Share

Bab 53

Penulis: Cathy
Sudut pandang Abigail:

"Ya Tuhan! Abigail, ini benar-benar kamu! Syukurlah, kamu sudah kembali!"

Aku dengar ibuku, Lily, berseru saat kami melewati gerbang. Aku yang sedang menggenggam tangan Orson langsung melepaskannya saat melihat ibuku berlari ke arahku dan ayahku, Ben, menyusul di belakang.

"Mama ...."

Aku menangis, lalu langsung memeluknya begitu dia sampai di hadapanku. Air mataku mengalir deras seperti sungai karena aku sangat merindukan mereka.

"Abigail ... syukurlah kamu sudah di sini.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 221

    Sudut Pandang Orson:Akhir pekan akhirnya tiba.Hari ini adalah hari Felicia dan Trinity pergi mengukur gaun untuk pesta mereka. Senyuman tak henti-hentinya menghiasi wajahku saat berdiri di depan cermin.Aku bangun lebih pagi untuk bersiap-siap. Rasanya seperti anak remaja bersemangat yang akan pergi bersama gadis yang disukainya.Memang memalukan untuk diakui, tetapi begitulah perasaanku hari itu.Aku kembali menatap bayanganku di cermin sebelum keluar dari kamar. Aku mengambil kunci mobil yang ingin kugunakan hari itu, lalu berjalan meninggalkan penthouse. Aku langsung menuju tempat mobilku diparkir.Saat sedang melaju di jalan tol, aku melirik jam tangan. Aku tahu aku datang terlalu pagi, tetapi bagaimana lagi?Aku ingin segera bertemu dengan wanita yang membuat jantungku berdebar. Sudah beberapa hari ini aku terus memikirkan bagaimana cara memperjuangkan dirinya.Rasanya aku akan benar-benar gila jika dia tidak menjadi milikku. Terlebih setelah aku mendengar di vila bahwa ada pria

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 220

    Tentu saja aku tidak akan membiarkan Dante merebut satu-satunya adikku. Dia sudah terlalu lama terpisah dari kami. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.Kalau Dante berani mendekati adikku sekali lagi, dia harus melangkahi mayatku lebih dulu."Hei! Kok malah melamun? Jangan bilang kamu nggak senang bakal nikah dengan Marcie?" Aku kembali mendengar Trinity berbicara. Dia bahkan menjentikkan jarinya di depan wajahku untuk menyadarkanku.Baru saat itu aku sadar kalau sejak tadi aku sedang melamun."Ya, aku nggak senang. Aku nggak akan pernah bahagia kalau mereka tetap memaksakan pernikahan ini," jawabku dengan terus terang."Kenapa? Marcie cantik, 'kan? Kalian juga terlihat serasi. Lagian, Marcie jauh lebih cantik daripada Zoe," kata Trinity lagi.Aku hanya mencibir."Mungkin dia takut menikah dengan Marcie karena nanti nggak bisa gonta-ganti perempuan lagi," sela Felicia sambil tertawa.Aku langsung memelotot ke arahnya. Jarang sekali dia ikut menyela pembicaraan, tetapi sekali

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 219

    Sudut Pandang Orson:"Sekarang kita harus gimana?" bentak Marcie begitu kami tiba di taman.Kami sengaja memilih berbicara di sana agar orang tua kami tidak mendengar."Marcie, nggak usah teriak-teriak! Memangnya kamu pikir aku setuju dengan keinginan mereka?" balasku dengan kesal.Dia langsung menyilangkan tangan di dada dan menatapku dengan tajam."Kalau begitu, sana ngomong ke mereka! Bikin mereka ngerti kalau kita nggak akur dan nggak punya perasaan untuk satu sama lain," katanya dengan nada memerintah.Dia memang tidak berubah. Inilah Marcie yang kukenal sejak dulu, sangat suka memerintah.Dia memperlakukanku seolah aku bawahannya. Kenapa bukan dia saja yang mencari cara untuk membatalkan perjodohan yang direncanakan keluarga kami?"Tadi aku sudah bicara dengan orang tuaku. Mereka bilang ingin kita menikah karena kita sama-sama masih lajang. Memangnya kenapa sih kamu sampai nggak punya pacar? Gara-gara itu aku malah jadi terjebak dalam perjodohan konyol ini!" balasku dengan kesal.

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 218

    Sudut Pandang Orson:"Apa? Menikah? Aku sama Marcie?" Aku tidak bisa menahan diri untuk berseru kaget.Saat ini, aku sedang bicara dengan Mama dan Papa di ruang kerja kecil di vila."Ini memang sudah waktunya bagimu untuk menikah, Orson. Usiamu makin bertambah. Mama dan Papa khawatir kamu akan menua sendirian. Kami juga ingin gendong cucu darimu.""Sudah hampir dua tahun kamu nggak pernah memperkenalkan pacar kepada kami. Kami nggak mau suatu hari nanti kami bangun dan mendapati kamu sudah tua, tapi masih hidup sendirian," kata Papa sambil mengembuskan napas panjang.Aku langsung menggeleng."Dijodohkan? Zaman sekarang masih ada, ya, yang seperti itu?" celetukku sebelum menoleh ke arah Mama.Aku berharap Mama mau membantuku agar tidak memaksakan pembicaraan ini. Aku sama sekali tidak berniat mengikatkan diri pada wanita mana pun.Kecuali ... wanita yang membuat jantungku berdebar. Felicia."Kenapa nggak? Papa Liam sudah menganggapmu seperti anaknya sendiri, jadi kenapa nggak sekalian s

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 217

    Aku menatap Felicia dengan takjub. Tak disangka, setelah semua yang terjadi, dia justru membela Trinity."Jadi begitu? Kamu harusnya panggil petugas keamanan saja. Wanita itu nggak mungkin bisa main culik sembarangan karena kita lagi di mal. Petugas keamanan ada di mana-mana. Kalau lain kali ada kejadian seperti ini lagi, jangan langsung berkelahi. Bisa-bisa yang kamu dapat bukan cuma luka lecet seperti ini," kata Papa."Aku lupa, Pa. Maaf. Aku benar-benar emosi. Sylvia itu sombong sekali! Apalagi putrinya, Bonnie. Aku benar-benar kesal. Mulutnya pun bau banget!" jawab Felicia.Aku tak bisa menahan senyum.Mama dan Papa saling memandang, sementara Trinity tertawa terbahak-bahak."Kamu juga menyadarinya?" tanyanya.Felicia langsung mengangguk."Sepupumu itu memang nggak pernah sikat gigi, ya?" tanyanya.Trinity kembali tertawa sebelum menjawab, "Bukan. Gusinya memang bermasalah. Dia takut periksa ke dokter gigi, makanya napasnya bau kayak selokan!"Felicia ikut tertawa mendengarnya. Aku

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 216

    Sudut Pandang Orson:Aku mengembuskan napas pelan sambil tetap menatap jalan di depan. Kami baru saja meninggalkan rumah sakit setelah luka lecet Felicia dan memar Trinity ditangani.Momen kebersamaan yang kami tunggu-tunggu justru berakhir menjadi bencana. Yang lebih parah lagi, perutku sudah benar-benar sangat lapar.Aku yakin semua orang yang bersamaku juga merasakan hal yang sama.Tidak ada satu pun dari kami yang berbicara."Orson, mungkin kamu bisa berhenti di restoran. Atau setidaknya restoran cepat saji. Kita mampir makan dulu," ucap Papa.Sebenarnya, bahkan tanpa Papa mengatakannya, itulah yang memang sedang kupikirkan. Kami bahkan belum sempat menyentuh makanan yang sudah kami pesan di restoran tadi karena kekacauan yang terjadi.Syukurlah Felicia hanya mengalami lecet dan Trinity hanya memar. Kalau tidak, mungkin aku sudah membunuh Bibi Sylvia.Saat melihat sebuah restoran cepat saji yang cukup ramai di depan, aku langsung membelokkan mobil ke area parkir.Setelah mobil berh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status