Mag-log in“Sorry,” ucap Arif begitu melihat Suci sudah duduk manis di ruang tengah. Sebuah koper juga telah siap di samping sofa. “Aku pulang agak telat.”Suci tersenyum. Menyimpan rasa gugupnya dalam-dalam. “Kan, Mas tadi juga sudah nelpon karena ada kerjaan mendadak. Jadi, nggak usah minta maaf.”Arif mengangguk. Menarik handle koper dan bersiap menariknya dengan terburu. “Sudah siap semua? Atau masih ada yang harus dibawa? Koper lain?”Suci menggeleng sambil berdiri. “Semua baju sudah di koper. Nggak ada yang ketinggalan.”“Lingeri?”“Mas!” Arif lantas tertawa. Akhirnya, hari itu datang juga. Hari di mana mereka akan menikmati malam pergantian tahun berdua, sekaligus menghabiskan waktu yang telah lama ia nantikan sebagai pasangan suami istri.“Aku cuma memastikan,” ujar Arif tersenyum jahil.“Nggak usah dipastikan.”“Berarti ada?”Wajah Suci seketika memerah. Ia buru-buru meraih tas selempangnya di sofa lalu berjalan lebih dulu menuju lift. “Ayo, berangkat. Nanti kena macet.”“Duh … yang su
“Mas, Hadi bilang nggak usah pindah sekolah karena nanggung,” ujar Suci segera mematikan televisi. “Sekolah juga tinggal lima bulanan lagi. Nggak terasa.”“Bentar, ya,” ucap Arif masih mondar-mandir di depan televisi dan sibuk dengan ponselnya. “Hmm.” Suci mengangguk.Tidak ingin mengganggu kesibukan sang suami, Suci pun beringsut ke dapur. Pikirannya masih saja tertuju pada malam tahun baru yang tinggal menghitung hari. Setiap kali mengingat ajakan staycation, wajahnya selalu terasa panas. Kata bulan madu yang diucap Arif saat itu, benar-benar tidak bisa hilang dari benaknya. “Fully booked,” gerutu Arif sambil melangkah ke dapur tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. “Aku sudah cek lima hotel dan semuanya penuh pas tahun baru.”Suci yang baru membuka lemari pendingin, lantas menutupnya kembali. Ia menggigit bibir, lalu berbalik. “Mas beneran mau nginap di hotel?”“Kita,” ralat Arif sembari duduk di stool bar dan kembali mencari hotel bintang lima yang bisa ia booking. “
“Kita nggak akan pergi, sebelum ada yang menjelaskan apa yang sudah terjadi?”Arif merubah posisi duduknya, agar bisa melihat Suci, Sahli, dan Hadi yang sudah berada di dalam mobil. Kendati bisa mengambil sedikit kesimpulan, tetapi Arif tetap ingin mendengar penjelasan dari ketiga kakak beradik itu. “Mereka nagih uang listrik sama air,” jawab Suci lalu bercerita singkat, tentang apa yang terjadi barusan.“Dan kenapa kamu biarkan Tantemu itu ngambil uang di dompetmu?” Arif menatap tegas pada Suci. “Biar dia lihat sendiri, kalau uangku di dompet itu nggak banyak,” jawab Suci. “Harusnya kamu nggak perlu ngelakuin itu.”“Kalau aku nolak, urusannya bakal lebih panjang, Mas. Mereka pasti tetap maksa.”Arif mengembuskan napas pelan sambil menggeleng. Bukan karena tidak percaya, tetapi ia tidak menduga jika hal seperti ini ternyata akan dialami keluarganya. Lebih tepatnya, istrinya sendiri.“Ci, dengerin aku.” Tatapannya kembali bertemu dengan mata Suci. “Aku nggak peduli berapa uang yang
“Resepsi?” Suci mengerjab sambil memijat tengkuknya. Lagi-lagi, Arif membuatnya terpaku. Belum juga sehari menikmati status baru sebagai pasangan yang sedang pacaran, Arif kembali membuat gebrakan baru. Urusan rumah saja belum selesai dibicarakan hingga tuntas, kini, pria itu memiliki ide untuk melakukan resepsi. “Mas yakin mau ngadain resepsi?” sambung Suci tidak yakin. Ia bukan tidak yakin dengan Arif, melainkan dengan dirinya sendiri. Suci tidak bisa membayangkan, apa yang akan dikatakan orang-orang jika mengetahui istri seorang seperti Arif Adiningrat adalah mantan office girl. “Aku yakin,” jawab Arif sembari mengangguk. Ia menduga, Suci masih saja insecure dan akan mengelak idenya tersebut. “Kenapa? Kamu nggak mau?”Suci menggeleng pelan. Ia diam sejenak, menyeruput teh hangat di tangan sambil memandang gemerlap kota dari balkon kamar Arif.“Di satu sisi, jelas aku mau,” jawab Suci berusaha jujur dan tidak memikul kekhawatirannya sendirian lagi. “Tapi, di sisi lain … aku mik
“Hadi baru aja diomelin sama Om Bahlil,” adu Sahli ketika Suci baru saja sampai di kos. “Belum ada lima menit dia nelpon, terus kamu datang.”Suci mengernyit. Ia bahkan belum melepas kedua sepatunya, ketika Sahli menyambutnya dengan kabar yang tidak menyenangkan.“Ngomel kenapa?” tanya Suci seraya melepas sepatunya satu per satu, lalu memasuki kamar kos yang berukuran 3 x 4 meter tersebut. “Kenapa Suci belum bayar listrik sama air?” jawab Hadi meniru nada bicara omnya ketika memarahinya di telepon. “Ditelpon nggak diangkat! Dichat juga nggak pernah dibalas! Suruh kakakmu telpon Om atau Tante hari ini juga!”“Waktu ngomong sama aku, dia minta alamat tempatmu kerja,” sambung Sahli setelah Hadi menyelesaikan kalimatnya. “Mau datang ke sana katanya.”Suci mencebik sambil mengulurkan sebuah kantong plastik yang berisi makanan pada Hadi. “Yang make listrik sama air siapa, yang disuruh bayar siapa?” ujar Suci setelah berdecak kesal mengingat keluarga yang satu itu. “Lagian mau ngapain juga
“Kamu sudah makan, sudah tidur, sudah istirahat. Jadi, sekarang nggak punya alasan lagi untuk menghindar.”Tanpa memberi kesempatan Suci menyela, Arif meraih pelan tangan gadis itu, lalu menuntunnya menuju sofa panjang di depan televisi. Setelah semua piring selesai dicuci dan dapur kembali rapi, kini saatnya mereka kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda.“Aku nggak mau ngulang semua yang sudah aku omongin dari tadi siang,” lanjut Arif setelah keduanya duduk di sofa. “Jadi–”“Kita jalani aja dulu,” putus Suci sambil menarik tangannya dari genggaman Arif. Ia juga sudah enggan berdebat dengan pria itu, karena semua akan berakhir sia-sia. “Jalani kayak biasanya.”“Tapi aku nggak mau,” tolak Arif tanpa basa-basi. “Ngapain aku capek-capek ngerobek surat kontrak, kalau kita tetap jalan seperti biasanya. Makanya aku tegaskan, kalau kita pacaran dulu.”“Itu, kan, maunya Mas Arif. Bukan mauku.”“Aku tau kalau kamu juga mau,” tembak Arif bergeser untuk memangkas jarak dengan Suci.
“Yaaang, aku belum pake dasi.”Perdebatan kecil antara Deswita dan Ivan di ruang tengah, mendadak senyap begitu mendengar teriakan Arif dari arah kamar. Sejurus kemudian, tatapan mereka tertuju pada putra mereka yang berjalan tergesa-gesa melewati ruang tengah menuju dapur, menghampiri Suci yang ma
Suasana kamar masih gelap gulita ketika alarm dari jam biologis Suci membangunkannya. Matanya mengerjap pelan, lalu tertegun menatap gorden berwarna gelap yang terasa asing. Berbeda dengan kamar yang ditempatinya belakangan ini. Kemudian, tatapan Suci pun turun melihat benda di pelukan.Sebuah gul
Muak.Deswita benar-benar muak melihat kedekatan Suci dan putranya di depan mata saat makan malam tiba. Di mana Suci berada, di situlah Arif menempel dengan eratnya. Dan bagi Deswita, semua hal yang dilihatnya saat ini hanyalah sandiwara. “Arif,” panggil Deswita datar. “Bunda mau tanya.”“Ya, sila
“Ci, sorry. Hari ini kita nggak jadi shopping,” ujar Arif menghampiri Suci. Setiap pagi, gadis itu memang selalu berkutat di dapur untuk mencoba berbagai masakan. Bahkan, ada beberapa menu yang baru Arif lihat dan rasakan selama hidupnya. “Aku diminta nemenin Pak Felix nemui klien nanti siang.”“Oh







