendengarkan nasehat kakeknya puluhan tahun yang lalu. Tapi, dia memilih untuk mengabaikannya dan terus memelihara dendamnya pada Sulastri dan Delina. "Tapi gara-gara kehadiran dia, ayahku difitnah." Masih ada rasa tidak terima di hati Harsa. Nama baik ayahnya tercoreng gara-gara fitnah dari perempuan keji. "Pasti ada alasan kenapa Allah menakdirkan ayahmu

  • Karma Suami Mendua    140. Gagal Periksa

    Takdir manusia memang sudah ditentukan sebelum mereka lahir ke dunia. Tapi, bukan berarti mereka hanya diam saja dan berpangku tangan. Harus ada usaha yang dilakukan, sebagai bentuk ikhtiar. Yang terpenting sudah berusaha semaksimal mungkin. Urusan hasil, hanya Allah yang berhak menentukan. Pagi itu, Kamila terus menyuntikkan semangat ke dalam hati dan pikirannya. Dia terus men-sugesti dirinya sendiri, bahwa apa yang dialami oleh suaminya adalah bagian dari ujian dalam pernikahan mereka. Sejak awal, dia meminta pada Allah untuk tidak diberikan cobaan dalam bentuk orang ketiga. Jadi, seharusnya dia siap jika akhirnya mendapatkan cobaan dalam bentuk lain. Meskipun ada sedikit rasa kecewa karena suaminya susah untuk memiliki anak. "Mama orang baik. Jadi, mama harus memaafkan semuanya." Sentuhan di pipi Kamila membuat lamunannya buyar. Dia menatap Fiona yang kini berdiri di hadapannya dengan mengenakan seragam sekolah. Keningnya berkerut tak mengerti. "Luka itu nggak akan bisa sembuh

  • Karma Suami Mendua    139. Menghapus Kesalahpahaman

    Kamila membuka pintu dengan wajah terlihat marah. Begitu melihat Harsa, mata wanita itu langsung membelalak lebar."Mas?"Harsa berdiri terpaku dengan senyum tipis di bibirnya. Baru dia tinggal sehari, wajah istrinya terlihat sedikit kusut dan kedua matanya terlihat lelah. Meskipun istrinya masih tetap cantik seperti biasanya. Apakah wanita itu tidak bisa tidur juga seperti dirinya? Bukannya dia merasa bangga karena istrinya mengkhawatirkannya. Dia justru merasa sangat bersalah.Selama sesaat, mereka hanya saling menatap. Harsa bisa merasakan kerinduan yang mendalam di sorot mata lembut itu, karena dia juga merasakan hal yang sama. Detik berikutnya, Kamila menubruknya dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat sambil menangis tersedu-sedu."Kamu ke mana aja? Kenapa tiba-tiba menjauh dan nggak pulang? Aku ada salah apa? Apa ada sikapku yang membuatmu marah?" Harsa membalas pelukan istrinya dengan hati yang terasa perih. Dia benar-benar pria yang tidak tahu diri! Sudah mendapatkan istri

  • Karma Suami Mendua    99. Mood yang Memburuk

    "Masih ada yang belum dimengerti?" Faisal menggeleng. "Tidak ada, Bu." "Bagus." Kamila langsung berdiri. Akhirnya selesai juga. Beruntung Faisal gampang diajari. Ternyata pemuda itu dulunya jurusan IPS, jadi paham tentang dasar-dasar akuntansi dan cara membuat laporan keuangan sederhana. "Ya su

  • Karma Suami Mendua    7. Diabaikan

    "Fiona, sini peluk papa, Nak." Putra dengan tanpa merasa bersalah, mendekati Fiona yang hendak menyusul Kamila.Sikap istrinya membuat Putra lega bukan main. Istrinya ternyata sangat dewasa. Tidak seperti perempuan lain yang mengamuk dan berbuat kekerasan, Kamila justru bersikap tenang. Dia lega wa

  • Karma Suami Mendua    6. Pura-Pura Tenang

    Hal yang tidak Putra tahu adalah, wanita itu bisa menjadi racun yang mematikan jika dia sengaja disakiti. Dia bisa lebih licik dari iblis dan lebih jahat dari para kriminal. Selama tujuh tahun menikah, kesetiaan Kamila dibalas dengan pengkhianatan. Rasa sakit yang tak terkira harus dibayar. Tidak

  • Karma Suami Mendua    5. Konfrontasi

    Kamila menatap layar televisi yang gelap di hadapannya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di dadanya teramat besar, sampai-sampai dia merasa seperti ditusuk oleh benda tajam. Sakit, tapi tidak tampak."Apa kurangku sampai kamu selingkuh?" Mati-matian Kamila meredakan emosi di dadanya, tapi tetap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status