MasukSetelah lulus SMA di usia 18 tahun, Abigail Salman sangat ingin lepas dari kemiskinan yang selama ini membentuk hidupnya. Satu-satunya tujuannya adalah mengumpulkan cukup uang untuk kuliah, impian yang membawanya ke Kota Marina yang ramai. Ditemani seorang tetangga, dia datang mencari pekerjaan apa pun yang bisa membantunya menabung demi biaya kuliah. Rencananya langsung kacau karena sebuah tawaran yang tak pernah dia bayangkan. Madam Amara, nenek kaya raya dari seorang triliuner, mendatanginya dengan sebuah penawaran. Calon pengantin pria itu baru saja ditinggalkan mempelainya di altar demi sahabat karibnya sendiri, membuat keluarga itu terjerumus dalam skandal memalukan. Solusinya? Abigail harus menjadi pengantin pengganti pada hari itu juga, dengan imbalan 15 miliar. Kini, Abigail dihadapkan pada pilihan yang mustahil. Haruskah dia menerima tawaran Madam Amara yang bisa mengubah hidupnya. Uang dalam jumlah besar yang bisa menarik keluar keluarganya dari kemiskinan untuk selamanya? Atau haruskah dia melepaskan kesempatan luar biasa ini dan kembali ke desa, kembali pada kehidupan penuh kesulitan yang sudah menantinya?
Lihat lebih banyakTentu saja aku tidak akan membiarkan Dante merebut satu-satunya adikku. Dia sudah terlalu lama terpisah dari kami. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.Kalau Dante berani mendekati adikku sekali lagi, dia harus melangkahi mayatku lebih dulu."Hei! Kok malah melamun? Jangan bilang kamu nggak senang bakal nikah dengan Marcie?" Aku kembali mendengar Trinity berbicara. Dia bahkan menjentikkan jarinya di depan wajahku untuk menyadarkanku.Baru saat itu aku sadar kalau sejak tadi aku sedang melamun."Ya, aku nggak senang. Aku nggak akan pernah bahagia kalau mereka tetap memaksakan pernikahan ini," jawabku dengan terus terang."Kenapa? Marcie cantik, 'kan? Kalian juga terlihat serasi. Lagian, Marcie jauh lebih cantik daripada Zoe," kata Trinity lagi.Aku hanya mencibir."Mungkin dia takut menikah dengan Marcie karena nanti nggak bisa gonta-ganti perempuan lagi," sela Felicia sambil tertawa.Aku langsung memelotot ke arahnya. Jarang sekali dia ikut menyela pembicaraan, tetapi sekali
Sudut Pandang Orson:"Sekarang kita harus gimana?" bentak Marcie begitu kami tiba di taman.Kami sengaja memilih berbicara di sana agar orang tua kami tidak mendengar."Marcie, nggak usah teriak-teriak! Memangnya kamu pikir aku setuju dengan keinginan mereka?" balasku dengan kesal.Dia langsung menyilangkan tangan di dada dan menatapku dengan tajam."Kalau begitu, sana ngomong ke mereka! Bikin mereka ngerti kalau kita nggak akur dan nggak punya perasaan untuk satu sama lain," katanya dengan nada memerintah.Dia memang tidak berubah. Inilah Marcie yang kukenal sejak dulu, sangat suka memerintah.Dia memperlakukanku seolah aku bawahannya. Kenapa bukan dia saja yang mencari cara untuk membatalkan perjodohan yang direncanakan keluarga kami?"Tadi aku sudah bicara dengan orang tuaku. Mereka bilang ingin kita menikah karena kita sama-sama masih lajang. Memangnya kenapa sih kamu sampai nggak punya pacar? Gara-gara itu aku malah jadi terjebak dalam perjodohan konyol ini!" balasku dengan kesal.
Sudut Pandang Orson:"Apa? Menikah? Aku sama Marcie?" Aku tidak bisa menahan diri untuk berseru kaget.Saat ini, aku sedang bicara dengan Mama dan Papa di ruang kerja kecil di vila."Ini memang sudah waktunya bagimu untuk menikah, Orson. Usiamu makin bertambah. Mama dan Papa khawatir kamu akan menua sendirian. Kami juga ingin gendong cucu darimu.""Sudah hampir dua tahun kamu nggak pernah memperkenalkan pacar kepada kami. Kami nggak mau suatu hari nanti kami bangun dan mendapati kamu sudah tua, tapi masih hidup sendirian," kata Papa sambil mengembuskan napas panjang.Aku langsung menggeleng."Dijodohkan? Zaman sekarang masih ada, ya, yang seperti itu?" celetukku sebelum menoleh ke arah Mama.Aku berharap Mama mau membantuku agar tidak memaksakan pembicaraan ini. Aku sama sekali tidak berniat mengikatkan diri pada wanita mana pun.Kecuali ... wanita yang membuat jantungku berdebar. Felicia."Kenapa nggak? Papa Liam sudah menganggapmu seperti anaknya sendiri, jadi kenapa nggak sekalian s
Aku menatap Felicia dengan takjub. Tak disangka, setelah semua yang terjadi, dia justru membela Trinity."Jadi begitu? Kamu harusnya panggil petugas keamanan saja. Wanita itu nggak mungkin bisa main culik sembarangan karena kita lagi di mal. Petugas keamanan ada di mana-mana. Kalau lain kali ada kejadian seperti ini lagi, jangan langsung berkelahi. Bisa-bisa yang kamu dapat bukan cuma luka lecet seperti ini," kata Papa."Aku lupa, Pa. Maaf. Aku benar-benar emosi. Sylvia itu sombong sekali! Apalagi putrinya, Bonnie. Aku benar-benar kesal. Mulutnya pun bau banget!" jawab Felicia.Aku tak bisa menahan senyum.Mama dan Papa saling memandang, sementara Trinity tertawa terbahak-bahak."Kamu juga menyadarinya?" tanyanya.Felicia langsung mengangguk."Sepupumu itu memang nggak pernah sikat gigi, ya?" tanyanya.Trinity kembali tertawa sebelum menjawab, "Bukan. Gusinya memang bermasalah. Dia takut periksa ke dokter gigi, makanya napasnya bau kayak selokan!"Felicia ikut tertawa mendengarnya. Aku
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak