Inicio / Male Adult / Mau Berapa Ronde? / Bab 3. Cincin Aneh

Compartir

Bab 3. Cincin Aneh

last update Fecha de publicación: 2026-06-03 01:25:18

Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tulisan dalam bahasa asing.

“Cincin siapa ini?” batin Raka, “kenapa disimpan di sini? Dianggap sampah? Tapi kenapa di rak paling atas, tempat yang nggak terjangkau. Tapi ....”

Raka mengamati logam itu dengan seksama. Tidak ada hal yang aneh selain grafir di bagian dalamnya. Bahkan ada garis tipis berwarna kekuningan yang memperindah tampilan cincin itu. Model yang terlalu biasa, bahkan terlalu sederhana.

Lelaki muda itu tanpa ragu, menyematkan benda itu di jarinya.

“Semua yang ada di gudang, sudah nggak diperlukan oleh Tante Feli. Berarti … benda ini juga, kan?” Senyuman langsung muncul di bibirnya. Matanya menatap benda mungil yang melingkar di jari manisnya.

Raka menyapu seisi ruangan dan mengepel lantainya. Selang satu jam kemudian, kamar itu terlihat bersih. Gudang itu memang jauh lebih lebar dari kamar kosnya. Gudang itu bukan hanya tidak punya kamar mandi dalam, tapi juga lebih pengap tanpa jendela, sirkulasi udara dan penerangan yang layak. Tapi Raka harus tetap bersyukur masih punya tempat berteduh malam itu.

Krucuk ….

Suara aneh itu terdengar dari perutnya. Memang sejak diusir dari kamarnya, Raka sudah menyibukkan diri mengangkut barangnya yang tak seberapa banyak itu, pindah ke gudang.

Raka menghela napas. “Waktunya makan!”

Seperti biasa, ia melangkah keluar dari rumah kos, menuju jalan utama yang biasanya dipenuhi oleh pedagang kaki lima. Mulai dari pedagang sate, tahu bulat, es teh jumbo sampai mie duk duk langganannya.

Namun baru saja ia sampai di depan penjual mie duk duk, suara teriakan terdengar dengan begitu jelas.

“Tolong! Jambret! Hentikan dia! Tolong!”

Seorang lelaki dengan pakaian gelap berlari ke arah Raka. Siku tangannya bahkan sempat menghantam di tulang keringnya saat menyibak kerumunan.

Namun aneh, Raka sama sekali tak kesakitan. Tanpa berpikir panjang, Raka justru berlari mengejar. Langkah panjangnya terasa ringan saat menerobos kerumunan pejalan kaki, matanya menatap lurus ke arah lelaki yang masih berlari sekencang mungkin di depannya, lalu ikut rombongan pejalan kaki menyebrangi jalanan.

Lampu menyala merah saat Raka sampai. Tapi ia tak sempat menghentikan langkahnya. Matanya mendelik saat sebuah mobil melaju tepat di hadapannya.

Tubuh Raka tiba-tiba terasa hangat seperti sejumlah energi yang besar mengalir dalam darahnya. Tubuhnya terasa seringan kapas. Sedetik kemudian sepasang tangannya bertelekan di kap mobil yang melaju itu, tangan itu dengan kuat menolak, membuat tubuhnya melambung dan mendarat tepat di sisi seberang jalanan.

Raka masih bisa mendengar gumaman orang yang sempat melihat kejadian itu.

“Kamu lihat, apa tadi dia terbang?”

“Siapa dia? Nggak takut mati, apa?”

“Nggak mungkin! Mustahil dia selamat!”

Raka melihat penjambret tadi berlari menyelinap ke sebuah gang sempit. Ia kembali mengejarnya.

Langkahnya berhenti saat melihat lelaki kurus dengan kulit gelap itu berdiri seperti menantangnya. Di tangannya terlihat benda logam berkilat yang sengaja diarahkan padanya.

“Nggak usah ikut campur, Bang!” ancam lelaki dengan setelan gelap itu, “nggak usah sok-sokan jadi pahlawan.”

“Taruh tas itu,” perintah Raka. Tatapannya tajam tak berkedip, menjelaskan auranya yang mengintimidasi.

Tapi penjambret tadi masih tak menyerah, bahkan saat ia sudah berada di jalan buntu sekalipun. Lelaki itu melangkah cepat dengan pisau lipatnya yang sudah terhunus.

Melihat ujung pisau yang menghujam dengan cepat ke arahnya tak membuat nyali Raka menciut. Ia menangkap lengan lelaki itu dan memutar pergelangan tangannya dengan kuat.

“Aaargh!”

Suara teriakan terdengar bersamaan dengan suara gemeretak saat tulang itu berganti posisi, disusul suara denting saat logam itu menyentuh paving di bawahnya.

“Ampun Bang! Ampun!” teriak lelaki itu kesakitan.

Suara ricuh itu menciptakan kerumunan warga sekitar yang ingin tahu. Mereka tak berani melerai, justru sibuk mendokumentasi kejadian itu.

“Kamu balikin tasnya sekarang … atau sekalian kupatahin tanganmu.”

Seorang gadis menyeruak di antara para penonton yang menutupi pintu jalanan buntu itu.

“Tasku!” teriaknya sembari meraih tas jinjing putih yang serasi dengan setelan pakaian putihnya. Gadis itu segera membuka dan memeriksa isi di dalamnya. “Lengkap! Masih lengkap. Syukurlah.”

Raka melepaskan cekalan tangannya saat dua pria berseragam di belakang gadis tadi datang untuk menangkap si penjambret.

“Mas, makasih ya. Kalau nggak ada Mas, berkas penting di dalam tasku pasti udah nggak selamat,” ucap gadis itu dengan wajah malu-malu.

Gadis di hadapannya sangat cantik. Sama sekali berbeda standarnya dengan rekan kerja wanitanya di kedai ayam goreng tempat kerja part time nya, tidak bisa dibandingkan juga dengan teman di kos wanita, atau bahkan teman mahasiswinya.

Bukan cuma wajah cantiknya yang terlihat anggun, tapi bentuk tubuhnya yang seperti gitar spanyol. Sepasang gumpalan kenyal di dadanya yang terlihat padat menantang, lekuk pinggangnya yang ramping. Semuanya tetap terlihat dengan jelas dalam balutan setelan formalnya yang rapi dan sangat berkelas.

“Mas?” Suara lembut itu mengusik konsentrasi Raka yang masih tak lepas mengagumi kemolekan tubuh gadis itu.

“Euh … nggak papa. Aku cuma … kebetulan saja ada di situ,” sahut Raka. Kalimatnya jelas canggung, saking paniknya kepergok mengamati tubuh indah di hadapannya. "siapapun pasti menolongmu."

"Tapi ... buktinya cuma Mas yang kejar jambret itu buat aku. Aku … nggak tau gimana harus balas Mas. Jadii …” Gadis itu mengeluarkan selembar kartu nama dan memberikannya pada Raka. “gini aja. Mas bisa hubungi aku kapan saja kalau Mas butuh bantuan.”

“Shakira Diartha.” Raka membaca nama di atas kertas itu.

“Kira.” Gadis itu mengulurkan tangannya, jelas mencari tahu nama penolongnya malam ini.

“Rakasya Gutawa,” sahutnya, menyambut uluran tangan itu. “Raka. Aku tinggal di dekat sini.”

Raka dapat merasakan lembutnya tangan gadis itu. Juga aroma samar manisnya vanila yang menguar dari tubuhnya. Dan satu bagian di tubuhnya yang mulai terasa menyesak.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 32. Gara-Gara Kran Rusak

    Wajah Tante Feli memucat. Ia menatap sekelilingnya seperti kebingungan. Raka masih memeluk pinggangnya dengan manja. “Jadi … malam ini, Tante nggak jadi bayar hutang dua ronde lagi, nih?” goda Raka. Lelaki itu menggigit cuping telinga perempuan cantik itu. Tante Feli mendesah pelan. Tangannya mendorong lembut dada lelaki muda yang sudah membangkitkan gairahnya itu. “Kamu … mulai nakal, ya,” gumam Tante Feli, “tante urus suami tante dulu. Kamu … tunggu Tante di sini.” Feli memutar tubuhnya. Namun sedetik kemudian ia kembali berbalik dan melangkah cepat ke arah Raka. Sepasang kakinya berjinjit dan memberikan kecupan singkat di bibir Raka. “Aku nggak akan lama.” Pesannya sebelum keluar dari kamar itu. Raka mengintip dari jendela kamarnya. Matanya menatap ibu kos nya menghampiri lelaki tua dengan perut buncit yang berdiri tak jauh dari kamarnya. Lelaki tua itu langsung memeluk Tante Feli dan menciumnya dengan penuh gairah.

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 31. Tamu Malam Raka

    Raka baru saja memarkir motornya, saat Sari menghampirinya. Gadis manis itu menarik ujung belakang kaosnya, hingga lelaki muda itu memperhatikannya. “Mas ganteng, ada yang nyari tuh,” ujarnya setengah berbisik, sementara bola matanya bergerak ke arah teras kos yang terlihat lengang, tak seperti biasanya. “Katanya … Mas ganteng calon suaminya.”Raka langsung mengerutkan keningnya. “Beneran, nih? Mas ganteng udah punya tunangan? Dijodohin ya, Mas?” cecar Sari. Mata gadis itu membulat, jelas menunggu sebuah jawaban dari Raka. “Mas ganteng, ini nggak bener kan? Sari patah hati, loh ini …” lanjut gadis itu. Mulutnya langsung mengerucut memperlihatkan rasa frustasinya. Raka mengangkat pundaknya dan tertawa pelan. “Jangan ngawur. Jangankan calon istri, pacar aja … aku nggak punya.” Sari langsung tertawa sumringah. Ia menegakkan tubuhnya, membuat dadanya semakin membusung hingga puncaknya tercetak jelas dari balik kaos yang dipakain

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 30. Vero Si Cuek

    Raka menepati janjinya. Dia menelpon Vero untuk mengajak teman kuliahnya itu pergi makan. Pemuda itu tak lupa untuk berterima kasih, bagaimana pun berkat si Gori dia mendapatkan pekerjaan hebat ini. “Kamu yakin kita makan di sini?” tanya Raka. Dia bermaksud membawa Vero ke restaurant yang lebih bagus, tetapi si Gori justru meminta untuk makan sate ayam saja di pinggir alun-alun. “Iya, sate ayam Pak Saipul terkenal enak loh.” Gadis dengan julukan gori itu mengacungkan dua jempolnya. “Baiklah. Itu pilihanmu sendiri loh ya. Jangan nyesel … padahal aku mau ajak kamu makan di mall.” Raka berujar penuh percaya diri. “Mahal.” Vero duduk di bangku yang kosong. “Dua porsi, Bang.” teriaknya pada si penjual. “Minum, Neng?” tanya si penjual ramah. “Es jeruk … dua.” Vero memesan dua saat Raka menganggukan kepala juga. “Ga masalah mahal. Aku baru dapat tip besar.” Raka terkekeh. “Oh ya?” Vero melirik Raka dengan malas. “Iya, hari pertama saja aku sudah dapat tip besar. Hari k

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 29. Pisang Nangka Super

    Raka serba salah. Dia suka sama Luna hanya sekedar teman satu kost. Gadis itu terlihat kasihan sekali karena beberapa hari ini tampak ketakutan. “Sudah kamu gak perlu lagi tutupi apapun. Tante tahu kamu baik hati dan mau memastikan semuanya aman. Cuma kamu gak boleh egois dong!” Feli bersikap tegas kali ini. “Apa cuma karena satu perempuan kamu mau mengorbankan kita semua?” Tante Feli melotot. Tidak ada lagi mata yang mengerling manja padanya, Senyum yang lebar ataupun suara yang lembut. Sekarang yang ada hanya seorang perempuan tegas yang terlihat sedang marah pada anaknya. Raka terdiam. Persis seperti yang diucapkan tante Felli, tatapan para wanita penghuni kost ini pun tertuju padanya. Mereka seolah berkata hal yang sama, apakah pantas hanya demi Luna saja keselamatan semua orang dikorbankan? “Tante … aku hanya merasa kasihan ….” Dia berkata dengan jujur. “Kasihan - kasihan. Apa kamu mau k

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 28. Tante Feli Cemburu!

    “Hiyaa!” Ketiga pria itu dengan kompak berteriak dan langsung mengarahkan pukulannya ke Raka. Untung saja Raka dengan sigap mengelak, hingga ketiga pukulan yang mengarah ke satu titik itu bertemu dan saling beradu. Sesaat ketiga preman itu mengibaskan tangannya. Rasa sakit saat kepalan mereka beradu, membuat tangannya terasa kebas seketika. Tapi mereka bertiga masih tak putus asa. Lagi mereka menyerang dengan bersamaan kali ini dengan tiga titik yang berbeda. Namun kedua tangan Raka tetap melayani setiap pukulannya dengan gesit. Liukan tubuhnya saat menghindari setiap pukulan lawannya, jelas menunjukkan kemampuan bela dirinya yang tinggi. Ketiga preman itu tak juga menyerah, mereka kembali mengayunkan tinjunya masih secara bersamaan. Dan Raka masih melayani dengan gerakan cepat dan terlatih untuk menghindar dan menangkis.“Goblok!” teriak lelaki dengan tato naga tadi. “Kalian masih mau ladeni dia bermain? Habisi dia! Kita harus cepat pulang!” Ketiga preman itu mengeluarkan pisau d

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 27. Ada Apa di Kos Putri?

    Raka pulang dari panti pijat dengan keinginan yang tertahan. Hari ini tante Sisca memberinya pemandangan luar biasa, tetapi tak memberinya kesempatan untuk merasakan. Dia harus cari tante Feli untuk menyalurkan rasa yang mau meledak di dalam hatinya. Urusan mentraktir Vero bisa nanti saja. Tambahan tips dua juta dari tante Sisca, sudah cukup lumayan.Tunggakan uang kuliah selama enam bulan ini pasti akan segera terlunasi. Lalu, dia akan membeli motor baru, jam tangan baru, pakaian baru, bahkan rumah baru. Raka tersenyum-senyum sambil mengecup cincinnya.Pemuda itu baru saja menjagrak miring motornya dan menutup pintu gerbang kos-kosan saat suara ponselnya berbunyi. Tapi ia tak segera mengangkatnya. Setelah memarkir dan mengunci ganda motornya, lelaki muda itu merogoh saku dan mengeluarkan benda pipih dari dalamnya. Melihat nama Lira di layarnya, ia bergegas menggeser tombol hijau di layarnya. “Ka, kamu kemana aja … kok lama nggak munc

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 1. Tante Galak Yang Bahenol

    "Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 7. Mau Berapa Ronde?

    Raka meraih gundukan kenyal di dada wanita yang seharusnya hampir seumuran dengan ibunya itu. Tangannya meremas dengan liar. "Tentu saja, Tan. Rugi banget nolak rejeki." Pria muda itu tersenyum menggoda. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Aku bisa bebas uang sewa kamar, sekaligus bisa nikmatin

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 4. Perubahan Besar

    Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 2. Basah

    Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status