LOGINKeesokan pagi, Kemala mengetuk-ngetuk pintu kamar Erinka, ia tidak ingin menunggu waktu lama untuk menjalankan rencana besarnya, hari ini juga semuanya akan dimulai. “Ada apa, Mah?” tanya Erinka saat membukakan pintu kamar untuk mamanya.“Nek Dewi sakit keras, Nak... kita harus pergi ke rumah nenekmu pagi ini juga,” ucap Kemala memberitahu putrinya dengan ekspresi cemas yang sangat meyakinkan.“Ya ampun... Nenek sakit apa, Mah?” tegas Erinka mendadak jadi khawatir.“Semalam nenekmu pingsan, darah tingginya tiba-tiba kambuh,” jelas Kemala. “Ayo kamu siap-siap... setelah sarapan kita langsung berangkat, papamu juga akan ikut,” tambahnya membuat Erinka terlihat mulai panik. Setelah Erinka bergegas masuk kembali ke dalam kamarnya, Kemala yang masih berdiri di depan pintu tersenyum seorang diri, ia merasa senang Erinka mempercayai ucapannya.Setelah sarapan, sesuai rencana Kemala sekeluarga pergi keluar kota. Selama perjalanan, Erinka yang duduk di kursi belakang, memilih lebih banyak be
Saat Kemala dan Zizi masih asyik membicarakan cara agar Erinka bisa melupakan Marlon, tiba-tiba Sugalih pulang dari kantor.“Tumben jam segini suamimu sudah pulang, Mala?” tanya Zizi saat melihat Sugalih memarkirkan mobilnya di garasi.“Iya juga ya..., jangan-jangan dia juga sedang ada masalah di kantornya,” ucap Kemala mulai berpikir hal yang serupa dialami Erinka.“Kalau begitu aku pulang dulu ya, Mala... jangan lupa ideku tadi dipakai. Aku yakin itu yang terbaik yang harus kamu lakukan untuk masa depan anakmu,” ujar Zizi sambil bangkit dari duduknya lalu pergi keluar dari rumah Kemala. Kemala pun mengucapkan terima kasih pada Zizi.Saat Sugalih datang menghampiri, Kemala melihat wajah suaminya tampak murung dan tak bersemangat. Tidak jauh beda dengan yang ditunjukan oleh Erinka saat pulang kerja tadi.“Papa pulang lebih awal karena ada masalah di kantor, Pah?” tanya Kemala menyambut suaminya dengan pertanyaan. Sugalih terus nyelonong masuk ke dalam rumah.“Erinka sudah pulang?” ali
“Kok, pulang cepat, Rin?” sambut Kemala, saat Erinka tiba di rumah setelah makan siang dengan Meygi di Megah Mall. “I-iya, Mah, aku ada masalah di kantor,” jawab Erinka dengan lesu di tengah keputusasaannya setelah mendapat kabar dari Walfred kalau dia belum bisa menghubungi Mayjen Handoko yang diharapkan jadi penyelamat Marlon.Kening Kemala langsung berkerut mendengar ucapan Erinka, matanya pun menyipit menatap ke arah putrinya itu, “Coba cerita ke Mama, ada masalah apa sebenarnya, Rin?” tegasnya.Erinka tak langsung menjawab pertanyaan mamanya, ia hanya mengembuskan napas lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa. “Apa ada hubungannya dengan Marlon, Rin?” kejar Kemala merasa sangat penasaran.“Iya, Mah,” jawab Erinka sambil mengangguk. “Kakek tidak mau menolongku memberikan pengacara membebaskan Marlon,” tambah Erinka.Segaris senyum terukir di wajah Kemala yang tirus, ia malah merasa bahagia di tengah penderitaan putrinya yang bersedih terpisah dengan suaminya.“Anggaplah semua i
Mendapat kabar dari Erinka, bahwa Presdir MHG tidak bisa memberikan bantuan hukum untuk Marlon, Sugalih merasa gusar. Ia langsung mengambil keputusan untuk keluar dari tim proyek pembuatan obat pneumonia. “Konsekuensinya Pak Galih harus turun jabatan kalau tidak mau melanjutkan menjadi pimpinan proyek ini,” ucap Gilbert pada rapat para petinggi MHG siang itu.“Jangankan turun jabatan, dikeluarkan dari perusahaan pun aku nggak masalah. Aku sudah melalui hal terburuk kehilangan pekerjaan dan kehilangan keluarga. Aku tidak akan terkejut lagi menghadapinya,” ujar Sugalih mengungkapkan perasaannya.“Maksud kamu, kalau keluar dari sini kamu mau jadi tukang bakpao lagi, Galih...?” sindir Bagas, kakak pertamanya yang merasa senang hati mendengar adiknya akan keluar dari kepala proyek. Demikian pula Indra, putra sulung bagas, sejak Marlon dipenjara, dirinya sangat antusias untuk menggantikan posisi Marlon sebagai Technical Advisor. Apalagi setelah Jayanti mengundurkan diri dari pekerjaan, di
Setelah Erinka dan Meygi selesai makan, rupanya Jasmin yang sejak tadi memperhatikan keduanya dari kejauhan kembali datang menghampiri, sedangkan Benny memilih duduk di mejanya. Selain ingin mengusik Erinka, Jasmin juga ada urusan pribadi yang harus ia selesaikan pada temannya itu.“Sudah selesaikan makannya?” ucap Jasmin saat berada di hadapan Erinka.“Ada apalagi sih, Jas? Tidak cukup kamu menyakitiku dengan membuat suamiku dalam masalah?” balas Erinka.“Makanya... jangan berani macam-macam dengan aku dan suamiku, tahu sendirikan rasanya sekarang?” Mendengar ucapan Jasmin yang terkesan sombong itu, Meygi kembali merasa tak senang hati, tapi ia masih coba bersabar dengan hanya berdiam diri.“Jadi apa maumu sekarang?” tegas Erinka.“Nah, itu pertanyaan yang sedari tadi sudah aku tunggu-tunggu. Tentu saja aku ingin hakku dikembalikan,” jelas Jasmin.“Maksudmu hak apa?”“Pura-pura nggak tahu lagi! Tentu saja hak kerjasama dengan Rafael. Gara-gara kamu kan Rafael membatalkan kontrakny
Dua orang wanita yang menemui Erinka di kantornya adalah Mawar dan Meygi. Tentu saja, ia merasa heran dan bertanya-tanya buat apa mereka pagi-pagi datang ke kantornya.“Aku pikir siapa, rupanya kalian. Ada masalah apa ya?”“Aku ingin mengembalikan ini,” ucap Mawar sambil mengeluarkan sebuah jaket berwarna cokelat dari dalam paper bag. “Ini milik suamimu, kan?” tegas Mawar.“Lho... bagaimana jaket ini bisa berada pada kamu?” tanya Erinka merasa terkejut melihat jaket milik suaminya yang hilang sekarang sudah ditemukan.Mawar pun menceritakan rencana Andhika yang akan menjual jaket itu pada Adam, lalu ia mencurinya untuk dikembalikan pada Marlon.“Sudah aku duga, pasti Jayanti yang mengambil jaket ini dari kamarku, lalu dia serahkan pada ayahnya. Benar-benar anak dan ayah sama jahatnya,” ungkap Erinka tiba-tiba merasa geram atas semua yang terjadi.Erinka tidak lupa mengucapkan terima kasih pada mawar yang telah sudi mengantarkan jaket suaminya.“Kami ke sini juga ingin membantumu untuk
“Apakah kamu akan berhenti menuntut Marlon di penjara, Al?” tanya Wenny pada Albert saat di lobi hotel itu hanya tinggal mereka berdua, setelah Marlon dan yang lainnya pergi.“Kamu kan sudah kenal aku lama, masak enggak tahu sifatku, Wen? Kalau aku sudah punya keinginan, apapun caranya akan aku lak
Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak
Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila
“Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. “Aku percaya kok, pasti kamu







