LOGINMelihat keberadaan Freya di ambang pintu, dengan cepat Bibi Ziang menghampiri untuk menenangkan."Aku ingin menyusul Paman sekarang juga!" tegas Freya dengan sorot mata yang tidak bisa dibantah.Yenzing menghela napas panjang sambil menundukkan kepala. "Jangan, Nona. Kalau Nona nekat ke sana dalam kondisi seperti ini, Tuan bisa membunuh saya.""Kenapa? Aku ingin ke sana justru karena aku mengkhawatirkan keselamatannya! Dani itu licik dan jahat! Dia pasti sedang merencanakan sesuatu yang buruk di rumah itu. Aku tidak ingin Paman Diego mendapat masalah atau terluka karena bajingan itu!"Mendengar ungkapan jujur yang keluar dari mulut Freya, Yenzing seketika tertegun. Tatapan matanya yang bingung langsung beralih pada Bibi Ziang, meminta penjelasan.Bibi Ziang langsung mendekat dan berbisik menjelaskan, "Nona Freya sudah mengingat semuanya. Tapi tolong, jangan beri tahu Tuan d
"Mungkin terjadi sesuatu pada Tuan di luar sana?" tebak Bibi Ziang cemas.Mendengar dugaan itu, Freya seketika mencengkeram lengan Bibi Ziang dengan erat. "Memangnya sekarang Paman pergi ke mana, Bi?"Bibi Ziang terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat ke mana perginya Diego sejak siang tadi.Namun, ia sama sekali tidak tahu pasti, karena majikannya itu pergi tanpa sepatah kata pun seperti biasanya."Ke mana, Bi? Jawab!" desak Freya dengan suara yang mulai diselimuti kepanikan.Bibi Ziang menggelengkan kepala pelan. "Bibi tidak tahu pasti, Nona. Tapi sepertinya Tuan pergi menemui klien penting. Kalau memang benar begitu, Tuan pasti tidak akan pergi sendirian. Tuan selalu dikawal ketat oleh bodyguard dan Yenzing."Freya langsung menatap ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman depan.Seingatnya, ia sempat melihat bayangan tubu
Di mansion, suasana dapur terasa sangat hangat karena kehadiran Freya.Saat ini, ia dibantu Bibi Ziang, tengah sibuk menyiapkan makan malam spesial untuk menyambut kepulangan Diego."Seharusnya Nona Freya beristirahat saja di dalam kamar. Tugas memasak ini sudah menjadi tanggung jawab Bibi selama puluhan tahun bekerja dengan keluarga besar Foster," ucap Bibi Ziang lembut, merasa tidak enak melihat sang majikan repot di dapur.Freya tersenyum manis sambil memotong sayuran. "Mulai sekarang dan seterusnya, aku ikut mengambil alih tugas memasak Bibi. Sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Besar Tuan Foster, bukan? Aku tidak ingin hanya duduk diam, sementara lidah suamiku dimanjakan oleh masakan wanita lain."Mendengar penuturan itu, Bibi Ziang menghentikan aktivitas dan menatap Freya dengan kerutan bingung di dahi."Apa ... apa Nona Freya sudah mengingat semuanya? Nona ingat semua
"Duduk!" perintah Diego dengan suara bariton yang tajam saat melihat Dani baru saja menginjakkan kaki di dalam ruangan."I-iya, Paman. Tapi aku bahkan belum sempat masuk. Tunggu sebentar, oke," gumam Dani kikuk. Merasa tubuhnya menciut drastis di bawah tatapan Elang sang paman.'Sial! Lihat saja nanti! Sebentar lagi kamu akan tertidur pulas karena dosis obat yang aku masukan di dalam kopimu,' batinnya penuh dendam.Dani melangkah mendekati meja kerja, lalu duduk di kursi yang disediakan.Ia kembali menundukkan kepala, tidak berani sedikit pun menatap mata tajam Diego yang seolah mampu menembus isi kepalanya.Diego menghela napas panjang. Matanya beralih pada daun pintu yang sengaja dibiarkan tidak tertutup rapat. "Kamu sengaja membiarkan pintu itu terbuka?"Dani menoleh cepat ke belakang, berusaha bersikap natural. "I-iya, Paman. Aku tadi memesan minuman
"Aku sangat bersyukur bisa berkumpul lagi dengan kalian setelah kecelakaan tragis itu. Sampai sekarang, aku masih tidak menyangka bisa selamat dari maut yang sudah di depan mata," ucap Dani, membuka pembicaraan dengan nada bersemangat untuk mengusir kecanggungan yang kian menghimpit dada.Santoso dan Tiara tampak tersenyum sumringah. Mereka ikut merasakan kebahagiaan Dani dan tak henti bersyukur karena putra mereka bisa kembali dalam keadaan sehat."Kamu tahu, Dani? Papi dan Mami hampir saja nekat menyusul masuk ke dalam sungai untuk mencarimu waktu itu," sahut Tiara dengan kedua mata berkaca-kaca.Dani membulatkan kedua matanya lebar, berpura-pura terkejut. "Benar begitu, Mi? Berarti aku memang sangat berharga untuk kalian berdua?" kekehnya mencoba mencairkan suasana."Tentu saja kamu sangat berharga bagi kami, Dani. Kami hanya memiliki satu anak laki-laki yaitu kamu," jawab Santoso dengan tata
Dani tertegun di dalam mobil saat melihat kendaraan roda empat mewah milik Diego sudah terparkir di halaman depan rumah orang tuanya."Paman Diego ... ada di sini?" gumamnya pelan dengan tenggorokan mendadak kering.Tiba-tiba saja detak jantung Dani berdegup kencang seperti ingin keluar dari rongga dada.Ia tahu betul pamannya itu memiliki insting yang jauh lebih tajam dari Singa Lapar."Apa mungkin rencana yang sudah aku siapkan dengan matang, bocor?" Kedua lutut Dani mendadak bergetar hebat, hingga ia kesulitan untuk mengangkat kakinya keluar dari mobil."Pak Dani, kita sudah sampai," ucap supir pribadi Santoso sambil membuka sabuk pengaman dan bergegas turun lebih dulu untuk membukakan pintu.Dani masih membeku di posisinya, menatap lurus ke arah pintu masuk rumah yang terbuka lebar. Sangat yakin, Diego sedang menunggunya di dalam.
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan







