LOGIN“Apa anak perempuan tidak perlu dijaga, Ma? Apa Raiden juga berpikir seperti Mama?” tanya Naomi lagi sambil menatap ibu mertuanya tidak percaya.
“Apa maksudmu?” Tasya justru balik bertanya dan menatap Naomi dengan tatapan yang sama. “Kau sedang menyalahkan Mama dan Raiden? Kau yang tidak hati-hati sampai terpleset di kamar mandi!” “Mama yang bicara seolah anak perempuan tidak perlu dijaga dan diperhatikan. Dan asal Mama tahu, aku terpleset karena aku sudah mulai kesulitan membersihkan kamar mandi. Aku sudah minta tolong Raiden, tetapi dia terlalu sibuk bekerja.” Tasya menatap tajam Naomi. “Sekarang Mama paham kenapa Raiden mengabaikan kamu. Kamu tidak pernah mau salah dan selalu membolak-balikkan perkataan orang tua!” tegur Tasya dengan napas yang mulai memburu. Tasya mengambil tasnya di atas nakas dan melanjutkan, “Kamu itu istri seorang abdi negara, Naomi! Raiden baru saja diangkat menjadi Mayor, tentu saja dia sibuk mengabdi pada negara. Itu risiko yang harus kamu tanggung sejak kamu mengiyakan lamarannya. Mama pergi sekarang, kamu pulang sendiri saja. Dari dulu kalau diajak bicara, kamu tidak pernah mau kalah! Cuma bikin emosi saja!” Setelah Tasya pergi, air mata Naomi mengalir deras. Dia ingin meminta Raiden untuk menjemputnya, tetapi kata-kata Tasya terus berputar dalam kepalanya. Akhirnya Naomi terpaksa menyimpan kembali ponselnya. Naomi hanya akan mendapat penolakan, jika menghubungi Raiden. Naomi sudah cukup menerima segala penolakan Raiden sebelumnya. Apalagi Raiden juga sempat menegaskan bahwa membesarkan dan melahirkan anak ini dalam keadaan sehat adalah tanggung jawab Naomi. Saat Naomi pulang, Raiden belum tiba di rumah. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ponsel Naomi berdenting. Naomi segera memeriksa pesan dari Raiden. [Aku lembur dan sudah makan malam. Tidak perlu menungguku.] Naomi menghela napas panjang. Namun malam itu, dia tidak langsung tidur. Wanita itu pergi ke kamar mandi dan membersihkan lantai supaya tidak licin. Walaupun terkadang perutnya terasa kram atau kepalanya berputar, Naomi tetap melanjutkan pekerjaannya. “Sayang,” ucap Naomi sambil mengelus perutnya saat kram kembali menyerang. “Mama bisa menjagamu sendirian. Jadi percayalah kalau Mama bisa menjadi orang tuamu, lahirlah ke dunia dengan sehat.” Walaupun Tasya tidak antusias dengan kehamilan Naomi, wanita paruh baya itu tetap mengadakan perayaan untuk kehamilan menantunya saat Raiden punya waktu luang. Rumah dinas Raiden menjadi pilihan Tasya untuk mengadakan acara perayaan itu. Dia mengundang beberapa tetangga yang merupakan istri perwira, sanak saudara, dan kenalan dekat. Walaupun tajuk acara tersebut adalah perayaan kehamilan Naomi, tetapi pesta itu lebih terlihat seperti ajang Tasya memamerkan keberhasilan Raiden. Sementara Naomi hanya menjadi pajangan yang tidak penting dalam acara itu. “Senyum, Naomi. Kau daritadi cemberut terus,” tegur Raiden yang berdiri di sebelahnya. Tanpa menoleh, Naomi menjawab sambil tersenyum, “Mayor Raiden rupanya masih memperhatikanku, ya?” Raiden mengernyitkan dahi. Pria itu menatap Naomi yang tengah merapikan rambut hitam panjangnya ke belakang telinga. “Kenapa kau selalu cari ribut denganku?” tanya Raiden. “Ini acara yang keluargaku siapkan untukmu, tapi kau bahkan tidak bisa menghargaiku.” Naomi akhirnya menoleh. Air mata sudah berkumpul di pelupuk matanya. “Oh ya, apa benar ini acara untukku? Orang-orang terus memujimu, tapi di belakangmu, mereka berbisik bahwa aku adalah istri yang tidak dianggap oleh suaminya. Bahkan mungkin mereka tengah menonton kita dan menyaksikan secara langsung bahwa apa yang mereka katakan benar. Kau menatapku seperti menatap seorang musuh, Raiden!” Naomi tidak bisa menahan badai yang melanda hatinya. Tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang, Naomi beranjak dari tempat utama acara dan pergi keluar. Sera Vargas, adik kandung perempuan Raiden, segera menghampiri Naomi. “Bertengkar lagi?” tanyanya. “Kalau aku jadi Kak Naomi, aku tidak akan membebani Kak Raiden dengan mengeluh. Tugas negara sudah menyulitkannya, Kak Naomi seharusnya lebih pengertian, sebelum wanita lain yang melakukannya.” Tanpa menunggu respons Naomi, Sera pergi ke dalam. Seolah dia mengatakan itu memang hanya untuk semakin menekan posisi Naomi. Setelah perayaan usai, Tasya dan Sera langsung kembali ke rumahnya. Sementara Raiden dipanggil bertugas. Lagi-lagi Naomi sendiri yang harus membersihkan rumah yang sangat berantakan dan penuh dengan sampah. Saat melihat dekorasi dinding dari balon huruf bertuliskan ‘Perayaan Kehamilan Naomi dan Raiden’, Naomi menjadi sensitif. Hatinya seperti tersayat-sayat. “Di mana letak perayaannya, jika aku sama sekali tidak bahagia?” tanya Naomi dengan suara bergetar menahan tangis. “Kehamilan Naomi dan Raiden? Apa bisa disebut seperti itu, jika mengusap perutku dan merasakan gerakan anaknya saja, Raiden tidak pernah.” Penderitaan Naomi tidak berhenti sampai di situ. Suatu siang saat Naomi sedang memasak, Raiden tiba-tiba pulang. Entah mengapa, jantung Naomi berdetak tidak karuan saat mendapati ketukan pintu dari suaminya. “Ini aku Raiden. Bukakan pintunya, Naomi.” Naomi bergegas mematikan kompor dan melangkah cepat untuk membukakan pintu. Pintu terbuka. Baru saja Naomi hendak bertanya ada apa Raiden pulang siang hari, tetapi kata-kata itu segera tertelan di kerongkongannya saat melihat ada seorang gadis yang berdiri di sebelah Raiden. “Naomi, ini Lucy. Mulai hari ini, Lucy akan tinggal bersama kita,” tukas Raiden dengan tegas. “Aku juga sudah laporan dan kantor setuju Lucy tinggal di sini,” sambung Raiden tanpa rasa bersalah. “Apa?” Naomi mengernyitkan dahi. “Halo? Kak Naomi, ya?” Gadis di sebelah Raiden menyapa Naomi sambil melambaikan tangan dengan ceria. “Aku Lucy Miller, adik dari sahabat Kak Raiden yang gugur di medan perang beberapa waktu lalu. Aku janji, aku tidak akan merepotkan Kakak!”Tasya perlahan menghentikan gerakan tangannya. Pisau yang sedari tadi digunakan untuk mengiris lemon diletakkan pelan di atas talenan. Suara kecil dari logam yang menyentuh kayu terdengar begitu jelas di tengah dapur yang mendadak sunyi. Wanita paruh baya itu berbalik. Wajahnya dipenuhi penyesalan. Mata Tasya yang mulai memerah menatap Naomi cukup lama sebelum akhirnya mengembuskan napas berat. “Sejak sebelum kita bertemu di pemakaman dan melihat Dante,” ucap Tasya lirih, “Mama sebenarnya sudah menyadari kalau kamu adalah Naomi.” Naomi membeku. Bibirnya sedikit terbuka. Jantung wanita itu berdetak lebih cepat. Tasya menundukkan kepala sesaat. Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. “Itu sebabnya, waktu itu Mama memaksamu mengantar Mama pulang,” lanjut Tasya sambil menggenggam kedua tangan Naomi yang mulai dingin. Naomi menatap wajah wanita paruh baya itu tanpa berkedip. “Mama sengaja memasak ayam kukus lemon …” Tasya tersenyum pahit. “Makanan kesukaanmu.” Naomi m
Malam itu adalah malam terakhir mereka menginap di vila kecil yang menghadap laut. Selama satu minggu penuh, Naomi dan Raiden meninggalkan segala urusan dunia, hanya berdua untuk saling menikmati. Tidak ada panggilan kerja, tidak ada jadwal, hanya hembusan angin laut dan suara ombak yang menemani setiap detik keintiman mereka. Tubuh Naomi masih persis seperti yang Raiden ingat. Lembut, hangat, dan begitu responsif di bawah sentuhannya. Begitu pula tubuh Raiden. Otot-otot pria itu tegang dan kulitnya yang terbakar oleh sentuhan Naomi, semuanya masih sama seperti dulu, bahkan lebih kuat dan penuh hasrat setelah sekian lama menahan rindu. Kini, di ranjang besar yang berantakan, Raiden berbaring telentang di samping Naomi dengan napas terengah-engah. Dada bidangnya naik turun cepat, keringat menetes di pelipis dan lehernya. Tangan kanan Raiden masih berada di pinggang Naomi, jari-jarinya sesekali mengusap kulit halus istrinya. Naomi menoleh, rambutnya yang acak-acakan menjuntai di b
Air mata Naomi terus mengalir. Dada Naomi terasa sesak oleh begitu banyak perasaan yang bercampur menjadi satu. Tidak pernah sekalipun Naomi membayangkan bahwa pria yang dulu pernah melepaskannya kini berdiri di hadapannya sambil mengucapkan janji yang begitu indah. Janji yang jauh lebih hangat, lebih dewasa, dan jauh lebih berarti daripada janji yang pernah mereka ucapkan bertahun-tahun lalu. “Kini giliran mempelai wanita.” Pendeta tersenyum lembut. Naomi menarik napas panjang. Dia menggenggam kedua tangan Raiden lebih erat. Tatapan mereka bertemu. Senyum tipis menghiasi bibir Naomi. “Raiden, suamiku.” Raiden terkekeh pelan mendengar panggilan itu. Naomi ikut tersenyum. “Kalau ada seseorang yang mengatakan kepadaku bertahun-tahun lalu bahwa suatu hari aku akan kembali berdiri di altar ini bersamamu, mungkin aku akan menangis karena me
Naomi membeku. Wanita itu menutupi mulut, sementara matanya membelalak.Semua ini benar-benar di luar dugaannya.Jantung Naomi berdetak begitu cepat hingga telinganya sendiri seolah dapat mendengar iramanya.Hening hanya berlangsung beberapa detik. Lalu dari berbagai sudut studio terdengar sorakan.“Terima!”“Terima!”“Terima!”Naomi menoleh ke kanan dan ke kiri. Barulah saat itu dia benar-benar memperhatikan wajah-wajah yang sejak tadi duduk di dalam studio.“Papa?”Vance berdiri sambil tersenyum lebar dan mengacungkan kedua ibu jarinya.Di sampingnya, Brandon ikut bertepuk tangan.Alex sudah berdiri sambil bersiul keras.Olivia melambaikan kedua tangannya dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Clara tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk penuh semangat.Di baris belakang, Tasya duduk dengan mata sembap, tetapi kali ini senyumnya jauh lebih tenang.
“Apa yang dia punya dibanding aku?”Rahang Raiden masih mengeras saat mengucapkan kalimat itu.Naomi justru tersenyum semakin lebar.Wanita itu mendongak, lalu mengangkat kedua tangannya untuk memegang rahang Raiden.Dengan gemas, Naomi menarik wajah pria itu hingga sedikit menunduk. Jarak mereka kembali menjadi begitu dekat.“Bercanda,” bisik Naomi dengan nada jahil.Raiden masih menatapnya tanpa berkedip.“Lagipula, aku tidak mungkin balas menciummu kalau punya pria lain,” lanjut Naomi sambil tersenyum tipisBeberapa detik berlalu.Raiden mengembuskan napas panjang.“Kurang ajar.”Naomi terkekeh puas.“Aku cuma–”Belum sempat kalimatnya selesai, Raiden sudah kembali mendekat, berniat mencuri satu kecupan lagi.“Ehem!”Suara deham yang sengaja dikeraskan membuat keduanya langsung membeku.Naomi dan Raiden spontan menjauh. Mereka menoleh ber
“Mari, ikut saya, Bu. Kita akan menyusul Sera.” Brandon membukakan pintu mobil untuk Tasya. Wanita paruh baya itu mengangguk pelan. Wajahnya masih sembap akibat terlalu lama menangis. “Terima kasih.” Brandon membantu Tasya masuk ke kursi penumpang sebelum mengitari mobil menuju kursi pengemudi. Mobil perlahan meninggalkan halaman apartemen, mengikuti arah ambulans yang telah lebih dahulu membawa Sera. Tatapan Tasya kosong mengarah ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, tetapi semuanya tampak buram di balik genangan air mata yang terus mengisi pelupuk matanya. Brandon beberapa kali melirik ke arah Tasya. “Ibu butuh sesuatu?” Tasya menggeleng pelan. “Saya hanya sedang berpikir, sebenarnya sejak kapan saya gagal menjadi seorang ibu.” Brandon mengembuskan napas panjang. “Saya rasa bukan Ibu yang gagal
Raiden mengembuskan napas pelan.Udara malam yang dingin keluar bersama embusan itu, seolah membawa pergi sebagian ketegangan yang sejak tadi menggantung di antara mereka.Pria itu memejamkan mata sesaat, rahangnya yang semula mengeras perlahan mengendur. Saat kembali membuka ma
Nicolle menoleh pada Mia dan memberikan kode supaya wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah. Dia tidak ingin Mia kembali membocorkan hal lain pada Raiden tanpa disadari. Mia menoleh sekilas ke arah Raiden, lalu kembali pada Nicolle. “S-saya permisi.” Mia segera be
Tubuh Nicolle membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Untuk beberapa detik, dunia seolah berhenti berputar. Dengan jantung yang berdebar keras, Nicolle memutar tubuhnya perlahan. Di luar pagar, di bawah sorot lampu jalan yang temaram, Raiden berdiri tegak dalam seragam dinas lapangan yang mas
Di jok belakang, Aveline yang semula sibuk mewarnai langit biru di buku gambar perlahan menghentikan gerakan krayonnya. Kepala kecil gadis itu terangkat dan alis mungilnya berkerut penuh rasa ingin tahu. Dia mencuri dengar. Tatapan bulat Aveline berpindah d







