Mag-log in"Jangan bilang begitu." "Kenapa? Karena itu menyakitkan untuk didengar?" Seira bertanya lirih. "Aku juga sakit, Raka." Tatapan Raka berubah. Ia tidak pernah melihat Seira selemah ini sebelumnya. Seira menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Aku menyukai kamu bukan karena kamu sempurna. Aku tahu kamu punya masa lalu. Aku tahu kamu punya luka. Tapi aku ingin kamu jujur padaku. Aku ingin tahu perasaanmu kepadaku." Raka masih terdiam, ia menatap ke arah manik Seira yang berkaca kaca. Seira yang tidak kunjung mendapatkan jawaban dari pria di hadapannya segera membuka suaranya. "Aku lelah Raka, Aku lelah.... lelah mencintai kamu sendirian." Raka terdiam. Kalimat terakhir yang dilontarkan Seira terasa lebih menyakitkan daripada segala tuduhan yang pernah ia dengar. Ia bisa menghadapi kemarahan Seira, bisa menghadapi tangisnya, bahkan bisa menerima jika Seira membencinya. Tapi melihat Seira yang biasanya kuat kini terlihat menyerah membuat dadanya terasa sesak. "Seira..." p
Julian terdiam mendengar pertanyaan Reina. Tatapannya yang tadi terlihat tenang perlahan berubah menjadi lebih dingin. Ia tidak langsung menjawab, seolah sedang mempertimbangkan apakah ia harus membuka sedikit rahasia yang selama ini ia simpan. Reina memperhatikan perubahan ekspresi itu dengan saksama. Selama bekerja sama dengan Julian, ia tahu satu hal. Pria itu bukan seseorang yang mudah menceritakan masa lalunya. "Kenapa?" ulang Reina pelan. Julian menurunkan pandangannya. Tangannya yang terlipat perlahan mengepal. "Karena keluarga Suryani pernah menghancurkan sesuatu yang penting bagiku." Reina sedikit terkejut. Ia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban secepat itu. "Maksudmu,keluarga Raka? Bukankah keluarga Suryani selalu tampil layaknya keluarga kaya yang dermawan dan baik. " Julian tersenyum tipis, tetapi tidak ada kebahagiaan dalam senyumnya. "Kebaikan yang penuh kemunafikan itu begitu membuatku muak." ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
Raka yang mendengar ucapan Zidan langsung menatap tajam ke arahnya. "Bukan gara-gara bekal," bantahnya cepat. Julian yang berdiri di samping meja hanya memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Wajahnya tetap terlihat tenang, berbeda jauh dengan Raka yang masih terlihat kesal. "Terus gara-gara apa?" tanya Silva penasaran. Raka membuka mulut, tetapi ia langsung terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya kesal hanya karena Julian terus mencari perhatian Seira. "Intinya bukan masalah penting," jawab Raka akhirnya. Julian menarik kursi kosong di sebelah Seira dan duduk tanpa meminta izin. Hal itu langsung membuat Raka mengernyitkan dahi. "Serius? Dari sekian banyak kursi kosong, lo pilih yang itu?" tanyanya tidak percaya. Julian menoleh santai. "Iya. Kenapa?" "Lo sengaja banget, ya." "Kalau gue bilang enggak, lo bakal percaya?" Raka langsung terdiam karena jawaban itu terdengar seperti sebuah tantangan. Seira yang sejak tadi diam akhirnya meletakkan sendokny
Raka segera menghampiri mereka tanpa berpikir panjang. Julian yang menyadari kedatangan Raka hanya meliriknya sekilas, lalu kembali menatap menu makanan di depannya. "Seira," panggil Raka. Seira yang sedang berbicara dengan Julian langsung menoleh. Ekspresinya sedikit terkejut melihat Raka berdiri di belakangnya. "Raka? Kamu ngapain di sini?" tanyanya. Raka terdiam beberapa detik. Ia sendiri tidak tahu alasan sebenarnya ia datang. Ia hanya tahu bahwa melihat Seira tertawa bersama Julian membuat dadanya terasa tidak nyaman. "Aku mau ikut makan sama kalian," jawabnya akhirnya. Seira mengerutkan kening. "Tapi kamu biasanya makan sama Zidan. Kalau mau ikut kita, bagaimana Zidan?" Raka hanya berdecak, ia segera menoleh sekilas ke arah Zidan yang baru saja datang. "Zidan bisa makan sendiri," ujarnya, datar. Jawaban Raka yang cepat membuat Seira semakin heran. Ia menatap pria itu dengan tatapan curiga. Sementara itu, Julian hanya tersenyum tipis melihat tingkah Raka. "
Raka langsung menatap Zidan setelah mendengar kalimat itu. "Dia... mau ngilangin perasaan dia buat gue?" ulangnya, mencoba mencerna ucapan dari sahabatnya itu. Zidan mengangguk pelan. "Iya, bukannya dari ucapannya udah kelihatan jelas." Raka kembali melihat ke arah Seira. Gadis itu masih membaca buku, tetapi kali ini Raka bisa melihat sesuatu yang berbeda. Seira mencoba menghindari tatapan matanya, bahkan gadis itu terlihat mencoba mengabaikan kehadirannya. Dan entah kenapa, hal kecil itu membuat dada Raka terasa semakin sesak. "Kenapa dia harus ngelakuin itu?" tanya Raka pelan. Zidan menatapnya datar. "Karena dia capek, Rak." Raka terdiam. Ia paham akan maksud dari Zidan, setiap manusia pasti punya titik lelahnya sendiri. Ia menatap Zidan, mencoba mendengar lanjutan dari perkataan sahabatnya. "Bayangin aja. Selama ini dia selalu ada buat lo. Dia tahu lo masih cinta sama Reina. Dia tahu lo masih berharap hubungan kalian kembali seperti dulu. Tapi dia tetap bertahan di
Raka terdiam mendengar ucapan Zidan. Untuk beberapa saat, ia masih tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menatap pulpen di tangannya, memutarnya perlahan. "Gue cuma..." Raka berhenti sebentar. Zidan menunggu jawaban dari sahabatnya. Raka segera menoleh ke arah Zidan. "Gue cuma merasa aneh." "Aneh gimana?" Raka menghela napasnya sejenak, pikirannya kembali melayang saat Seira memintanya untuk menetapkan batasan di hubungan mereka. "Seira kemarin bilang kalau hubungan kita harus dibatasin, gue ga paham maksudnya sampai gue lihat Seira mulai menjauh dari gue." Zidan mengangkat alisnya, ia mulai paham dengan masalah yang dialami oleh sahabatnya itu. "Terus?" "Terus..." Raka menggigit bibir bawahnya sebentar. "Gue nggak tahu harus gimana." Zidan menatapnya tidak percaya. "Serius? Lo nggak tahu harus gimana?" Raka mengangguk kecil. "Iya, gue gatau harus ngelakuin apa biar Seira ga jaga batasan sama gue." Zidan tertawa pelan sambil menggelengkan kepala. "Rak, se
"Terimakasih Raka, aku tidak tahu mengenai hal itu. Kalau begitu ayo kita temui ibumu." Reina segera menggandeng tangan Raka dengan lembut. Ketiga orang itu segera berjalan mendekat kearah Wulan yang tengah berdiri di samping Zevran. Raka yang digandeng masih merasa cemas, ia masih takut jika ibu
Sari meraih tangan putrinya mencoba meyakinkan bahwa rencana yang ia susun akan berhasil. "Sudah, lakukan saja sesuai yang mama intruksikan. Dengan ini kita bisa masuk dan mengambil alih Suryani grup," jelasnya. Mendengar akan hal itu Sarah terdiam, mencoba menimbang permintaan dari sang ibu. Ia
Sarah tersenyum manis, mencoba menenangkan situasi. "Zevran, apa yang ingin kamu katakan kepadaku?" tanya Sarah, mencoba menggenggam tangan Zevran. Zevran menepis tangan itu, ia menatap Sarah dengan datar. "Sebelum aku mengatakannya apakah kau mau jujur denganku?." Mendengar itu Sarah diam seje
Zevran mengangkat wajahnya, matanya menatap sendu ke arah ibunya, tapi kini ada kilatan tekad di dalamnya. "Aku harus tahu alasan mereka membohongi dan mempermainkan, Ma. Aku tidak bisa terus dipermainkan dan dibohongi begitu saja," ucapnya pelan, namun tegas. Wulan mengangguk, matanya lembut. Ia







