مشاركة

38. Beringas

مؤلف: Risya Petrova
last update تاريخ النشر: 2026-07-29 23:42:56

Meskipun dadanya bergemuruh dan matanya masih menyalakan hasrat untuk terus mendekap Maya erat-erat, Wildan sadar betul bahwa ia tidak bisa menuruti egonya pagi itu.

Ia harus segera berangkat menuju bengkel Mario untuk menjalani shift paginya. Menjaga alibi sebagai montir biasa yang tidak tahu apa-apa merupakan langkah krusial, sebab jika ia mendadak menghilang bertepatan dengan hilangnya Maya, Mario pasti akan langsung menghubungkan benang merah tersebut.

Jadi selama Maya hilang, ia tidak bol
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Kuli Gagah Spesialis   40. Hukum rimba

    Otak Wildan berputar dengan sangat cepat. Ia tahu betul bahwa ia sama sekali tidak bisa mengandalkan hukum kepolisian untuk menyelamatkan Maya. Melaporkan penculikan ini ke polisi adalah tindakan bunuh diri yang konyol, mengingat Indra adalah seorang jaksa elit yang memiliki kendali penuh atas aparat penegak hukum di wilayah ini. Jika Wildan melapor, ia yang akan dijebloskan ke penjara atas tuduhan membawa lari istri pejabat.Satu-satunya cara untuk melawan iblis berseragam hukum adalah dengan menggunakan hukum rimba."Dengerin gue, Ben. Kita main pakai cara jalanan," perintah Wildan mutlak. "Gue butuh lo kerahin semua jaringan informan lo sekarang juga! Kontak semua anak terminal, pengamen, preman parkir, sampai pedagang asongan yang ada di jalanan raya! Lacak ke mana arah konvoi mobil SUV hitam pelat merah itu pergi!""Siap, Bos! Gue langsung kontak anak-anak di lapangan. Gue juga bakal kumpulin sisa pasukan kita!" jawab Beno, semangatnya kembali tersulut oleh ketegasan bosnya."Gue

  • Kuli Gagah Spesialis   39. Plak!

    Indra melangkah beringas, langsung menyambar dan menjambak rambut panjang Maya dengan sangat kasar hingga kepala wanita itu tertarik ke belakang."Aaargh! Mas, ampun! Sakit, Mas!" jerit Maya histeris, tangannya memegang pergelangan tangan suaminya yang menjambak rapat.Tindakan KDRT yang sadis pun tak terelakkan di dalam ruangan sempit tersebut.PLAK! PLAK!Indra menampar kedua pipi Maya bertubi-tubi dengan telapak tangannya yang keras hingga sudut bibir ranum wanita itu robek dan menyemprotkan darah segar."Berani-beraninya kamu kabur dari rumahku cuma buat ngangkang di tempat busuk ini sama laki-laki gembel, hah?!" maki Indra keras, matanya melotot seperti mau melompat keluar."Mas ... lepasin …," rintih Maya dengan suara yang mulai serak dan napas tersendak darahnya sendiri.Indra menghempaskan jambakannya hingga tubuh rapuh Maya tersungkur keras ke lantai beton. Tanpa belas kasihan sedikit pun, ujung sepatu kulit tebal milik Indra melayang, menendang rusuk dan perut samping Maya d

  • Kuli Gagah Spesialis   38. Beringas

    Meskipun dadanya bergemuruh dan matanya masih menyalakan hasrat untuk terus mendekap Maya erat-erat, Wildan sadar betul bahwa ia tidak bisa menuruti egonya pagi itu. Ia harus segera berangkat menuju bengkel Mario untuk menjalani shift paginya. Menjaga alibi sebagai montir biasa yang tidak tahu apa-apa merupakan langkah krusial, sebab jika ia mendadak menghilang bertepatan dengan hilangnya Maya, Mario pasti akan langsung menghubungkan benang merah tersebut.Jadi selama Maya hilang, ia tidak boleh ikut menghilang. Wildan merenggangkan pelukannya perlahan, lalu menatap wajah Maya yang terlihat begitu pasrah dalam dekapannya."Mbak Maya, saya harus berangkat ke bengkel Mario sekarang," bisik Wildan pelan, mengusap anak rambut yang menempel di dahi wanitanya.Maya mendongak, matanya menatap Wildan dengan berat hati. "Harus pergi sekarang, Wil? Aku masih takut kalau kamu tinggal.""Harus, Mbak. Ini demi alibi kita," jawab Wildan tegas namun lembut. "Kalau saya bolos kerja di hari Mbak hil

  • Kuli Gagah Spesialis   37. Aku aja yang di atas

    "Biarkan aku yang merawatmu malam ini, Wil," bisik Maya pelan. Tangannya merayap turun, mengelus dada bidang pria itu, lalu turun lagi ke bawah area pusarnya.Sentuhan lembut namun agresif dari jari-jari lentik Maya seketika membakar habis sisa kelelahan di tubuh Wildan. Kejantanan pria itu merespons dengan cepat, mengeras sempurna di balik lapisan celana bahan yang ia kenakan.Wildan mendesah berat, menahan tangan Maya. "Mbak Maya ... kalau Mbak terusin, saya nggak bakal bisa ngerem.""Aku nggak nyuruh kamu ngerem, Wil," tantang Maya dengan sorot mata yang sayu namun penuh hasrat. "Kamu udah kerja keras seharian buat kita. Malam ini, biar aku yang di atas."Maya bangkit perlahan, melepaskan kemejanya sendiri hingga menyisakan tubuh polosnya yang hanya diterangi cahaya remang dari lampu tidur. Wanita itu kemudian melucuti sisa pakaian Wildan dengan sangat hati-hati, memastikan ia tidak menekan bagian bahu atau lengan pria itu yang sedang memar.Setelah Wildan sepenuhnya polos dan berb

  • Kuli Gagah Spesialis   Tidur di kasur sama

    "Wil ... Gimana ini?" pekik Maya panik. Kedua tangannya meremas lengan kekar Wildan dengan erat.Napas Maya memburu. Bayangan Indra menyeretnya paksa dan menyiksanya kembali berputar di kepalanya. Menjambak, memukuli, dan kerap menghinanya.Wildan langsung mendekap tubuh Maya yang gemetar. Matanya menatap tajam ke arah pintu rolling door yang tertutup rapat, lalu berteriak membalas laporan anak buahnya dari dalam."Ben! Dengerin instruksi gue baik-baik!" perintah Wildan dengan suara bariton yang menggema di dalam gudang yang gelap itu. "Tahan posisi lo. Jangan sampai ada anak buah lo yang ketahuan. Pantau terus kontrakan itu dari jauh.""Siap, Bos! Terus kita harus gimana?" balas Beno dari luar."Kita nggak bisa balik ke sana. Malam ini gue sama Mbak Maya nginap di gudang ini," putus Wildan cepat. "Tunggu sampai polisi dan anjing pelacaknya Indra cabut dari gang itu. Kalau situasi udah benar-benar sepi, lo susup masuk ke dalam lewat atap atau jendela belakang. Ambil tas ransel gue dan

  • Kuli Gagah Spesialis   35. Main di meja

    Setengah jam membelah jalanan malam, mobil itu akhirnya berbelok masuk ke sebuah kawasan komersial yang cukup sepi dan berhenti di depan sebuah bangunan gudang raksasa. Pintu besi rolling door ditarik terbuka oleh Beno dari dalam, membiarkan mobil Wildan masuk sebelum akhirnya ditutup rapat kembali.Wildan turun dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Maya.Di tengah kegelapan gedung setengah jadi itu, hanya ada cahaya temaram dari lampu jalanan yang menembus celah ventilasi besar di atap. Udara di dalam sana berbau khas semen basah, cat baru, dan debu material. Namun, luasnya bangunan ini membuat Maya terpukau luar biasa."Ini ... ini gudangnya?" bisik Maya, berjalan perlahan ke tengah ruangan, melepas kacamata hitamnya. Matanya menyapu struktur baja dan luas area yang kelak bisa menampung belasan mobil mewah."Iya, Mbak. Beno udah berhasil cari dan nyewa tempat ini. Murah, besar, dan lumayan strategis," ucap Wildan, berjalan mendekat dari belakang. "Tadi siang, legalitas hukumnya ju

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status