LOGIN“Mas… Mas bisa tidak, kamu sekarang datang ke rumah sakit untuk menemaniku di sini?”Hening beberapa saat diujung telepon sana membuat Aluna tersenyum tipis. Bahkan sebelum suaminya itu sempat menjawab, Aluna sudah tahu jawabannya.“Nggak usah, Mas. Kalau memang Mas Ragil nggak bisa, nggak apa-apa. Aku sendiri aja disini,” katanya dengan nada bicara yang tenang.“Maaf, Lun,” ucap Ragil yang terdengar tidak merasa bersalah sama sekali.“Hm. Aku matiin dulu, Mas. Dokternya sudah datang.” Tanpa menunggu jawaban, Aluna segera memutuskan panggilan itu.Rasa sakit yang sebelumnya terasa begitu menyakitkan di bagian perutnya, kini telah hilang berganti dengan rasa sakit di dadanya. Entah karena Anggun atau Ragil sendiri yang memang tidak mau datang, Aluna tidak mau memikirkannya lagi.“Sekarang aku sudah sangat yakin, Mas untuk meninggalkanmu walaupun kamu tidak punya hubungan gelap sekalipun dengan Anggun,” gumamnya.Bagaimana tidak, Aluna sudah berkorban sebesar ini untuk hubungan keduanya
“Kamu ngapain masih tiduran saja? Biasanya juga kamu sudah kelayapan pagi-pagi. Entah keliling kompleks atau sibuk di taman baru kamu itu.”Suara bariton Ragil memecah keheningan kamar mereka yang masih remang. Aluna yang meringkuk di balik selimut tebalnya hanya memejamkan mata erat-erat. Rasa pening menjalar di kepalanya tiba-tiba pagi itu.“Lagi tidak enak badan saja, Mas,” jawab Aluna lirih dengan suara serak di balik kain katun tebal itu.“Kenapa? Ngapain kamu kemarin seharian? Jalan-jalan lagi?” tanya Ragil lagi dengan nada menuduh.Tangannya bergerak sibuk memakai dan merapikan simpul dasinya di depan cermin meja rias. Pria itu tidak menoleh sedikitpun, seakan tidak mempedulikan istrinya.“Aku nggak ngapa-ngapain, Mas. Aku cuma di rumah saja seharian kemarin,” jawab wanita itu jujur sebab memang sudah dua hari ini dirinya menghabiskan hari hanya dengan di rumah saja.“Kalau kamu nggak ngapa-ngapain, nggak mungkin kamu kelelahan seperti ini,” ujar Ragil lagi, nadanya terdengar s
Di tengah isak tangis Aluna yang perlahan mulai mereda, benda persegi di atas meja kaca kafe itu tiba-tiba bergetar panjang. Layar ponsel Aluna menyala terang, memecah keheningan yang sempat mencekam di antara kedua wanita tersebut. Sepasang mata sembab Aluna melirik ke arah layar, dan jantungnya berdesir halus saat melihat nama ‘Kak Dirga’ berkedip di sana.Aluna menatap Ririn dengan pandangan bimbang, seolah meminta petunjuk dari sahabatnya itu. Ririn yang masih mencerna situasi dan syok akibat pengakuan gila Aluna tadi langsung menegakkan tubuhnya. Matanya yang tajam menunjuk ke arah ponsel dengan gerakan dagu yang tegas.“Angkat, Lun. Angkat saja. Aku mau tahu bagaimana sikap pria itu setelah semua kejadian ini,” desak Ririn dengan volume suara yang tertahan.Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, Aluna menggeser tombol hijau di layar, lalu menempelkan ponsel pintar itu ke telinganya. Ia berdeham kecil, mencoba menstabilkan intonasi suaranya yang serak agar tidak terdengar menc
“Sebenarnya… kamu ada hubungan apa sama Kak Dirga?”Aluna tersentak ketika mendengar pertanyaan dari bibirnya Ririn. Jantungnya terasa berdetak jauh lebih kencang dari biasanya. Selain karena beban rahasia yang teramat besar, wajah Ririn yang mendadak menuntut penjelasan dan menatap tajam ke arahnya turut menjadi alasan mengapa Aluna terpaksa memaksakan sebuah senyuman tipis dan berusaha bersikap setenang mungkin.“Hubungan apa emangnya? Biasa saja, nggak ada yang spesial,” elak Aluna.Walau sudah berusaha sekuat tenaga untuk meredam kegugupannya, suara yang keluar dari bibir Aluna masih saja bergetar samar, mengkhianati ketenangan palsu yang ia pamerkan dihadapan sang sahabat.“Jangan bohong, Lun! Aku tahu pasti ada sesuatu yang besar di antara kalian berdua. Kak Dirga itu bersikap seperhatian itu ke kamu, lho. Bahkan… ketika kamu pergi kontrol kehamilan kamu yang terakhir kali di rumah sakit, dia juga ada di sana dan menemani kamu masuk ke dalam ruangan, kan?”Mata Aluna seketika me
“Lun, kita ketemuan di kafe dekat rumah sakit aku, bisa nggak? Siang jam dua.”Aluna membaca pesan yang masuk di layar ponselnya kala dirinya baru saja melangkah keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terasa jauh lebih segar setelah cukup lama bergelut dengan tanah dan tanaman hias barunya di halaman belakang rumah.Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, Aluna langsung mengetik pesan balasan di papan tombol.“Memangnya kamu lagi libur hari ini?”Tidak butuh waktu sampai satu menit, sebuah notifikasi balasan kembali diterima oleh ibu hamil itu dari seberang sana.“Kelar jam dua praktik aku, Lun. Makanya aku mau mengajak kamu nongkrong lagi sebentar. Nanti malam aku ada jadwal operasi besar. Lumayan, kan, buat recharge pikiran biar nggak stres di dalam ruang operasi.”Aluna mengulas senyum tipis ketika membaca penuturan sahabat karibnya yang tengah menempuh spesialis saraf itu.“Oke deh. Jam dua-an kita ketemuan di sana langsung, ya. Aku mau istirahat dulu bentar di kamar.”Ririn
“Mbak, kenapa dikerjakan sekarang?” tanya Tini sembari membawa ember kecil berisi air. Ia menatap heran ke arah majikannya yang sudah berkeringat sepagi ini.“Nggak apa-apa, Tin. Mumpung aku lagi rajin hari ini,” jawab Aluna santai.Jemari lentiknya tetap bergerak telaten, mengaduk-aduk tanah hitam gembur di dalam sebuah pot terakota besar tanpa mempedulikan noda yang mengotori kulitnya.“Saya bantu ya, Mbak Luna? Biar saya saja yang memindahkan tanahnya,” tawar Tini yang merasa tidak enak melihat wanita hamil itu melakukan pekerjaan kasar sendirian.“Tidak usah, Tin. Kamu bantu-bantu di dalam saja. Tolong siapkan menu sarapan terbaik buat Mas Ragil. Sebentar lagi pasti dia turun dari kamar,” jawab Aluna tanpa menoleh. Fokusnya tetap terkunci pada akar-akar tanaman hias di depannya.Dan benar saja, tidak lama setelah Tini melangkah masuk ke dalam rumah, suara berat Ragil terdengar menggema dari arah tangga utama, sedikit berteriak memanggil-manggil nama istrinya dengan nada tidak saba
Aluna terpaksa pulang sendiri ke rumahnya karena ternyata Ragil benar-benar meninggalkannya. Dirga sempat menawarkan untuk mengantarnya pulang dengan menggunakan motor matic kesayangannya. “Nggak perlu, Kak. Aku pulang naik taksi saja. Aku juga sudah memesannya tadi,” tolak Aluna. Tak lama taksi
Ragil terus saja memaksa Aluna untuk ikut dengannya malam itu untuk menjumpai Dirga di sebuah restoran. Ragil bahkan harus menjemput istrinya ke rumah sebab Aluna yang terus saja menolak. Dan disinilah mereka, di sebuah ruangan private dengan berbagai macam hidangan telah tersedia di atas meja. Ke
Malam itu Aluna sedang duduk di depan meja rias yang ada di kamarnya, melakukan perawatan tubuh dan wajah yang sudah menjadi rutinitasnya sebelum tidur. Ini ia lakukan demi menjaga tubuh dan wajahnya tetap menarik di mata suaminya. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Ragil belum j
“Tugas kamu sederhana aja, Ga. Aku cuma minta kamu buat istri aku hamil. Udah, gitu doang. Setelah itu lima ratus juta aku kasih ke kamu. Eh no… Hari ini aku kasih dua ratus jutanya, sisanya lagi aku kasih kalau Aluna udah hamil,” papar Ragil dengan santai.“Gila kamu ya, Gil!” amuk Dirga pelan pad







