LOGINPergi membawa luka, pulang membawa rindu yang tertahan. Itulah yang dirasakan Vanka saat Sora Kim mengajaknya kembali ke Indonesia. Setelah enam tahun menimba ilmu dan bekerja keras di luar negeri, Vanka merasa sudah cukup kuat untuk menghadapi masa lalunya. Namun, pertahanannya runtuh saat ia berhadapan kembali dengan Efra. Pria yang dulu ia tinggalkan dalam kemurungan, kini berdiri di depannya dengan aura yang jauh lebih mempesona dan matang. Meski Vanka mencoba bersikap asing dan mengandalkan penampilannya yang kini berkacamata agar tak dikenali, Efra tidak mudah dikelabui. Bagi Efra, sejauh apa pun Vanka berlari, ia akan selalu mengenali "istri kecilnya" itu. Akankah dinginnya sikap cuek Vanka mencair di hadapan Efra yang ternyata masih mengenalnya dengan sangat baik?
View MorePonsel itu jatuh tepat saat sepasang mata itu menatapnya.
Efra Alfaro tidak langsung memungutnya. Ia berdiri kaku di tengah keramaian trotoar Braga, dengan lutut yang masih berdenyut dan dada yang tiba-tiba terasa seperti diperas oleh tangan tak kasat mata. Ratusan orang terus bergerak di sekelilingnya, tapi dunia Efra mendadak berhenti berputar. Wanita di depannya itu sudah menunduk lebih dulu, jemari lentiknya menyentuh ponsel sebelum Efra sempat bergerak. "Maaf, Kak. Anak ini memang tidak bisa diam." Suaranya rendah. Sedikit serak. Persis seperti yang Efra ingat. Ia menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti diisi pasir. "Vanka?" Wanita itu tidak menjawab. Ia justru menyodorkan ponsel dengan tangan yang tidak sepenuhnya bisa menyembunyikan getarannya, lalu berbalik dengan langkah yang terlalu terburu-buru untuk seseorang yang mengaku tidak mengenal siapa-siapa di sini. "Tunggu." Efra melangkah maju. Tapi wanita itu sudah berteriak ke arah lain, "RENO! Ulah lumpat wae atuh!" --- Dua menit sebelumnya, semuanya masih biasa saja. Efra melangkah cepat di atas trotoar Braga dengan ponsel menempel di telinga, mendengarkan laporan sekretarisnya tentang berkas tender yang belum beres. Kawasan itu ramai seperti biasa, bau gorengan dari gerobak pinggir jalan bercampur dengan parfum turis yang lalu lalang, dan suara klakson dari jalanan tidak pernah benar-benar berhenti. "Saya tidak mau tahu alasannya. Berkasnya harus siap sebelum jam delapan malam," potong Efra tanpa memberi ruang untuk negosiasi. Ia tutup telepon. Matanya lurus ke depan. Sampai sesuatu menghantam lututnya dengan keras, tidak sopan, dan sangat menyakitkan. "Aduh! Sakit tahu!" Bukan Efra yang berteriak. Seorang bocah laki-laki sekitar lima tahun terduduk tepat di depan kakinya, kedua tangan memegangi kepala, wajahnya cemberut teramat sangat. Kaus bergambar pahlawan super, celana pendek kotor di bagian lutut, dan ekspresi yang sama sekali tidak mencerminkan rasa bersalah. Bocah itu menatap Efra seolah dialah yang bersalah karena berani berdiri di sana. "Kamu yang lari nabrak orang," kata Efra datar. "Kaki Om yang keras!" Efra membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tidak tahu harus menjawab apa untuk logika seperti itu. Ponselnya tergeletak pasrah di dekat kaki bocah itu. Efra menunduk hendak mengambilnya. Dan itulah saat tangan itu muncul, mendahuluinya, menyentuh ponselnya lebih dulu. --- Sekarang Efra berdiri di sini, memandangi punggung wanita yang berlari mengejar bocah bernama Reno itu, dan pikirannya tidak bisa berhenti berputar. Bau parfumnya vanilla bercampur sedikit kayu. Cara ia merapikan kacamata yang merosot dengan telunjuk kanan. Suaranya yang sedikit serak saat berbicara tapi tetap terdengar jelas di antara keramaian. Semua itu bukan kebetulan yang bisa ia tolak dengan logika. Di dekat lampu merah, wanita itu berhasil menangkap tangan Reno. Ia berkacak pinggang, napasnya terengah-engah, bibirnya mengomeli bocah itu panjang lebar. Reno justru tertawa kencang, giginya ompong satu di depan, tidak peduli sedikit pun. Efra melangkah ke tepi trotoar, matanya tidak berkedip. Wanita itu menggendong Reno, berjalan kembali ke arah motor matic besar yang terparkir di dekat pohon mahoni. Jaraknya tidak lebih dari sepuluh langkah dari tempat Efra berdiri. Ia pasti akan melewatinya. Efra menarik napas, mempersiapkan diri. Ia akan menghentikan langkah wanita itu. Ia akan memaksanya melihat. Ia akan mendapat jawaban atas pertanyaan yang sudah enam tahun ia kubur hidup-hidup di dalam dadanya. Wanita itu berjalan melewatinya. Tanpa menoleh. Tanpa melambat. Tanpa satu pun kedipan mata ke arahnya. "Kamu nakal banget sih, Reno. Capek Mimih ngejar-ngejar kamu terus. Nanti diaduin ke Bapakmu baru tahu rasa," omelnya pada bocah di gendongannya, suaranya datar seolah Efra tidak ada. Seolah Efra adalah tiang listrik. Batu di pinggir jalan. Angin yang lewat begitu saja. Efra membeku. Wanita itu menaruh Reno di bagian depan motor, menurunkan kacamatanya ke batang hidung dengan gerakan yang sudah ribuan kali Efra lihat tanpa pernah ia minta untuk diingat, lalu memasang helm dengan tangan yang kini sudah tidak gemetar lagi. Mesin menderu. "Vanka!" Efra melangkah maju, suaranya keluar lebih keras dari yang ia rencanakan. Terlambat. Motor itu sudah menyatu dengan arus kendaraan, hilang di antara deretan lampu merah dan asap knalpot sore Bandung, dan tidak ada yang tersisa kecuali jejak ban di aspal basah. Efra berdiri di tepi jalan. Ratusan orang terus bergerak di sekelilingnya. Seorang ibu mendorong stroller sambil menelepon. Dua remaja tertawa keras di depan kafe. Penjual cilok berteriak menawarkan dagangannya. Tidak ada yang tahu bahwa baru saja, tepat di sini, sesuatu di dalam dada Efra Alfaro baru saja terbalik. Enam tahun. Ia menghabiskan enam tahun untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah selesai dengan semua ini. Bahwa lukanya sudah sembuh. Bahwa hidupnya sudah berjalan ke arah yang benar. Tiga puluh detik. Satu bau parfum. Dan semua itu runtuh. "Den Efra." Suara Bayu muncul dari belakang, asisten pribadinya, dengan napas yang sedikit memburu. "Maaf ganggu, Den. Tapi ada masalah besar di pabrik." Efra tidak langsung menjawab. Matanya masih menempel pada titik di mana motor itu menghilang. "Den Efra?" "Apa masalahnya?" tanya Efra akhirnya. Suaranya keluar datar, dingin, seperti tidak ada yang terjadi. "Data operasional kita jebol. Beberapa file penting hilang dari peladen pusat." Bayu menyodorkan tablet, wajahnya tegang. "Ini bukan kelalaian biasa, Den. Sepertinya ada yang sengaja." Ponsel Efra bergetar di genggamannya. Satu pesan dari Panji, kakaknya. "Efra, cepat pulang. Keluarga Laras sudah sampai. Jangan sampai Bapak marah." Efra membaca pesan itu. Satu kali. Dua kali. Tiga masalah. Tiga arah berbeda. Datang semua dalam satu sore. Ia memasukkan ponsel ke saku jas dengan gerakan yang sangat tenang, terlalu tenang, lalu berbalik menghadap Bayu. "Kita pulang dulu. Setelah itu langsung ke pabrik." Efra melangkah menuju mobilnya. Punggungnya tegak. Langkahnya mantap. Dari luar, ia terlihat seperti Efra Alfaro yang selalu semua orang kenal, pria yang tidak pernah kehilangan kendali atas apapun. Tidak ada yang tahu bahwa di dalam kepalanya, satu hal terus berputar tanpa bisa ia hentikan. Tangan wanita itu gemetar saat menyodorkan ponselnya. Tapi saat berjalan melewatinya, tangan itu sudah berhenti gemetar. Orang yang benar-benar tidak mengenal seseorang tidak perlu bersusah payah untuk terlihat tenang.Jam sebelas malam, koridor lantai tiga rumah Pak Kim sudah sunyi.Satu per satu lampu kamar mati. Bayu yang paling cepat karena besok pagi ia yang harus memastikan semua logistik rapat sudah beres sebelum jam delapan. Eunwoo tidak lama setelah itu. Puja yang sudah hampir tidur sejak di gazebo tadi.Rena yang paling terakhir karena ia masih mengirimkan beberapa email yang tidak bisa ditunda sampai besok.Vanka duduk di meja kerjanya dengan laptop yang masih menyala, mengerjakan sesuatu yang ia bilang ke Sora tinggal sebentar tapi sudah setengah jam.Sora sudah tidur di kamarnya sendiri dengan cara yang tidak perlu diumumkan karena pintunya sudah tertutup sejak jam sepuluh.Di ujung koridor, kamar Seokjin yang sekarang diisi Efra, lampunya masih menyala tipis dari bawah pintu.---Vanka menutup laptopnya jam sebelas empat puluh.Matanya lelah dengan cara yang berbeda dari lelah fisik. Lebih ke lelah yang datang da
Ronde pertama, Efra kalah.Bukan karena tidak bisa main. Tapi karena Sora mengeluarkan kartu plus empat tepat saat Efra hampir menang dan tidak ada yang memperingatkan karena semua orang di meja itu melihat peluang itu dan memilih diam."Itu tidak adil." Efra menatap tumpukan kartu tambahan yang harus ia ambil."Selamat datang di UNO versi kami." Sora menyerahkan spidol ke Vanka. "Kamu yang gambar."Vanka mengambil spidol. Menatap Efra.Efra menatap balik dengan ekspresi yang tidak memberi instruksi tapi juga tidak menolak.Vanka menggambar satu garis pelan di pipi kirinya.Efra tidak bergerak."Itu saja?" tanya Sora."Itu standar hukumannya." Vanka menutup spidolnya. "Satu garis per kekalahan.""Tapi tadi aku dapat tiga sekaligus karena—"" Kak Sora." Suara Vanka tidak tinggi.Sora menutup mulutnya.Ronde berikutnya dimulai.---Jam tujuh, Bayu munc
Jam enam sore, rumah Pak Kim yang biasanya tenang di bagian belakang sudah berbeda suasananya.Dari arah gazebo di pojok taman, suara kartu yang dilempar ke meja dengan keras. Disusul suara protes. Disusul tawa yang tidak ditahan.Dari arah panggangan di sisi lain taman, asap tipis mulai naik dan bau daging yang mulai matang menyebar pelan ke seluruh area belakang rumah.Bi Ema yang lewat dari dapur ke gudang berhenti sebentar menatap dua area itu bergantian, menggeleng pelan dengan senyum yang tidak ia sembunyikan, lalu melanjutkan jalannya.---Di gazebo, permainan sudah berjalan entah berapa ronde.Meja rotan di tengah gazebo penuh dengan kartu yang sudah dimainkan. Di tengahnya, tumpukan kartu sisa yang makin tipis. Dan di wajah empat perempuan yang duduk mengelilingi meja itu, ada bukti yang tidak bisa disangkal dari siapa yang sudah kalah berapa kali.Sora punya empat garis di pipi kanan dan tiga di pipi kiri. Mera
Sora mematap Efra yang sedang menatap adiknya."Kami lupa memperkenalkan." Mama Sohe mengambil sendoknya kembali. "Seokjin itu putra sulung, kakak kami. Sedang dinas di Korea, jarang pulang ke Indonesia. Baru kali ini kami di sini lebih dari dua minggu jadi kamarnya kosong.""Dinas?" Rena yang dari tadi diam bertanya dengan nada yang sedikit lebih tertarik dari nada profesionalnya yang biasa."Angatan Darat." Sora menimpali tanpa mendongak dari piringnya. "Oppa Seokjin tentara aktif jadi menetap di sana. Paling setahun sekali pulang ke Indonesia kalau tidak ada penugasan.""Oh." Rena mengangguk. Kembali ke makanannya. Tapi telinganya masih merah sedikit di bagian atas.Bayu melihat itu. Memilih untuk tidak tahu apa-apa.Efra menatap Pak Kim. Menatap Mama Sohe. Melihat tidak ada celah yang masuk akal untuk menolak tanpa terlihat tidak sopan."Terima kasih. Kalau tidak merepotkan.""Tidak merep
Orang tua yang terakhir pergi adalah Pak Nadi.Bukan karena ia yang paling lama. Tapi karena saat semua orang sudah berdiri dan mengambil tas dan berpamitan satu per satu, Pak Nadi masih duduk sebentar dengan cangkir kopinya yang sudah kosong. Menatap ke meja. Ke piring-piring yang sudah
Tol Cipularang jam dua pagi terasa seperti dunia lain.Tidak ada kemacetan. Tidak ada klakson. Hanya garis putih di aspal yang terus muncul dari kegelapan di depan lampu mobil dan hilang lagi di belakang, berulang-ulang, seperti metronom yang tidak punya tujuan selain terus bergerak.
Jalanan Bandung malam itu sudah mulai menipis.Warung-warung di pinggir jalan tutup satu per satu. Lampu toko yang tadi ramai sekarang tinggal beberapa titik. Minimarket di sudut perempatan masih menyala dengan cahaya putih yang terlalu terang untuk jam sesunyi ini.Motor itu me
Bu Sarah melepaskan pelukannya pelan.Tangannya masih di lengan Vanka sebentar, seperti orang yang melepaskan sesuatu tapi belum sepenuhnya siap. Lalu ia mengusap wajahnya sendiri dengan punggung tangan, tertawa kecil yang sedikit malu karena menangis."Mama lebay," ucap Sima da












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.