Share

Bab 62

Author: Bilkis29
last update publish date: 2026-07-20 08:19:31

Sisa-sisa gairah yang tadi memuncak perlahan berubah menjadi pertarungan batin yang hebat di dalam dada Rendra. Ia duduk kembali di kursi kerjanya, kedua telapak tangannya menekan meja hingga buku jarinya memutih, matanya menatap kosong ke arah jendela kaca yang menampakkan pemandangan kota Bekasi yang mulai riuh.

Di satu sisi, bayangan sosok Casandra masih terngiang jelas di kepalanya—keberaniannya, caranya memeluk, membelai, dan memuaskan setiap keinginan yang dulu pernah mereka bagi bersam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 63

    Sinar fajar baru saja menyelinap tipis dari celah tirai jendela kamar, menyisakan warna jingga pucat yang membelah kegelapan ruangan. Di atas tempat tidur yang empuk itu, Rendra masih memeluk tubuh Rina dengan sangat erat, seolah takut jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, wanita di dekapannya itu akan lenyap begitu saja. Napas keduanya masih teratur, namun terasa berat, menyisakan kelelahan yang pekat setelah kebersamaan yang begitu hangat dan penuh gairah sepanjang malam tadi. Rina membuka matanya perlahan, kelopak matanya terasa berat seolah ada beban berat yang menindihnya. Ia melirik jam dinding di sudut kamar—jarumnya sudah menunjuk tepat pukul lima pagi. Biasanya di jam segini mereka sudah mulai beranjak bangun, merapikan tempat tidur, dan bersiap untuk melaksanakan ibadah subuh. Namun pagi ini, tubuhnya terasa begitu lemas, setiap gerakan terasa berat, dan di sampingnya, Rendra masih terlelap pulas dengan wajah yang nampak begitu damai namun juga kelelahan yang me

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 62

    Sisa-sisa gairah yang tadi memuncak perlahan berubah menjadi pertarungan batin yang hebat di dalam dada Rendra. Ia duduk kembali di kursi kerjanya, kedua telapak tangannya menekan meja hingga buku jarinya memutih, matanya menatap kosong ke arah jendela kaca yang menampakkan pemandangan kota Bekasi yang mulai riuh. Di satu sisi, bayangan sosok Casandra masih terngiang jelas di kepalanya—keberaniannya, caranya memeluk, membelai, dan memuaskan setiap keinginan yang dulu pernah mereka bagi bersama di Amerika. Tak bisa ia pungkiri, ada perbandingan yang tak sengaja muncul di benaknya. Bersama Casandra, segalanya terasa bebas, liar, tanpa ragu sedikit pun. Wanita itu tahu persis apa yang diinginkannya, dan tak pernah segan untuk mengejarnya. Sedangkan dengan Rina, semuanya berjalan lebih lembut, penuh kehati-hatian, kadang masih diselimuti rasa takut dan malu. Rina adalah wanita yang tulus, polos, dan penuh kasih sayang—namun dalam hal keintiman, ia masih membutuhkan waktu untuk benar-

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 61

    Belum sempat tangan Rendra meraih pinggangnya sendiri, layar ponsel yang tadi menampilkan wajah Casandra tiba-tiba tertutup sepenuhnya oleh nama besar yang membuat darahnya seketika berdesir hebat: Rina — Istriku. Jantung Rendra seolah berhenti berdetak sesaat. Matanya melotot, napas yang tadi memburu karena gairah seketika tercekat di kerongkongan. Ia menoleh panik ke arah pintu ruangan—terkunci, syukurlah—lalu kembali menatap layar ponsel yang terus berkedip memanggil. Di ujung sana, Casandra masih tertawa pelan, suara merayunya terdengar samar, "Kenapa diam saja, Rendra? Angkat saja, nanti kita lanjutkan lagi. Aku tunggu kamu..." Tanpa berpikir panjang, Rendra menekan tombol merah untuk memutus panggilan dari Casandra terlebih dahulu. Gerakannya begitu kasar hingga ponsel itu terasa hampir terlepas dari genggamannya. Saat pandangannya kembali jatuh ke tubuhnya sendiri, wajahnya seketika berubah menjadi pucat pasi. Kancing kemeja kerjanya sudah terbuka sampai bagian dada, memper

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 60

    Pagi itu, sinar matahari baru saja menembus celah tirai jendela mobil mewah yang melaju perlahan menuju kawasan pusat kota. Rina duduk di kursi belakang, bersandar lembut pada sandaran kursi dengan wajah yang sedikit pucat. Di sebelahnya, Ibu Widya duduk dengan tatapan penuh perhatian, sesekali menoleh ke arah menantunya itu dengan cemas. "Kamu yakin sanggup menemani saya sampai ke butik, Rina?" tanya Ibu Widya lembut sambil mengusap punggung tangan Rina. "Tadi pagi kamu sudah merasa mual, dan sepanjang jalan ini wajahmu terlihat tidak segar sama sekali. Kalau tidak kuat, lebih baik kamu istirahat saja di rumah atau berhenti sebentar dulu di klinik terdekat." Rina tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan rasa perih yang bergulung di ulu hatinya. Ia mengelus perlahan perutnya yang masih terasa mual, namun tekadnya tetap kuat. "Saya baik-baik saja, Bu. Cuma sedikit rasa tidak nyaman saja, mungkin karena perubahan suasana pagi ini. Rapat dengan klien baru itu penting, Bu. Saya tidak

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 59

    Mobil melaju perlahan membelah jalanan kota yang mulai sepi di malam hari. Lampu-lampu jalan berderet memancarkan cahaya kuning yang samar, namun tak satu pun mampu menembus kegelapan yang kini menyelimuti pikiran Rina. Ia duduk menyandar lembut di kursi belakang, menatap kosong ke arah jendela kaca yang memantulkan bayangannya sendiri. Di luar sana pemandangan bergerak cepat, namun di dalam kepalanya waktu seolah berhenti berputar, terhenti pada satu pemandangan yang tak mau pergi dari ingatannya: tangan pria asing itu yang mengelus perut Sari, bisikan manja wanita itu, serta janji mereka untuk pergi bersama kelak. Rina menghela napas panjang, dadanya terasa sesak bukan karena amarah, melainkan karena rasa iba yang begitu dalam. Perlahan satu persatu potongan teka-teki yang selama ini membingungkannya tersusun rapi menjadi satu kebenaran yang pahit. Selama ini ia menyimpan rasa bersalah yang berat di dadanya, membiarkan tuduhan bahwa dirinya mandul menggerogoti kepercayaan diriny

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 58

    Kabar kehamilan Rina menyebar bagai sinar mentari pagi yang hangat, menyentuh hati setiap orang yang menyayanginya. Tak terkecuali Ibu Widya, ibu kandung Rendra yang selama ini paling menantikan kehadiran cucu di tengah keluarga kecil mereka. Saat Rendra menelepon dan menyampaikan kabar itu, terdengar suara isak tangis bahagia di seberang telepon—Ibu Widya menangis tak kuasa menahan sukacita yang meluap-luap. Wanita tua itu selalu berdoa agar Rina segera dikaruniai keturunan, karena ia tahu betul betapa baik, sabar, dan tulus hati menantunya itu. Ia tak pernah percaya pada tuduhan buruk yang pernah dilontarkan orang-orang tentang Rina. "Alhamdulillah... Terima kasih Tuhan... Akhirnya..." bisik Ibu Widya berulang kali, suaranya penuh haru. "Bawalah Rina ke rumah Ibu besok, ya. Ibu ingin memeluknya, ingin merawatnya. Ibu sudah menyiapkan banyak hal kesukaan Rina." Keesokan harinya, Rendra dan Rina pun berangkat menuju kediaman Ibu Widya. Sesampainya di sana, pintu rumah sudah terbuk

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 7

    Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 3

    Tekad Rina makin kuat. Ia melihat perubahan kecil. Dimas mulai gelisah. Ia tidak lagi bisa meminta uang seenaknya, tidak lagi bisa menuntut layanan batin kalau ia sendiri tidak memberi apa-apa, dan tidak lagi bisa melempar semua kesalahan begitu saja. Harga diri palsunya yang selama ini ia bangu

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 2

    Suatu malam, saat Dimas sudah tidur pulas setelah menghabiskan sisa uang yang Rina dapatkan hari itu, Rina duduk di lantai dekat jendela. Di tangannya ada secarik kertas berisi daftar nama orang yang harus ia bayar. Angka-angka itu seolah menatapnya dengan sinis. Ia memegang dadanya yang terasa

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 1

    "Rina,Rina ......kamu bangun saja lama sekali, apa kamu mau kami kelaparan terus?" suara Dimas meledak, nada bicaranya tinggi dan penuh amarah, padahal Rina baru saja duduk di pinggir kasur. Rina menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. "Maaf, Mas. Aku cuma ingin istirahat sebentar saja,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status