INICIAR SESIÓNDi suatu kota ada seorang gadis yang cantik, kuat, dan pemberani. Dia hidup sebatang kara di kota tersebut, dan dia menghadapi banyak rintangan hidup juga pemendam rasa terhadap seseorang. Seiring berjalannya waktu dia menemukan suatu hal aneh di kota tersebut. Mimpi-mimpinya harus bisa tercapai dan dia memiliki tekad yang kuat. Tapi yang anehnya, dia tidak mudah berbaur dengan yang lainnya. Dia suka menyendiri dan suka pergi ke suatu tempat dengan sendiri juga tanpa ada teman. Karena kesendirian membuat dia nyaman tanpa menggangu kehidupan orang lain. Tapi hal ini tidak baik dengan dirinya sendiri. Tapi dia berargumen masa bodoh dan cuek sekali pada kehidupan sekitar. Dia suka menyendiri dan mandiri melakukan tentang hal apapun itu. Baginya perjuangan itu harus dan dia tidak mau di repotkan dan jika ada minta pertolongan dia langsung segera untuk menolong. Dia memiliki jiwa seni yang tinggi juga rasa kepedulian yang tinggi. Dia cuek karena menggangap suatu hal tidak penting baginya untuk itu dia melakukan semuanya sendiri. Dia sudah terbiasa dalam menghadapi hidup yang rumit, dan hal ini membuat dia bisa bertahan, untuk mencapai hal itu memang tidak mudah, harus optimis dan bekerja secara cerdas juga tetap berserah padaNya. Dia yakin semua hal yang dia lakukan adalah untuk membuat dia belajar memaknai hidup juga dia tidak pernah mengeluh, dan tetap bersyukur. Dia di besarkan di keluarga yang sangat sederhana dan hanya memiliki seorang Ibu yang baik hati dan memiliki sifat kerja keras dan sama dengan dirinya sendiri. Dia sudah menyelesaikan sekolah di perguruan swasta terbaik selama 4 tahun dan kini meranjak untuk merantau kembali ke negeri orang untuk meningkatkan hidupnya dan membuat ibunda tercinta bangga terhadap dirinya. Dia seorang gadis berumur 25 tahun, dan hobi menulis juga memasak. Berkarya dan selalu berkarya adalah impian terbesarnya. Karena berkarya membuat dia bisa menginspirasi semua orang termasuk bagi keluarganya sendiri.
Ver más"Apa maksudnya ini Mas?!"
Maura tak bisa menahan buliran air matanya, baru saja ia mendengar pernyataan yang begitu kejam dan jahat dari sang suami untuknya. "Maaf Maura, aku butuh uang, hanya ini jalan terakhir yang bisa menolongku." Maura membekap wajahnya, lututnya goyah dan ia bersimpuh di dekat sang suami yang kian merasakan perasaan bersalah pada istrinya itu. "Tapi apa harus menjualku Mas?! Tega! Kamu sangat jahat!!" jerit itu mengalun di tengah heningnya malam. "Maura dengar..." Deri menggenggam kedua tangan Maura, pria itu ikut bersimpuh di depan Maura yang menangis di bawahnya. "Aku janji, aku akan menebus kamu setelah semua hutangku lunas, aku akan mencari berbagai cara agar kamu bisa bebas!" "Berbagai cara?!" Pandangan Maura terangkat dan menatap tajam pada Deri yang kedua matanya berkaca bingung dan merasa bersalah pada sang istri yang terlihat sangat kacau dan berantakan. "Cara apa lagi?! Sekarang saja kamu berani menjual aku ke rumah bordil!" Amuk Maura memukulkan kepalan tangannya pada Deri yang menerima begitu saja. "Akan aku pikirkan-""Tidak! Tidak perlu! Selama ini aku sudah cukup bersabar bertahan denganmu Mas, di saat kamu jatuh dan bangkrut aku masih setia mendukung kamu ... Tapi ini balasan kamu padaku?" Maura memundurkan langkahnya perlahan ke belakang. "Sudah cukup, aku tidak mau pergi ke sana, aku tidak mau lagi ikut campur dengan urusanmu, aku mau pergi!!" Maura menghapus kasar sisa air mata di wajahnya, kemudian berbalik cepat ingin kabur dari suaminya yang ia pikir sudah gila dan sakit jiwa ini. "Maura tolong aku! Jika kamu pergi, kita berdua akan mati! Maura, aku sudah tanda tangan kontrak perjanjian dengan pemilik tempat itu, mereka akan memberikan uang yang banyak untuk melunasi hutang-hutangku ke para rentenir itu. Aku mohon sekali lagi, berkorbanlah untuk aku, suamimu!" Deri menahan lengan Maura saat wanita itu berniat untuk melarikan diri "Maura-"Ucapan Deri terhenti saat mendengar dobrakan kasar dari pintu rumah mereka, dan kemudian menampilkan dua orang laki-laki berbadan besar yang menatap keduanya tajam. "Perjanjiannya kamu yang akan mengantar sendiri wanita ini! Namun sampai malam tiba kamu tidak kunjung datang! Apa kalian berniat kabur?!" "Tidak- Maksudnya aku baru akan mengantar istriku ke sana" Deri menangkap Maura dan membawanya ke dalam pelukannya, menahan Maura yang berontak dan mencoba lepas dari pelukannya. "Mas!!" Maura menjerit tak terima, terlebih bagaimana kedua pria berbadan besar itu tersenyum miring dan membuka jalan. "Bawa ke mobil! Kami sendiri yang akan mengantarnya!" Maura menatap Deri dengan kedua mata berkacanya, berharap pria itu mau menolongnya meski hal tersebut mustahil.Deri sendiri hanya bisa memberikan tatapan tak berdaya nya pada Maura. " Maafkan aku," Bisiknya pelan yang kemudian memberikan ciuman lembut di kening Maura."Aku yang akan mengantarnya, kalian ikuti dari belakang, setidaknya aku mau bersama istriku sebelum kalian membawanya," Tangan Deri meremas lembut bahu Maura yang tubuhnya sudah lemas tak bertenaga.Harapannya agar bisa kabur sudah hancur, Maura berpikir dia tidak akan bisa lari lagi dari takdir buruk yang menimpanya.Di saat seperti ini ia kembali mengingat tentang larangan kedua orangtuanya yang menolak ia untuk menikah dengan Deri dulu.Apa ini doa dari kedua orangtuanya yang mendoakan agar pernikahan hancur berantakan dan membuatnya menyesal serta tersiksa?Sepertinya iya, Maura kini menyesal tak menuruti perkataan kedua orangtuanya yang dulu mungkin memiliki firasat jika Deri bukanlah orang yang baik.Maura dan Deri sudah menikah lebih dari lima tahun, namun keuangan keluarga mereka terus saja menurun karena suaminya sering kali menghabiskan uang itu untuk mabuk dan berjudi.Sementara sudah dua tahun Deri menganggur karena dipecat dari pekerjaannya dan itu membuat Maura harus bekerja untuk menghidupi keluarga mereka."Maaf Maura," Bisikan Deri itu mengembalikan Maura dari lamunannya, pria itu mencium lagi kening Maura sebelum kemudian membawa Maura keluar dari rumah mereka.Tetes air mata itu menetes perlahan, sebelum kemudian menjadi beranak sungai, Maura menangis tanpa suara.***Mobil yang Deri kendarai tu berhenti tepat di depan pintu masuk sebuah rumah bordil yang tak terlihat seperti tempat pelacuran.Rumah mewah itu terlihat biasa saja, sama seperti rumah-rumah pada umumnya namun melihat banyaknya mobil mewah nan mahal yang terparkir di halamannya, Maura tau pelanggan di tempat ini bukanlah orang-orang biasa."Mas Deri!!" Maura kembali dengan isakannya, wanita itu jelas ketakutan karena suaminya benar-benar serius membawa ia ke tempat prostitusi ini. "Aku mohon Mas! Aku gak mau ada di sini!" bisik Maura penuh kepedihan pada Deri yang juga ikut merasakan sakit, namun juga pria itu tak punya pilihan lain selain melakukan ini di saat nyawanya juga sedang diancam oleh para rentenir yang menagih hutang padanya. "Maaf sayang, aku janji akan membebaskan kamu dari tempat ini," Deri membawa kepala Maura ke dalam pelukannya untuk ia beri kecupan dalam dan penuh penyesalan. Perandaian ada di kepalanya, andai ia tak berjudi dan andai ia tak kehilangan pekerjaannya juga andai ia tak memaksa kehendaknya untuk menikahi Maura di saat kedua orangtua wanita itu menentang keras pernikahan mereka dulu. "Aku mencintaimu Maura!" bisik itu tak menenangkan Maura, justru ketakutannya makin menjadi karena kemudian pintu mobil dibuka paksa oleh dua orang badan besar yang mengikuti mobil mereka tadi. "Apa yang kalian lakukan sehingga sangat lama?!" ujar salah satu si pria berbadan besar yang menatap nyalang pada Maura dan Deri yang masih berpelukan di dalam mobil itu. "Maaf, kalian bisa membawanya!" Perintah Deri itu diangguki kedua pria berbadan besar dan juga menghancurkan hati Maura, Deri bahkan memalingkan wajahnya saat Maura berusaha berontak menolak saat kedua pria yang tak ia kenali itu menyeretnya paksa. "Aku membenci kamu Mas!!" adalah ucapan terakhir Maura saat wanita itu benar-benar menghilang dari pandangan Deri yang telah menangis di dalam mobilnya. Maura di bawa memasuki rumah mewah itu, suasana yang ada di dalam nampak seperti pesta, banyak sekali orang-orang berpakaian mewah nan rapih yang ada di dalamnya, bahkan beberapa pasang mata sudah menatap pada Maura yang dibawa oleh dua orang berbadan besar melewati kerumunan orang-orang ke lantai atas. Seperti masuk ke dalam dunia berbeda, di lantai dua rumah mewah ini berisikan orang-orang yang sepertinya mencari kesenangan, terbukti di beberapa sudut tempat yang Maura lihat, banyak pria dan wanita yang bercumbu begitu liar dan tentu itu membuatnya mual dan pusing. "Sebentar lagi nasibmu akan sama seperti para wanita di tempat ini, jadi jangan berpaling dan pelajarilah apa yang para wanita itu lakukan untuk bisa memuaskan para pelanggannya!" Wajah Maura ditarik salah satu pria yang mengawalnya itu, dan pria itu berbicara tepat di depan wajahnya hingga bau napasnya membuat Maura mual. Maura sudah ketakutan setengah mati, ia berusaha mencari cara agar bisa melarikan diri dari tempat ini. Saat kedua pria itu lengah membawanya dan berpikir jika Maura telah pasrah, wanita itu melarikan diri dan mencoba mencari pintu keluar yang entah dimana letaknya, karena kerumunan orang-orang membuatnya lupa serta linglung. "Berhenti jalang!!" teriakan itu bisa Maura dengar, dan makin membuat kakinya gemetar ketakutan namun ia juga tidak menghentikan langkahnya untuk terus menjauh. Maura berhasil mencapai pintu keluar, meski dengan sedikit kericuhan yang dia buat, namun saat udara di luar menerpa dirinya perasaan Maura lega begitu saja. Baru akan melarikan diri, tubuhnya menabrak seorang pria yang sepertinya baru ingin masuk ke dalam tempat yang menurut Maura menjijikan itu. "Kamu terlihat sangat buru-buru? Apa ada yang mengejarmu?" suara berat itu menyihir Maura, mengangkat wajah dan terpaku oleh ketampanan pria yang masih mendekap tubuhnya dalam tubuh besarnya itu. Seperti mendapat pertolongan, Maura merasa pria ini bisa membantunya "me-mereka, mereka mengejar aku, bisakah kamu menolongku?" cercanya diiringi air mata yang meluruh dari kedua matanya. Pria berpenampilan rapih dengan kemeja kerjanya yang masih membalut tubuhnya itu mengamati sejenak Maura sebelum pada dua orang pria yang berwajah seram tengah mengejar sosok Maura yang mengeratkan pegangannya padanya. Bibir pria yang menolong Maura itu terangkat membentuk senyum miring, sebelum ia perhatikan Maura yang telah bersembunyi di balik tubuhnya. "Kamu mau aku selamatkan?" tanyanya dari balik bahu pada Maura yang tak menunggu untuk menganggukan kepalanya dengan cepat. Pria itu melirik pada dua pria yang mengejar Maura telah berdiri di depannya dengan tatapan bingung juga sungkan padanya. Pria berkemeja rapih itu memberikan senyum menenangkan pada Maura. "Baiklah, aku akan selamatkan kamu!"Aku hari ini masak ayam goreng dan sayurnya daun ubi tumbuk tapi enggak pake santan biasa saja di rebus. Biasa, aku sudah lama tidak makan ubi daun tumbuk. Tetangga sebelah sering masak jengkol, baunya sangat menyengat sekali. Aku tidak tahan aromanya, aku keluar dari kosan dan duduk santai di teras. Aku buka pintu kosan agar baunya hilang. Di lingkungan kosan ku bertambah 2 orang lagi yang terkena covid. Wah, parah sekali padahal kemarin sudah 4 orang. Jadi, totalnya sekarang ada 6 orang yang terkena covid. Jadinya, aku tidak pergi kemana-mana hanya di rumah saja dan rebahan sambil mendengar radio. Huhh ... Kesal sekali enggak bisa pergi kemana-mana. Semua mall sudah di tutup, Alfamart dan Indomaret tetap buka, toko-toko yang lain juga di tutup, jalan-jalan sebagian di tutup. Jadinya, serba sulit dan tidak tahu lagi harus kemana.&n
Akhirnya pukul 03:00 sore saja, aku harus siap-siap. Sebentar lagi Ribka akan datang menjemput ku, sore ini aku buat cemilan apa ya? Aku bingung karena yang ada hanya Indomie, telur, dan pisang. Aku masak pisang goreng saja, ternyata tepung terigu masih ada. Aku langsung memasaknya, takutnya Ribka datang lebih awal dan harus bergerak cepat. **** “An, kamu di kosan?” tanya Ribka di chat. “Aku di kosan, Rib. Kamu mau kemari ya?” tanya ku. “Ya, An, sebentar lagi mau kesana, ini sudah on the way.” “Ok, Rib, aku tunggu.” Jawab ku. Ribka segera ke kosan ku dengan membawa cemilannya. Ribka sangat bersemangat sekali karena membawa anjing kesayangannya untuk jogging. Bayangkan saja Ribka sangat sayang terhadap anjingnya, selalu di bawa kemana-mana. Saat Ribka bersedih, anjingnya tempat curhatnya, aku merasa aneh sendiri saat datang ke rumah Ribka. “Tok
Hari ini adalah weekend, rencana mau pergi ke Mall, sepertinya tutup semua karena sudah di umumkan baik toko, tempat pariwisata, juga mall. Virus Corona semakin tersebar di mana-mana untuk itu demi mencegah tidak ada lagi kejadian berikutnya. Ya, aku berdiam diri di kosan terasa bosan dan sepi. Mau bagaimana lagi dan harus melakukan apa yang di perintahkan demi menjaga diri sendiri juga keadaan sekitar. ***** “Hai, Ma, apa kabar? An, sudah lama tidak telepon mama, nih.” “Ya, An, Mama baik-baik saja. Kamu sendiri apa kabar, An?” “Kabar ku baik, Ma. Mama lagi apa sekarang?” “Mama lagi di rumah aja, nih. Keluar juga malas sekali An karena Corona.” “Ya, sama dengan ku juga. Aku di rumah juga, Ma.” “Ya, An kamu jaga diri baik-baik di sana dan jangan kemana-mana, jika penting ya keluar dan pake masker jangan lupa. Karena di luar sana keadaan lagi memburuk.” “Ya, Ma, An akan ingat semua kata-kata mama
"Rib, aku mampir ke rumah mu, ya? Di kosan juga bosan.” “Bukannya, kamu tadi mau balik, An?” “Kamu juga belum pernah main ke rumah.” “Di rumah ada anjing galak, An. Semoga kamu tidak takut nantinya.” “Wah, kamu punya anjing, Rib?” “Ya, An. Mari kita berangkat.” “Sampai di rumah nanti, kamu jangan diam saja, An.” “Kamu harus mengajak ngobrol anjing ku nanti.” “Ah, kamu ada-ada saja, Rib. Memangnya anjing bisa berbicara?” “Hehe ... Kalau kamu yang mengajak pasti anjing aku semangat, An.” “Rib, sudah ya bercandanya. Nanti kita terlambat ke rumah kamu, nih.” “Hmm ... Santai saja, An. Rumah ku tidak jauh dari sini, sekitar 2 jam sudah sampai.” ***** Aku dan Ribka menuju balik ke rumahnya dengan motor yang dia bawa. Dia melaju dengan cepat dan aku dibuatnya deg-deg an, baru pertama kalinya naik motor dan sebelumnya tidak
Hari ini mama sedang apa, ya? tanya ku dalam hati. Semua pekerjaan sudah selesai, aku ingin sekali menghubungi mama untuk tahu kabarnya hari ini. Tapi pulsa aku sudah mau habis, aku sebentar ke warung yang dekat untuk isi pulsa. Dengan langkah yang cepat aku melangkah ke luar dan aku melihat di l
Prolog : Setelah hujan reda kami lanjutkan perjalanan untuk pulang dan aku langsung masak makanan favorit anak kost adalah ‘indomie seleraku.’ Malamnya kembali hujan rintik-rintik datang dan membasahi teras halaman kost ku, petir yang begitu kuat, dan tiba-tiba lampu padam dan aku k
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñasMás