LOGINAir dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi.
Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya sudah ditempa latihan keras bertahun-tahun. Kulitnya menjadi bersih dan lebih cerah. Dan lebih dari semua itu, bagian tubuhnya di bawah sana. Bagaimana mungkin bisa bertumbuh hanya dalam waktu semalam! Apa mungkin semua ini cuma mimpi? Tidak! Jika ia mengingat semuanya. Keanehan ini dimulai sejak ia menemukan cincin aneh di gudang. Cincin dalam kotak kayu dengan grafir tulisan aneh di bagian dalamnya. “Raka! Kamu ngapain di dalam? Pindah tidur apa mati?” Suara nyaring dan ketus itu sangat jelas di telinganya. Raka segera meraih handuk dan melingkarkan di pinggang untuk menutup sebagian tubuhnya sebelum membuka pintu kamar mandi. Tante Feli yang berdiri di depan kamar mandi, langsung melotot saat melihat lelaki muda itu keluar. Aroma maskulin yang segar menguar dari tubuh berototnya, membuat wajahnya memanas. Ia sama sekali tak menduga kalau Raka, mahasiswa miskin itu sangat menarik. Wajahnya terlihat tampan, tidak bisa dibandingkan dengan Joko, pria tua yang ia nikahi. “Raka! Mau kemana?” Tante Feli langsung menegur, namun kali ini suaranya lebih lembut dari biasanya. “Aku mau bicara.” Raka menghentikan langkah dan berbalik menatap wanita dengan setelan favoritnya, tanktop dan celana pendeknya. Setelan yang selalu membuat imajinasinya jadi liar. Ia menelan ludahnya saat tatapannya tertuju pada sesuatu yang menonjol di balik tanktop pemilik rumah kos itu. Sepasang bulatan itu tercetak jelas, membuat fantasi Raka melambung seketika. Jika Tante Feli sengaja tidak memakai branya, mungkin saja ia juga sedang tidak memakai celana dalamnya. Seperti apa bentuknya? “Heh! Ngelamun apa?” “Enggak Tan. Nggak ngelamun,” sanggah Raka. “Raka, Tante tau. Kamu lagi kesulitan uang,” ujar Tante Feli. Suaranya sangat lembut, saking lembutnya terasa begitu aneh di telinga Raka. “Kamu … urus barang bekas yang udah kamu keluarkan dari gudang, jual ke penadah. Uangnya ambil saja buat tambahan kamu,” lanjutnya. “Tapi Tan—” “Kenapa? Masih kurang?” “Eh … enggak. Cukup Tan.” Raka masih tak percaya pada pendengarannya. Tante Feli yang biasanya galak, tiba-tiba saja berubah lembut. Bukan hanya itu, wanita yang terkenal kikir itu bahkan memberikan rongsokan dari gudang itu padanya. Feli menganggukkan kepalanya. Sesaat tatapannya berhenti pada handuk yang membalut setengah bagian bawah tubuh Raka sebelum berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi. ….. Hari sudah sore saat rongsokan terakhir diangkut dari halaman belakang rumah kos. “Ini, totalnya tujuh ratus ribu.” Raka menerima beberapa lembar uang berwarna biru. “Rejeki anak soleh,” ucapnya pada sang penadah, “makasih Bang.” Raka masih memperhatikan barang-barang itu saat dinaikkan ke atas pick up. Ia sama sekali tak menduga kalau Tante Feli diam-diam memperhatikan gerak geriknya. “Udah beres semua, Ka?” Mendengar suara tante Feli, spontan membuat Raka berbalik. Ia langsung menelan ludah saat melihat wanita empat puluhan itu. Tante Feli tidak terlihat seperti biasanya. Kali ini tubuh indah itu terbalut dengan gaun tidur tipis. Saking tipisnya, Raka dapat melihat dengan jelas bukan hanya lekuk indah tubuhnya, tapi juga sepasang puncak kemerahan di dadanya. “U–udah Tan,” sahut Raka gugup. Raka menundukkan kepalanya, bukan karena segan atau takut. Tapi ia tak sanggup mengontrol fantasinya yang semakin liar apalagi saat melihat pemandangan di depannya saat ini. Tubuh tante Feli begitu indah. Raka takut jika tidak bisa mengontrol tangannya yang ingin sekali merasakan lembut dan kenyalnya sepasang gumpalan kenyal di dadanya. “Kalau gitu, kamu ikut Tante sebentar. Tante mau minta tolong sama kamu.” Tante Feli langsung memutar tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam rumahnya. Raka mengangkat wajahnya. Namun lagi-lagi tatapannya terpaku pada pantat bahenol yang meliuk ke kiri dan ke kanan dengan lincahnya. Raka ingin sekali menepuknya lalu meremasnya dengan gemas. “Raka! Kamu ngapain di situ?” Suara tante Feli membuatnya tersentak. Ia langsung melangkah mendekat. “Ka, Tante tau gaji kamu kerja part time di kedai ayam goreng itu nggak bakal cukup buat bayar sewa kos yang kamu tunggak. Belum lagi buat makan kamu tiga kali sehari. Ditambah lagi uang kuliah kamu.” Tante Feli menyilangkan kedua tangannya bersedekap di dada. Gerakan sepele yang membuat konsentrasi Raka berantakan. Tangan itu seperti menyangga sepasang gumpalan itu, hingga terlihat lebih tinggi, lebih montok dan lebih menggemaskan. “Lalu apa rencana kamu?” lanjut Tante Feli. Perempuan itu menatap Raka dari ujung rambut ke ujung kaki. Ada aura yang berbeda pada lelaki itu, aura yang dulu tak pernah ia sadari keberadaannya. Ia masih tak bisa melupakan peristiwa pagi tadi. Ia tak bisa melupakan pesona Raka. Tubuh indah yang dipenuhi otot itu, seolah menantang untuk disentuh. Dan … sesuatu yang terlihat menonjol di balik handuk putihnya pagi tadi, benar-benar membuatnya penasaran. Benarkah yang dilihatnya pagi tadi? “Jangan khawatir, Tan. Raka pasti bayar,” sahut Raka yang kembali bimbang. Semua yang dikatakan tante Feli tidak keliru. Ia tidak bisa mengandalkan gaji part time yang nggak seberapa itu. Tapi ia juga masih belum siap untuk pergi. “Apa … kamu mau bantu Tante?” tanya Feli setengah ragu. Matanya menatap Raka dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah menafsir jawaban yang mungkin akan keluar dari bibir lelaki itu. “Bantu … apa Tan?” Raka mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tak bisa menebak isi pikiran ibu kosnya itu. Terlalu banyak perubahan membuatnya tak tahu harus bersikap apa pada wanita cantik itu. “Raka, kamu tahu … Joko, suami Tante jarang sekali pulang. Dia bahkan sudah hampir setahun nggak pulang,” tutur Tante Feli, “tante … sebagai wanita normal, tetap butuh sentuhan, kasih sayang, dan rasa dibutuhkan.” “Tapi Om Joko … memperlakukan Tante sudah seperti yang seharusnya, kan?” Feli menepuk sofa di sebelahnya. “Duduk sini. Biar kamu bisa ngerti maksud Tante.” Raka melangkah mendekat dan duduk di sisi wanita yang hampir seumuran ibunya itu. Ia menatap ragu wanita cantik berhidung mancung itu. “Suami tante jarang pulang. Dia tidak bisa memberikan apa yang Tante mau,” tutur Tante Feli, “dia kerja di kilang minyak. Selain uang, yang dia berikan tak pernah membuat Tante puas.” Raka menelan ludahnya. Ia tak menyangka Tante Feli bahkan menceritakan masalah rumah tangganya dengan begitu blak-blakan. Tanpa ragu ataupun malu. “Jadi … maksud Tante—-” Tante Feli menyentuh rahang Raka. Ia tersenyum dan menatap wajah lelaki muda itu. “Aku mau kamu jadi simpananku.”Wajah Tante Feli memucat. Ia menatap sekelilingnya seperti kebingungan. Raka masih memeluk pinggangnya dengan manja. “Jadi … malam ini, Tante nggak jadi bayar hutang dua ronde lagi, nih?” goda Raka. Lelaki itu menggigit cuping telinga perempuan cantik itu. Tante Feli mendesah pelan. Tangannya mendorong lembut dada lelaki muda yang sudah membangkitkan gairahnya itu. “Kamu … mulai nakal, ya,” gumam Tante Feli, “tante urus suami tante dulu. Kamu … tunggu Tante di sini.” Feli memutar tubuhnya. Namun sedetik kemudian ia kembali berbalik dan melangkah cepat ke arah Raka. Sepasang kakinya berjinjit dan memberikan kecupan singkat di bibir Raka. “Aku nggak akan lama.” Pesannya sebelum keluar dari kamar itu. Raka mengintip dari jendela kamarnya. Matanya menatap ibu kos nya menghampiri lelaki tua dengan perut buncit yang berdiri tak jauh dari kamarnya. Lelaki tua itu langsung memeluk Tante Feli dan menciumnya dengan penuh gairah.
Raka baru saja memarkir motornya, saat Sari menghampirinya. Gadis manis itu menarik ujung belakang kaosnya, hingga lelaki muda itu memperhatikannya. “Mas ganteng, ada yang nyari tuh,” ujarnya setengah berbisik, sementara bola matanya bergerak ke arah teras kos yang terlihat lengang, tak seperti biasanya. “Katanya … Mas ganteng calon suaminya.”Raka langsung mengerutkan keningnya. “Beneran, nih? Mas ganteng udah punya tunangan? Dijodohin ya, Mas?” cecar Sari. Mata gadis itu membulat, jelas menunggu sebuah jawaban dari Raka. “Mas ganteng, ini nggak bener kan? Sari patah hati, loh ini …” lanjut gadis itu. Mulutnya langsung mengerucut memperlihatkan rasa frustasinya. Raka mengangkat pundaknya dan tertawa pelan. “Jangan ngawur. Jangankan calon istri, pacar aja … aku nggak punya.” Sari langsung tertawa sumringah. Ia menegakkan tubuhnya, membuat dadanya semakin membusung hingga puncaknya tercetak jelas dari balik kaos yang dipakain
Raka menepati janjinya. Dia menelpon Vero untuk mengajak teman kuliahnya itu pergi makan. Pemuda itu tak lupa untuk berterima kasih, bagaimana pun berkat si Gori dia mendapatkan pekerjaan hebat ini. “Kamu yakin kita makan di sini?” tanya Raka. Dia bermaksud membawa Vero ke restaurant yang lebih bagus, tetapi si Gori justru meminta untuk makan sate ayam saja di pinggir alun-alun. “Iya, sate ayam Pak Saipul terkenal enak loh.” Gadis dengan julukan gori itu mengacungkan dua jempolnya. “Baiklah. Itu pilihanmu sendiri loh ya. Jangan nyesel … padahal aku mau ajak kamu makan di mall.” Raka berujar penuh percaya diri. “Mahal.” Vero duduk di bangku yang kosong. “Dua porsi, Bang.” teriaknya pada si penjual. “Minum, Neng?” tanya si penjual ramah. “Es jeruk … dua.” Vero memesan dua saat Raka menganggukan kepala juga. “Ga masalah mahal. Aku baru dapat tip besar.” Raka terkekeh. “Oh ya?” Vero melirik Raka dengan malas. “Iya, hari pertama saja aku sudah dapat tip besar. Hari k
Raka serba salah. Dia suka sama Luna hanya sekedar teman satu kost. Gadis itu terlihat kasihan sekali karena beberapa hari ini tampak ketakutan. “Sudah kamu gak perlu lagi tutupi apapun. Tante tahu kamu baik hati dan mau memastikan semuanya aman. Cuma kamu gak boleh egois dong!” Feli bersikap tegas kali ini. “Apa cuma karena satu perempuan kamu mau mengorbankan kita semua?” Tante Feli melotot. Tidak ada lagi mata yang mengerling manja padanya, Senyum yang lebar ataupun suara yang lembut. Sekarang yang ada hanya seorang perempuan tegas yang terlihat sedang marah pada anaknya. Raka terdiam. Persis seperti yang diucapkan tante Felli, tatapan para wanita penghuni kost ini pun tertuju padanya. Mereka seolah berkata hal yang sama, apakah pantas hanya demi Luna saja keselamatan semua orang dikorbankan? “Tante … aku hanya merasa kasihan ….” Dia berkata dengan jujur. “Kasihan - kasihan. Apa kamu mau k
“Hiyaa!” Ketiga pria itu dengan kompak berteriak dan langsung mengarahkan pukulannya ke Raka. Untung saja Raka dengan sigap mengelak, hingga ketiga pukulan yang mengarah ke satu titik itu bertemu dan saling beradu. Sesaat ketiga preman itu mengibaskan tangannya. Rasa sakit saat kepalan mereka beradu, membuat tangannya terasa kebas seketika. Tapi mereka bertiga masih tak putus asa. Lagi mereka menyerang dengan bersamaan kali ini dengan tiga titik yang berbeda. Namun kedua tangan Raka tetap melayani setiap pukulannya dengan gesit. Liukan tubuhnya saat menghindari setiap pukulan lawannya, jelas menunjukkan kemampuan bela dirinya yang tinggi. Ketiga preman itu tak juga menyerah, mereka kembali mengayunkan tinjunya masih secara bersamaan. Dan Raka masih melayani dengan gerakan cepat dan terlatih untuk menghindar dan menangkis.“Goblok!” teriak lelaki dengan tato naga tadi. “Kalian masih mau ladeni dia bermain? Habisi dia! Kita harus cepat pulang!” Ketiga preman itu mengeluarkan pisau d
Raka pulang dari panti pijat dengan keinginan yang tertahan. Hari ini tante Sisca memberinya pemandangan luar biasa, tetapi tak memberinya kesempatan untuk merasakan. Dia harus cari tante Feli untuk menyalurkan rasa yang mau meledak di dalam hatinya. Urusan mentraktir Vero bisa nanti saja. Tambahan tips dua juta dari tante Sisca, sudah cukup lumayan.Tunggakan uang kuliah selama enam bulan ini pasti akan segera terlunasi. Lalu, dia akan membeli motor baru, jam tangan baru, pakaian baru, bahkan rumah baru. Raka tersenyum-senyum sambil mengecup cincinnya.Pemuda itu baru saja menjagrak miring motornya dan menutup pintu gerbang kos-kosan saat suara ponselnya berbunyi. Tapi ia tak segera mengangkatnya. Setelah memarkir dan mengunci ganda motornya, lelaki muda itu merogoh saku dan mengeluarkan benda pipih dari dalamnya. Melihat nama Lira di layarnya, ia bergegas menggeser tombol hijau di layarnya. “Ka, kamu kemana aja … kok lama nggak munc
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan
Raka meraih gundukan kenyal di dada wanita yang seharusnya hampir seumuran dengan ibunya itu. Tangannya meremas dengan liar. "Tentu saja, Tan. Rugi banget nolak rejeki." Pria muda itu tersenyum menggoda. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Aku bisa bebas uang sewa kamar, sekaligus bisa nikmatin







