Madame Verne en ses chemins de triomphes

Madame Verne en ses chemins de triomphes

By:  Jasmin d'étéCompleted
Language: French
goodnovel4goodnovel
9.5
39 ratings. 39 reviews
897Chapters
95.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

La vie de Mu Li a subi un changement radical le jour où elle a été reconnue par la famille Mu. Bien qu'elle ait eu du mal à s'adapter au début, elle a découvert qu'elle avait un autre fiancé ! De plus, c'était son ennemi juré qu'elle avait arnaqué d'un milliard ! Non, elle doit rompre ce mariage ! Cependant, quelqu'un l'a plaquée contre la porte et a déclaré : " Tu m'as arnaqué d'argent, et tu veux fuir ?" Mu Li a répondu d'un ton ferme: "Non, je n'ai pas d'argent non plus." "Si tu n'as pas d'argent, alors utilise-toi pour rembourser ta dette." En disant cela, il l'a emmenée de force avec lui...

View More

Chapter 1

Chapitre I

“Saya umumkan pada kalian semua bahwa mulai detik ini, Ronald Satria akan menjadi Caretaker di dalam mansion ini,” ucap Pengacara Buan lantang. “Semua kekayaan dan aset peninggalan Pak Hermawan akan sepenuhnya dikelola oleh Ronald,” lanjut sang pengacara membacakan surat penunjukannya.

Semua tercengang!

Setiap pasang mata di ruang tamu mansion itu tertuju pada Ronald.

“Kenapa harus dia, Pak Buan? Bukankah warisan bisa segera dibagikan?“ sanggah Bianca keras.

Pengacara Buan tersenyum tenang. “Bianca, statusmu dan Citra nggak kuat. Kalian berdua cuma anak bawaan dari istri pertama Pak Hermawan, bukan anak kandung!“ jawabnya tegas.

“Bagaimana dengan Bu Arumi? Dia 'kan istri keduanya ayah,” Citra menambahkan.

Buan kembali tersenyum. “Hanya istri di bawah tangan. Bukan istri sah secara hukum!“

Semua tercekat mendengar jawaban Buan.

Mereka tak sepenuhnya bisa menerima kehadiran sosok Ronald yang terasa asing.

“Dia masih muda, hanya beberapa tahun di atasku kayaknya. Apa hebatnya dia?!“ Bianca masih tidak terima. Ia menatap tajam ke arah Ronald.

“Usia bukan ukuran, Bianca. Dan aku menunjuknya juga bukan asal tunjuk. Aku paham betul sejauh mana kejujuran dan jiwa loyalitasnya,” ujar Buan sambil melirik Ronald yang masih duduk diam.

“Jujur saja nggak cukup, Pak. Kekayaan Paman Hermawan sangat besar. Butuh otak yang cerdas dan gigih,” bantah Septa, salah satu keponakan Hermawan.

Buan tak menanggapi. Ia tak peduli sebesar apapun penolakan mereka—keputusannya sudah bulat.

Buan sangat tahu bahwa Ronald yang merupakan perwira sarjana bukanlah pemuda yang bodoh.

Lebih dari itu, kegigihan, keuletan, dan ketangguhan Ronald sudah teruji karena dia adalah mantan tentara yang terbiasa terdidik keras—tahan banting.

“Keputusan ini sudah final. Ronald dilindungi secara hukum sebagai pengelola resmi atas semua kekayaan Pak Hermawan hingga nantinya ditemukan sosok pewaris yang layak!“ pungkas Buan tanpa kompromi.

Ia kemudian melangkah pergi setelah menepuk bahu Ronald sebagai bentuk dukungan.

Ronald segera berdiri dari kursinya setelah Buan menghilang dari pandangan.

“Rapat keluarga aku akhiri. Silakan kalian kembali ke kamar masing-masing!“ ucap Ronald tanpa basa-basi.

Ronald kemudian berjalan masuk ke ruang kerjanya di dalam mansion tersebut.

Di dalam ruang kerja, Ronald berpikir cepat. Ia harus menjalankan amanah Hermawan dengan sebaik-baiknya.

Ronald tak pernah berpikir akan menerima penunjukan seperti itu.

Dalam benaknya masih hangat tersimpan saat-saat terakhir ia mendapatkan surat pensiun dini dari militer karena cedera tulang panggul di usianya yang masih 25 tahun.

Saat Pengacara Buan, sahabat mendiang ayah Ronald, menawarkan hal tersebut, ia sempat menolak.

Namun karena faktor kebutuhan finansial yang cukup krusial sejak ia menganggur, akhirnya ia menerima penunjukan tersebut.

Tok!

Tok!

Terdengar ketukan ringan dari balik pintu ruang kerja Ronald.

“Masuk!“ ujar Ronald pendek.

Seorang wanita cantik berusia awal tiga puluhan masuk. Dia adalah Arumi, istri muda Hermawan.

“Apa aku ganggu, Ronald?“ sapa Arumi lembut.

Ia sengaja tersenyum manis dan sedikit membusungkan dadanya.

Ronald sedikit tercekat menatap bagian yang membusung itu. Matanya nanar seperti seekor serigala yang haus darah.

“Ohh, nggak kok, Bu Arumi. Silakan,” jawab Ronald datar menutupi debaran jantungnya.

“Aku cuma mau bilang… sebagai penghuni baru mansion ini, pasti kamu perlu mengenal seluk beluknya secara keseluruhan. Silakan cari aku kalau butuh bantuan,” Arumi menawarkan, kali ini dengan menghempaskan buah pantat sekalnya ke kursi di depan Ronald.

Ronald kembali tercekat. Arumi menyilangkan kakinya dengan santai, membuat paha putihnya sedikit terbuka dibalik rok spannya.

Tanpa diminta, pedang pembunuh naga miliknya yang tersimpan rapi di balik celana segera bangkit menggeliat.

“Tentu, Bu. Aku bakal mencarimu kalau pas butuh bantuan,” balas Ronald sambil sesekali mencuri pandang ke arah paha Arumi yang terbuka.

Arumi mengangguk anggun, kemudian beranjak berdiri, mendekat ke posisi Ronald.

“Tak perlu terlalu formal begitu, Ronald. Kita hampir sepantaran. Kamu hanya sedikit lebih muda dariku,” bisik Arumi di dekat telinga Ronald.

Hembusan napas hangat seketika menerpa telinga dan tengkuknya.

Ronald menegang. Ia seperti ingin merengkuh Arumi saat itu juga jika tak teringat bahwa itu adalah hari pertamanya bekerja di mansion tersebut.

Arumi semakin berani. Jemarinya yang lentik kini bermain-main di dada Ronald yang masih tertutup kemeja dan jas.

“Atau mungkin kamu butuh hal lain? Aku pasti bersedia bantu,” ucap Arumi dengan nada suara sedikit mendesah.

Pikiran Ronald melayang. Ia jelas paham tentang maksud dari perkataan Arumi.

'Astaga! Dia bener-bener wangi dan montok!' teriak batin Ronald meronta.

“Pokoknya, kalau kamu 'butuh', cari aja aku, Ronald,” lanjut Arumi memberikan tawaran menggiurkan.

Pikiran Ronald seketika buntu. Ia hampir saja menangkup wajah Arumi, namun, tak lama kemudian Arumi melenggang pergi dengan lenggok pinggul yang sangat indah.

Arumi sengaja memancing Ronald dengan pesona kematangannya.

Belum hilang keterkejutan Ronald pada tingkah berani Arumi, wanita lain muncul di ambang pintu yang tidak ditutup oleh Arumi.

“Apa yang rubah betina tadi katakan padamu?“ tanya Bianca tajam. Matanya melotot ke arah Ronald.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.


Ratings

10
92%(36)
9
0%(0)
8
3%(1)
7
0%(0)
6
3%(1)
5
0%(0)
4
0%(0)
3
0%(0)
2
0%(0)
1
3%(1)
9.5 / 10.0
39 ratings · 39 reviews
Write a review

reviewsMore

LN Achi
LN Achi
c'est un beau roman mais toujours pas finaliser, c'est dommage! je l’adore....
2025-08-25 05:58:25
0
0
Caroline Christelle Clemenceau
Caroline Christelle Clemenceau
beau livre mes pas fini dommage
2025-08-19 07:51:31
0
0
Ma bijoux
Ma bijoux
très belle histoire, j'ai hâte de terminer la lecture
2025-04-16 15:06:22
1
0
Mariam
Mariam
Ya n’a plus de suite au livre de madame verne en ses chemins de triomphes?
2025-03-22 07:57:15
2
0
afi Houkpati
afi Houkpati
Ou est la suite?
2024-11-12 11:47:54
2
0
897 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status