MasukDi Istana Kekaisaran, pedang dapat membunuh satu orang. Namun sebuah catatan dapat membunuh seribu. Shen Yu hanyalah juru tulis rendah di Kompleks Arsip. Ia tidak punya keluarga besar, tidak punya ilmu pedang, dan tidak punya ambisi selain bertahan hidup. Namun sebuah peti rahasia dari Paviliun Utara menyeretnya ke dalam pusaran yang tidak pernah ia minta. Di dalamnya tertulis perintah kekaisaran dari Tahun Kekosongan Tahta—tahun yang seharusnya tak memiliki cap, tak memiliki nama, dan tak memiliki kehendak. Sejak malam itu, Shen Yu diburu bukan karena dosanya, melainkan karena sesuatu yang ia lihat dan sesuatu yang ia ketahui. Di antara tinta dan pedang, di antara istana dan dunia jianghu, ia harus memilih, tetap menjadi orang kecil yang diam atau menjadi saksi hidup dari rahasia paling berbahaya di bawah langit.
Lihat lebih banyakKabut pagi masih menggantung di atap-atap giok ketika lonceng pertama berbunyi dari Menara Timur Istana. Di dalam Kompleks Arsip Kekaisaran, orang-orang sudah duduk rapi sebelum matahari benar-benar naik.
Tidak ada yang datang terlambat. Bukan karena mereka rajin, melainkan karena siapa pun yang terlambat akan dianggap tidak layak berada di sini. Dan siapa pun yang dianggap tidak layak, biasanya tidak punya kesempatan untuk membela diri. Aku duduk di antara deretan meja rendah, menghadap rak-rak kayu hitam yang berdiri rapat seperti dinding. Di atas rak itulah sejarah Dinasti disimpan, bukan dalam bentuk cerita, melainkan lembar demi lembar keputusan istana, seperti pajak, hukuman, pengangkatan pejabat, pemanggilan pasukan. Hal-hal kecil yang menentukan hidup banyak orang. Namaku Shen Yu, seorang juru tulis tingkat rendah. Tidak punya guru terkenal, tidak punya keluarga besar, bahkan tidak punya pedang bagus untuk sekadar dibanggakan. Tugasku sederhana, menyalin, mencatat, dan mengarsipkan. Di tempat ini, orang seperti aku tidak boleh merasa penting. Aku membuka daftar registrasi. Tinta hitam diletakkan di sisi kanan. Batu tinta sudah kuhaluskan sejak subuh. Semua gerakan harus tepat, semua tulisan harus bersih, seolah hidup kami juga punya ketertiban yang sama. Satu demi satu, dokumen melewati tanganku. Surat pengangkatan dua pejabat dari Provinsi He. Perintah pemeriksaan gudang di perbatasan utara. Catatan hukuman untuk seorang pengawal istana yang tertangkap berjudi. Tidak ada yang istimewa, begitulah seharusnya. Pada lonceng keempat, Pengawas Arsip muncul. Ia bukan pendekar, tetapi langkahnya ringan, seperti orang yang tahu cara berjalan tanpa menimbulkan bunyi. Pakaian hitamnya sederhana. Di pinggangnya tidak ada pedang, hanya token perak kecil bertanda lambang istana. Tak seorang pun menatap matanya. Karena di sini, menatap lebih dulu berarti menantang. “Ada peti dari Paviliun Utara,” katanya singkat. Aku tahu, Paviliun Utara adalah tempat para pejabat tinggi menyimpan naskah dan catatan pribadi mereka. Tempat yang bahkan pengawal istana pun jarang masuk tanpa izin. Pengawas menoleh padaku, tatapannya datar. “Shen Yu.” Aku segera berdiri. “Ada di sini.” “Bawa peti itu ke ruang penyortiran. Catat sesuai aturan,” katanya datar tanpa ekspresi, lalu menyerahkan token perak padaku. Aku menunduk, menerima token itu. “Baik.” Aku tidak bertanya lagi, karena tidak akan ada jawaban. Segera melangkah keluar dari ruangan. Lorong menuju ruang penyortiran melewati halaman kecil dengan kolam dangkal. Airnya tenang, daun-daun lotus belum tumbuh. Dua pengawal berdiri di sisi pintu, mengenakan baju zirah ringan dengan pedang pendek di pinggang. Mereka melihat token perak di tanganku, lalu memberi jalan. Peti itu diletakkan di atas meja batu. Kayunya tua, tetapi tetap kokoh. Paku-pakunya masih rapi, di tutupnya ada segel merah bertanda istana, namun bentuk segelnya bukan segel yang biasa kupakai untuk dokumen arsip. Itu segel yang dipakai untuk sesuatu yang tidak untuk dibaca banyak orang. Aku menelan ludah pelan. Di arsip, rasa ingin tahu adalah penyakit. Penyembuhannya biasanya pendek. Namun tugasku tetap tugasku. Aku mengambil pisau kecil pembuka segel, memotong benang merahnya tanpa merobek tanda cap. Setelah itu, aku membuka tutup peti perlahan. Di dalamnya ada gulungan-gulungan kertas yang dibungkus kain sutra tipis yang disusun sangat rapi. Tidak ada bau lembap. Tidak ada jejak usia. Seolah dokumen-dokumen itu selalu dijaga. Aku mengambil gulungan teratas dan membukanya sedikit saja, sekadar memastikan jenisnya. Itu perintah istana. Bentuknya resmi, susunan kalimatnya kaku, dan capnya jelas. Tulisannya kuat seperti ditulis oleh juru tulis tingkat tinggi, bukan oleh orang sembarangan. Saat mataku menangkap tanggal pembuatannya, tanganku berhenti. Aku menatap lagi, memastikan tidak salah membaca. Tanggal itu adalah tanggal dari tahun yang seharusnya tak punya apa pun. Tahun yang disebut orang-orang istana dengan suara pelan. Tahun Kekosongan Tahta. Tahun ketika Sang Kaisar wafat tanpa pewaris yang sah. Tahun ketika tujuh pangeran saling menuduh, saling mengunci gerbang istana, saling mengirim pembunuh di tengah malam. Tahun itu ditutup rapat-rapat oleh para pejabat. Catatan resminya ditipiskan. Banyak keputusan istana kala itu tidak masuk sejarah. Namun tetap saja, ada aturan yang diketahui seluruh arsip, pada Tahun Kekosongan Tahta, tidak ada perintah resmi yang boleh dikeluarkan. Tidak ada cap kekaisaran. Tidak ada nama yang boleh ditulis sebagai pemilik kehendak. Aku menahan napas, menurunkan pandanganku ke bagian bawah dokumen. Di sana ada nama yang ditulis tegas, tanpa ragu. Satu nama. Bukan nama pangeran. Bukan nama pejabat. melainkan nama seorang kaisar. Tubuhku membeku. Nama itu bukan nama yang asing, bukan karena pernah kudengar disebut, melainkan karena aku pernah melihatnya, meski sekali, dalam fragmen catatan tua yang tidak lengkap. Fragmen itu tidak punya cap, tidak punya pengesahan, tidak punya pengantar. Dan di ujungnya, nama itu ditulis lalu dicoret. Kala itu aku mengira hanya kesalahan tinta. Sekarang, nama yang sama muncul kembali. Dan kali ini tidak dicoret. Aku menggulung kembali dokumen itu dengan gerakan cepat, terlalu cepat. Jantungku memukul pelan di dada. Peti itu bukan sekadar kiriman biasa. Ini adalah sesuatu yang seharusnya tidak pernah keluar dari Paviliun Utara. Sesuatu yang, jika sampai tercatat dalam daftar arsip bisa membuat orang-orang tertentu kehilangan tidur nyenyaknya atau yang lebih parah kehilangan kepala. Aku menatap daftar registrasi di meja penyortiran. Kolom kosongnya menunggu catatan. Biasanya aku hanya perlu menulis: “Peti masuk, dokumen resmi, disimpan sesuai nomor.” Biasanya sederhana, namun kali ini, tinta di ujung kuasku terasa berat. Jika aku menulis isi peti dengan jujur, sama saja dengan menuliskan namaku sendiri ke daftar kematian. Tapi jika aku tidak menulis, dan seseorang memeriksa peti itu, aku juga bisa mati, dengan tuduhan menyembunyikan dokumen istana. Aku duduk perlahan. Dalam kepalaku, muncul satu kalimat yang diajarkan semua juru tulis sejak hari pertama, “Di istana, orang kecil bertahan hidup bukan karena pintar, melainkan karena tahu apa yang tidak perlu dilihat.” Sayangnya, aku sudah melihatnya. Aku mengambil kuas, lalu menulis dengan tangan yang tetap tenang, seolah tak ada yang berubah. “Peti dari Paviliun Utara. Dokumen tidak untuk sirkulasi umum. Disimpan di rak khusus.” Tidak ada rincian. Tidak ada nama. Tidak ada tahun. Aku menutup registrasi, menurunkan kuas, dan menatap peti itu sekali lagi. Aku tahu mulai hari ini, aku telah membawa satu hal yang tidak seharusnya kubawa, yaitu sebuah pengetahuan. Dan di Istana Kekaisaran, pengetahuan tertentu adalah beban yang lebih berat daripada pedang.Kabut Yunling belum sepenuhnya terangkat ketika halaman sekte sudah dipenuhi kesibukan. Murid-murid yang semalam berjaga kini berganti giliran, sebagian mengganti obor, sebagian menurunkan ember, sebagian membersihkan darah dari lantai Paviliun Pengawas seolah itu noda memalukan dan harus segera dihilangkan. Namun noda itu tidak bisa dibersihkan. Karena darah semalam bukan darah perkelahian biasa. Itu darah yang menandai bahwa istana telah masuk kedalam sekte. Burung Hitam yang tertangkap dibawa ke ruang bawah Aula Pedang. Tidak diumumkan ke semua murid, tapi desas-desus penangkapannya telah menyebar lebih cepat daripada kabut gunung. Aku duduk di Paviliun Pengawas dengan tangan yang terasa dingin. Aku tidak bisa menghapus gambar itu: sosok hitam mendarat di belakangku, tangan yang menyentuh leherku, nafasku putus-putus, dan pelita yang terjatuh. Aku menatap kertas yang semalam ku tulis. Aku menghela napas panjang. Mungkin aku memang orang yang ditakdirkan untuk menulis, bukan u
Setelah sidang tinta itu, Yunling tampak tenang dari luar. Zhou Yan menurunkan nada bicaranya, memuji “kebijaksanaan sekte”. Ia berkata pemeriksaan akan dilakukan dengan mengikuti tata tertib. Ia bahkan tertawa kecil seolah semua ketegangan tadi hanya kesalahpahaman yang terlalu tajam. Namun aku pernah hidup di istana. Aku tahu seperti apa wajah ketika seseorang tersenyum ketika sudah memutuskan untuk membunuh. Hari menjelang sore dengan pemeriksaan yang berputar-putar. Zhou Yan meminta melihat reruntuhan ruang catatan. Ia menanyai murid-murid yang berjaga saat malam kebakaran terjadi. Ia meminta daftar patroli. Ia menulis banyak hal di buku catatannya, tapi aku tidak percaya satu pun dari pertanyaannya itu. Aku tidak lagi melihatnya sebagai pejabat. Aku melihatnya sebagai pedang di balik jubah, yang kapan saja bisa menghunus saat lawannya lengah. Sore itu tetua memanggil Lin Suyin dan beberapa Penjaga Dalam. Aku tidak diizinkan masuk, tapi aku melihat mereka berkumpul di Aul
Aula Pedang terasa berbeda ketika utusan istana berdiri di dalamnya. Biasanya ruangan itu adalah tempat kehormatan sekte dipertahankan, dengan sumpah, dengan pedang, dengan disiplin. Namun hari ini, kehormatan itu seolah diuji oleh sesuatu yang lebih licin daripada bilah, yaitu bahasa istana. Zhou Yan berdiri di sisi kiri aula, dikelilingi pengawal kekaisaran. Dua Burung Hitam berdiri sedikit di belakangnya, seperti bayangan yang tidak bisa diusir. Tetua yang tenang berdiri di sisi kanan, bersama Tetua Gao dan Tetua Hitam. Murid-murid Yunling mengisi sisi-sisi aula, tidak berani terlalu dekat, namun mata mereka tajam seperti pedang yang siap terhunus. Aku berdiri di tengah. Sendirian. Tanpa pedang. Tanpa jubah resmi. Hanya seorang juru tulis yang diberi napas satu kali lagi. Zhou Yan menatapku dengan senyum tipis. “Aku tidak suka membuang waktu.” Aku menatap balik, tidak lama, tidak menantang, tapi cukup tegas. “Aku juga,” jawabku. Beberapa murid bergumam kecil, bukan setuj
Pemeriksaan kekaisaran dimulai seperti upacara, tapi berjalan seperti perburuan. Zhou Yan memasuki Yunling dengan langkah tenang, seolah ia hanya pejabat kecil yang datang untuk melaksanakan tugas. Namun matanya tidak pernah benar-benar diam. Ia memperhatikan posisi murid, jalur jalan, jarak antara lentera, bahkan arah angin yang membawa bau asap. Burung Hitam tetap berada tiga langkah di belakangnya sesuai aturan tetua. Tiga langkah. Namun tiga langkah itu cukup untuk membuat setiap murid Yunling merasakan dingin di tulang mereka. Aku kembali ke Paviliun Pengawas sesuai perintah. Di sepanjang jalan, aku merasakan mata-mata yang tidak terlihat. Tidak semua tatapan berasal dari sekte. Ada sesuatu yang lain—sesuatu yang bergerak seperti asap, tidak menonjol, tapi selalu ada. Begitu aku masuk paviliun, penjaga segera menutup pintu. “Jangan keluar,” kata salah satu dari mereka—bukan perintah tetua, melainkan permintaan yang seperti rasa takut. Aku mengangguk dan duduk. Di meja kec
Jalan keluar kota kekaisaran tidak terasa seperti kebebasan, lebih terasa seperti garis batas. Di belakangku, tembok istana menjulang seperti gunung batu yang tidak pernah benar-benar tertidur. Di depanku, jalanan panjang membelah daratan, membawa orang ke provinsi-provinsi, ke desa-desa, ke gunu
Ruangan belakang rumah teh Awan Senja tidak besar. Hanya ada meja rendah, dua kursi bambu, dan sebuah tungku kecil yang menjaga air tetap hangat. Namun suasananya terasa lebih sempit daripada kamar asramaku di istana, karena di sini aku tidak sedang berhadapan dengan dinding kayu. Aku sedang berhad
Pagi datang dengan ketertiban yang sama seperti biasanya, seolah malam yang barusan lewat tidak pernah mengirim ancaman ke jendela kamar seorang juru tulis rendahan. Kabut masih menggantung di halaman asrama saat lonceng pertama berbunyi. Aku bangun lebih cepat dari juru tulis lain, bukan karena
Senja belum sepenuhnya pergi ketika aku kembali melewati pintu kecil di tembok dalam istana. Langkahku tetap tenang, seperti orang yang baru menyelesaikan tugas biasa. Token kayu hitam kusimpan kembali ke lipatan dalam lengan, dan gulungan salinan sudah tidak ada di tanganku, seolah tak pernah me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.