LOGINBAB 89“Mas, aku mau tidur sama kamu....” Suaraku begitu lirih, hampir tenggelam oleh isakku sendiri.Di seberang telepon tak langsung terdengar jawaban. Hanya embusan napas panjang Mas Jevan yang memenuhi speaker. Aku tahu... dia sedang menahan sesuatu."Mas?" panggilku pelan."Celine...." Nada suaranya berubah jauh lebih lembut. "Kalau saya ada di sana sekarang, saya pasti peluk kamu sampai kamu bisa tidur."Dadaku kembali terasa hangat. Aku memejamkan mata. Sudah lama sekali tidak ada yang mengatakan kalimat sesederhana itu kepadaku."Aku capek, Mas." Ini bukan tentang nafsu, tapi rasanya aku benar-benar rindu didekap dalam peluk dan manjanya.Aku mendengar suara langkah kaki dari seberang, lalu suara pintu mobil yang ditutup pelan. Mas Jevan rupanya sudah kembali melanjutkan perjalanannya."Celine, dengerin saya baik-baik."Aku mengangguk, meski dia tak mungkin melihatnya."Malam ini kamu tidur di kantor polisi, besok mungkin masih di sana, lusa juga mungkin. Keadaan memang belum
Tak seorang pun bergerak sebelum suara motor Darto benar-benar menghilang di balik tikungan.Aku mengembuskan napas panjang. Setidaknya untuk sementara Bu Edah dan Pak Amri sudah berada di tempat yang lebih aman.Pak Lurah menatapku. "Mas Jevan, tenang. Orang kampung mungkin gak punya banyak uang. Tapi kami tahu bagaimana menjaga mulut."Aku tersenyum kecil. Belum sempat mengucapkan terima kasih, ponsel di saku celanaku tiba-tiba bergetar. Nama Rakabumi muncul di layar. Aku langsung mengangkatnya."Komandan.""Jev." Nada suara Rakabumi terdengar jauh lebih berat daripada biasanya.Dadaku langsung menegang. "Ada apa?""Celine hampir dibawa pulang.""Apa?""Bianca datang, tidak sendirian. Dia membawa kuasa hukum, psikiater, dan beberapa perawat. Mereka memaksa membawa Celine dengan alasan kondisi kejiwaannya memburuk."Tanganku refleks mengepal. "Lalu?""Hampir terjadi keributan.""Bagaimana keadaan Celine sekarang?" Aku bertanya khawatir."Masih di kantor, tapi..." Rakabumi berhenti be
Aku menatapnya lurus. "Tidak langsung, karena mungkin lebih sulit dari sebelumnya."Bu Edah dan Pak Amri saling menatap lalu kembali menatap ke arahku."Mungkin Ibu akan kembali diteror, mungkin nama Ibu akan ikut muncul di media, mungkin hidup Ibu gak akan tenang untuk sementara."Aku sengaja tidak memberinya harapan palsu. "Tapi kali ini, Ibu gak akan menghadapinya sendirian."Ruangan kembali hening. Pak Amri berpandangan dengan istrinya. Tatapan keduanya dipenuhi keraguan yang sama."Apa yang harus kami lakukan?" tanyanya lirih.Aku mengeluarkan ponsel dari saku, membuka peta wilayah sekitar Kampung Cisadas yang tadi sempat kulihat dalam perjalanan. "Sementara jangan ikut saya ke kota karena justru itu yang kemungkinan besar diharapkan Bianca."Jariku menunjuk sebuah desa yang letaknya tak sampai tiga puluh menit dari Cisadas. "Saya ingin Bapak dan Ibu menghilang dulu.""Menghilang?"Aku mengangguk. "Bukan kabur, tapi bersembunyi sementara. Saya yakin orang-orang Bianca hanya menge
"Permisi..." Aku menarik napas pelan, lalu mengetuk pintu beberapa kali.Firasat burukku semakin kuat saat berdiri di depan rumah sederhana itu. Pagar kayunya terbuka, pintu depan juga tidak terkunci, tetapi suasananya begitu sunyi. Tidak terdengar suara televisi, tidak ada percakapan, bahkan halaman rumah tampak kosong seolah sudah lama tidak dihuni.Aku kembali mengetuk, kali ini lebih keras. Baru beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki yang sangat pelan dari dalam rumah. Pintu terbuka sedikit demi sedikit, memperlihatkan seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun dengan tubuh kurus dan rambut yang mulai dipenuhi uban.Tatapannya langsung mengarah kepadaku penuh kewaspadaan."Iya?""Saya mencari Pak Amri."Pria itu mengangguk pelan. "Saya sendiri."
“Siapa yang Celine maksud?” Rakabumi bertanya dengan tak sabar tepat setelah kami menutup pintu ruang pemeriksaan.“Ah...!” Aku memukul pelan tengkuku. “Selama ini aku terlalu fokus pada Fino. Padahal ada seseorang yang keberadaannya lebih krusial, lebih penting daripada dia.”Rakabumi mengernyit dahi. “Kau mengenalnya?”Aku mengangguk. “Bu Edah. Dia wanita paruh baya yang bekerja di rumah Bianca sebelum digantikan dengan Bu Raras.”Rakabumi terdiam cukup lama.“Waktu aku datang ke rumah Bianca dan sengaja memergokinya dengan Juan, di sana ada Bu Edah. Dia menyaksikan semua pertengkaran antara aku dan Bianca, dia pula yang memperingatiku agar berhati-hati,” tuturku“Itu artinya dia adalah saksi besar peristiwa pagi itu?” Rakabumi bertanya lagi.“Bukan hanya pagi itu saja, tapi mungkin semua hal yang Bianca lakukan... dialah saksi mata yang dipaksa bungkam.”Rakabumi menghela napas, lalu secara tiba-tiba ia memukul kepalaku dengan gemas. “Dasar bodoh!” makinya pelan. “Hal seperti ini s
“Jangan terpancing!” Rakabumi menginterupsi begitu kalimat yang Bianca ucapkan langsung membuat Celine berdiri.Aku spontan menggenggam pergelangan tangan Celine. Tubuh gadis itu gemetar hebat, tatapannya tidak lepas dari wajah perempuan yang selama ini ia panggil Mama.Setelah jeda cukup lama, Bianca kembali membuka suara. "Terkait borgol, saya mengakui... itu memang benar."Beberapa wartawan langsung saling berbisik. Flash kamera menyala bertubi-tubi. Bianca kembali mengusap air matanya."Namun itu bukan penyekapan. Saya melakukan itu atas saran tenaga profesional karena putri saya berada dalam kondisi yang membahayakan dirinya sendiri."Brak!Celine membanting telapak tangannya ke atas meja. "Itu bohong!" Air matanya langsung jatuh. “Aarrggh....!” Gadis itu memukul kepalanya dengan kedua tangan.Aku spontan menarik tangannya agar berhenti memukul diri sendiri. Rakabumi akhirnya mematikan layar tablet, dan ruangan kembali hening. Hanya terdengar napas Celine yang mulai tidak beratur
POV KIARA“Aku suka hadiah kecil seperti ini.”Aku tidak tahu sudah berapa lama menatap layar ponsel di tanganku. Sejak beberapa hari Mama akhirnya mengembalikan ponselku, meskipun aku yakin kebebasan itu hanya ilusi. Aku tidak benar-benar bebas. Aku hanya diberi ruang yang sedikit lebih luas untuk
Celine menatapku dengan sorot mata yang berbeda dari biasanya. Lebih lembut dan berani. Bibirnya berbentuk huruf O naik turun menikmati Jevan Kecil.Kukumpulkan rambutnya yang tergerak, kujambak kecil dan sedikit menekan, lalu kugerakan pinggulku perlahan, tapi cukup membuat Celine tersedak karena
Aku baru menyadari sudah lima hari tidak kembali ke apartemen ketika lift berhenti di lantai unitku tempat di mana Celine tinggal sekarang.Lima hari.Sebagian besar waktuku habis bersama Rakabumi. Setelah pertemuan dengan Fino, semuanya bergerak jauh lebih cepat dari yang kami perkirakan. Ada terl
Warung kopi itu hampir tutup ketika aku dan Rakabumi tiba. Lampu di beberapa sudut sudah dimatikan, menyisakan cahaya kekuningan yang membuat ruangan terlihat lebih sempit dari ukuran sebenarnya. Seorang pelayan sedang menyusun kursi di dekat kasir, sementara hanya ada dua pelanggan yang masih bert







