Share

NASIB BUNGA (Bag. 8)

Penulis: Diah Pitasari
last update Tanggal publikasi: 2026-05-24 11:00:55

Laporan demi laporan tentang keberadaan Entin yang gentayangan menghantui desa membuat desa itu menjadi semakin sunyi kala malam  menjelang. 

Gosip panas yang membuat resah keluarga Dadang, orang tua Entin. Belum hilang rasa sakit hati karena kehilangan, duka itu makin ditambah oleh kenyataan, bahwa anak yang mereka sayangi, kini telah menjadi bahan pergunjingan warga desa.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KARTA GELAP MATA (Bag. 26)

    Wujud itu tak salah lagi, adalah Buto Ijo. Setelah berjuang sekuat tenaga melawan rasa sesak di dada, Karta akhirnya berhasil mengeluarkan suara yang parau. "Lepaskan! Kau siapa? Kenapa membawa saya?!" seru Karta panik, air mata ketakutan mulai membanjiri pipinya. Ia merasa mual setengah mati oleh bau busuk yang menguar dari tubuh raksasa itu. Sosok Buto Ijo itu menunduk, menatap Karta dengan mata merah menyala yang penuh kebencian. "Kau adalah tumbal manusia yang diberikan oleh budakku! Nyawamu adalah milikku sekarang!" "Apa? Tapi..." Kalimat Karta terputus. Pikirannya seketika tertuju pada amplop tebal berisi uang yang diberikan bosnya tadi siang. Jadi, inilah harga dari uang itu. Inilah jebakan yang tidak ia sadari. Karta merasa geram, namun di saat yang sama, rasa takut yang luar biasa meremukkan mentalnya. Ia tiba-tiba teringat bagaimana dulu ia sendiri sering menumbalkan orang

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KARTA GELAP MATA (Bag. 25)

    Di tempat lain, di salah satu sudut sebuah kota besar.Karta menyelonjorkan kakinya yang terasa pegal. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang.Waktunya beristirahat. Beberapa hari ini, ia beruntung bisa bekerja menjadi kuli bangunan di salah satu proyek pembangunan apartemen di kota itu.Sejak meninggalkan Desa Cialas, demi menyambung hidup, Karta memang rela bekerja serabutan apa saja. Ia sadar harus punya uang untuk membayar biaya pesantren Acun. Meski Ustadz Agum sudah berkali-kali menegaskan bahwa Karta tidak perlu memusingkan soal biaya, tetap saja ada perasaan malu dan harga diri yang terusik, kalau sampai ia seratus persen menggantungkan biaya hidup dan sekolah anaknya kepada pihak donatur.Tak ada yang mengenalnya di tempat megapolitan ini. Ia murni bekerja sebagai orang asing yang memulai segalanya dari nol.‘Ah, bagaimana kabar putranya sekarang?’ Karta membatin. Ia bahkan t

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KARTA GELAP MATA (Bag. 24)

    Menjalani hari-hari di pesantren, nyatanya tidak membuat Acun merasa kesepian. Remaja yang memang berjiwa supel itu, dengan mudah berbaur bersama para santri lainnya. Ia selalu mengikuti peraturan, rajin beribadah, dan menyimak setiap pelajaran agama dengan sangat baik.Sementara itu di tempat lain, Karta terus dirundung keputusasaan. Beberapa kali ia nekat kembali mendatangi lokasi di mana gubuk Nyi Damar dulu berada. Namun, gubuk tua itu benar-benar telah hilang tanpa bekas, seolah ditelan bumi. Bahkan, orang yang dulu pernah memberinya informasi tentang sang dukun itu pun tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya.Karta membagi fokusnya pada kelangsungan pendidikan Acun. Masa depan sang putra menjadi satu-satunya penyemangat di kala raga mulai goyah. Ia sadar, usianya tak lagi muda untuk bersaing mencari pekerjaan mapan di kota. Maka, Karta bertahan hidup dengan bekerja serabutan apa saja. Menjadi kuli panggul, kuli

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KARTA GELAP MATA (Bag. 23)

    Aki Amin menurunkan cangkirnya perlahan. Wajah tuanya yang dipenuhi kerutan tampak tenang."Urang mah ukur manusa anu nangtung di luareun pager imah batur. Urang teu kungsi nyaho kumaha ka’ayaan di jerona."(Kita ini cuma manusia yang berdiri di luar pagar rumah orang lain. Kita enggak pernah tahu situasinya di dalam sana.)“Semoga kita hanya salah paham. Semoga Karta enggak seperti yang kita pikirkan. Tugas kita hanya berusaha mengurus jenazah dengan sebaik-baiknya. Urusan yang di luar kuasa kita, biar itu jadi urusan Kang Karta dengan Gusti Allah. Ulahdiobrolkeundeui,” lanjut Aki Amin.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KARTA GELAP MATA (Bag. 22)

    “Bismillahirrahmanirrahim.” Mak Acih membuka kain jarik yang menutupi jenazah Anis, dan ia langsung terkesiap kaget demi mendapati raut wajah Anis yang sangat memprihatinkan. Matanya melotot lebar tanpa binar dan mulutnya ternganga kaku, menyiratkan penderitaan sakaratulmaut yang luar biasa.Namun, pengalamannya bertahun-tahun mengurus jenazah dengan berbagai kondisi, tak membuat Mak Acih terkejut yang berlebihan.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KARTA GELAP MATA (Bag. 21)

    "Ambu!" panggil Karta histeris. Tangannya menggapai-gapai ke udara, mencoba meraih ujung kaki Anis yang semakin terbang menjauh di atasnya, namun nihil.Ia hanya bisa menatap ngeri pada sosok Nyai Sawer Srenggi yang tertawa puas menyaksikan ketidakberdayaannya. Amarah Karta mendidih, meluap dalam sumpah serapah sekasar-kasarnya demi membela wanita yang ia cintai."Siluman kurang ajar! Leupaskeun pamajikan aing, siah! Naon salahna ka sia?! Kuduna aing nu modar, lain manehna! Kurang ajar sia, Sawer Srenggi!" raung Karta penuh kemarahan hingga urat lehernya nyaris putus.(Lulepasinistri gua! Apa salah dia?! Harusnyahuayang mati bukan dia!)

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    ANAKING JIMAT AWAKING (Bag. 1)

    Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cialas. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka. Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cialas, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi ya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 4)

    “Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 3)

    Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 2)

    Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status