LOGINPukul tujuh malam.
Tatapan Naomi masih tertuju pada nisan putih yang berdiri tegak di hadapannya. Nisan yang terukir namanya sendiri, Naomi Vargas. Beserta nama lain, Everly Vargas. Aneh rasanya membaca nama sendiri di atas batu mati. Naomi menarik napas perlahan, lalu mengembuskannya bersama segala sesuatu yang tidak bisa lagi dia ucapkan. Semua pelayat sudah pergi sejak lama. Hanya dia yang tersisa, berdiri di atas tanah basah pemakaman militer dengan mantel hitam yang terlalu besar untuk tubuhnya yang kini semakin kurus. “Nona.” Suara bariton itu memecah kesunyian. Naomi tidak menoleh, tetapi dia tahu siapa yang berbicara. Pria jangkung itu telah berdiri tiga langkah di belakangnya sejak tadi. “Kita harus segera pergi,” lanjut Brandon, bawahan Vance Frances yang diminta untuk mengawal Naomi hari ini. Naomi mengangguk sekali. Wanita itu membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Brandon mengikutinya dua langkah di belakang. Di dalam mobil, Naomi bersandar pelan ke kursinya. Tidak ada yang akan curiga. Semuanya telah dirancang dengan sempurna. Ayahnya, Jenderal Vance Fances, menggunakan semua koneksi yang dimilikinya untuk memastikan rencana ini berjalan mulus. Dokumen resmi kematian, petugas medis, dan petugas pemakaman. Bahkan dua jasad yang sekarang terkubur di dalam tanah itu telah dipersiapkan sejak jauh hari. Tidak ada satu pun orang yang tahu bahwa wanita yang dikuburkan hari ini bukanlah Naomi. Dan tentu saja bukan anak yang dikandungnya. Mobil melaju menuju pusat kota. Beberapa saat kemudian, Brandon menghentikan kendaraan di depan sebuah gedung perkantoran tua yang sudah lama tidak digunakan. Bangunannya tinggi dan gelap. Hanya satu lampu kecil yang menyala di pintu masuk. “Helikopter sudah menunggu di atas,” kata Brandon singkat. Naomi membuka pintu mobil. Lift mereka berhenti di lantai delapan. Brandon melangkah maju, tetapi Naomi justru berhenti di depan pintu bertuliskan ‘Toilet Wanita’ di sebelah kanan koridor. “Tunggu.” Naomi menoleh padanya. “Aku harus masuk ke dalam lebih dulu. Ada yang harus aku lakukan.” Brandon mengerutkan dahi sebentar, lalu mengangguk patuh. “Saya akan menunggu di sini, Nona.” Pintu toilet tertutup di belakang Naomi. Di dalam ruangan berdinding keramik putih itu, Naomi berdiri di depan wastafel dan menatap pantulan dirinya di cermin. Wanita di cermin itu menatap balik, dengan rambut hitam panjang yang masih terurai rapi, mata abu-abu gelap, dan garis-garis kelelahan yang sudah lama mengukir wajahnya. Naomi mengeluarkan gunting dari dalam tasnya. Tanpa ragu, Naomi memotong rambut panjangnya. Krek! Beberapa helai pertama rambut Naomi jatuh ke wastafel. “Aku suka rambut hitam panjangmu,” puji Raiden kala itu sambil menghirup aroma rambut Naomi. “Kau terlihat sangat cantik.” Semakin Naomi mengingat itu, dia semakin cepat mempercepat gerakan gunting di tangannya. Naomi memotong rambutnya pendek, jauh di atas bahu. Kemudian dia menyisir cepat rambut barunya dengan jari. Poninya yang dulu menutupi dahi juga dipotong habis. Dari dalam tasnya, Naomi mengeluarkan satu botol cat rambut cokelat. Dua puluh menit kemudian, wanita di cermin itu sudah tidak lagi mengenali dirinya sendiri. Rambut cokelat pendek. Lensa kontak cokelat yang menyembunyikan manik abu-abu gelapnya. Tidak ada kelembutan wajah yang biasa Naomi tunjukkan pada dunia. Yang tersisa hanyalah orang asing. “Sempurna,” gumam Naomi tersenyum tipis. Naomi memasukkan semua sisa cat, helai rambut yang berserakan, dan segala bukti yang ada ke dalam kantung plastik hitam. Dia mengikatnya rapat lalu berjalan keluar. Brandon berbalik saat pintu terbuka. Untuk sesaat pria itu bahkan tampak tertegun. “Bakar ini sebelum membuangnya.” Naomi menyodorkan kantung plastik itu padanya tanpa basa-basi. “Siap, Nona.” Brandon menerima kantung itu sambil mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan ke lantai teratas. Angin malam menerpa wajah Naomi begitu pintu helipad terbuka. Helikopter militer sudah menunggu dengan baling-baling berputar lambat, siap terbang begitu Naomi siap. Pilot di dalamnya adalah orang kepercayaan Vance, terbang dengan alibi kunjungan kerja yang sudah diurus ayahnya jauh-jauh hari. Naomi menaiki helikopter tanpa menoleh ke belakang. Namun saat burung besi itu mulai mengangkat tubuhnya menjauh dari tanah Kota Lavel, Naomi tidak bisa menahan diri untuk memandang ke luar jendela. Kota Lavel berpendar di bawahnya. Ribuan titik cahaya yang tersebar seperti bintang yang jatuh ke bumi. Kota tempat Naomi pernah tinggal sebagai istri Mayor Raiden Vargas. Kota tempat Naomi pernah percaya bahwa pernikahannya akan berlangsung selamanya. Namun semua itu sudah berakhir. ‘Benar,’ batin Naomi sambil menatap cahaya yang semakin mengecil itu. ‘Aku tidak bisa bercerai darimu, Raiden. Hukum militer di negeri ini tidak mengizinkannya.’ Naomi mengepalkan tangannya di atas lututnya. ‘Namun setelah semua yang kamu dan keluargamu lakukan padaku, aku tidak mungkin diam saja dan membiarkan anakku tumbuh di dalam kandang emas itu.’ ‘Ini adalah satu-satunya cara untuk berpisah darimu. Satu-satunya caraku untuk bebas.’ Naomi menutup matanya sebentar. ‘Selamat tinggal, Raiden! Selamat tinggal, Naomi!’ Empat jam kemudian. Ketika roda helikopter menyentuh tanah di Palvenia, tubuh Naomi terasa kaku karena duduk terlalu lama. Kota perbatasan Negara Alveris itu jauh lebih gelap dari Kota Lavel. Pembangunan infrastruktur masih diusahakan di sini, supaya bisa mengejar ketertinggalan dari ibu kota yang megah. Brandon turun lebih dulu dan mengulurkan tangan untuk membantu Naomi. “Nona masih harus menempuh perjalanan darat selama dua jam menggunakan mobil dari sini,” ucapnya. Angin dari baling-baling yang mulai melambat menerpa wajah Naomi. Rambutnya berkibar dan spontan dia mengangkat tangan untuk menepis rambut. Naomi belum terbiasa dengan rambut pendeknya, sehingga wanita itu baru saja mengira bahwa dia masih memiliki rambut panjang. “Ya,” jawab Naomi singkat. “Aku tahu.” Brandon menatap Naomi sebentar sebelum melanjutkan, “Saya hanya bisa mengantar Nona sampai di sini. Mayor Raiden bisa curiga jika saya tidak ada di samping Jenderal Vance.” Naomi mengerutkan dahi. “Raiden jarang memiliki keperluan yang harus membuatnya pergi ke Markas Besar dan bertemu Papa.” Naomi berhenti sebentar. “Tapi baiklah. Aku bisa menyetir mobil sendiri dari sini.” Naomi mengulurkan tangannya. Brandon langsung mengerti. Dari saku mantelnya, pria itu mengeluarkan kunci mobil dengan gantungan logam sederhana dan menyerahkannya. “Mobilnya memang sudah tua, tapi saya sudah memeriksanya dan performa mesinnya masih sangat baik, Nona Nao–” “Nicolle.” Brandon terdiam. Naomi memandang Brandon lurus. “Nicolle Phyer. Kau harus membiasakan memanggilku Nicolle. Naomi Fances, atau Vargas, sudah mati.” Sudut bibir Naomi tidak bergerak sedikit pun. “Kita baru saja datang ke pemakamannya.” Hening sejenak. “Siap, Nona Nicolle Phyer.” Naomi, atau yang sekarang bernama Nicolle, mengangguk. “Kalau begitu, Nona sudah boleh pergi sekarang.” Suara Brandon sedikit melunak. “Nona Kecil sudah menunggu di rumah.” Nicolle menggenggam kunci mobil itu lebih erat, sebab di ujung perjalanan malam ini telah menunggu salah satu alasan dia rela mengubur nama Naomi selamanya. Nona Kecil, putri yang baru beberapa hari lalu dia lahirkan. Darah daging Raiden yang tidak diakui.Halo, mantemans. Selamat membaca buku ke-5 aku di GoodNovel. Sebelumnya aku mau disclaimer dulu, yaa ꒰⑅ᵕ༚ᵕ꒱˖♡ Novel ini merupakan karya fiksi. Seluruh tokoh, tempat, organisasi, dan peristiwa di dalam cerita adalah hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif untuk kepentingan narasi. Unsur kemiliteran dan kedokteran yang muncul dalam cerita tidak dimaksudkan sebagai representasi yang akurat dari prosedur atau institusi nyata. Karya ini dibuat semata-mata untuk tujuan hiburan. Soo, semoga terhibur, mantemans ꒰⑅ᵕ༚ᵕ꒱˖♡
Tasya perlahan menghentikan gerakan tangannya. Pisau yang sedari tadi digunakan untuk mengiris lemon diletakkan pelan di atas talenan. Suara kecil dari logam yang menyentuh kayu terdengar begitu jelas di tengah dapur yang mendadak sunyi. Wanita paruh baya itu berbalik. Wajahnya dipenuhi penyesalan. Mata Tasya yang mulai memerah menatap Naomi cukup lama sebelum akhirnya mengembuskan napas berat. “Sejak sebelum kita bertemu di pemakaman dan melihat Dante,” ucap Tasya lirih, “Mama sebenarnya sudah menyadari kalau kamu adalah Naomi.” Naomi membeku. Bibirnya sedikit terbuka. Jantung wanita itu berdetak lebih cepat. Tasya menundukkan kepala sesaat. Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. “Itu sebabnya, waktu itu Mama memaksamu mengantar Mama pulang,” lanjut Tasya sambil menggenggam kedua tangan Naomi yang mulai dingin. Naomi menatap wajah wanita paruh baya itu tanpa berkedip. “Mama sengaja memasak ayam kukus lemon …” Tasya tersenyum pahit. “Makanan kesukaanmu.” Naomi m
Malam itu adalah malam terakhir mereka menginap di vila kecil yang menghadap laut. Selama satu minggu penuh, Naomi dan Raiden meninggalkan segala urusan dunia, hanya berdua untuk saling menikmati. Tidak ada panggilan kerja, tidak ada jadwal, hanya hembusan angin laut dan suara ombak yang menemani setiap detik keintiman mereka. Tubuh Naomi masih persis seperti yang Raiden ingat. Lembut, hangat, dan begitu responsif di bawah sentuhannya. Begitu pula tubuh Raiden. Otot-otot pria itu tegang dan kulitnya yang terbakar oleh sentuhan Naomi, semuanya masih sama seperti dulu, bahkan lebih kuat dan penuh hasrat setelah sekian lama menahan rindu. Kini, di ranjang besar yang berantakan, Raiden berbaring telentang di samping Naomi dengan napas terengah-engah. Dada bidangnya naik turun cepat, keringat menetes di pelipis dan lehernya. Tangan kanan Raiden masih berada di pinggang Naomi, jari-jarinya sesekali mengusap kulit halus istrinya. Naomi menoleh, rambutnya yang acak-acakan menjuntai di b
Air mata Naomi terus mengalir. Dada Naomi terasa sesak oleh begitu banyak perasaan yang bercampur menjadi satu. Tidak pernah sekalipun Naomi membayangkan bahwa pria yang dulu pernah melepaskannya kini berdiri di hadapannya sambil mengucapkan janji yang begitu indah. Janji yang jauh lebih hangat, lebih dewasa, dan jauh lebih berarti daripada janji yang pernah mereka ucapkan bertahun-tahun lalu. “Kini giliran mempelai wanita.” Pendeta tersenyum lembut. Naomi menarik napas panjang. Dia menggenggam kedua tangan Raiden lebih erat. Tatapan mereka bertemu. Senyum tipis menghiasi bibir Naomi. “Raiden, suamiku.” Raiden terkekeh pelan mendengar panggilan itu. Naomi ikut tersenyum. “Kalau ada seseorang yang mengatakan kepadaku bertahun-tahun lalu bahwa suatu hari aku akan kembali berdiri di altar ini bersamamu, mungkin aku akan menangis karena me
Naomi membeku. Wanita itu menutupi mulut, sementara matanya membelalak.Semua ini benar-benar di luar dugaannya.Jantung Naomi berdetak begitu cepat hingga telinganya sendiri seolah dapat mendengar iramanya.Hening hanya berlangsung beberapa detik. Lalu dari berbagai sudut studio terdengar sorakan.“Terima!”“Terima!”“Terima!”Naomi menoleh ke kanan dan ke kiri. Barulah saat itu dia benar-benar memperhatikan wajah-wajah yang sejak tadi duduk di dalam studio.“Papa?”Vance berdiri sambil tersenyum lebar dan mengacungkan kedua ibu jarinya.Di sampingnya, Brandon ikut bertepuk tangan.Alex sudah berdiri sambil bersiul keras.Olivia melambaikan kedua tangannya dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Clara tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk penuh semangat.Di baris belakang, Tasya duduk dengan mata sembap, tetapi kali ini senyumnya jauh lebih tenang.
“Apa yang dia punya dibanding aku?”Rahang Raiden masih mengeras saat mengucapkan kalimat itu.Naomi justru tersenyum semakin lebar.Wanita itu mendongak, lalu mengangkat kedua tangannya untuk memegang rahang Raiden.Dengan gemas, Naomi menarik wajah pria itu hingga sedikit menunduk. Jarak mereka kembali menjadi begitu dekat.“Bercanda,” bisik Naomi dengan nada jahil.Raiden masih menatapnya tanpa berkedip.“Lagipula, aku tidak mungkin balas menciummu kalau punya pria lain,” lanjut Naomi sambil tersenyum tipisBeberapa detik berlalu.Raiden mengembuskan napas panjang.“Kurang ajar.”Naomi terkekeh puas.“Aku cuma–”Belum sempat kalimatnya selesai, Raiden sudah kembali mendekat, berniat mencuri satu kecupan lagi.“Ehem!”Suara deham yang sengaja dikeraskan membuat keduanya langsung membeku.Naomi dan Raiden spontan menjauh. Mereka menoleh ber
“Mari, ikut saya, Bu. Kita akan menyusul Sera.” Brandon membukakan pintu mobil untuk Tasya. Wanita paruh baya itu mengangguk pelan. Wajahnya masih sembap akibat terlalu lama menangis. “Terima kasih.” Brandon membantu Tasya masuk ke kursi penumpang sebelum mengitari mobil menuju kursi pengemudi. Mobil perlahan meninggalkan halaman apartemen, mengikuti arah ambulans yang telah lebih dahulu membawa Sera. Tatapan Tasya kosong mengarah ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, tetapi semuanya tampak buram di balik genangan air mata yang terus mengisi pelupuk matanya. Brandon beberapa kali melirik ke arah Tasya. “Ibu butuh sesuatu?” Tasya menggeleng pelan. “Saya hanya sedang berpikir, sebenarnya sejak kapan saya gagal menjadi seorang ibu.” Brandon mengembuskan napas panjang. “Saya rasa bukan Ibu yang gagal
Di ruang IGD RSPU. Dante melangkah masuk sambil membalas sapaan dari beberapa tenaga kesehatan yang berpapasan dengannya. Pria itu menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, hingga akhirnya berhasil menemukan ranjang nomor sembilan. Dia melangkah
Di rumah sakit. “Dokter Nicolle, Anda tidak apa-apa?” tanya seorang perawat. Nicolle tidak menghentikan langkahnya. Dia hanya mengangguk singkat tanpa menoleh. “Tidak apa-apa,” jawab Nicolle datar.
Perlahan, Nicolle menoleh ke belakang sambil tersenyum. Dante melirik sekilas, sebelum akhirnya kembali fokus pada jalanan di depannya. “Ada tugas membuat pohon kelualga dali Miss,” lanjut Aveline dengan polos. “Tapi pohon kelualgaku tidak lengkap sepelti punya Reno
Aveline mengangguk pelan. Wajah gadis kecil itu penuh rasa bersalah. Alis kecil Aveline bertaut dan bibirnya gemetar menahan isak tangis yang belum selesai. “Aku bilang dia jahat, tapi dia dolong aku,” jawab Aveline terputus-putus. “Telus aku ambil lego, aku tidak sengaja sek







