Share

Bab 282

Penulis: Kak Han
last update Tanggal publikasi: 2026-05-26 21:36:28

Sore itu, Bayu mengantar Maudy pulang. Tapi Bayu tidak langsung pulang. Mereka berdua duduk bersisian, menikmati sisa hari setelah penatnya urusan kantor yang melelahkan.

​Bayu menyandarkan punggungnya, lalu merentangkan lengan kekarnya, membiarkan Maudy bersandar dengan nyaman di dada bidangnya. Jari-jari tangan Bayu bergerak lambat, memilin ujung rambut Maudy dengan penuh kelembutan, sementara tangan satunya lagi mendekap pinggang wanita itu dengan erat, seolah tak ingin membiarkan sejumput u
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 385

    Malam itu, kediaman keluarga Tasya tampak tenang dari luar, namun di dalamnya, sebuah ambisi besar sedang dirayakan. Tasya melangkah masuk melalui pintu depan dengan senyuman yang merekah lebar. Wajahnya yang sejak sore di kantor dipenuhi binar kepuasan kini tampak begitu ceria, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya sering mengeluh dan berwajah masam setiap kali pulang bekerja. ​Tasya melempar tas branded-nya ke atas sofa ruang tamu dengan asal, lalu mengempaskan tubuhnya di sana sembari menyandarkan kepala, masih dengan senyuman miring yang tidak lepas dari bibirnya. ​ Langkah kaki yang teratur terdengar mendekat. Mamanya, yang kebetulan baru saja keluar dari arah dapur bersama papanya, langsung menghentikan langkah. Pasangan suami istri itu saling berpandangan sejenak, merasa heran sekaligus tertarik melihat perubahan drastis pada raut wajah putri tunggal mereka. ​ "Wah, ada apa ini? Tumben sekali pulang kantor wajahmu secerah ini, Tasya? Biasanya kamu selalu m

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 384

    Bayu baru saja menarik napas dalam-dalam, bersiap mengalirkan kalimat tegas yang akan membungkam seluruh riuh desakan di dalam ruang pertemuan. Tatapan matanya yang tajam sudah mengunci sosok Tasya dan beberapa perwakilan staf yang baru saja melayangkan protes. Tasya pun mulai menyadari jika tatapan tajam mata Bayu mengartikan bahwa dia tidak setuju dengan permintaannya. Apalagi jelas Maudy menolaknya. Tentu saja Bayu pasti akan berpihak pada Maudy. Suasana di dalam ruangan begitu tegang, menanti ketukan palu keputusan dari sang pemilik takhta tertinggi.​Namun, belum sempat sepatah kata pun keluar dari bibir Bayu, ia merasakan cengkeraman tangan Maudy di lengan kemejanya mendadak mengerat dengan sangat kuat. Kain kemejanya sampai berkerut hebat.​Bayu menoleh cepat. Detik itu juga, seluruh fokusnya terhadap isi aula runtuh tanpa sisa.​Wajah Maudy yang beberapa menit lalu sudah mulai merona kini kembali kehilangan seluruh warnanya, berubah menjadi pucat pasi seperti kertas. Kedua m

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 383

    Maudy yang berdiri di samping Bayu seketika menegang. Matanya membelalak menatap Tasya dengan rahang yang mengeras menahan geram. Kelancangan sepupunya itu di depan para petinggi perusahaan itu benar-benar sudah kelewat batas. Tasya tidak hanya merendahkan Cindy di depan umum, tetapi juga memanfaatkan hubungan darah mereka dengan cara yang sangat manipulatif demi ambisi pribadinya.​Maudy menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk menegur keras sepupunya itu. Namun, belum sempat sepatah kata keluar dari bibirnya, sebuah tangan kokoh mendarat lembut di pinggangnya. Bayu dengan sigap menarik pelan tubuh Maudy ke belakang tubuh tegapnya, memotong pergerakan sang istri sambil menggelengkan kepala.​"Kenapa kamu melarangku Mas?" Maudy menoleh, menatap Bayu dengan tatapan bingung sekaligus cemas.​Pikiran buruk mendadak melintas di benak Maudy. Dia sempat berpikir apakah suaminya terpengaruh oleh ucapan Tasya karena Tasya adalah sepupunya? Dan apakah suaminya akan mempertimbangkan kualifik

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 382

    Di dalam ruangan itu, riuh tepuk tangan ucapan selamat atas kehamilan Maudy yang semula menggema perlahan-lahan menyurut, digantikan oleh keheningan yang mendadak terasa mencekam. Di barisan paling depan jajaran staf, Cindy justru membeku di tempatnya berdiri. Kedua matanya membelalak sempurna, menatap Bayu dengan tatapan seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.​Sebagai sekretaris pribadi, Cindy tahu seberapa protektifnya kakak angkatnya itu pada Maudy. Ia paham betul bahwa Bayu akan melakukan apa saja demi kenyamanan istrinya. Namun, ditunjuk menjadi Komisaris sementara, memegang kendali atas seluruh roda operasional perusahaan raksasa ini, benar-benar berada di luar jangkauan perkiraan liarnya. Jantung Cindy berdegup kencang, bukan karena merasa mendapat durian runtuh, melainkan karena syok dan ngeri membayangkan beban tanggung jawab yang luar biasa besar yang kini mendadak diletakkan di atas pundaknya.​Riak kehebohan di dalam aula pun dengan cepat bergeser. K

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 381

    Pagi berikutnya membawa suasana yang baru. Sinar matahari yang hangat menerobos masuk ke dalam kamar utama. Wajah Maudy juga nampak lebih segar, namun suasana di dalamnya langsung berubah serius ketika Bayu mengutarakan sebuah keputusan yang sama sekali tidak pernah terlintas di benak Maudy. ​"Mas... kamu bercanda, kan?" Maudy menatap suaminya dengan mata membelalak tak percaya. ​Bayu yang sedang merapikan letak selimut Maudy menggeleng pelan dengan wajah teramat lempeng. "Aku serius, Sayang. Selama kamu hamil, aku akan menunjuk Cindy untuk menjadi Komisaris sementara. Dia yang akan memegang kendali harian di kantor selama aku mendampingimu di rumah." ​Maudy langsung menegakkan posisi duduknya, mengabaikan titah Bayu untuk tetap berbaring. "Mas, ini benar-benar berlebihan! Cindy itu memang adik angkatmu dan sekretaris yang hebat, tapi tanggung jawab sebagai Komisaris itu sangat besar. Bebannya terlalu berat untuk dia tanggung sendirian secara mendadak. Apa kamu tidak memikirka

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 380

    Sejak detik pertama mengetahui bahwa Maudy sedang mengandung buah cinta mereka, insting protektif di dalam diri Bayu melonjak hingga ke tingkat yang hampir tidak masuk akal. Baginya, ranjang kamar utama kini adalah satu-satunya tempat yang aman untuk istrinya. Maudy benar-benar dikunci di atas tempat tidur, tidak diizinkan melakukan aktivitas fisik apa pun yang dianggap Bayu bisa memicu kelelahan.​Sore itu, suasana kamar terasa begitu tenang. Maudy yang mulai merasa tenggorokannya kering perlahan menyibak selimut, berniat turun dari ranjang hanya untuk mengambil segelas air putih di meja dispenser yang terletak di sudut kamar.​Namun, baru saja kedua kaki mungil Maudy menyentuh lantai berkarpet, pergerakannya langsung terkunci. Bayu, yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi, langsung melesat maju dengan wajah tegang.​"Sayang! Mau ke mana? Kenapa turun dari kasur?" tanya Bayu buru-buru, memegang kedua bahu Maudy dan menahannya agar tidak melangkah lebih jauh

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 241

    Malam merayap begitu lambat di kediaman Maudy. Suasana di dalam kamarnya terasa sunyi, namun pikiran Maudy jauh dari kata tenang. Ia berbaring miring, menatap cahaya bulan yang menembus celah gorden, sementara jemarinya tak henti-hentinya mengetuk layar ponsel yang bercahaya terang di kegelapan.​S

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 209

    Keesokkan harinya, Cindy bersiap untuk meninggalkan kamar perawatannya. Empat hari telah berlalu sejak insiden berdarah di kantor Bayu, dan meskipun luka di lengannya mulai mengering di balik balutan perban putih, luka di hatinya masih terasa basah dan perih.​Pagi itu, Bayu datang lebih awal. Dia

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 270

    Malam kian larut, meninggalkan keheningan di rumah milik Maudy. Di dalam keheningan itu, ketegangan yang sempat memuncak perlahan-lahan mencair. Di bawah sentuhan dan dekapan hangat pria yang telah menjadi pelindungnya, seluruh benteng pertahanan Maudy runtuh tak bersisa. Di tangan sang pawang hati

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 259

    Bagi Bayu, tawaran miliaran rupiah atau nama besar Pradipta Group sama sekali tidak memiliki bobot jika harus ditimbang dengan ketenangan hidup Maudy. Ia telah menyaksikan bagaimana Maudy hancur di tangan Rio, dan ia telah berjanji di dalam hatinya untuk menjadi pelindung, bukan sumber luka baru. J

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status