LOGINUpacara pemakaman militer akhirnya dilakukan dengan khidmat.
Tidak pernah terbayangkan dalam 25 tahun hidupnya, Naomi akan datang ke upacara pemakamannya sendiri. Raiden mendapatkan banyak ucapan belasungkawa dari para perwira. Baik yang mengucapkannya secara langsung, lewat karangan bunga duka, atau pun keduanya. “Kami turut berduka cita, Mayor Raiden.” “Ada karangan bunga duka yang baru datang dari Jenderal Viktor, Mayor.” Air mata Naomi menetes saat tatapannya mengikuti Raiden. Pikirannya kembali ke masa lalu. Hubungan Naomi dan Raiden awalnya sangat manis. Mereka sudah saling mencintai sejak Naomi masih kuliah. Begitu Naomi lulus, Raiden langsung menikahinya. “Aku tidak mau kau keburu diambil orang,” ucap Raiden sambil menyentil manja ujung hidung Naomi. Satu setengah tahun pernikahan yang sangat membahagiakan, meski anak tidak kunjung hadir di antara mereka. Sampai tugas negara memanggil Raiden untuk pergi ke medan perang. Raiden pergi hanya enam bulan, tetapi dia menjadi sosok yang 180 derajat berbeda bagi Naomi. “Aku ingin cokelat di minimarket depan,” pinta Naomi sambil menatap Raiden penuh harap. Dulu, jangankan di minimarket, di ujung bumi sekali pun Raiden akan menyanggupi permintaan Naomi. Namun sekarang, yang Naomi dapatkan hanya kata-kata menyakitkan. “Beli saja sendiri. Kau masih punya kaki.” Suatu malam, Naomi mendapati dirinya sedang subur. Dia mengambil lingerie terbaru yang seksi dan memakainya. Naomi berdiri di balik pintu utama rumah mereka saat jam Raiden biasanya pulang. Namun hingga dua jam berlalu, Raiden tidak kunjung pulang. Meninggalkan Naomi yang kedinginan karena hanya memakai pakaian tipis. Pintu utama rumah akhirnya terbuka beberapa saat kemudian. Raiden berdiri di sana dan tertegun melihat Naomi. “Kau terlambat,” ucap Naomi sambil menggoda Raiden dengan meraba pahanya sendiri. Raiden segera kembali memasang wajah datar. “Tidurlah. Ini sudah malam. Jangan lagi pakai pakaian seperti itu.” Naomi yang kesal bertanya, “Kenapa? Dulu kau suka aku pakai lingerie seperti ini. Sudah satu bulan kamu tidak menyentuhku. Hari ini tanggal suburku!” “Kubilang tidur, tidur, Naomi!” Raiden justru membentaknya. Mata Naomi berkaca-kaca. Hatinya teriris mendapat penolakan dari pria yang dulu begitu memuja dirinya. Sikap Raiden justru hanya mengingatkan Naomi pada semakin seringnya terdengar bisikan-bisikan tentang dirinya yang belum kunjung hamil. “Bisa kan buatnya? Percuma loh kalau cantik, tapi tidak bisa memuaskan suami!” “Mayor Raiden itu tampan, gagah, dan terbukti sehat. Kalau kalian belum juga punya anak, berarti masalahnya ada di kamu, Naomi.” Meski sakit, Naomi berusaha tidak terlalu memikirkan apa kata orang luar. Namun saat mendapatkan perlakuan Raiden yang dingin seperti ini, hati istri mana yang tidak teriris? Raiden terpejam tidur. Tidak lama, Naomi dapat mendengar dengkuran halusnya. Namun Raiden tetaplah seorang pria yang butuh memuaskan kebutuhan batinnya. Malam berikutnya, Raiden mendatangi Naomi. “Ayo, kita memiliki anak,” bisik Raiden sambil meraba lengan Naomi yang putih mulus. Naomi pikir, Raiden-nya sudah kembali. Namun saat matahari terbit, Raiden kembali menjadi pria yang dingin. Bahkan kabar kehamilan Naomi yang datang satu bulan kemudian, tidak juga mengetuk hati Raiden yang membeku. “Berarti tugasku sudah selesai. Sekarang giliranmu menjalankan tugas untuk membesarkan dan melahirkan anak itu dalam keadaan sehat,” tukas Raiden. “Raiden, ini anak kita bersama. Aku butuh pemeriksaan rutin setiap bulan dan pendampingan selama kehamilan,” sergah Naomi berusaha menjelaskan. “Bagaimana kalau aku juga mengalami ngidam? Kau harus menjadi suami siaga.” “Aku sibuk. Jangan terus-terusan menuntutku!” bentak Raiden sambil menatap Naomi tajam. “Sudah kubilang, selama anggota tubuhmu masih lengkap dan bisa digunakan dengan baik, kau harus jadi istri yang mandiri. Jangan apa-apa bergantung padaku!” Raiden tidak pulang selama dua hari setelah pertengkaran itu. Sementara Naomi tidak berani membahas soal kehamilannya lagi dengan Raiden. Sehingga saat Naomi menginginkan sesuatu karena ngidam, dia harus mengatasi hal itu sendiri. Walaupun itu berarti, berjalan kaki keluar kompleks perumahan saat tengah malam untuk membeli nasi goreng dari penjual kaki lima. Naomi juga terpaksa membuang malu demi meminta mangga muda dari pohon tetangga di sebelah rumahnya. Raiden tidak mau melakukan itu semua. Pada bulan kelima kehamilannya, Naomi ditemukan pendarahan di dalam kamar mandi oleh Tasya, ibu Raiden, yang datang menjenguk. “Mama … tolong aku …..” mohon Naomi dengan wajah yang sudah sangat pucat. Di rumah sakit. “Kandungan Nyonya Naomi masih sangat rawan, harus dijaga dengan baik. Untungnya bayi Nyonya dapat dipertahankan dan pendarahannya tidak terlalu serius,” ucap dokter kandungan yang memeriksa Naomi. Dokter pergi dari ruangan, meninggalkan Naomi dan ibu mertuanya. “Kamu itu bagaimana sih, Naomi? Kok bisa sampai jatuh di kamar mandi begitu? Bagaimana kalau tadi Mama tidak datang?!” seru Tasya yang masih tampak panik. “Kalau bisa pilih, aku juga tidak mau jatuh, Ma,” jawab Naomi yang masih berbaring di ranjang sambil mengusap perutnya. “Kamu dibilangin, masih saja jawab!” cecar Tasya. “Kamu sudah periksa jenis kelamin anakmu belum?” “Sudah, Ma,” jawab Naomi pelan. “Apa jenis kelaminnya?” tanya Tasya tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya. “Perempuan, Ma.” Seketika itu raut wajah Tasya berubah menjadi masam. “Ah, kalau tahu begitu Mama tidak usah panik. Cuma anak perempuan,” gumam Tasya sambil membuang muka. “Apa Mama bilang?” tanya Naomi. Naomi berharap pendengarannya salah. Namun Tasya tanpa rasa bersalah mengulang ucapannya dengan lebih yakin, “Kalau tahu begitu, Mama tidak perlu terlalu panik. Cuma anak perempuan. Kecuali kalau anak laki-laki, itu baru harus sangat dijaga.”Malam itu adalah malam terakhir mereka menginap di vila kecil yang menghadap laut. Selama satu minggu penuh, Naomi dan Raiden meninggalkan segala urusan dunia, hanya berdua untuk saling menikmati. Tidak ada panggilan kerja, tidak ada jadwal, hanya hembusan angin laut dan suara ombak yang menemani setiap detik keintiman mereka. Tubuh Naomi masih persis seperti yang Raiden ingat. Lembut, hangat, dan begitu responsif di bawah sentuhannya. Begitu pula tubuh Raiden. Otot-otot pria itu tegang dan kulitnya yang terbakar oleh sentuhan Naomi, semuanya masih sama seperti dulu, bahkan lebih kuat dan penuh hasrat setelah sekian lama menahan rindu. Kini, di ranjang besar yang berantakan, Raiden berbaring telentang di samping Naomi dengan napas terengah-engah. Dada bidangnya naik turun cepat, keringat menetes di pelipis dan lehernya. Tangan kanan Raiden masih berada di pinggang Naomi, jari-jarinya sesekali mengusap kulit halus istrinya. Naomi menoleh, rambutnya yang acak-acakan menjuntai di b
Air mata Naomi terus mengalir. Dada Naomi terasa sesak oleh begitu banyak perasaan yang bercampur menjadi satu. Tidak pernah sekalipun Naomi membayangkan bahwa pria yang dulu pernah melepaskannya kini berdiri di hadapannya sambil mengucapkan janji yang begitu indah. Janji yang jauh lebih hangat, lebih dewasa, dan jauh lebih berarti daripada janji yang pernah mereka ucapkan bertahun-tahun lalu. “Kini giliran mempelai wanita.” Pendeta tersenyum lembut. Naomi menarik napas panjang. Dia menggenggam kedua tangan Raiden lebih erat. Tatapan mereka bertemu. Senyum tipis menghiasi bibir Naomi. “Raiden, suamiku.” Raiden terkekeh pelan mendengar panggilan itu. Naomi ikut tersenyum. “Kalau ada seseorang yang mengatakan kepadaku bertahun-tahun lalu bahwa suatu hari aku akan kembali berdiri di altar ini bersamamu, mungkin aku akan menangis karena me
Naomi membeku. Wanita itu menutupi mulut, sementara matanya membelalak.Semua ini benar-benar di luar dugaannya.Jantung Naomi berdetak begitu cepat hingga telinganya sendiri seolah dapat mendengar iramanya.Hening hanya berlangsung beberapa detik. Lalu dari berbagai sudut studio terdengar sorakan.“Terima!”“Terima!”“Terima!”Naomi menoleh ke kanan dan ke kiri. Barulah saat itu dia benar-benar memperhatikan wajah-wajah yang sejak tadi duduk di dalam studio.“Papa?”Vance berdiri sambil tersenyum lebar dan mengacungkan kedua ibu jarinya.Di sampingnya, Brandon ikut bertepuk tangan.Alex sudah berdiri sambil bersiul keras.Olivia melambaikan kedua tangannya dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Clara tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk penuh semangat.Di baris belakang, Tasya duduk dengan mata sembap, tetapi kali ini senyumnya jauh lebih tenang.
“Apa yang dia punya dibanding aku?”Rahang Raiden masih mengeras saat mengucapkan kalimat itu.Naomi justru tersenyum semakin lebar.Wanita itu mendongak, lalu mengangkat kedua tangannya untuk memegang rahang Raiden.Dengan gemas, Naomi menarik wajah pria itu hingga sedikit menunduk. Jarak mereka kembali menjadi begitu dekat.“Bercanda,” bisik Naomi dengan nada jahil.Raiden masih menatapnya tanpa berkedip.“Lagipula, aku tidak mungkin balas menciummu kalau punya pria lain,” lanjut Naomi sambil tersenyum tipisBeberapa detik berlalu.Raiden mengembuskan napas panjang.“Kurang ajar.”Naomi terkekeh puas.“Aku cuma–”Belum sempat kalimatnya selesai, Raiden sudah kembali mendekat, berniat mencuri satu kecupan lagi.“Ehem!”Suara deham yang sengaja dikeraskan membuat keduanya langsung membeku.Naomi dan Raiden spontan menjauh. Mereka menoleh ber
“Mari, ikut saya, Bu. Kita akan menyusul Sera.” Brandon membukakan pintu mobil untuk Tasya. Wanita paruh baya itu mengangguk pelan. Wajahnya masih sembap akibat terlalu lama menangis. “Terima kasih.” Brandon membantu Tasya masuk ke kursi penumpang sebelum mengitari mobil menuju kursi pengemudi. Mobil perlahan meninggalkan halaman apartemen, mengikuti arah ambulans yang telah lebih dahulu membawa Sera. Tatapan Tasya kosong mengarah ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, tetapi semuanya tampak buram di balik genangan air mata yang terus mengisi pelupuk matanya. Brandon beberapa kali melirik ke arah Tasya. “Ibu butuh sesuatu?” Tasya menggeleng pelan. “Saya hanya sedang berpikir, sebenarnya sejak kapan saya gagal menjadi seorang ibu.” Brandon mengembuskan napas panjang. “Saya rasa bukan Ibu yang gagal
Plak! Tamparan kedua mendarat lebih keras di pipi Sera yang sebelah kanan. Kepala wanita itu langsung tertoleh ke samping. Beberapa helai rambut menutupi wajahnya. Koridor apartemen mendadak sunyi. Napas Sera mulai memburu. Perlahan dia menoleh kembali ke arah Tasya. Sorot mata Sera berubah tajam, dipenuhi kebencian yang selama ini tersimpan. “Ucapanmu sudah kelewatan, Sera!” Tasya masih berdiri dengan dada yang naik turun. Tanpa diduga, Sera mendorong tubuh Tasya sekuat tenaga. Bruk! Tubuh wanita paruh baya itu kehilangan keseimbangan. Punggungnya menghantam lantai koridor. “Akh!” Tasya mengerang pelan sambil memegangi pinggangnya. Tatapan Tasya perlahan terangkat menatap putri yang dibesarkannya sejak kecil. Sepasang mata itu mulai dipenuhi air mata. “Sebenarnya ...” Suara Tasya bergetar hebat, “kamu dipengaruhi seperti apa oleh Lucy sampai tega berharap kakakmu sendiri gugur dalam tugas, Sera?!” Air mata akhirnya jatuh membasahi pipi Tasya. Wanita paruh b
Ruang sidang Pengadilan Militer Lavel. Naomi duduk di kursi pengunjung paling depan dengan punggung tegak. Di sebelah kirinya, Brandon duduk dengan tenang yang terlihat dipaksakan. Tangan Naomi di atas pangkuannya tidak bisa berhenti saling meremas. Dari sisi lain ruangan, Viktor sesekali meli
Naomi menahan tawa saat melihat hasil foto yang baru saja mereka ambil. Di layar ponselnya, Aveline tersenyum paling lebar dengan kedua tangan terangkat membentuk simbol cinta. Wajah Raiden penuh stiker warna-warni hasil karya Aveline, sementara Naomi sendiri tertawa ke arah k
Bukankah seharusnya Viktor menemui Naomi di Lavel saat sidang?Naomi menatap pria di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.Meski bertubuh tinggi dan tegap seperti tentara, pria di depan Naomi ini jelas bukan salah satunya.‘Jika bukan dari pihak
Ada kalanya dua hal paling mengejutkan dalam hidup seseorang datang dalam satu menit yang sama. Raiden berdiri di area parkir dengan ponsel di tangan dan suara pria asing masih menggema di kepalanya. Sementara di depannya, Lucy berdiri menghalangi jalan den







