Share

Bab 2135

Author: Imgnmln
last update publish date: 2026-07-27 22:03:04

DUAAAAR!

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh pegunungan. Debu dan batu beterbangan ke segala arah. Tanah retak, sementara bebatuan di sekitar hancur berkeping-keping akibat benturan dua kekuatan itu.

Beberapa saat kemudian, debu mulai menghilang.

Pemandangan yang tersisa membuat semua orang terpaku.

Artefak petir milik Tetua Ketiga telah hancur berkeping-keping. Yang masih berada di tangannya hanyalah dua batang gagang yang patah.

Tetua Ketiga berdiri membeku. Tatapannya kosong saat memandangi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2136

    Nathan menatap Tetua Ketiga tanpa sedikit pun rasa iba. "Kalau aku membiarkanmu hidup, lalu bagaimana dengan mereka yang mati tanpa alasan?"Tatapannya beralih sekilas ke deretan jasad yang memenuhi lereng gunung.Kilatan dingin melintas di matanya.GRAAKK—!Nathan menginjak lebih keras.Tetua Ketiga kembali memuntahkan darah segar. Cahaya di matanya perlahan memudar, napasnya terputus, lalu tubuhnya terkulai tanpa kehidupan.Seorang Puncak Sovereign Tingkat Menengah tewas begitu saja di bawah satu injakan Nathan.Melihat para murid Ordo Tempest berusaha melarikan diri, Nathan mengangkat tangannya.Whoossshh!Pedang Aruna langsung muncul di genggamannya, memancarkan cahaya dingin yang menusuk mata.Detik berikutnya, sosok Nathan lenyap bagaikan kilatan petir.Srrt! Srrt! Srrt!Jeritan demi jeritan memecah keheningan pegunungan.Dalam sekejap mata, seluruh murid Ordo Tempest yang mencoba kabur telah roboh satu per satu. Tak seorang pun berhasil menyelamatkan diri dari tebasan Pedang Ar

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2135

    DUAAAAR!Ledakan dahsyat mengguncang seluruh pegunungan. Debu dan batu beterbangan ke segala arah. Tanah retak, sementara bebatuan di sekitar hancur berkeping-keping akibat benturan dua kekuatan itu.Beberapa saat kemudian, debu mulai menghilang.Pemandangan yang tersisa membuat semua orang terpaku.Artefak petir milik Tetua Ketiga telah hancur berkeping-keping. Yang masih berada di tangannya hanyalah dua batang gagang yang patah.Tetua Ketiga berdiri membeku. Tatapannya kosong saat memandangi sisa senjata spiritualnya yang telah berubah menjadi rongsokan."Cih!" Nathan mendengus dingin. "Dengan kemampuan seperti itu, kau masih punya muka untuk sombong?"Belum sempat Tetua Ketiga tersadar, Nathan sudah melayangkan tendangan keras ke dadanya.DUAAAG!Tubuh Tetua Ketiga langsung terpental puluhan meter. Di tengah lintasan, darah segar menyembur dari mulutnya, membentuk lengkungan merah di udara sebelum tubuhnya menghantam tanah dengan keras.Para murid Ordo Tempest langsung membeku di t

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2134

    Raze menelan ludah. "Tuan Nathan... benar-benar bukan manusia biasa." Ia menggeleng pelan sambil terus menatap sosok Nathan yang melesat di udara. "Dengan kultivasi Sovereign Tingkat Akhir saja, beliau sudah memiliki kekuatan seperti ini."Alric, Aldren, dan Riven hanya bisa terdiam. Kekaguman dalam hati mereka semakin sulit diungkapkan dengan kata-kata.Melihat Nathan benar-benar berani menyerangnya, Tetua Ketiga mendengus keras. "Majulah!"Ia mengangkat kedua tangannya ke udara. Beberapa murid Ordo Tempest segera melemparkan artefak ke arahnya.Whoossshh!Di tengah lintasan, artefak itu membesar berkali-kali lipat sebelum mendarat mantap di telapak tangan Tetua Ketiga. Ia memutar artefak tersebut dengan ringan.BANG! BANG! BANG!Setiap benturan di antara keduanya menghasilkan dentingan yang mengguncang udara. Gelombang suara itu begitu tajam hingga banyak kultivator spontan menutup telinga, sementara wajah mereka berubah pucat.Di sisi lain, Nathan sama sekali tidak berniat menghind

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2133

    Meski Velisa mengerahkan seluruh kemampuannya, gelombang tekanan itu tetap menembus pertahanannya sedikit demi sedikit. Raze dan yang lainnya masih merasakan beban luar biasa di atas bahu mereka, seolah seluruh langit hendak runtuh menimpa tubuh masing-masing."Cih! Kau baru Puncak Sovereign Tingkat Awal, tapi sudah berani menantangku? Apa kau benar-benar tahu batas kemampuanmu?" Tatapan Tetua Ketiga dipenuhi ejekan saat memandang Velisa.Velisa hendak membalas, tetapi Nathan sudah melangkah ke depan. "Kalau dia tidak cukup, bagaimana denganku?"Begitu kalimat itu berakhir, aura yang selama ini ia tekan langsung meledak keluar.Tetua Ketiga tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Bocah, kau hanya Sovereign Tingkat Akhir. Dari mana datangnya keberanian berbicara seperti itu di hadapanku?"Namun, tawanya perlahan menghilang. Ia menyadari tekanan auranya tidak lagi mampu bergerak bebas. Seolah ada tembok tak kasatmata yang menahannya. Sorot matanya berubah tajam. Tanpa ragu, ia kembali meningka

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2132

    Ratusan orang menerjang bersamaan. Para murid Ordo Tempest yang biasanya congkak kini justru pontang-panting melarikan diri sambil berteriak meminta bala bantuan.Melihat pemandangan itu, Raze tertawa puas. "Lihat! Selama kita bersama Tuan Nathan, tidak akan ada lagi yang bisa menginjak-injak kita!"Ucapan itu membuat banyak kultivator di sekitar mengangguk setuju. Nama Nathan sudah lama menggema di dunia kultivasi. Kini, setelah menyaksikan sendiri kekuatannya, rasa hormat mereka semakin bertambah.Nathan tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangkat tangan memberi isyarat. "Ayo, kita lanjut."Rombongan kembali bergerak mendaki Pegunungan Langit Purba.Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, embusan angin tiba-tiba membawa aroma darah yang begitu pekat hingga menusuk hidung.Tak lama kemudian, pemandangan mengerikan terbentang di depan mereka.Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalur pegunungan. Sebagian besar tubuh mereka telah remuk hingga sulit dikenali, sementara tanah di se

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2131

    "Tenang saja, Tuan Nathan." Raze mengangguk mantap. "Apa pun perintah Anda, kami akan mengikutinya tanpa banyak bertanya."Alric, Aldren, dan Riven turut menganggukkan kepala tanpa ragu.Tak lama kemudian, Nathan memimpin rombongan bergerak menuju Pegunungan Langit Purba.Melihat mereka mulai mendaki, para kultivator yang sebelumnya berkumpul di sekitar kaki gunung ikut berbondong-bondong mengikuti dari belakang. Ledakan energi yang sempat mengguncang kawasan itu membuat semua orang yakin pasti ada harta karun besar yang tersembunyi di dalamnya. Demi kesempatan seperti itu, mempertaruhkan nyawa bukan lagi hal yang aneh.Sedikit demi sedikit, jumlah orang yang mengikuti Nathan bertambah hingga melampaui seratus orang. Arus manusia itu terus bergerak menuju Pegunungan Langit Purba.Sementara itu, beberapa murid Ordo Tempest masih bersantai di kaki gunung. Mereka bersandar di bawah pohon besar sambil mengobrol seolah tidak terjadi apa-apa.Begitu melihat rombongan yang sebelumnya telah m

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1112

    “Bukan sekadar harta biasa,” jawab Kaidar dengan nada berat. “Artefak seperti Menara Kegelapan tak akan hancur begitu saja kecuali ada kekuatan ilahi yang diambil dari dalamnya—kunci, segel, atau inti roh purba .... siapa tahu?”Kilau ambisi muncul di mata Gill. “Kalau begitu, Nathan membawa kekuat

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1113

    Kediaman keluarga Arteta.Malam menyelimuti pesta yang gemerlap. Lampu-lampu gantung kristal menyala terang, membiaskan cahaya ke perabotan mewah dan para tamu berpakaian formal. Namun di balik kemewahan itu, tersembunyi rencana yang lebih gelap dari bayangan siapa pun.Scholar, pemimpin Keluarga A

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1104

    Paul yang berada di dekatnya hanya bisa menyaksikan dengan ekspresi yang rumit. Dia masih mengingat pertama kali dia bertemu dengan Nathan, saat itu Nathan hanyalah pemuda biasa yang tak berarti. Namun sekarang, Nathan telah berkembang begitu pesat, mencapai kekuatan yang membuat Paul lebih menghor

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1090

    Tiga penguasa Ingras itu, yang seharusnya menjadi ancaman mematikan, kini hanya bisa merintih ketakutan. "Tuan Nathan, ampuni kami! Kami tidak bermaksud—" Suara mereka terputus oleh isak tangis, tubuh mereka bersujud ke tanah, tangan mereka menggenggam debu.Vinsen melihat pemandangan ini dengan ma

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status