แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Fitri
Lunara tidak mengangkat kepala. Dia tidak tahu bahwa raut wajah Kayden saat ini terlihat sangat buruk. Dia hanya merasakan tatapan Kayden yang membuat seluruh otot tubuhnya menegang dan ingin segera melarikan diri dari tempat itu.

Setelah berkata demikian, dia langsung berbalik dan keluar dari ruang pantri.

Sambil menatap punggung Lunara yang terlihat seperti baru saja terbebas dari beban berat, Kayden menggenggam erat cangkir kopi di tangannya. Dulu, Lunara tidak pernah minum es americano. Dia selalu mengeluh pahit dan asam.

Sekarang, wanita itu malah meminumnya.

Kayden menatap ke arah Lunara menghilang. Mata yang memerah dipenuhi emosi yang rumit. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu semua perasaan itu akhirnya berubah menjadi umpatan kasar yang tertahan di ujung bibirnya.

Setelah kembali ke kantor, Kayden mengeluarkan ponsel dan menelepon Theron.

"Kak Kay, kenapa?"

"Lunara menikah sama siapa?"

Di seberang telepon, Theron terdiam sejenak. Dia benar-benar tidak paham maksud pertanyaan itu, tetapi tetap menjawab jujur, "Nggak tahu."

"Dia menikah di luar negeri. Katanya ... karena ketahuan hamil, jadi sekalian menikah. Aku juga belum pernah melihat suaminya."

"Kapan itu terjadi?"

Theron terdiam. Setelah bergumam tak jelas beberapa saat, dia akhirnya mengertakkan gigi dan berkata, "Itu ... setelah kamu putus dengannya. Katanya Lunara pergi ke luar negeri bersama suaminya."

Setelah itu, Theron tidak berani melanjutkan. Baru putus lalu langsung menikah dan hamil. Sekalipun dulu Kayden tidak mencintai Lunara, tetap sulit untuk tidak memikirkan apakah dirinya sudah diselingkuhi.

Theron masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi Kayden sudah lebih dulu memutus sambungan telepon.

Mendengar nada sibuk dari seberang, Theron malah menghela napas lega. Kalau Kayden terus bertanya, dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Setelah berpikir sejenak, Theron akhirnya mengirim pesan pada Lunara.

[ Kak Kay menanyai aku soal suamimu. ]

Balasan Lunara datang dengan cepat.

[ Maaf, sepertinya suamiku bukan gay. ]

Theron terdiam. 'Yang benar saja, bukan itu intinya kali ....'

Theron sebenarnya ingin bertanya bagaimana kedua orang itu bisa bertemu lagi. Namun setelah dipikir-pikir, dia memilih tidak ikut campur dalam urusan yang berpotensi jadi ranjau itu.

Hingga jam pulang kerja, suasana tetap tenang setelah Kayden menerima email tersebut. Mengingat kejadian semalam, Lunara masih merasa waswas. Dia pun memutuskan pulang tepat waktu.

Gaia melihat Lunara menutup komputer dan tampak terkejut. "Hari ini kamu nggak lembur?"

"Nggak. Aku mau pulang menemani anakku."

Keduanya berbincang ringan sambil masuk ke lift. Tak disangka, setelah seharian tidak bertemu Kayden, kini dia malah bertemu dengan pria itu di dalam lift.

Gaia dan Lunara spontan menghapus senyum di wajah mereka dan berdiri kaku di satu sisi.

Untungnya, Kayden tidak memperhatikan mereka. Earphone bluetooth terpasang di telinganya, dia sedang menelepon.

"Aku tahu. Malam ini pasti pulang menemanimu makan."

"Ya. Tenang saja, aku ingat akan membelikanmu bunga."

Nada bicaranya lembut dan penuh perhatian. Jelas terasa betapa Kayden menghargai lawan bicaranya.

Tiga tahun lalu, Lunara hanya pernah mendengar suara Kayden yang sehangat itu saat mereka berada di ranjang. Kemungkinan besar, orang di seberang telepon itulah yang meninggalkan bekas di lehernya.

Puluhan detik di dalam lift berlalu cepat. Kayden lebih dulu melangkah keluar.

Gaia menepuk dadanya sendiri. Dengan nada iri, dia berkata, "Tadi Pak Kayden sedang menelepon pacarnya, ya? Lembut sekali. Ternyata setegar apa pun pria, kalau bertemu wanita yang dia cintai, tetap bisa selembut itu."

Lunara terdiam sejenak, lalu tanpa sadar menjawab, "Sepertinya begitu." Dia menolak tawaran Gaia untuk diantar pulang, lalu berdesakan masuk ke kereta bawah tanah.

Di dalam gerbong, ada banyak orang yang hilir mudik. Lunara teringat pada pesan Theron. Mungkin saat Ignas memperkenalkan data karyawan, dia sekilas menyebut kondisi keluarga.

Sebelumnya, mereka pernah punya atasan yang melihat Lunara cantik dengan aura dingin khas, mengira dia berasal dari keluarga berada dan tidak kekurangan uang, sehingga kesempatan promosi dan kenaikan gaji bahkan tidak pernah dipertimbangkan untuknya.

Ignas-lah yang membantu memperjuangkannya. Lunara sangat berterima kasih.

Namun, Kayden sampai menanyakan soal suaminya, itu membuat Lunara cukup terkejut. Suami Lunara sebenarnya tidak pernah ada. Saat dulu membawa Orion ke luar negeri untuk berobat, mereka bertemu keluarga pasien lain di pesawat.

Keinginan terakhir kedua pihak orang tua kala itu hanyalah satu, yaitu melihat anak-anak mereka menikah.

Lunara dan putra dari keluarga pasien itu akhirnya berjanji untuk bersama di depan ranjang rumah sakit demi memenuhi permintaan kedua ayah mereka.

Tak lama kemudian, kedua orang tua itu meninggal dunia. Setelah itu, Lunara dan pria tersebut pun lama tidak saling menghubungi. Soal status pernikahan, itu hanyalah ucapan Lunara semata. Ke luar, dia selalu menyebut dirinya sebagai wanita yang sudah menikah.

Pada masa itulah, Lunara melahirkan Daisy.

Di masyarakat ini, wanita yang sudah menikah tetapi suaminya tidak bertanggung jawab dan tidak mengurus anak masih bisa mendapat simpati. Namun, wanita yang hamil di luar nikah dan tidak jelas siapa ayah anaknya, hanya akan menuai cibiran.

Lunara tidak peduli dengan omongan tentang dirinya. Akan tetapi, dia tidak ingin putrinya ikut dipandang dengan mata penuh prasangka. Seorang anak tetap membutuhkan sosok ayah secara formal.

Apa pun yang terjadi, Lunara tidak akan membiarkan Kayden mengetahui keberadaan Daisy.

Jika keluarga seperti Keluarga Narasoma itu mengetahui keberadaan Daisy, mereka pasti akan merebut anak itu dari tangan Lunara, atau menghina ibu dan anaknya, lalu memperlakukan Daisy dengan kejam.

Semua itu sangat mungkin terjadi.

Daisy adalah seorang anak perempuan. Sekalipun direbut kembali, Keluarga Narasoma belum tentu akan benar-benar menghargainya.

Lunara sudah terlalu sering melihat kisah perebutan anak di kalangan keluarga kaya. Luka itu pun tertanam dalam di hatinya.

Apa pun tujuan Kayden, Lunara tidak peduli. Yang dia pedulikan hanyalah putrinya.

....

Rumah Keluarga Narasoma.

Dengan sebuket mawar yang sedang mekar indah di tangannya, Kayden menyerahkannya kepada Saphira yang sudah menunggu di meja makan. Dengan kata-kata singkat, dia berkata, "Nih, yang kamu minta. Bunga."

Saphira menerimanya dengan wajah berseri, mulutnya tetap mengeluh, "Apa maksudmu yang aku minta? Sejak kamu pulang ke negara ini, kamu hampir nggak pernah pulang ke rumah. Jangan-jangan kamu sudah lupa aku ini ibumu?"

"Aku cuci tangan dulu," jawab Kayden. Dia berbalik dan masuk ke kamar mandi.

"Anak bandel." Saphira mendengus pelan, lalu kembali tersenyum. Dia menyerahkan bunga itu kepada Maeris yang duduk di sampingnya. "Nih, bunga yang dibeli Kayden. Aku berikan ke kamu saja. Bunga segar seperti ini lebih cocok untuk anak muda. Aku ini sudah tua."

Wajah Maeris yang cantik tampak dipenuhi rasa malu dan gembira.

Tangannya tidak langsung menerima bunga itu. Sudut mata dan alisnya malah tertuju pada Kayden yang baru keluar dari kamar mandi. Sambil menggigit bibir, dia berkata lembut, "Tante, bagaimanapun ini bunga yang dibeli Kak Kay untuk Tante. Nggak pantas kalau aku yang menerimanya. Lagi pula, Tante masih begitu anggun dan memesona, mana terlihat tua?"

Kerutan di sudut mata Saphira hampir ikut tersenyum lebar.

Cara bicara Maeris memang menyenangkan dan menenangkan hati, jauh lebih enak didengar dibandingkan kata-kata Kayden yang selalu dingin.

"Ambil saja. Memang dibelikan untukmu."

Mendengar Maeris akan datang untuk makan malam, Saphira mendadak memutuskan Kayden harus membawa pulang sebuket bunga. Kayden itu baik dalam segala hal, hanya saja urusan perasaan benar-benar kosong. Dia terlihat sama sekali tidak tertarik soal cinta. Hal itu membuat Saphira cukup cemas.

Kayden adalah putra sulung sekaligus cucu sulung Keluarga Narasoma. Dia juga satu-satunya anak laki-laki dari keluarga utama. Kakeknya memiliki tiga putra, dengan total empat cucu laki-laki dan satu cucu perempuan. Namun, belum ada satu pun yang menikah.

Yang masih sangat muda mungkin bisa dimaklumi. Namun yang usianya sudah cukup dewasa, semuanya beralasan bahwa selama Kak Kay belum menikah, mereka tidak berani mendahului.

Saphira hanya memiliki satu orang anak, tentu berharap Kayden segera berkeluarga dan punya keturunan.

Tatapan Maeris selalu tertuju pada Kayden.

Aura pria itu begitu menonjol. Setelah melepas jasnya, rompi yang dikenakannya menegaskan bentuk tubuhnya yang sempurna. Setiap gerakannya memancarkan keanggunan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

"Kak Kay, boleh nggak aku menerima bunga ini?" tanya Maeris pelan.

"Jangan manggil sembarangan."

Kayden mengangkat pandangan dan bertemu dengan wajah Maeris yang memerah. "Bunga itu bukan untukmu. Kalau kamu mau, beli sendiri."

Maeris menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi menyedihkan. Tiba-tiba dia bertanya, "Kak Kay, kamu masih ingat Lunara?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (3)
goodnovel comment avatar
Nadlif Rejeki Reaching
dulu katanya kamu ga menginginkan lunara,,lunara bukan typemu tapi kenapa kamu sampe sekarang tidak bisa melupakan lunara? benar² aneh kamu kayden
goodnovel comment avatar
Suriyana Rusyidi
ternyata sangat menyayangi ibunya
goodnovel comment avatar
Retno jati
Oalah ternyata bunga nya untuk ibu nya
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 752

    Setelah masuk ke ruang pemeriksaan, dokter berkata, "Selamat ya, kamu memang hamil. Tapi usia kehamilannya baru sekitar tiga minggu, jadi masih dalam masa observasi. Nanti silakan lanjut ke bagian administrasi untuk bikin berkas kehamilan."Orang yang datang ke poli kebidanan dan kandungan untuk memastikan kehamilan biasanya memang sudah berencana mempertahankan kandungan. Karena itu, wajah dokter pun dipenuhi senyuman bahagia.Lunara mengucapkan terima kasih, lalu berdiri dan keluar dari ruang pemeriksaan. Sebenarnya, di dalam hatinya dia sudah memiliki firasat. Sejak pemeriksaan sebelumnya, dia sudah menduga kemungkinan besar dirinya memang hamil.Namun, saat melihat tulisan kehamilan terkonfirmasi pada hasil pemeriksaan, hatinya tetap dipenuhi gejolak.Anak ini ... untuk saat ini tumbuh dengan sehat. Syukurlah, janji yang pernah dibuat akhirnya benar-benar terwujud.Lunara meletakkan tangan di atas perutnya yang masih rata. Yang ada di pikirannya sekarang hanya satu, dia ingin secep

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 751

    Lunara hanya mengangguk pelan. Kenapa Eden muncul di sini tidak ada hubungannya dengan dirinya.Sarah masih ada kelas setelah ini. Dia berpamitan kepada Lunara, lalu segera pergi.Kayden berjalan menghampiri dan menggenggam tangan Lunara. "Ayo, kita keliling kampus.""Oke."Mereka bukan hanya sekadar berjalan-jalan di kampus. Mereka sedang menyusuri kembali jalan-jalan yang pernah mereka lalui bersama bertahun-tahun lalu.....Di tengah perjalanan, Lunara berlari kecil menaiki beberapa anak tangga. Dia berdiri di atas, lalu mengulurkan tangan kepada Kayden yang masih berada di bawah.Kemudian, dia bersiap melompat turun. "Tangkap aku!"Kayden tersenyum tak berdaya, lalu melangkah maju.Dahulu saat mereka masih berpacaran, waktu bertengkar, Lunara pernah sengaja berdiri di atas anak tangga seperti ini. Dia ingin memberi Kayden kesempatan untuk berdamai.Dengan meminta Kayden menggendongnya turun, itu adalah "anak tangga" yang dia sediakan untuk Kayden agar pria itu menurunkan gengsinya.

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 750

    Dibandingkan pidato spontan Lunara, pidato Kayden jauh lebih profesional. Acara seperti ini sudah sangat biasa baginya.Hanya saja, karena yang dihadapinya adalah adik-adik tingkat, nada bicara Kayden menjadi jauh lebih santai dan bersahabat.Setelah sesi berbagi selesai, acara dilanjutkan dengan tanya jawab. Seorang mahasiswa bertanya, "Kak Kayden, postingan yang dulu Kakak unggah di forum kampus itu benar?"Tawa langsung pecah di seluruh aula. Yang ditanyakan tentu saja postingan Kayden tentang pacarnya yang menghilang tanpa kabar setelah putus.Dahulu postingan itu sangat populer di Universitas Andara. Bahkan tidak berlebihan jika disebut sebagai kisah cinta paling legendaris di forum kampus.Kayden tersenyum, lalu mengangguk sambil tersenyum pasrah. "Ya, itu benar.""Waktu itu aku lagi nggak bisa berpikir jernih, jadi aku mengunggah postingan itu. Kalau kalian mengikuti kelanjutannya, pasti sudah tahu kalau sekarang kami sudah menikah."Mahasiswa lain langsung bertanya, "Kak, nggak

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 749

    "Satu-satunya hal yang bisa kukatakan adalah, semoga kalian semua selalu berpegang teguh pada hati nurani, mengenal diri sendiri, percaya pada diri sendiri, dan tetap menjadi diri sendiri."Lunara mengedipkan mata."Tentu saja, kalian juga dipersilakan mengirimkan lamaran kerja ke perusahaanku nanti, àl'aube dan Spring & Co."Dekan yang duduk di bawah panggung hanya bisa tersenyum tak berdaya. Saat ini àl'aube memang sedang berada di puncak popularitas. Banyak mahasiswa juga mengenal merek itu.Seorang mahasiswa berkata sambil tertawa, "Kak, nanti waktu kami lulus, mungkin perusahaan Kakak sudah terlalu hebat sampai kami nggak bisa masuk lagi."Lunara ikut tertawa. "Nggak mungkin. Selama kalian punya kemampuan, sekalipun aku harus bongkar pintu belakang, tetap akan kubuat kalian bisa masuk."Semua orang langsung tertawa. Lunara pun turun dari panggung dan digantikan oleh alumni lain untuk berbagi pengalaman.Dia membungkuk, menggenggam tangan sang dekan di barisan depan sambil mengucap

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 748

    Di aula akademik Universitas Andara, beberapa alumni yang telah meraih prestasi diundang naik ke atas panggung untuk menyampaikan sambutan.Tujuannya juga untuk memberi semangat kepada para mahasiswa yang masih menempuh pendidikan.Lunara berdiri di atas panggung, memandang ke arah para adik tingkat yang wajahnya masih dipenuhi kepolosan dan sedang menikmati masa muda mereka.Dia berdeham pelan, lalu berkata dengan lantang, "Aku benar-benar nggak nyangka, pertama kali berdiri di sini justru setelah lulus bertahun-tahun. Dulu waktu masih kuliah, Pak Dekan selalu bilang kalau aku nggak punya ambisi."Para mahasiswa di bawah panggung langsung tertawa. Dekan saat ini adalah dosen yang dahulu mengajar Lunara dan mengajarinya banyak teknik melukis.Waktu itu, sang dekan sangat menghargai bakat Lunara. Beliau ingin membimbingnya agar terus mendalami dunia seni."Aku lulusan Program Studi Mural Perkotaan di fakultas ini. Waktu itu pikiranku cuma satu, yaitu pacaran. Sama sekali nggak kepikiran

  • Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda   Bab 747

    "Ya." Lunara tersenyum tipis, lalu dia menoleh mencari sosok Kayden.Setelah selesai mengisi daftar hadir di fakultasnya, Kayden berbalik dan mencari Lunara di tengah kerumunan.Tatapan mereka bertemu. Dia pun melangkah menghampiri Lunara.Tiba-tiba, Lunara teringat pada sebuah kalimat. Apa pun tahap kehidupan seseorang, ketika seseorang bersedia menyerahkan hal paling berharganya kepada orang lain, itulah cinta.Saat masih menjadi mahasiswa, yang paling berharga adalah uang. Saat telah sukses dalam karier, yang paling berharga adalah waktu.Keberanian dari seorang pengecut. Kejujuran dari seseorang yang sulit mengungkapkan perasaannya. Harga diri dari seseorang yang sangat sensitif. Kerendahan hati dari seseorang yang selalu angkuh.Semua itu ... pernah diberikan Kayden kepadanya tanpa sedikit pun disembunyikan. Hanya saja, pada waktu yang berbeda-beda.Sebelum Kayden sampai di sisinya, beberapa penggemar Moonbreeze sudah lebih dahulu mengenali Lunara. Mereka beramai-ramai menghampiri

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status