MasukNavya murid pindahan yang tanpa sengaja menarik perhatian pangeran sekolah, Jenson. Perbedaan status sosial membuat Navya terseret ke dalam dunia popularitas, kecemburuan dan konflik sosial yang tak pernah ia bayangkan.
Lihat lebih banyakNavya menggenggam erat tali tasnya saat berdiri di depan gerbang Alexander High School. Bangunan sekolah itu menjulang megah seperti istana. Pilar putih berdiri tinggi, halaman luas dipenuhi mobil mahal, dan seragam para murid terlihat jauh lebih mewah dibanding sekolah biasa.
Gadis muda berambut hitam ikal itu menelan ludahnya pelan. Jujur saja kalau, tempat ini benar-benar bukan dunianya. “Aku harus siap ... apapun yang akan terjadi padaku di dalam sana,” bisiknya lirih. Apa pun yang terjadi nanti padanya, ia tidak boleh kehilangan sekolah ini. Beasiswa penuh dari Alexander High School adalah satu-satunya alasan ibunya bisa terus berobat. Navya menarik napas panjang lalu dengan langkah pelan ia mulai berjalan masuk, melewati gerbang. Namun baru beberapa langkah, seseorang tiba-tiba muncul dari tikungan koridor. Bruk! Tubuhnya yang kurus menabrak dada seseorang dengan keras. “Ma-maaf!” Navya langsung menundukkan kepala dengan panik. “Saya tidak sengaja!” imbuhnya lagi karena tidak mendapatkan respon dari yang tertabrak. Namun yang ia dapat hanya sunyi, tidak ada jawaban. Anehnya lagi suasana di sekitar mendadak berubah hening dari sebelumnya. Navya pun perlahan mengangkat kepalanya. Seorang pemuda berpostur tubuh tinggi berdiri di depannya, seragam yang pemuda itu kenakan tampak rapi sempurna, wajahnya tampan dengan tatapan dingin yang sulit dijelaskan. Matanya yang tajam menatap tepat ke arah netra Navya tanpa ekspresi sedikit pun, dan entah kenapa, tatapan itu membuat tengkuk Navya seketika merinding. Pemuda itu memang tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Navya sebentar, lalu berjalan melewatinya begitu saja. Namun setelah pemuda itu pergi, bisikan mulai terdengar dari segala arah. “Dia nabrak Prince Jenson!” “Gila, itu Jenson Kaisar loh.” “Mampus tuh anak baru.” Wajah Navya langsung pucat. Prince Jenson? “Eh!” Seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang hingga membuat Navya terkejut. Seorang gadis berkacamata dan berambut panjang tersenyum tipis padanya. “Kamu murid baru, kan?” tanyanya. Navya mengangguk pelan. “Iya.” “Aku Hazel," ucapnya sembari menyodorkan tangan. “Navya," balas gadis itu. Hazel menatap wajah Navya beberapa detik sebelum akhirnya berbisik pelan. “Kamu benar-benar gak tahu siapa cowok yang tadi kamu tabrak?” Navya sontak menggeleng. Hazel langsung menghela napas panjang. “Ya ampun ... habis sudah.” Navya makin bingung. “Memangnya kenapa?” Hazel menoleh ke sekitar seolah takut didengar oleh anak lain. “Di sekolah ini ada kelompok penguasa. Nama kelompok mereka adalah Elysian Prince," bisiknya. Navya diam mendengarkan. “Dan cowok yang tadi kamu tabrak itu pemimpinnya.” Hazel menatap Navya serius. “Prince Jenson Kaisar." Nama itu terdengar asing, tapi cara Hazel mengucapkannya membuat Navya tidak nyaman. “Dia terkenal?” Hazel terkekeh kecil, tapi terdengar pahit. “Bukan hanya terkenal.” Gadis itu kemudian mendekat sedikit ke arah Navya. “Tapi semua anak di sekolah ini takut sama dia.” Jantung Navya berdetak aneh. “Kenapa?” Hazel tampak ragu untuk menjawab pada awalnya, tapi akhirnya ia berkata pelan. “Karena siapa pun yang menarik perhatian Jenson, hidupnya gak akan pernah tenang lagi.” Langkah Navya terhenti. Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh lagi, Hazel lebih dulu menarik tangannya. “Sudah, ayo ke ruang guru.” Sepanjang perjalanan, Navya merasa banyak pasang mata menatapnya aneh. Beberapa murid bahkan berbisik sambil melirik ke arahnya. Ia mulai merasa tidak nyaman. Sesampainya di ruang guru. Tampak seorang guru wanita menyerahkan map jadwal kelas pada Navya dengan wajah yang datar di padu dengan sedikit senyuman tipis yang aneh. “Selamat bergabung di Kelas Nirmala.” Bahkan dari cara guru itu tersenyum membuat bulu kuduk Navya berdiri. Bukan senyum ramah melainkan seperti rasa kasihan. “Te-terima kasih, Bu.” Lima belas menit kemudian, Navya keluar dari ruang guru dengan wajah bingung. Hazel yang menunggu di luar langsung menghampirinya. “Mereka masukin kamu ke kelas mana?” “Kelas Nirmala.” Hazel seolah membeku di tempat. Wajahnya seketika menjadi pucat. “Kamu serius?” Navya mengangguk pelan. “Memangnya kenapa?” Hazel terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi menahannya. Akhirnya ia menggenggam tangan Navya dan membawanya ke taman belakang sekolah yang sepi. “Dengar aku baik-baik.” Suara Hazel terdengar serius. “Kalau bisa, cari cara supaya kamu bisa pindah dari sekolah ini.” “Kenapa?” “Kelas Nirmala itu bukan kelas biasa.” Hazel menatap lurus ke mata Navya. “Itu kelas anak-anak keluarga paling berpengaruh di sekolah ini.” Navya terdiam lagi. “Dan Prince Jenson ada di sana.” Jantung Navya langsung terasa jatuh. “Bercanda, kan?” “Aku serius.” Hazel menelan ludah sebelum melanjutkan. “Orang biasa gak akan kuat bertahan di kelas itu.” Navya mengepalkan jemarinya pelan. Ia tidak punya pilihan. Kalau keluar dari sekolah ini, ia kehilangan beasiswa. Artinya pengobatan ibunya juga berhenti. “Aku akan baik-baik saja,” katanya pelan meski sebenarnya tidak yakin. Hazel menatapnya iba. “Kamu belum tahu seberapa mengerikannya mereka.” Koridor lantai tiga terasa jauh lebih sunyi dibanding tempat lain, jam di ujung lorong, tertulis papan emas besar. KELAS NIRMALA. Navya menarik napas panjang sebelum membuka pintu. Dan detik itu juga satu kelas menoleh bersamaan ke arahnya. Sunyi. Tatapan mereka membuat Navya merasa seperti orang asing yang masuk ke kandang singa. Seorang gadis cantik dengan rambut bergelombang menyilangkan tangan sambil menatap sinis. “Jadi ini murid baru?” Navya menunduk kecil. “Iya ..." Belum sempat ia melangkah masuk, suara lain terdengar. "Dia yang tadi nabrak Prince." Seketika suasana kelas berubah menjadi ramai. "Serius?” “Berani juga.” “Dia belum mati?” Tawa kecil terdengar dari beberapa sudut kelas. Navya menggigit bibir bawahnya menahan gugup. Seorang gadis lain berjalan mendekat sambil memainkan rambutnya. “Namamu siapa?” “Navya.” “Keluarga mana?” Navya terdiam beberapa detik. “Aku tinggal berdua dengan adikku.” “Hah?” Gadis itu tertawa kecil. “Jadi kamu gak punya orang tua?" Beberapa murid mulai berbisik. “Yatim piatu?” “Orang miskin bisa masuk ke Nirmala?” “Aneh banget.” Panas mulai memenuhi dada Navya. Ia sudah terbiasa diremehkan, tapi tetap saja sakit mendengarnya langsung seperti ini. Gadis tadi tersenyum merendahkan. “Jangan bilang kamu masuk karena belas kasihan sekolah?” Navya menunduk, berusaha menahan emosinya. Namun tiba-tiba. “Aku yang memilih dia.” Suara dingin seorang pria membuat seluruh kelas langsung diam. Navya menoleh cepat, Jenson berdiri di ambang pintu kelas. Tatapan gelapnya langsung tertuju pada Navya, entah kenapa, suasana mendadak terasa menyesakkan. “Prince." Gadis-gadis langsung membisu. Kathryn salah satu gadis cantik yang tadi mengejek Navya, langsung berubah ekspresi. “Apa maksudmu memilih dia?” tanyanya pelan. Jenson berjalan masuk tanpa memedulikan siapa pun. Langkahnya berhenti tepat di depan meja Navya. Lalu tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari wajah Navya, ia berkata pelan. “Mulai hari ini, dia duduk di sampingku.”"Turun!" Jenson menghentikan mobilnya di depan gang gelap menuju rumah Navya, gadis itu mengernyit bingung saat tahu Jenson berhenti di depan gang rumahnya. "Dari mana kau tahu ini gang rumahku?" tanya Navya menatap tajam Jenson. Jenson membalas balik tatapan Navya yang berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, tatapan pria itu berbeda tidak seperti tatapannya saat berada di sekolah. "Mau gue tahu dari mana alamat rumah lo itu gak penting buat lo dan gak ada urusannya juga sama lo, mending lo turun sekarang dari mobil gue atau gue tendang lo keluar!" Jenson menjauhkan wajahnya dari hadapan Navya dan memandang datar ke arah depannya. Navya membuka pintu mobil lalu keluar dan menutupnya dengan kuat, dalam hati ia bersumpah akan membenci pria itu seumur hidupnya. Jenson turun dari mobil dan menatap datar bangunan mewah di depannya, pria itu melirik sekilas ke arah bagasi mobil yang terletak di depan rumah, dan matanya menangkap tampilan mobil merah sp
"Hazel, kenapa memanggilku?" tanya Navya setelah membuka pintu kamar mandi. "Aku, memanggilmu. Siapa yang mengatakannya?" Hazel mencuci tangannya lalu mendekati Navya yang berada di depan pintu " Kathryn." Jawaban Navya berhasil membuat Hazel terdiam. "Sial! Dia membohongimu Na." "Baiklah, kalau gitu aku pergi dulu, semoga saja Miss Vina belum masuk kelas." Hazel menganggukkan kepalanya, Navya segera berlari menuju Kelas Nirmala, dalam hati ia terus berdoa semoga ia belum terlambat. Navya menghentikan langkahnya di dalam kelas dan menundukkan kepalanya. "Maaf Miss saya terlambat, tadi saya-" "Keluar!" Satu kata dingin yang keluar dari bibir Miss Vina berhasil membungkam Navya, ia membalikkan tubuhnya dan keluar dari kelas. Navya duduk di samping pintu sambil memikirkan apa alasan Miss Vina membencinya, seingatnya ia masih baru di sekolah ini bukankah seharusnya kesalahan dia bisa dimaklumi. Navya menggelengkan kepalanya membuang jauh-jauh pikiran buruk tentang
Tok Tok Tok. Suara ketukan di pintu terdengar. Miss Vina menjawab dari dalam. "Masuk!" "Bibi," panggil Kathryn sambil tersenyum. "Kathryn, kemarilah!" Miss Vina menutup berkas-berkas yang sedang ditandatanganinya lalu menyuruh Kathryn untuk duduk di sampingnya. Kathryn menutup pintu di belakangnya dan berjalan menghampiri bibinya. "Ada apa, kamu memerlukan bantuan bibi?" tanya Miss Vina sembari merapikan rambut Kathryn yang tampak berantakan. "Iya bi, aku mau minta tolong, bibi bisa kan buat Navya tidak betah di Kelas Nirmala lalu keluar dari kelas itu? Kapan perlu dari sekolah ini selama-lamanya." "Bisa sayang, kalau itu masalah mudah, bibi juga memang berniat ingin mengeluarkan dia dari sekolah ini, dia tidak pantas berada di antara kita." "Terima kasih bi," ujar Kathryn lalu memeluk Miss Vina. "Maaf aku terlambat, kamu nunggu lama?" tanya Hazel setelah Navya masuk ke dalam mobilnya. "Tidak, aku juga barusan keluar dari rumah," jawab Navya sambil tersenyum
Rian masuk ke dalam kelas mengambil ponselnya, dan Hazel masuk menghampiri Navya, ia mengernyitkan alisnya bingung melihat Navya yang hanya duduk diam menunduk di kursi. Setelah mendapatkan ponselnya Rian berlalu pergi meninggalkan Navya dan Hazel. Hazel mendekati Navya dan bertanya, "Ada apa? Ayo pulang." "Tidak bisa," jawab Navya menunjukkan roknya yang sudah sobek di bagian belakang. "Kathryn dan teman-temannya yang melakukannya?" Navya menganggukkan kepalanya. "Siapa lagi kalau bukan mereka?" "Terus bagaimana cara kita melepaskannya?" Hazel mencoba berpikir apa yang harus dia lakukan dengan keadaan sahabatnya sekarang. "Apa tidak bisa dipaksa saja?" "Tidak, jika dipaksa maka rokmu robek dan kamu tidak bisa sekolah, karena sekolah melarang muridnya tidak memakai seragam, lalu kursi juga tidak boleh rusak jika ada murid yang merusaknya maka harus mengganti." "Tapi semuanya sudah terlanjur, rokku sudah robek dan kursi juga rusak," tunjuk Navya ke arah rok dan kursi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.