LOGINSELAMAT MEMBACA SEMUANYA
...Seseorang masuk ke dalam ruangan ber-AC yang sejuk itu. Ia mengerutkan dahi saat melihat seorang wanita tengah duduk di kursi sambil senyum-senyum sendiri.“Apa nih senyum-senyum sendiri? Sampai Mbak masuk aja nggak digubris,” ujar Nia, sedikit mengagetkan Dinda yang ternyata memang sedang melamun.“Ah… Mbak. Maaf, aku nggak fokus,” ucap Dinda buru-buru, tersadar dari lamunannya.“Ngelamunin apa, sampai senyum-senyum seSELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Semenjak Putra dan Dinda mulai berbaikan, hubungan mereka perlahan kembali dekat. Entah itu karena sering berbincang saat di bimbel, atau sekadar makan siang bersama di sela kesibukan masing-masing. Seperti hari ini, mereka bertiga sudah berjanji untuk makan siang bersama lagi. Putra membelokkan mobilnya menuju bimbel tempat Dinda bekerja. Sementara itu, Ares duduk anteng di kursi belakang, dengan tablet di pangkuannya. “Sudah sampai belum, Pa?” tanyanya sesekali, di sela-sela menonton. “Sebentar lagi, Boy,” jawab Putra sambil tersenyum pelan. Tak lama kemudian, mereka pun sampai. “Tunggu sebentar, ya. Papa jemput Miss Dinda dulu,” ucap Putra sambil menoleh ke arah belakang. Ares mengangguk patuh, lalu mengangkat tangannya ke pelipis sebagai tanda hormat. “Good job,” ujar Putra, sebelum akhirnya keluar dari mobil untuk segera menjemput Dinda.
SELAMAT MEMBACA SEMYANYA***Keesokan harinya, Putra berencana menjemput Ares di bimbel lebih cepat dari biasanya. Ia ingin meminta kejelasan mengapa Dinda menghindarinya. Putra sudah benar-benar memantapkan hatinya untuk menanyakan hal itu. Ia segera berdiri dari kursi kantornya dan langsung mengambil kunci mobil. "Sudah mau pulang, Pak?" tanya Nindi saat melihat Putra keluar dari ruangannya. "Iya, saya duluan," ucap Putra singkat. "Baik, Pak. Hati-hati di jalan," balas Nindi sopan. Putra hanya mengangguk pelan sebelum melangkah pergi. Tak lama kemudian, Putra akhirnya sampai di tempat bimbel Ares. Dari dalam mobil, ia melihat Dinda tengah duduk di mejanya, fokus menatap layar laptop. Setelah memastikan itu benar Dinda, Putra menarik napas pelan. Ia pun keluar dari mobil dan memutuskan menunggu Ares di dalam. “Assalamualaikum,” ucapnya pelan saat memasuki bimbel. “Waalai
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA***Hampir satu bulan lamanya Putra dan Dinda tidak saling menyapa. Putra sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sedangkan Dinda juga tenggelam dalam kesibukannya di bimbel. Bahkan saat Putra sesekali menjemput Ares di bimbel, mereka tak pernah bertemu. Entah Dinda yang sudah pulang lebih dulu, atau justru sengaja menghindar ketika tahu Putra yang akan menjemput Ares. "Pak, Pak Putra," panggil Satria pada Putra yang tampak tidak fokus sejak tadi. "Pak..." panggilnya lagi sambil menepuk pelan pundak Putra, membuatnya sedikit tersentak. Putra menoleh ke arah Satria, alisnya menukik. "Ada apa?" ucapnya datar. Satria menghela napas pelan. "Bapak perlu istirahat?" tanyanya. "Atau ada yang bisa saya bantu? Dari tadi Bapak kelihatan kurang fokus," lanjutnya. Putra mengusap wajahnya pelan dengan kedua tangan, lalu mengembuskan napas panjang. "Sorry, Sat. Gue lagi nggak fokus,"
*SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Putra bekerja seperti biasa. Ia berada di kantor, berhadapan dengan tumpukan kertas yang sejak tadi diserahkan Santria. Tak lama kemudian, Satria kembali masuk ke ruangan Putra dengan membawa setumpuk berkas lainnya. “Apa lagi?” ujar Putra, sedikit menaikkan intonasi suaranya. Satria yang masih berdiri di ambang pintu terdiam sesaat, jelas kebingungan mendengar nada bicara Putra. “Kenapa sih? Sensi amat gue lihat-lihat lo hari ini,” sahut Satria sambil melangkah mendekat. “Gue capek. Mau pulang,” sahut Putra sambil berdiri, bersiap meninggalkan pekerjaannya. “Gak ada!” teriak Satria. “Gak ada yang namanya pulang duluan. Lihat tuh berkas yang harus lo urus.” Ia menunjuk tumpukan berkas di meja Putra. “Saya capek, Satria. Kamu sebagai asisten saya seharusnya bisa meng-handle ini,” ujar Putra dengan nada dingin khas bos. “Tapi, Pak, ini
*SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Putra bekerja seperti biasa. Ia berada di kantor, berhadapan dengan tumpukan kertas yang sejak tadi diserahkan Santria. Tak lama kemudian, Satria kembali masuk ke ruangan Putra dengan membawa setumpuk berkas lainnya. “Apa lagi?” ujar Putra, sedikit menaikkan intonasi suaranya. Satria yang masih berdiri di ambang pintu terdiam sesaat, jelas kebingungan mendengar nada bicara Putra. “Kenapa sih? Sensi amat gue lihat-lihat lo hari ini,” sahut Satria sambil melangkah mendekat. “Gue capek. Mau pulang,” sahut Putra sambil berdiri, bersiap meninggalkan pekerjaannya. “Gak ada!” teriak Satria. “Gak ada yang namanya pulang duluan. Lihat tuh berkas yang harus lo urus.” Ia menunjuk tumpukan berkas di meja Putra. “Saya capek, Satria. Kamu sebagai asisten saya seharusnya bisa meng-handle ini,” ujar Putra dengan nada dingin khas bos. “Tapi, Pak, ini
*SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Dinda menjalani pagi dengan langkah yang lebih pelan. Senyumnya tetap ada, namun hatinya tidak lagi seutuh biasanya. “Ada masalah, Mbak?” tanya Tari sambil menatap Dinda heran. Dinda tersenyum sambil menggeleng pelan. “Nggak kok. Emang lagi capek aja beberapa hari ini.” Tari hanya mengangguk paham, paham bahwa Dinda belum ingin bercerita apa-apa padanya. Tak lama kemudian, bunyi pintu dibuka dari luar, menampakkan sosok laki-laki yang sejak tadi memenuhi pikiran Dinda. “Mas Putra,” ucap Dinda pelan sambil berdiri. Putra membalas panggilan itu dengan senyum tipis. “Aku antar Ares untuk belajar hari ini,” ujarnya. “Halo, Miss Dinda,” sapa Ares sambil melambaikan tangan. “Iya, Mas. Hai, Ares,” balas Dinda sambil tersenyum, membalas lambaian itu. Dinda melihat Putra berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Ares.
SEMALAM MEMBACA SEMUANYA...Mata bulat itu mengerjap pelan. Ares menatap ayahnya yang masih tertidur lelap, lalu menyentuh wajah tampan sang ayah dengan lembut. "Papa, Yes bangun," bisiknya pelan, memberi tahu bahwa dirinya terjaga. Putra mengerang pelan, te
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA ... “Papa!” teriak Ares riang saat melihat sosok laki-laki gagah—tampan versi dirinya sendiri. Tapi memang, ayahnya itu benar-benar tampan, bukan cuma menurut Ares saja. Mark ikut menoleh ke arah pandangan Ares. Ia melihat Putra dan Kakek Kar
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA ... Putra menuruni anak tangga dengan santai. Saat berada di pertengahan, ia mendengar bel rumah berbunyi. “Sebentar…” serunya tenang sambil melangkah menuju pintu depan. Begitu pintu di
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Kegaduhan terjadi malam itu di rumah Karim. Penyebabnya tak lain adalah Ares.“Huaa… Ibu… hiks… kaki Yes… hiks… gatal… hiks…” Ares menangis keras. Ia tidak tahan dengan rasa gatal yang menyerang kakinya.Ternyata, semua itu berawal







