LOGIN“Lycander!” teriak Robert.
Suara itu memecah sesuatu di dalam dirinya. Lycander tersentak. Napasnya terasa berat, seolah baru saja terbangun dari sesuatu yang dalam dan asing.
Air laut telah mencapai hampir dadanya, dingin meresap hingga ke tulang. Namun anehnya, ia tak mengingat kapan melangkah sejauh ini.
“Lycander!” teriak Robert lagi.
Ia menoleh ke belakang. Tatapannya sempat kosong sesaat sebelum akhirnya fokus. Dari tepian pantai, Robert berdiri dengan wajah kesal bercampur cemas.
“...Robert?” gumamnya pelan, suaranya serak.
Air masih membungkus tubuhnya hingga dada. Dingin itu kini terasa berbeda. Lebih nyata, lebih menusuk.
“Apa yang sedang kau lakukan di sana? Cepat kembali!” kali ini Robert berteriak lebih keras lagi.
Untuk sesaat, Lycander terdiam. Tatapannya kembali meluncur ke arah laut di hadapannya. Gelap serta sunyi.
Namun entah kenapa… terasa seperti sedang menatap balik. Denyut aneh itu masih ada di dadanya. Pelan tetapi nyata.
“Apa… duyung itu kembali?” Gumamnya.
Ia menarik napas panjang, lalu memaksa tubuhnya berbalik. Air terbelah saat ia melangkah kembali ke daratan, meninggalkan rasa asing yang masih tertinggal di kulitnya. Lycander berjalan menuju tepian pantai.
Setiap langkah terasa sedikit… berat. Seolah ada bagian dari dirinya yang tertinggal di belakang. Sesampainya di darat, ia menoleh sekali lagi ke arah laut—sekilas saja.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Robert begitu Lycander mendekat.
Lycander berhenti beberapa langkah darinya. Air menetes dari celananya, membasahi pasir di bawah kakinya.
“Aku… berpatroli,” jawab Lycander.
Terlalu cepat dan hampir tanpa jeda. Seolah jawaban itu sudah ia siapkan atau justru ingin segera menutup sesuatu. Dan membuat Robert mendengus keras.
“Berpatroli kepalamu! Jelas-jelas kau hanya ingin menyelam. Sialan! Membuatku khawatir saja.”
Lycander tertawa kecil, berusaha terdengar santai.
“Hei… tenanglah, Rob! Tak terjadi apapun padaku.”
Ia melangkah mendekat, lalu merangkul pundak Robert dengan santai. Air di tubuhnya masih menetes, membasahi baju Robert. Rangkulan itu langsung ditepis.
“Jauhkan tubuh basahmu dari pakaianku,” kata Robert kesal sambil mundur setengah langkah.
“Hahaha… baiklah,” Lycander melepaskan tangannya, masih dengan senyum tipis yang terlalu ringan untuk suasana malam itu.
Robert memperhatikannya sejenak sambil menyipitkan mata. Dia merasa ada yang aneh pada Lycander. Ia tak mengatakan apa-apa, tapi jelas terlihat dari caranya memandang—mengamati setiap detail.
Air yang terlalu banyak. Napas yang sedikit tidak teratur. Dan sesuatu yang… sulit dijelaskan.
“Ngomong-ngomong,” ujar Robert kemudian dengan sedikit lebih tenang meskipun alisnya masih berkerut, “di mana pakaianmu? Kenapa kau hanya memakai celana saja?”
Tatapannya turun sekilas, menilai kondisi Lycander dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lycander tidak langsung menjawab. Ia mengusap bagian belakang lehernya sebentar, lalu mengangkat bahu ringan.
“Tadi aku bertransformasi dan membuatnya robek untuk mengejar seekor rusa,” jawabnya,“sepertinya sangat enak memakan daging malam ini.”
Lagi-lagi Lycander menjawab dengan cepat. Mendengar jawaban yang dilontarkan Lycander. Robert menyipitkan mata.
“Lalu dimana rusanya?” tanya Robert sambil mengernyitkan dahinya.
Suaranya lebih datar, tapi justru menekan. Lycander terdiam sepersekian detik. Hanya sesaat.
“Lolos.” Jawab Lycander singkat.
Keheningan langsung menggantung diantara mereka. Hanya suara ombak yang terdengar, memecah jeda yang terasa panjang.
“Mustahil!” gerutu Robert.
Robert menatap tajam, jelas tidak puas dengan jawaban itu. Lycander hanya mengangkat bahunya, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan
“Aku teralihkan pada—sudahlah. Kita lanjut patroli,” jawaban yang menggantung.
Dan itu justru membuat Robert semakin tidak puas. Rahangnya mengeras, menahan sesuatu yang ingin ia katakan. Namun pada akhirnya, ia menghela napas pelan dan memilih mundur.
“Dasar ceroboh,” ucapnya pelan.
Mereka mulai berjalan menyusuri garis pantai menuju ke arah pepohonan dan semak-semak untuk kembali ke dalam kegelapan hutan. Langkah kaki mereka berpadu dengan suara pasir dan angin malam yang berembus pelan.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Tetapi suasana tidak benar-benar tenang, Lycander berjalan di depan serta tatapannya lurus ke depan. Namun pikirannya tidak di sana.
“Apa… dia akan kembali?” gumamnya dalam hati dan tanpa sadar, dengan sekilas ia melirik ke arah laut di sampingnya.
Kemudian lagi denyut itu kembali muncul dan kali ini lebih halus. Namun cukup untuk membuat langkahnya melambat, seolah ada sesuatu yang memanggilnya kembali di dalam diam—gelap. Lycander menghela napas pelan, mencoba mengabaikannya.
Namun bayangan itu kembali terlintas di benaknya. Mata hitam yang dipenuhi ketakutan dan rambut basah yang menempel di wajah.
Dan suara itu terngiang di benaknya— “Saya juga sangat ingin kembali pulang…”
Langkah kaki Lycander terhenti sesaat, hanya sepersekian detik.
“Kenapa berhenti?” tanya Robert dari belakang.
Suaranya tidak keras, tapi cukup tajam untuk memanggil kesadaran. Lycander langsung melangkah lagi.
“Tidak apa-apa,” jawabnya singkat.
Robert tak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menatap punggung Lycander, keningnya berkerut pelan.
“Aneh,” gumamnya pelan.
Namun Lycander tidak mendengar. Atau mungkin ia memilih untuk tidak mendengar. Angin kembali berembus.
Membawa aroma laut yang samar. Dan entah kenapa—kali ini terasa… lebih dekat.
“Apa yang salah denganku?” bisiknya dalam hati.
Mereka berjalan menjauh dari pantai. Namun tanpa Lycander sadari langkahnya melambat. Sesuatu di dadanya kembali berdenyut.
Pelan, namun semakin jelas. Ia menoleh kembali ke arah laut yang gelap. Dan untuk sesaat ia yakin…panggilan itu bukan datang dari laut, melainkan dari seseorang di dalamnya.
Bersambung...
Maris berenang perlahan melewati jalan utama pemukiman.Sejak beberapa minggu terakhir ia memang jarang keluar rumah. Namun hari itu ia memutuskan berkeliling sebentar agar pikirannya sedikit lebih tenang."..."Saat ia melewati sekelompok duyung… percakapan mereka mendadak berhenti. Maris sedikit mengernyit. Namun ia tetap melanjutkan renangnya.Baru beberapa saat kemudian… suara pelan kembali terdengar dari belakang."Itu dia.""Iya."Maris memperlambat gerakannya. Dadanya mulai terasa tidak nyaman. Meskipun ia kembali berenang.Namun beberapa saat kemudian… ia mendengar percakapan yang sama."...""Katanya dia sering ke permukaan.""Kalau memang tidak pernah...""...kenapa tidak menjelaskan?"Maris menundukkan kepalanya. Jari-jarinya perlahan mengepal."Apa...""...yang sebenarnya terjadi?" gumamnya hampir tak terdengar.Tak jauh dari sana, be
Beberapa minggu telah berlalu sejak Maris terakhir kali pergi ke permukaan laut.Hari-harinya kembali dipenuhi rutinitas yang sama. Membantu kedua orang tuanya, berenang di sekitar pemukiman, lalu kembali pulang sebelum matahari tenggelam. Namun… tidak ada satu hari pun ia benar-benar merasa tenang."..."Tatapan para duyung masih sama. Sebagian memilih menghindarinya. Sebagian lagi sengaja berbisik ketika ia melintas.Maris mencoba mengabaikan semuanya. Ia terus mengingat satu hal."Asal ayah dan ibu tidak ikut terluka...""...itu sudah cukup."Siang itu Maris membantu ibunya merawat tanaman laut di depan rumah. Ibunya tersenyum kecil melihat putrinya yang sejak tadi bekerja tanpa banyak bicara."Maris,” panggil ibunya. "Hm?" jawab Maris. "Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya ibunya. Maris tersentak pelan."Apa terlihat begitu?"Ibunya terkekeh."Ibu mengenalmu sejak kau lahir.""Mana mungkin Ibu tidak tahu."Maris hanya tersenyum tipis."Tidak apa-apa, bu.""Aku hanya sedikit le
Pagi itu, pemukiman duyung kembali dipenuhi kesibukan seperti biasanya. Cahaya matahari menembus permukaan laut, memantulkan kilauan lembut di antara rumah-rumah karang yang berjajar rapi. Dari kejauhan, suara nyanyian laut kuno terdengar samar mengiringi aktivitas para duyung.Maris berenang keluar dari rumahnya setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya. Ia berusaha tersenyum seperti biasa, meski pikirannya masih dipenuhi percakapannya dengan Seraphine sehari sebelumnya."Dari mana mereka mengetahui bahwa aku pergi ke permukaan?" gumamnya pelan.Ia mulai berenang menyusuri jalan utama pemukiman. Beberapa duyung yang berpapasan hanya melirik sekilas, tetapi ada pula yang tampak saling berbisik sebelum buru-buru menghentikan percakapan mereka ketika Maris lewat. Maris berusaha mengabaikannya dan terus berenang tanpa menoleh sedikit pun.Menjelang siang, Maris membantu ibunya merapikan beberapa tanaman laut di sekitar rumah. Ayahnya sesekali berc
Meski suasana pemukiman kembali seperti biasa, obrolan tentang perayaan itu masih terdengar di berbagai sudut. Segerombolan duyung berkumpul di dekat taman karang. Mereka saling bertukar cerita sambil menikmati arus laut yang tenang."Perayaan kali ini benar-benar meriah.""Iya.""Aku bahkan masih merasakan kemeriahan itu sampai sekarang."Salah seorang duyung tertawa kecil."Untung saja Maris tidak datang."Beberapa duyung lain ikut tertawa pelan."Benar.""Kalau dia datang, suasananya pasti jadi suram.""Perayaan jadi tidak senyaman kemarin.""Tapi memang aneh juga."Semua menoleh ke arah duyung yang baru berbicara."Apa?""Aku tadi tidak sengaja melihat Maris.""Lalu?""...Kulitnya sedikit lebih gelap."Suasana mendadak hening."Lebih gelap?"Duyung itu mengangguk."Mungkin hanya perasaanku. Tapi seingatku kulitnya tidak seperti itu."Duyung lain mulai ikut mengingat."Kalau kau bilang begitu...""Aku juga merasa begitu.""Jangan-jangan..." ia tidak melanjutkan kalimatnya.Namun be
Malam itu, saat Maris tiba di rumahnya, suasana masih sunyi. Ia membuka jendela kamarnya perlahan lalu masuk tanpa menimbulkan suara. Kedua orang tuanya rupanya belum kembali dari perayaan."Syukurlah..." gumam Maris pelan.Ia menghela napas lega sebelum merebahkan tubuh di atas tempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamar, sementara pikirannya kembali pada pertemuannya dengan Lycander."..."Tanpa sadar, senyum kecil kembali menghiasi wajahnya. Ia masih mengingat bagaimana Lycander buru-buru menghentikannya saat hampir memakan pisang bersama kulitnya. Mengingat itu saja sudah cukup membuatnya menahan tawa."Lucu sekali..."Malam itu, untuk pertama kalinya setelah beberapa hari diliputi kecemasan, Maris tertidur dengan hati yang jauh lebih tenang. Keesokan paginya… Maris baru saja keluar dari kamarnya ketika suara pintu depan terbuka."Maris?"Ibunya langsung tersenyum."Kau sudah bangun rupanya."Ayahnya ikut menoleh."Kami baru kembali."Maris membalas senyum mereka."Selam
Malam itu, Lycander tetap datang ke pantai. Langkahnya berhenti di tempat yang selama ini selalu menjadi tempat pertemuan mereka. Ombak bergulung pelan, membawa suara laut yang kini terasa jauh lebih sepi."..."Tatapannya menyapu permukaan laut. Maris tidak ada."Mungkin... aku datang terlalu cepat," gumamnya pelan.Ia memilih duduk di atas batu besar yang menghadap ke laut. Angin malam berhembus perlahan, sementara cahaya bulan memantul di atas permukaan air. Lycander tidak pergi dan terus menunggu.“…”Waktu berlalu tanpa terasa. Bulan semakin tinggi, lalu perlahan mulai condong ke barat. Namun laut tetap sunyi, tak ada tanda-tanda kedatangan Maris. "..."Lycander akhirnya berdiri."Hari ini sepertinya kau tidak datang..." gumamnya. Lycander sempat berdiri beberapa saat lagi. Tatapannya tetap tertuju ke permukaan laut, seolah berharap ombak berikutnya akan membawa sosok yang selama ini sel
Beberapa hari kemudian, Maris kembali menghabiskan waktu bersama Seraphine. Mereka duduk di taman karang yang tidak terlalu ramai, sementara arus laut bergerak pelan di sekitar mereka. Tidak ada tujuan khusus seperti biasanya, hanya menghabiskan waktu bersama."Aku dengar penjaga wilayah timur kemb
Malam sudah larut saat Lycander meninggalkan pesisir. Ia baru saja berpisah dengan Maris beberapa saat lalu, langkahnya santai menyusuri jalur hutan yang sudah sangat dikenalnya. Namun belum jauh berjalan, ia melihat sosok yang berdiri di bawah pohon besar di depan sanaㅡRobert.Pria itu bersandar p
Malam di pemukiman duyung berjalan tenang seperti biasanya. Maris baru saja kembali setelah menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumah bersama Seraphine, ia bahkan tidak menyadari sudah berapa lama berada di luar. Begitu memasuki rumah, aroma makanan langsung menyambutnya.Maris sedikit ter
Kesadaran kembali perlahan, Maris membuka matanya sedikit demi sedikit. Air laut bergerak di sekeliling tubuhnya, membawa rasa sejuk yang menenangkan. Untuk beberapa saat, ia hanya diam.Tubuhnya terasa berat. Seakan seluruh tenaganya terkuras habis."..."Ia mencoba menggerakkan tangannya perlahan







