MasukDi kehidupan masa lalu, Shen Qingge berakhir tragis di Istana Dingin yang kumuh. Setelah mengorbankan segalanya demi membantu sang kekasih, Mo Yuan, naik takhta, ia justru dikhianati secara keji. Kakinya dilumpuhkan, bayinya yang baru lahir dihabisi dengan kejam, dan seluruh keluarga besar Jenderal Shen dimusnahkan tanpa sisa atas konspirasi licik Mo Yuan dan adik tirinya yang munafik, Shen Ruxue. Qingge tewas secara menyedihkan setelah dipaksa meminum racun yang melelehkan organ dalamnya. Namun, langit mendengar sumpah darahnya. Qingge terlahir kembali ke masa lalu, terbangun di tubuhnya saat masih berusia delapan belas tahun. Di kehidupan kedua ini, ia bukan lagi gadis naif yang bisa dimanipulasi oleh cinta buta. Berbekal ingatan masa lalu dan hati yang sedingin es, Qingge mengambil alih kendali papan catur takdir untuk melindungi keluarganya sekaligus menghancurkan musuh-musuhnya. Satu per satu intrik busuk ia rancang untuk membalikkan keadaan. Langkah pertamanya dimulai dengan menjebak balik Mo Yuan di arena Perburuan Kerajaan serta menyingkirkan parasit di kediamannya sendiri. Untuk memuluskan misi balas dendam skala besar ini, Qingge menjalin aliansi berdarah dengan Chu Canglan, Pangeran Wangsa Utara yang dikenal sebagai "Dewa Perang Berwajah Iblis". Bersama Chu Canglan, Qingge mulai mengikis sisa-sisa kekuasaan Mo Yuan, merebut takhta kekaisaran, dan memastikan setiap orang yang telah menumpahkan darah klan Shen merasakan siksaan neraka dunia yang sesungguhnya. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, akulah sang mimpi buruk abadi kalian!
Lihat lebih banyakSalju di bulan Desember turun begitu lebat di Ibu Kota Kaisar Jing, membungkus atap-atap megah Kota Terlarang dengan warna putih yang suci. Namun, kesucian itu tidak menyentuh Istana Dingin—sebuah paviliun terbengkalai di sudut paling terpencil istana, tempat di mana dinding-dindingnya telah retak, dipenuhi lumut membeku, dan bau busuk dari tubuh yang membusuk menguar ke udara.
Di dalam ruangan yang bocor itu, Shen Qingge berlutut di atas lantai batu yang sedingin es. Tubuhnya, yang dulu dikenal sebagai wanita tercantik di Kekaisaran Jing, kini tidak lebih dari seonggok daging dan tulang yang dibungkus kain goni robek. Kedua lututnya telah dihancurkan dengan gada besi seminggu yang lalu atas perintah suaminya sendiri. Setiap kali angin malam berembus melalui celah jendela yang rusak, rasa sakit dari tulang-tulangnya yang remuk menusuk langsung ke sumsum, membuatnya gemetar hebat. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pemandangan di depannya. Di atas kursi kayu yang dilapisi bulu rubah hangat, duduklah sepasang manusia yang paling ia percayai di dunia ini. Kaisar Mo Yuan, pria yang jubah naga emasnya berkilau megah, duduk dengan ekspresi acuh tak acuh. Di sampingnya, bersandar dengan manja, adalah Shen Ruxue —adik tiri Qingge dari selir rendahan, yang kini mengenakan jubah sutra merah menyala dengan mahkota phoenix di kepalanya. Mahkota yang seharusnya milik Qingge. "Kakak," suara Shen Ruxue terdengar begitu lembut dan merdu, seperti nyanyian burung di musim semi, namun setiap katanya adalah racun yang mematikan. "Jangan menatapku dengan mata yang mengerikan itu. Lagipula, kau sendiri yang membantuku berdiri di posisi ini, bukan?" Qingge mencoba berbicara, tetapi dari tenggorokannya yang rusak akibat dipaksa meminum arang membara beberapa hari lalu, hanya keluar suara parau yang mengerikan. "Ugh... Rux... ue..." "Oh, aku lupa. Tenggorokan Kakak sudah rusak," Shen Ruxue tertawa renyah, menutup mulutnya dengan kipas sutra. "Biar kuingatkan kembali, Kakakku yang bodoh. Kau ingat lima tahun lalu? Saat kau memimpin pasukan infanteri di bawah badai pasir demi menyelamatkan Yuan-ge yang terkepung di perbatasan Barat? Saat itu, kau menderita keguguran anak pertamamu karena kelelahan." Mata Qingge melebar, darah segar mulai merembes dari sudut matanya yang kering. "Kau pikir Yuan-ge benar-benar terjebak?" Shen Ruxue mendekat, membungkuk dan berbisik tepat di telinga Qingge. "Tidak, Kakak. Itu adalah rencana kami. Yuan-ge sengaja membiarkan dirinya 'terjebak' agar kau membawa seluruh pasukan elit Klan Shen ke sana. Dan sementara kau bertaruh nyawa di medan perang, aku dan Yuan-ge sedang memadu kasih di tempat tidurmu, di kediamanmu sendiri." *Deg.* Jantung Qingge rasanya seperti dihantam godam tak kasat mata. Otaknya berdengung. Selama ini, ia mengira keguguran itu adalah pengorbanan terbesarnya untuk cinta. Ternyata? Itu hanya panggung sandiwara di mana ia menjadi badut utamanya. "Kenapa...?" Qingge memaksakan suaranya keluar, mencakar lantai batu hingga kuku-kukunya patah dan berdarah, meninggalkan jejak merah di atas es. Ia menatap Mo Yuan, pria yang dulu berlutut di hadapan ayahnya, bersumpah demi langit dan bumi akan menjadikannya satu-satunya wanita di hatinya. "Yuan... ge... kenapa...?" Mo Yuan akhirnya menurunkan cangkir tehnya. Pandangannya yang menatap Qingge penuh dengan rasa jijik, seolah-olah ia sedang melihat tikus got yang kotor. "Kenapa?" Mo Yuan mendengus dingin. "Shen Qingge, kau terlalu naif. Ayahmu, Jenderal Besar Shen, memegang 70% kekuatan militer kekaisaran. Setiap kali aku duduk di aula pertemuan, bayang-bayang ayahmu selalu membuatku merasa terancam. Kau pikir aku benar-benar mencintaimu? Wanita yang tangannya berbau darah dan kapalan karena memegang pedang? Menjijikkan." Pria itu berdiri, merapikan jubah naganya yang tanpa noda. "Kau ingin tahu kabar keluargamu? Kemarin pagi, Ayahmu telah dieksekusi di lapangan kota atas tuduhan pemberontakan palsu yang kubuat. Kepalanya dipajang di gerbang kota. Tiga saudara lakilakimu? Tubuh mereka ditarik oleh empat kuda hingga hancur. Seluruh Klan Shen... sudah musnah. Tanpa sisa." "AAARRRGGGHHH!!!" Sebuah jeritan keputusasaan yang teramat sangat lolos dari dada Qingge. Air mata darah mengalir deras membasahi pipinya yang kotor. Ayahnya yang setia... kakak-kakaknya yang selalu melindunginya... semuanya mati dengan cara yang paling terhina karena kebodohannya yang mempercayai serigala berbulu domba ini! "Oh, jangan lupa dengan anak yang baru kau lahirkan sebulan lalu di Istana Dingin ini," Shen Ruxue menimpali dengan senyum iblisnya. Ia memberi isyarat kepada seorang kasim tua. Kasim itu maju membawa sebuah keranjang anyaman kecil yang tertutup kain. Ketika kain itu dibuka, bau busuk menyengat langsung memenuhi ruangan. Di dalam keranjang itu... terdapat mayat bayi yang membiru, dengan leher yang patah. "Bayi haram ini... kau pikir ini anak Yuan-ge?" Shen Ruxue tertawa terbahak-bahak hingga air matanya keluar. "Malam itu, pria yang masuk ke kamarmu dalam kegelapan bukanlah Kaisar. Tapi seorang pengemis lumpuh yang kami bayar untuk menodaimu! Anak ini adalah darah daging pengemis!" "TIDAK! TIDAK! TIDAK!" Qingge histeris. Ia mencoba merangkak menggunakan sikunya, mengabaikan rasa sakit luar biasa di kakinya, mencoba meraih keranjang itu. Namun, seorang pelayan dengan kejam menginjak tangannya hingga terdengar bunyi "krak"—tulang jarinya patah. Mo Yuan menatap pemandangan itu tanpa berkedip sedikit pun. Baginya, wanita di bawahnya ini sudah mati sejak hari pertama ia memanfaatkannya. "Sudah waktunya," kata Mo Yuan datar. "Beri dia anggur perpisahan." Dua orang kasim berbadan besar segera maju, menjambak rambut Qingge ke belakang hingga wajahnya mendongak paksa. Shen Ruxue mengambil cangkir perak berisi cairan hitam pekat—racun "Penyembelih Jiwa" yang akan membuat organ dalam meleleh secara perlahan. "Kakak, pergilah dengan tenang. Di kehidupan selanjutnya, jangan terlalu bodoh," ujar Shen Ruxue, lalu menuangkan racun itu langsung ke dalam mulut Qingge yang terbuka. "Ugh! Gkh—!" Cairan itu membakar tenggorokannya seperti lahar panas. Qingge tersedak, memuntahkan darah hitam bercampur jaringan daging. Rasa sakit yang teramat sangat menyelimuti seluruh tubuhnya. Organ dalamnya mulai hancur, membuatnya kejang-kejang di atas lantai yang dingin. Dalam sakaratul mautnya, dengan mata yang memerah penuh darah dan kebencian yang begitu pekat hingga mampu membekukan waktu, Shen Qingge menatap Mo Yuan dan Shen Ruxue yang berbalik arah, berjalan meninggalkan paviliun tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Mo Yuan... Shen Ruxue... Kesadaran Qingge mulai menipis, namun jiwanya berteriak dengan kemarahan yang bisa menggetarkan sembilan langit. "Jika ada kehidupan selanjutnya... jika surga masih memiliki keadilan... Aku bersumpah demi darah keluargaku, demi nyawa bayiku yang tak berdosa! Aku akan merangkak kembali dari neraka paling dalam! Aku akan memotong daging kalian helai demi helai, meminum darah kalian, dan memastikan kalian memohon kematian yang tak kunjung datang! Akulah yang akan menjadi mimpi buruk abadi kalian!" BOOM! Tepat saat napas terakhir Shen Qingge berembus, sebuah petir menggelegar membelah langit malam yang bersalju, seolah-olah surga itu sendiri gemetar mendengar sumpah darah sang Permaisuri yang terbuang.Angin dingin menyapu padang bersalju ketika derap seratus ribu kaki kuda mengguncang bumi. Obor-obor perang membentuk lautan cahaya yang membelah malam, sementara bendera Serigala Putih berkibar liar di bawah langit kelam.Di barisan terdepan, Shen Zexian menunggangi kuda hitam kesayangannya dengan wajah tanpa ekspresi. Mata elangnya tak pernah lepas dari siluet tembok ibu kota Yan yang mulai terlihat di kejauhan.“Jenderal Agung.”Seorang wakil jenderal memacu kudanya mendekat.“Menurut laporan pengintai, tidak ada pergerakan besar di atas tembok kota.”Shen Zexian hanya mengangguk tipis.“Itu berarti Komandan Lin berhasil.”Wakil jenderal itu tersenyum lega.“Kalau begitu, kita benar-benar akan memasuki ibu kota tanpa perlawanan.”Namun entah mengapa…Hati Shen Zexian justru terasa semakin gelisah.Ia telah menghadapi puluhan perang sepanjang hidupnya.Ia tahu…Medan perang yang terlalu tenang jauh lebih mengerikan daripada ribuan anak panah yang beterbangan.Tatapannya menyipit.“K
Di benteng utama Perbatasan Utara, salju turun tipis menutupi halaman markas.Shen Zexian berdiri di depan meja peta sambil menatap jalur menuju ibu kota Kekaisaran Yan. Di belakangnya, para jenderal kepercayaannya menunggu dengan napas tertahan.Seekor merpati putih menerobos jendela yang terbuka.“Surat dari ibu kota!”Shen Zexian membuka tabung bambu di kaki burung itu.Hanya ada satu kalimat.Gerbang Perak telah dikuasai. Jalur menuju Istana Naga Emas aman. Permaisuri menunggu.Di sudut bawah surat itu terlukis lambang burung phoenix emas—sandi rahasia yang hanya diketahui oleh Komandan Lin.Tatapan Shen Zexian langsung berubah tajam.“Akhirnya…”Sudut bibirnya terangkat.“Chu Canglan… malam ini adalah malam kematianmu.”Ia mengepalkan surat itu hingga hancur menjadi serpihan.“Perintahkan seluruh pasukan!”“Seratus ribu prajurit bergerak malam ini!”“Taklukkan ibu kota sebelum matahari terbit!”“Ya!”Dentuman genderang perang mengguncang seluruh benteng.Puluhan ribu obor menyala
Hari Perayaan Kelahiran Kaisar tiba membawa atmosfer kemewahan yang semu di seluruh pelosok ibu kota. Ribuan lampion sutra merah berukuran raksasa digantung melintasi jalan-jalan utama, memancarkan pendar hangat di atas hamparan batu jalanan yang dingin. Musik istana menggema nyaring dari Aula Keharmonisan Agung, diselingi gelak tawa para pejabat tinggi yang menikmati tarian dan arak krisan terbaik.Namun, di balik riuk panggung kehormatan tersebut, lorong logistik di bawah kompleks Gerbang Perak berada dalam kegelapan yang sempurna.Tepat pada pukul dua belas malam, dentang lonceng raksasa bergema dua belas kali. Komandan Lin berdiri di celah pintu besi bawah tanah dengan napas kaku. Dengan tangan gemetar, ia memutar engsel kuningan yang berat, membuka jalur rahasia menuju kompleks istana dalam.Srrr... Srrr...Dari balik kegelapan lorong bawah tanah, sekelompok sosok berzirah hitam kusam merangsek masuk bagaikan serangga malam. Tiga ribu prajurit perintis dari Utara Jauh—pasukan khu
Lentera-lentera kertas di sepanjang dinding Gerbang Perak bergoyang perlahan ditiup angin malam yang membawa hawa dingin dari perbatasan utara. Di atas menara pengawas, Komandan Lin—salah satu bekas perwira tepercaya Shen Zexian lima tahun lalu—berdiri tegak dengan zirah besi kusam. Sepasang matanya yang penuh kelelahan menatap cemas ke arah kegelapan hutan rimba di luar batas benteng.Sebuah gerakan senyap di balik bayangan pilar membuatnya seketika memegang hulu pedangnya. Dari kegelapan, seorang utusan bertopeng dengan jubah bulu serigala hitam melangkah keluar, menyerahkan sebuah tabung bambu bersegel Burung Phoenix Es."Panglima Tertinggi Shen Zexian menanyakan status kesiapan jalan masuk," bisik utusan itu dengan suara serak yang memburu. "Pasukan pelopor Utara Jauh telah berada di batas tiga puluh li dari ibu kota."Tangan Komandan Lin gemetar saat membuka segel tersebut. "Katakan pada Panglima... gerbang utama akan dibuka tepat pada tengah malam perayaan Hari Kelahiran Kaisar
Penyelidikan Pengawal Emas Istana berlangsung secepat kilat. Bukti-bukti yang dibeberkan oleh Shen Qingge terbukti kebenarannya secara mutlak. Di kediaman Mo Yuan, ditemukan pembukuan rahasia beserta sisa racun "Napas Kematian". Kasim Li yang tidak tahan dengan siksaan di ruang bawah tanah istana a
Tiga hari berlalu seperti kedipan mata. Hari Perburuan Kerajaan yang dinantikan seluruh bangsawan Kekaisaran Jing akhirnya tiba.Gunung Barat ditutup total oleh pasukan kekaisaran. Tenda-tenda sutra kuning cerah milik Kaisar berdiri megah di kaki gunung, dikelilingi oleh panji-panji perang yang ber
Malam merayap cepat, menyelimuti ibu kota dengan kegelapan yang pekat. Di Paviliun Anggrek milik Kediaman Jenderal, Shen Qingge berdiri di dekat jendela, menatap bulan sabit yang tertutup awan tipis.Ia telah menukar jubah putihnya dengan pakaian malam berwarna hitam ringkas yang melekat pas di tub
"Nona! Nona Muda, bangun! Demi Langit, Anda bermimpi buruk lagi?"Suara cemas itu menembus kabut kegelapan yang pekat. Shen Qingge membuka matanya dengan sentakan hebat. Napasnya memburu, paru-parunya serasa tersedak udara dingin, dan dadanya naik-turun dengan ekstrem. Spontan, kedua tangannya lang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.