LOGIN"Astaghfirullah... mikir apa aku!!" Robert langsung mengusap kasar wajahnya berkali-kali seolah ingin menghapus bayangan itu dari kepalanya, menepis paksa segala pikiran yang sempat melintas liar. "Bisa-bisanya aku berpikir mesum tentang Mawar. Nggak masuk akal." "Pak Bos ...." Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang memanggil pelan dari luar kamar. Suara itu—lembut, sedikit berat, dan sangat dikenali oleh telinganya. "Mawar??" Jantung Robert seakan berhenti berdetak sesaat. Dia bergegas keluar kamar dengan langkah lebar, matanya liar mencari asal suara itu. Menoleh ke arah dapur, tapi tak ada siapapun di sana. "Mawar! Keluar kamu! Aku tau kamu ada di sini!" teriaknya lantang, suaranya memantul di dinding rumah yang sepi. Langkah kakinya terhenti di depan pintu kamar mandi yang tertutup. Sekelebat bayangan masa lalu melintas cepat—saat dia mengurung Mawar di dalam sana, betapa pucat dan lemah wajah perempuan itu saat pintu terbuka. Robert tersentak hebat, bulu kuduknya me
"Enggak! Itu bukan Mawar! Mawar nggak mungkin seperti itu!" Mama Aulia langsung membantah keras, menolak percaya. Tubuhnya mundur selangkah seolah tak sanggup melihat gambar di layar. "Ini buktinya sudah jelas!" tegas Robert tak mau kalah, tangannya mengangkat ponsel lebih tinggi seolah menekankan kebenaran yang dia pegang. "Bisa saja kamu merekayasanya, kamu edit pakai AI." Mama Aulia masih tak goyah, tetap mantap menolak tuduhan itu. "Kamu jangan keterlaluan gitu, Rob. Ini nggak lucu!" Daddy Joe menegaskan, urat di lehernya menonjol, wajahnya merah padam menahan emosi melihat tuduhan yang dianggapnya terlalu berlebihan itu. "Sumpah demi Allah ini bukan editan, apalagi AI. Ini asli, Dad!" Robert menegaskan dengan sungguh-sungguh, kali ini dia benar-benar ingin seluruh keluarganya percaya padanya. "Kalau emang Daddy masih nggak percaya, Daddy bisa minta sekertaris Daddy buat cek, apa ini foto asli atau bukan." "Kirim fotonya sekarang ke Daddy." "Iya." Robert mengangguk cepat, jar
"Kalau Oma tau ya namanya dia nggak kabur dong, Rob. Kamu gimana sih."Oma Yeri mendengus kesal, bahunya terangkat tinggi menatap cucunya yang masih tampak linglung."Eh iya, maaf Oma. Maklum ... aku baru bangun tidur, jadi nggak konek." Robert mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan."Sekarang kamu turun ke bawah, samperin Daddymu. Daddymu lagi ngecek cctv hotel.""Iya." Robert mengangguk cepat, jantungnya berpacu makin kencang di dalam dada.Dia bergegas melangkah lebar menuju lift, menekan tombol panggil berulang kali dengan tangan yang sedikit gemetar hingga pintu terbuka. Begitu masuk, dia menatap pantulan dirinya di dinding kaca—wajah pucat dengan tatapan yang penuh kecemasan.Begitu sampai ke lantai dasar, suasana lobi terasa mencekam. Daddy Joe tampak sedang berdiri di dekat meja resepsionis, wajahnya serius sambil menatap layar monitor di tangan satpam.Penasaran sekaligus cemas, Robert langsung berlari menghampiri dengan langkah yang berat. "Dad, bagaimana? Mawar ke man
Dan kali ini usahanya tidak sia‑sia. Bunyi kunci diputar terdengar jelas, pintu pun terbuka perlahan—menampakkan sosok Mama Aulia yang berdiri di ambang pintu menatapnya."Mana si Mawar?" tanya Robert langsung tanpa basa‑basi, matanya menelisik tajam ke segala sudut ruangan di belakang wanita itu, berusaha mencari sosok istrinya."Udah tidur si Mawarnya, Rob.""Ih, kok tidur?" Robert berdecak kesal, bibirnya mengerucut tak terima. "Coba bangunkan, aku mau bicara sama dia soalnya.""Besok saja, Rob. Mama nggak tega banguninnya, dia kelihatan kecapean.""Tapi aku mau bicara sama dianya sekarang." Robert tampak tidak sabar, tubuhnya sedikit maju ke depan seolah hendak memaksa masuk begitu saja ke dalam kamar."Kenapa, Rob?"Tiba‑tiba suara berat Daddy Joe terdengar dari kamar sebelah. Pria itu berjalan mendekat ke arah Robert, tampak bingung melihat wajah anaknya yang merah padam, urat‑urat di pelipisnya pun menonjol jelas menahan emosi."Ini Robert mau bicara sama Mawar katanya, tapi Ma
"Rob! Bangun, Rob!"Suara lembut namun tegas milik Oma Yeri memecah keheningan, disertai sentuhan tangan keriput yang menggoyangkan bahu Robert pelan.Pria itu tadinya hanya duduk bersandar santai di sofa tunggu sambil membolak‑balik halaman majalah, namun karena waktu perawatan Mawar dan Oma Yeri terasa begitu panjang dan lama, rasa bosan perlahan menyergapDia pun akhirnya berbaring memanjangkan kaki yang kaku. Keadaan yang tenang dan nyaman itu membuat matanya perlahan terpejam—tanpa disadari, dia pun terlelap dalam tidur yang sangat dalam."Robert!!"Goyangan pada lengan sang cucu kini terasa lebih kuat. Seketika mata Robert terbuka lebar, napasnya sedikit tersentak kaget. Dalam sekejap kesadaran kembali penuh, dan dia tersadar sepenuhnya: segala kejadian yang begitu nyata dan mendebarkan itu tadi... ternyata hanyalah sebuah mimpi belaka."Ih... kenapa cuma mimpi?" gumamnya pelan, nada suaranya penuh rasa kecewa yang mendalam. Dia masih bisa merasakan samar‑samar detak jantung yan
Mata Mawar seketika membulat lebar, penuh keterkejutan yang nyata mendengar tuduhan dan asumsi liar yang terlontar begitu saja dari mulut suaminya. Rasa tak percaya itu terpancar jelas dari sorot matanya yang terbelalak."Enggak."Singkat, padat, namun seolah tak cukup berarti bagi Robert yang sudah tertutup prasangka."Jangan bohong!" tekan Robert dengan nada tinggi dan penuh ketidakpercayaan, tak mau menerima penyangkahan itu.Mawar menghela napas panjang yang terasa begitu berat, seolah seluruh tenaganya tersedot habis oleh kelelahan batin menghadapi sikap suaminya yang keras kepala. Perlahan dia bangkit berdiri dari tempat duduknya, tangannya bergerak tenang meraih tas yang tergantung di sana, berniat pergi secepatnya dari ruangan yang terasa makin sempit dan menyesakkan itu."Kalau nggak percaya ya sudah."Langkahnya telah sampai tepat di depan pintu, tangannya hampir menyentuh gagang untuk membukanya — namun belum sempat dia melangkah keluar, lengan halusnya tiba‑tiba tertahan k
"Mau apa kau, Mawar??" teriak Robert seketika begitu tersadar dengan apa yang dia lihat.Pandangannya tajam menusuk melihat gerak-gerik Mawar yang berani mendekatkan wajah. Tanpa ragu sedetik pun, dia segera menolak gadis itu dengan kasar. Sekuat tenaga dia mendorong bahu Mawar menggunakan kedua ta
"Nggak lama kok, Oma, biasa saja. Tapi ngomong-ngomong Oma bawa LC dari mana?"Pelukan hangat itu perlahan terlepas, dan seketika pandangan tajam nan dingin Robert langsung tertuju sepenuhnya pada sosok Mawar yang berdiri mematung di sana. Tatapannya begitu menusuk, seolah sedang menelisik setiap d
"Oh ya, Sayang ... Video tutorial dari Mama kemarin sore sudah kamu tonton sampai selesai, kan?"Kemarin sore Aulia memang mengirimkan sebuah video, yang menurutnya itu akan menjadi panduan bagaimana cara memperkosa pria dengan benar anti gagal."Video tutorial apaan, orang yang Mama kirim padaku i
Mawar hanya menggeleng perlahan. Di dalam hatinya, dia sama sekali tidak merasa tertarik, bahkan mendengar kata-kata itu justru membuatnya semakin tidak nyaman.Menurutnya, apapun yang dijanjikan tidak akan bisa menghapus rasa sakit dan kecewa yang dia rasakan saat ini. Namun, meski melihat sikap a







