Share

Monster

Penulis: RajaFantasi
last update Tanggal publikasi: 2026-01-03 11:52:57

Danau Liverl, Kota Selabatu.

Semua orang kaget mendengar suara teriakan yang lantang dan disertai dengan ketakutan. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan darimana sumber suara teriakan berasal. Suara teriakan ketakutan itu berasal dari seorang pria yang berada di ujung danau dekat semak-semak. Pria itu tampak baru keluar dari semak-semak dan mencoba menjauh dari semak-semak yang tampak bergoyang-goyang. Semua orang hanya bisa bengong dan heran, namun melihat pria tersebut setengah telanjang, mereka langsung paham bahwa dia baru saja berbuat mesum di semak-semak tersebut. 

“Setelah selesai enak-enak, kamu langsung menyebut kekasihmu sebagai monster. Apakah jonimu digigit olehnya? HAHA.” Ucap seorang pria dengan bercanda dan tertawa. 

“HAHA"

“HAHA"

“HAHA”

Sontak candaan itu mengundang gelak tawa para pengunjung. Saat semua orang tenggelam dalam gelak tawa, tiba-tiba seekor kelabang raksasa keluar dari balik semak-semak sambil mengunyah seorang wanita setengah telanjang. Melihat adegan mengerikan itu, untuk sesaat semua orang bingung dan tidak tahu bagaimana harus merespon. 

Dien ngeri melihat kelabang raksasa yang sedang mengunyah mangsanya tersebut. Dia tidak bisa membantu sama sekali, dan memilih melangkah kabur menjauh. Dien tahu bahwa berdiam lebih lama akan membuatnya menjadi mangsa selanjutnya. 

“Apa itu?"

“Monster!!!”

Seseorang pada akhirnya berbicara dengan nada ketakutan dan menunjuk monster kelabang raksasa tersebut. 

Seketika semua orang panik, dan beberapa lainnya sudah berlari menjauh dengan ketakutan. Kelabang raksasa itu menelan sang mangsa wanita, lalu mencaplok kepala pria yang merupakan pasangan mesum sang wanita.

“MONSTER!!!”

“ADA MONSTER!!!"

“LARI!!!”

Orang-orang mulai berteriak dan lari menjauh tanpa memperdulikan apapun, mereka tanpa ampun menabrak beberapa dagangan pedagang yang menghalangi jalan. Beberapa orang terjatuh ditabrak atau didorong dari belakang oleh orang lain, dan beberapa orang lainnya terinjak-injak akibat terjatuh. 

Monster kelabang bergerak cepat dan memangsa orang-orang yang bernasib sial tersebut. 

“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ada kelabang sebesar itu?” Ucap Dien berusaha berdiri, lalu ditabrak hingga terjatuh dan terinjak-injak. 

Orang-orang tidak peduli dengannya, bahkan beberapa orang sengaja mendorongnya yang berusaha keras berdiri kembali. Dien pada akhirnya berhasil berdiri dan lari menjauh, setelah memukul beberapa orang nakal yang berusaha mendorongnya terjatuh. 

Tabrakan keras! 

Seseorang kembali menabrak Dien dari belakang dan membuatnya jatuh tersungkur dengan kepala lebih dulu. Orang yang menabrak, ternyata seorang wanita muda dengan rambut hitam yang dikepang dua dan beberapa helai rambut berwarna pink. 

“Sumbing sialan! Jangan halangi jalan!” Umpat wanita tersebut sembari mendorong Dien yang berusaha berdiri. 

Dien mau tidak mau harus kembali jatuh dan terjatuh lagi ketika seseorang menabrak, menginjak, bahkan sengaja mendorongnya yang kesusahan. Hingga pada akhirnya monster kelabang sudah berada di hadapannya dengan mengunyah seorang pria muda. 

Darah merah kental dari pria yang masih hidup tersebut terciprat di mana-mana, dan membasahi wajah Dien dengan merah darah yang kental. Dien hanya bisa mendongak ketakutan melihat monster kelabang, sembari mengusap darah di wajahnya. Monster kelabang menelan mangsanya, lalu mencoba mencaplok kepala Dien yang terpaku dan ketakutan. 

Disaat-saat terakhir, Dien menghindar ke samping ketika monster kelabang mencoba menerkam kepalanya. Dien melepaskan tinju keras di punggung kepala, namun tampaknya monster kelabang tersebut tidak merasakan apapun.

Monster kelabang raksasa berwarna biru kemerahan itu menatap Dien dengan tatapan haus darah dan kemarahan, seakan-akan tidak terima bahwa sang mangsa memukulnya. 

“Grhaaa!” Raung monster kelabang dan kembali mencoba memangsa Dien. 

Dien dengan cepat lari menjauh, lalu melompat ke samping menghindari terkaman dan bersembunyi di bawah kaki kursi. Dien yang berhasil menjauh dan lolos dari terkaman sang monster, membuat monster kelabang raksasa mengejar target lain. 

“Jangan…”

“Tidak!!!”

“Tolong aku…”

Pekik para korban sebelum dimangsa monster kelabang raksasa. Dalam waktu singkat, 7 orang berhasil dimakannya. Monster kelabang dengan rakus memangsa orang-orang yang tidak sempat lari menyelamatkan diri, jatuh terinjak-injak, dan orang-orang yang diam terpaku. 

Pukulan! 

Pukulan! 

Tendangan! 

Pukulan! 

Sabetan! 

Tembakan! 

Tembakan! 

Beberapa orang mencoba melawan balik dengan memukul tubuh monster kelabang dengan kursi, pentungan, meja, batu, tendangan, hantaman tinju, sabetan senjata tajam, bahkan tembakan pistol ilegal.

Sayangnya bagi monster kelabang, serangan mereka terasa gatal saja. 

“Monster mengerikan! Kita tidak bisa melawannya! Kita tidak bisa melawannya!!!” Pekik salah satu penyerang memilih kabur menjauh, namun ekor monster kelabang menghantamnya hingga terpental membentur dinding hingga kepalanya pecah. 

Setelah membunuh dan memakan semua orang yang melawan balik, monster kelabang bergerak cepat menyerang orang-orang yang berlarian menjauh.

“Tolong! Tolong! Seseorang tolong aku!” Pekik wanita kepang dua yang sebelumnya menabrak Dien. 

Wanita itu tampaknya kesulitan berlari karena kakinya keseleo dan sangat sakit meskipun digerakkan sepelan mungkin. 

“Wanita sialan itu… baguslah. Mati saja kau pelacur sialan!” Umpat Dien yang masih dendam. 

Melihat wanita itu sangat kesusahan, Dien tidak bisa membantu dan hanya bisa tersenyum senang. Dien berharap wanita itu segera dimangsa monster kelabang raksasa tersebut. 

Wanita itu merangkak menjauh sembari menahan sakit di kakinya. Monster kelabang mendekat dan seperti mempermainkan sang mangsa. Monster kelabang mendekat satu langkah ketika wanita tersebut menjauh satu langkah. Wanita itu sangat ketakutan, sementara sang monster menatapnya dengan tatapan superior. 

“Tolong aku! Siapa saja tolong aku!” Teriak wanita tersebut meminta tolong. 

Beberapa orang kasihan melihatnya, namun mereka tidak bisa menolong karena takut menjadi santapan monster kelabang. Mereka tidak berniat untuk menukar nyawa demi menyelamatkan wanita tersebut, sekalipun wanita itu memiliki kecantikan yang luar biasa. Mereka malah memanfaatkan fokus kelabang kepada wanita itu untuk menjauh dari danau Liverl yang berubah menjadi tempat pembantaian. 

“Kelabang jangan makan aku. Daging ku tidak enak! Makan mereka saja… makan mereka saja. Dagingku amis dan bau terasi. Jangan makan aku.” Mohon wanita tersebut penuh harap sembari menunjuk-nunjuk beberapa orang yang perlahan-lahan menjauh.

“Tuhan tolong selamatkan aku. Aku mungkin bukan umat yang beriman, namun aku akan bertobat jika kamu menyelamatkanku dari monster ini.” Ucap wanita itu mulai berdoa dengan tulus.

Monster kelabang tiba-tiba terdiam seakan-akan memberikan kesempatan wanita tersebut kabur. Alhasil wanita tersebut kabur dengan susah payah, namun monster kelabang dengan cepat bergerak mengejar dan dalam waktu singkat sudah menyusul.

“Tidak!!!” Pekik sang wanita ketakutan melihat monster kelabang yang menerkamnya. 

Knalpot motor meraung!

Pada akhirnya Dien tidak bisa membiarkan wanita itu begitu saja. Dien dengan cepat menghidupkan motor bututnya, lalu menarik gas hingga habis dan membuat motor tua itu meraung mengerikan memecah keheningan.

Apa yang dilakukannya berhasil menarik perhatian monster kelabang. 

Dien memasukkan gigi dan membuat motornya melompat ke depan. Dien dengan susah payah mengendalikan motor yang melaju dengan kecepatan tinggi tersebut. Dien melompat melepaskan motornya ketika jarak mereka begitu dekat. 

Tabrakan keras! 

Alhasil motor Dien meluncur kencang dan menabrak monster kelabang hingga terpental jauh. 

“Terimakasih Tuhan! Terimakasih Tuhan!” Wanita muda itu bersyukur. 

“Sumbing tolong aku!” Pekik wanita itu meminta tolong. 

Dien menggendong wanita tersebut dan berlari menjauh. 

Monster kelabang pusing sedikit dan meraung marah, lalu bergerak cepat mengejar. Tiba-tiba monster kelabang berhenti dan langsung menerkam ibu-ibu yang asyik melakukan siaran langsung sembari sembunyi di bawah bangku taman, membuat beberapa perekam lainnya kabur ketakutan. 

“Bodoh sekali! Beberapa orang lebih memilih merekam video, atau melakukan siaran langsung daripada mencari tempat aman. Apakah mereka mengira, mereka memiliki banyak nyawa?” Ucap Dien tidak habis pikir dengan para penggila Fyp tersebut.

Danau Liverl terlihat sudah sangat sepi, hanya ada Dien dan wanita berkepang dua yang digendongnya, serta beberapa pencari fyp yang ketahuan melakukan siaran langsung. 

“Haha. Ini adalah awal bagi monster menunjukkan eksistensinya di hadapan dunia. Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan para praktisi untuk membendung informasi monster yang direkam langsung oleh warga? Apakah mereka akan mengatakan ini adalah hoax? Haha, tidak akan ada yang percaya jika perekamnya terbunuh, bukan?” Ucap seorang pria yang memakai topi bulat dan baju kantoran. 

"Apapun itu, aku akan memberikan kompensasi yang besar kepada keluarga mereka atas perjuangan mereka yang mempertaruhkan nyawa demi melakukan siaran langsung." Ucap pria berkulit sawo matang itu melihat para pencari Fyp yang dia sewa.

Pria berambut keriting itu menoleh melihat Dien yang berlari sambil menggendong wanita berkepang dua.

“Menarik! Pria sumbing itu memang baik hati atau sangat bodoh? Dia masih mencoba membantu orang yang menghinanya? Benar-benar tidak bisa dimengerti. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan si sumbing bodoh itu. Apakah dia berharap wanita itu akan menjadi pacarnya karena diselamatkan? Haha.” Gumam pria berambut keriting tertawa mengejek.

Monster kelabang berhasil menyusul Dien, sementara Dien malah tersandung jatuh dan langsung berhadapan dengan monster kelabang raksasa. 

“Apa yang kau lakukan sumbing sialan! Kenapa kau jatuh? Ah… sakit sekali. Aduh.” Umpat wanita tersebut marah dan meringis kesakitan.

“Dari semua opsi, kenapa kau mengirim pria sumbing bodoh ini untuk menyelamatkanku? YA TUHAN!” Pekik wanita tersebut menahan sakit dan menyalahkan Tuhannya. 

Sementara Dien hanya bisa ketakutan melihat monster kelabang yang menatapnya tajam dan bengis. Monster kelabang menatap Dien cukup lama, seakan-akan mengejek Dien yang tidak bisa lari lagi. 

Bersambung. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Akhir Sarjana Pengangguran

    Ledakan besar tercipta dan menyapu habis perumahan khusus pasukan malam hingga sejauh 5 km dan membunuh ribuan manusia yang berada di dalam jangkauannya. Tidak ada manusia yang berhasil hidup termasuk praktisi spiritual, kecuali beberapa orang yang cepat tanggap menggunakan sihir pelindung untuk melindungi diri dan keluarganya. Seorang anak perempuan yang sedang bermain ponsel di balkon rumah melihat ledakan bom atom di kejauhan. Bocah perempuan itu menunjuk ledakan bom atom dengan takjub. “Ibu ada kembang api besar sekali!” Ucap sang bocah bersemangat. Sang ibu melihat ke arah yang ditunjuk putrinya. Hawa panas mulai menyerbu dan membakar kulit mereka. “Panas!!! Ibu panas!!!” Pekik bocah perempuan kepanasan dan rumah mereka hancur dihantam gelombang kejut ledakan bom atom. Setelah ledakan bom atom berakhir, pusat ledakan meninggalkan kawah besar dan sangat dalam. Bent yang merupakan penyebab bom atom selamat karena melindungi dirinya dengan kubah tanah berlapis-lapis. Kapten Me

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Anita

    Kapten Medi mengejar Bent dengan kecepatan sihir elemen petir. Seorang bawahan yang bernama Ruslan mengikuti dari belakang dan melepaskan tembakan. Bent dengan cepat terjun ke bawah, lalu menciptakan duri tanah untuk menghambat pergerakan kapten Medi dan Ruslan yang mengejarnya. Bent dengan cepat berlari keluar dari perumahan dengan menjadikan tanah layaknya selancar, namun sayangnya beberapa orang mengepungnya dari berbagai arah. Bent menghentikan langkahnya dan melihat sekeliling hanya untuk menemukan bahwa dia dikepung dari berbagai arah. “Aku dikepung ya. Informasinya cepat tersebar. Wajar saja sih! Soalnya ini adalah perumahan khusus praktisi spiritual.” Bent tersenyum tipis dan mendongak melihat kapten Medi yang menatapnya tajam dari atap rumah. “Menyerahlah Bent! Kau sudah terkepung!” Kapten Medi menatap tajam Bent dan meminta agar pria itu menyerah. “Menyerah? Haha.” Bent menutup wajahnya dan tertawa“Setelah apa yang terjadi kepada Anita kau memintaku menyerah?” Bent mena

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Kabur

    Bent tersenyum kecil, mengingat hari dimana rekannya terbunuh oleh tangannya sendiri. Hari itu Bent tampak syok dan merasa sangat bersalah karena telah membunuh rekan seperjuangannya. Meskipun merasa sangat bersalah Bent nyatanya tidak menyesal sama sekali. Bagi Bent pengorbanan rekannya harus dilakukan demi mewujudkan ambisinya. “Ada apa senior? Ayo makan!” Dien menegur Bent yang belum mulai menyuap nasi di piringnya. Bent yang mengingat kenangan kematian rekannya hanya tersenyum. “Haha. Junior yang menarik.” Bent tertawa dan tiba-tiba melepaskan aura pembunuh yang sangat besar. Ayah, ibu, dan Helena menghentikan makannya. Mereka menatap Bent dengan ketakutan dan sangat terintimidasi. “Kita langsung saja, karena aku tidak pandai bernegosiasi.” Ujar Bent memperkuat tekanan energi spiritualnya. “Junior jika kamu menginginkan mereka tetap hidup, maka patuhilah perintahku!” Bent menatap tajam Dien yang menyuap dan mengunyah nasi. “Pak tolong jangan keluarkan kekuatanmu atau apapun

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Sang Pengkhianat

    Taman bunga. Reni datang menemui ayahnya yang bersantai di taman bunga sembari menikmati secangkir kopi pagi. Reni memeluk ayahnya dari belakang dengan senyuman ceria dan terlihat seperti gadis kecil yang sangat merindukan ayahnya. Gorg Dereck tersenyum dan mengelus lembut rambut kepala Reni. “Apa yang kamu inginkan putriku?” Gorg tahu betul Reni datang menemuinya pasti menginginkan sesuatu. “Ayah lupa? Aku menginginkan kepala Leonard, Helena, dan bajingan yang membantu mereka?” Reni mengutarakan tujuan kedatangannya dengan wajah cemberut. “Apakah ayah berhasil mengambil kepala mereka? Dimana kepala mereka?” Tanya Reni dengan mata berbinar melihat sekeliling taman yang hanya ada bunga. Reni kecewa karena tidak menemukan kepala tiga orang yang dia benci. Gorg tersenyum dan mengelus lembut tangan putrinya tersebut. “Bersabarlah sayang! Saat ini anak buah ayah sedang menyerang mereka. Jika kepala mereka berhasil diambil, ayah akan langsung mengirimkannya ke kamarmu.” Gorg hanya b

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Klon

    Dien tiba-tiba merasakan perutnya sangat sakit dan terasa dingin. Dien melihat perutnya dan menemukan sebuah tangan wanita yang berdarah-darah menembus perutnya. Tangan itu adalah tangan Karin si pembunuh yang dikirim Gorg Dereck. Karin tersenyum tipis dan mencabut tangannya dengan sangat kasar hingga Dien tersentak menahan sakit. Dien jatuh berlutut memegang perutnya yang bolong, bahkan mengeluarkan ususnya. Karin tersenyum kecil dan jongkok hingga wajahnya sejajar dengan wajah Dien.“Apakah gurumu tidak pernah mengajarimu untuk waspada dengan teknik bawaan orang lain?” Karin menatap mata Dien dan bertanya dengan penasaran. Dien melotot menahan sakit, lalu muntah darah memegang perutnya yang terus mengeluarkan darah.“Kau… bagaimana bisa kau masih hidup?” Tanya Dien menatap tajam dan secara diam-diam mengambil kesempatan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. “Bukankah aku telah membunuhmu sebelumnya?” Tanya Dien tidak percaya Karin terlihat baik-baik saja bahkan terlihat seperti ti

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Melihat masa depan x Kecepatan super

    Jauh di rumah tersembunyi terlihat Demma berkumpul dengan anggota Organisasi Jalan Suci. Demma terlihat memperhatikan kelabang merah yang merayap di tangannya. Kelabang merah itu masuk ke dalam pakaian dan keluar dari atas kepala Demma. Demma tersenyum tipis melihat tingkah peliharaannya tersebut, lalu melihat ke pintu khusus dimana pemimpin organisasi akan datang. Klize pemimpin organisasi akhirnya datang dengan senyuman kecil menyapa 9 anggota organisasinya termasuk Demma. Dua pengawal Klize dengan sigap dan sikap waspada melindungi sang tuan. “Maaf aku terlambat!” Ucap Klize tersenyum meminta maaf kepada 9 anggota organisasinya. Klize menciptakan meja lengkap dengan kursi menggunakan sihir tanah, lalu duduk dan mempersilahkan semua rekannya untuk duduk sebelum membahas beberapa hal penting mengenai kelanjutan organisasi. Semua orang mengangguk mengerti dan duduk di kursi tanah buatan Klize. “Mari kita mulai rapatnya!” Klize sebagai pemimpin memulai rapat darurat organisasi.“K

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Pasukan Malam

    Suara petir! Hantaman keras!Seseorang muncul dari langit dengan tubuh yang diselimuti petir, lalu menghantam kepala monster kelabang raksasa hingga hancur dan memuntahkan darah hijau. Gelombang energi halus mengandung petir menyebar ke segala arah, membuat siapapun yang terkena sedikit kejang dan

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Dunia Monster

    Dien pulang larut malam. Dia bertemu ibu yang menunggunya di ambang pintu, wanita tua itu tersenyum hangat melihat kedatangan Dien. Wajah keriputnya yang pucat pasi menjadi cerah ketika melihat Dien pulang. Melihat ibunya, Dien tersenyum, lalu menyerahkan buah-buahan yang dibelinya kepada ibu yang

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Aku

    Pov Dien.Aku terus berusaha mengontrol energi aneh yang meledak di dalam tubuhku, sebuah energi yang berasal dari ramuan sihir kebangkitan spiritual. Aku menyebutnya energi spiritual, sesuai dengan nama ramuan yang memicunya, lagipula hanya nama itu yang cocok untuk menjelaskan energi aneh tersebu

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Sarjana Pengangguran

    Kota Selabatu, Kerajaan Keleztial. Dien Moretz menatap lelah foto keluarganya di dinding ruang tamu. Foto itu menjadi saksi abadi kesuksesannya dalam menempuh pendidikan di Universitas. Foto itu mengabadikan dirinya yang tersenyum penuh kebanggaan karena telah berhasil menjadi sarjana muda. “Sudah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status