LOGINSabar ... orang sabar pasti kesel ...🫣🫣🫣
“Hati-hati di jalan,” ucap Suci sambil melambai pada Firman, tamu terakhir yang meninggalkan rumahnya. “Makasih banyak sudah datang.”“Iya, Mbak. Sama-sama,” balas Firman sambil mengangguk sopan pada Suci dan Arif. Setelah berpamitan sekali lagi, ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman pasangan suami istri tersebut.“Selesai!” ucap Arif membuang napas lega. Acara mereka berjalan lancar tanpa ada drama. Tidak ada lagi yang perlu ditutupi setelah ini, karena Arif sudah memperkenalkan Suci sebagai istrinya. Dan apa pun penilaian orang-orang setelah ini, Arif tidak berniat memikirkannya sama sekali.“Capek,” keluh Suci sambil memijat bagian belakang pinggangnya yang terasa pegal. Meski tubuhnya terasa lelah, hatinya justru dipenuhi rasa lega karena acara mereka berjalan sesuai harapan. “Tinggal tunggu orang katering pulang, habis itu aku mau tidur.”Arif merangkul Suci, membawa sang istri kembali masuk ke dalam rumah. “Istirahat duluan di kamar. Biar aku, Sahli, sama Hadi yang
Suara tawa sesekali pecah di antara kelompok-kelompok kecil yang duduk mengelilingi meja-meja bundar di taman samping rumah. Taman yang memanjang hingga ke halaman belakang itu, sore ini disulap menjadi tempat syukuran yang hangat dan sederhana.Di salah satu sisi taman, terdapat meja prasmanan yang dipenuhi aneka hidangan tidak pernah sepi. Beberapa tamu tampak mengantre sambil melanjutkan obrolan mereka, sementara petugas katering dengan sigap mengganti nampan yang mulai kosong.Hampir seluruh tamu yang hadir merupakan rekan kerja Arif, beberapa klien lama, serta teman-teman dekat yang telah mengenalnya selama bertahun-tahun. Sore itu, hampir semua orang yang penting dalam kehidupan profesional Arif hadir memenuhi undangannya. Dan di tengah keramaian itulah, untuk pertama kalinya Suci akan diperkenalkan secara resmi sebagai istri Arif Adiningrat."Masih deg-degan?" bisik Arif tanpa mengalihkan pandangannya dari tamu yang sedang mengobrol di hadapan mereka.“Masih.” jawab Suci semba
“Akhirnya, selesai juga!” Suci menjatuhkan tubuh ke tempat tidur. Mengangkat kedua tangan ke atas untuk meregangkan tubuhnya yang terasa penat. Setelah seharian berjibaku menata perabotan di rumah baru, akhirnya tugas itu rampung juga.Setelah menunggu hampir setengah bulan, akhirnya rumah tersebut bisa ditempati juga. Meski masih ada beberapa sudut yang belum sempurna, rumah itu akhirnya siap menjadi tempat untuk membangun kehidupan baru.“Nanti malam beli bakso aja, ya, Mas?” lanjut Suci sambil menatap langit-langit kamar baru yang luasnya hampir dua kali lipat dibanding kamar yang ditempatinya di apartemen. “Di makan panas-panas, pedes-pedes.”“Jangan pedes-pedes, nanti sakit perut,” ujar Arif sambil menurunkan suhu pendingin ruangan. Setelah selesai, barulah ia ikut berbaring di samping Suci. “Pedes dikit,” ujar Suci menurut saja. “Tapi delivery aja. Aku malas keluar. Capek.”Arif memiringkan tubuh perlahan. “Ayo mandi. Biar aku pijatin sekalian.Suci tersenyum miring dan menyip
“Sepertinya aku nggak bisa pulang pas makan siang nanti,” ucap Arif setelah membaca pesan dari Felix di ponselnya. “Hari pertama kerja, tapi sudah diminta nemani Pak Felix makan siang dengan klien.”“Harusnya Mas bersyukur,” ucap Suci tersenyum kecil dan bersiap memasangkan dasi di leher Arif. “Itu artinya, Pak Felix percaya sama Mas.”“Aku sangat bersyukur.” Arif mengusap pelan pipi Suci yang tengah memakaikan dasi untuknya. Dan kali ini, bukan lagi sandiwara. “Walau ‘makan siangnya’ harus ditunda sampe minggu depan.”Suci terkekeh karena mengerti dengan maksud Arif. “Kerja, Mas. Jangan mikir ‘makan siang’ terus. Lagian juga masih libur.”“Yang libur, kan, kamu,” balas Arif meringis lebar sambil menangkup gemas wajah Suci. “Bukan aku.”Suci memanyunkan bibirnya. “Curang.”Arif tertawa lepas melihat ekspresi istrinya. Ia lalu mengecup bibir sang istri yang mengerucut itu. “Maaas, ini lagi masang dasi,” gerutu Suci menepuk pelan dada Arif. “Nggak usah cium-cium.”“Iya, iya,” jawab Ari
Sahli baru membuka pintu kamar kosnya ketika melihat Nurul berdiri tepat di hadapannya. Tangan wanita itu sudah terangkat, bersiap mengetuk pintu. “Akhirnya, ada di kos juga kamu,” ujar Nurul tanpa emosi karena ia sedang berada di tempat umum. Hari masih terhitung pagi dan kemungkinan besar penghuni kos masih beristirahat menikmati hari liburnya. Sahli pura-pura menguap sambil menggaruk kepala. “Ngapain pagi-pagi ke sini?”Tatapan Sahli berpindah pada Bahlil, yang baru saja berhenti di samping Nurul. Ternyata, tantenya itu datang bersama sang suami, bukan putranya. Kalau begini, Sahli dan Hadi harus bisa memupuk kesabaran lebih banyak lagi. “Di mana Suci tinggal?” tanya Bahlil sudah enggan berbasa-basi. “Itu juga, di mana suaminya kerja? Bagian apa?”“Sama nama lengkapnya?” timpal Nurul merangsek masuk ke kamar Sahli dan melihat ke sekeliling. “Ke mana Hadi?”“Mandi,” jawab Sahli sedikit bergeser ketika Bahlil juga memasuki kamarnya. “Sekalian cuci baju di atas.”“Yang tadi jawab,
“Selama ini, aku sering ketemu klien atau lawan yang ngotot, serakah, dan selalu merasa dirinya benar,” ujar Arif saat mereka duduk di salah satu gerai restoran cepat saji.Suci meminta Arif mampir ke tempat tersebut untuk membeli es krim. Istrinya itu butuh sesuatu yang dingin, untuk meredakan kepala dan hatinya yang masih terasa panas setelah bertemu dengan Nurul dan Bahlil.“Tapi, waktu bicara dengan Om sama Tantemu tadi, ada rasa jengkel yang nggak bisa dijelaskan,” lanjut Arif sambil menyantap es krim miliknya. “Aku salut, karena kamu bisa tahan dengan mereka selama ini.”“Mau gimana lagi, aku, Sahli, sama Hadi masih butuh tempat tinggal,” jawab Suci bercerita sesuai dengan yang sempat dialaminya saat ini. “Kalau pergi dari sana, uangnya pasti kurang karena ada tiga kepala yang harus dikasih makan. Belum bayar tempat tinggal, sama ini itunya. Makanya kita sabar-sabarin aja dulu.”Tatapan Suci beralih pada tempat parkir yang tidak terlalu ramai. “Jujur, sesekali aku pengen banget
“Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?
“Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me
“Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan
“Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan







