Masuk“Wa’alaykum salam Bang,” kata Ujang saat mereka baru keluar rumah belum naik mobil. Ternyata Yaka menghubungi Ujang.“Jang tolong video call dulu, Abang ingin bicara sama Alan,” pinta Yaka.“Abang Alan, daddy telepon nih,” kata Ujang memberitahu Zahran kalau Yaka mencarinya.Zahran yang sudah siap mau naik mobil sang kakek langsung berlari menuju ke mobil bundanya yang akan dikendarai oleh Ujang.“Daddy!” teriak Zahran melihat sosok daddynya ada di layar ponsel.“Mana salamnya Sayang?” kata Yaka lembut.“Assalamu'alaykum Daddy aku,” kata Zahran dengan manisnya“Wa’alaykum salam gantengnya Daddy. Kamu mau ke mana?” tanya Yaka“Kata paman aku mau pulang, nanti aku bisa ketemu Daddy asal aku nggak rewel,” jelas Zahran.“Benar, kamu tidak boleh rewel. Jagoan Daddy tidak boleh rewel. Kamu nurut apa kata paman. Bes
“Sebaiknya kamu pulang Jang, ambil semua barang tetehmu, nanti kita langsung ketemu di Rumah Sakit Jakarta saja. Kalau bisa bawa Zahran ke rumah Jakarta, sehingga kita tidak sulit ketemu dia. Nanti sesekali Zahran bisa aku tengok atau dibawa ke rumah sakit untuk bertemu dengan mommynya. Mungkin kita bisa lihat di parkiran. Yang penting dia tidak dibawa masuk ke ruang rawat,” Nayaka langsung mengambil alih kepemimpinan agar semua berjalan baik.Dalam kondisi seperti ini memang harus ada yang bisa membuat keputusan, saat yang lain blank.“Benar, sebaiknya kami pulang saja,” jawab Lastyanto.“Nanti biar Bapak dan ambu juga ikut ke Jakarta. Kami juga harus packing dulu tentunya,” ucap lelaki itu memutuskan. Dia tak mau putrinya menghadapi kesulitan ini sendiri.“Kalau begitu kami pulang dulu Bang. Kita langsung bertemu di Jakarta saja. Saya akan taruh Zahran di rumah dulu baru ke rumah sakit ya,” ucap Ujang.“Kamu bawa mobil tetehmu,” ucap Lastyanto pada Ujang. Dia tahu Nisha akan bersama
“Teteh minum dulu, ini teh panasnya. Jangan sampai perut Teteh kosong. Nanti bisa bahaya,” Ujang memberikan teh hangat yang dia beli barusan.“Bagaimana kondisinya?” tanya seorang lelaki gagah saat tiba di IGD. Nisha mengangkat wajahnya mendengar suara itu suara yang dia hafal.“Bapak, ini Abang Yaka. Dia teman kami di Singapura dan buat Naffa dia adalah daddynya,” Ujang memperkenalkan Nayaka kepada bapaknya. Dengan takzim Nayaka langsung memberi salam pada orang tua tersebut.“Kapan kamu datang dari Singapura? Kok tiba-tiba sudah bisa di sini?” tanya Lastyanto.“Saya datang kemarin pagi Pak, saya cari ke rumahnya, kata orang rumah anak-anak belum kembali dari Singapura. Makanya saya bingung. Saya tidak tahu alamat di Banten sehingga saya hanya menunggu kabar dari Ujang saja. Dua jam lalu Ujang mengabari bahwa Naffa kecelakaan,” jawab Yaka.“Maaf saya bertemu dengan Shasi dulu,
”Ambu, tolong bilang ke bapak dan Ujang. Kasih tahu kondisi Naffa saat ini,” pinta Nisha lirih.Tanpa disuruh dua kali Raihana langsung menghubungi suaminya.Lastyanto yang sedang menunggu Ujang membaca berkas, menerima telepon itu di luar ruang tamu rumah ibu notaris yang mereka datangi.Tentu saja Lastyanto tak percaya saat ini Raihana dan Nisha sedang membawa Naffa ke rumah sakit. Yang menyetir memang Nisha. Raihana memangku Naffa yang sudah tak sadarkan diri akibat tertabrak motor. Itu sebabnya yang menelepon Raihana.≈≈≈≈≈“Jangmaaf sepertinya kamu harus cepat-cepat tanda tangan,” ucap Lastyanto ketika masuk kembali.“Kenapa Pak?” tanya Ujang.“Naffaketabrak dan saat ini dia sedang dibawa Nisha ke rumah sakit,” ucap kakeknya Naffa dengan lirih. Dia memikirkan cobaan yang kembali mendera Nisha.“Kalau begitu kita sudahi saja dulu Bu,” kata Ujang pada notaris yang mereka datangi.“Baik …. baik, seles
Ujang dan Lastyanto memang datang ke rumah notarisnya bukan hari kerja. Mereka datang hari Sabtu dan hari Minggu karena baru semalam Ujang datang dari Singapore.Besok mereka tetap harus datang hari Senin tapi Ujang akan minta hari ini selesai tanda tangan jadi besok biar bapaknya saja yang urus ke kantor notaris saat hari Senin. Dia kasihan sama Naffa dan Zahran yang sudah dua minggu tidak sekolah walau sebelumnya memang Naffa juga beberapa kali tidak masuk karena dia tidak suka dengan lingkungan teman-temannya.Naffa merasa sekolah itu berarti akan bertemu Menik. Walau sudah diberitahu bahwa dia sudah pindah sekolah, tidak satu sekolah dengan Menik lagi, tetapi dalam benak Naffa sekolah itu identik dengan Menik. identik dengan perebut ayahnya!”Itu sebabnya Ujang ingin selalu membantu kakaknya, jangan sampai kakaknya merasa sendirian menghadapi kesulitan hidupnya saat ini.≈≈≈≈≈Ujang
“Jang, besok pagi kita sarapan, lalu beli koper dan mainan anak-anak serta tambahan oleh-oleh untuk mamah, ambu dan bapak. Lalu kita packing dan langsung pulang ke Banten,” malam menjelang tidur Nisha memberitahu rencana perjalanan mereka besok.Ujang tak kaget. Dia sudah bisa menduga sejak malam tetehnya bicara dengan Yaka, sikap tetehnya tambah berubah. Awalnya sejak kakak perempuannya itu tahu kalau Yaka pemilik banyak usaha selain perusahaan yang dia bela kasusnya.“Iya Teh,” sahut Ujang. Dia tahu tak boleh memberitahu Yaka apa pun yang terjadi. ≈≈≈≈≈“Daddy!” panggil Naffa ketika mereka masuk ruang makan hotel untuk sarapan. Dia lihat sang daddy sudah lebih dulu di sana. Sedang makan kwetiauw dengan sedikit kuah dan irisan ayam merah.“Hai, kalian baru turun mau sarapan,” sapa Yaka tersenyum manis.“Iya, mommy bilang habis sarapan kami mau beli mainan dan oleh-oleh untuk enin,” balas Naffa antusias. Untung Nisha tak menyebutkan habis itu mereka akan pulang ke Banten.“Daddy engg
Nayaka mahir memainkan sumpit. Dia membolak-balik ikan, udang. cumi, ayam serta slice daging untuk dibakar.“Ih enggak. Biar aku ambil sendiri,” tolak Nisha sambil menggeleng.“Sudah buka mulutmu. Di sini nggak ada orang lain,” Nayaka tak menerima penolakan N
“Kabarnya Pak Fajar sudah cerai ya sama istrinya?” rumpi seorang pegawai saat makan siang di warung makan depan kantor baru. Di kantor tak ada kantin. Saat itu beberapa karyawan Fajar sedang makan siang bersama.“Lalu kalau sudah cerai, kamu mau deketin dia begitu? Berhar
“Selamat pagi,” sapa Nisha ketika bertemu Nayaka di lobby pengadilan tempat mereka akan bersidang. Naffa dan Zahran berlari memeluk papa Yaka mereka.Nayaka menciumi kedua anak Nisha, setelah mereka puas dia ciumi baru dia menerima salim kedua anak itu. Nayaka memeluk Naffa erat.“Ini baby sitterny
Fajar makan dengan malas, tapi dia tak mau sakit sehingga memaksakan diri makan malam. Fajar memandang dinding rumahnya. Rumah yang dia beli, walau sewa paviliun dekat kantor dia bayar enam bulan, tapi ketika dia sudah membeli rumah ini, dia langsung pindah dan mengisinya sedikit-sedikit.







