MasukPagi itu, suasana kediaman keluarga Pratama terasa jauh lebih hidup. Sinar matahari yang masuk melalui jendela besar ruang makan memberikan kehangatan yang berbeda.Anindya duduk berhadapan dengan Arkana. Rambutnya masih sedikit lembap setelah mandi. Beberapa helai rambut yang belum benar-benar kering jatuh di bahunya, membuat penampilannya terlihat sederhana, tetapi justru semakin anggun.Arkana diam-diam beberapa kali mencuri pandang. Melihat itu, Anindya mengangkat sebelah alis."Apa?"Arkana langsung menggeleng. "Nggak.""Nggak apa?""Nggak apa-apa."Anindya tersenyum geli. "Kamu dari tadi lihat aku terus.""Aku lagi memastikan.""Memastikan apa?""Kalau semalam benar-benar terjadi."Pipi Anindya langsung memerah. "Arkana!"Laki-laki itu terkekeh pelan. "Maaf. Tapi aku memang masih merasa seperti mimpi."Anindya menunduk malu sambil menyibukkan diri mengaduk teh hangat di depannya. Melihat reaksinya, senyum Arkana semakin lebar.Entah mengapa, pagi itu ia merasa jauh lebih ringan.
Hangat. Itulah hal pertama yang dirasakan Anindya ketika perlahan membuka matanya. Sinar matahari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai, menerangi kamar yang masih diselimuti suasana tenang.Beberapa detik, Anindya hanya memandangi langit-langit kamar. Lalu perlahan kenangan semalam kembali memenuhi benaknya. Pipinya langsung memanas. Tanpa sadar, senyum kecil menghiasi bibirnya. Perlahan ia memiringkan tubuh.Di sisi ranjang, Arkana ternyata sudah terbangun sejak beberapa waktu lalu. Laki-laki itu tidak sedang membaca buku ataupun memainkan ponselnya. Ia hanya duduk bersandar di kepala ranjang, memandang Anindya yang masih terlelap sejak tadi.Tatapan Arkana begitu lembut. Begitu damai. Seolah ia tidak ingin melewatkan sedetik pun wajah perempuan yang kini berada di sisinya. Melihat bulu mata Anindya mulai bergerak, senyum tipis langsung menghiasi wajahnya."Morning." Suara Arkana terdengar pelan.Anindya tersenyum malu. "Morning."Belum sempat ia mengatakan apa pun lagi, Arkana
Arkana masih terpaku. Bibir Anindya baru saja meninggalkan bibirnya. Namun laki-laki itu sama sekali belum bergerak.Tatapannya hanya tertuju pada perempuan yang masih duduk di pangkuannya, menatapnya dengan mata yang jernih tanpa sedikit pun penyesalan.Keheningan menyelimuti lorong menuju kamar tamu. Begitu sunyi hingga suara napas mereka terdengar jelas. Anindya mulai merasa gugup. Keberanian yang tadi mendorongnya mencium Arkana perlahan berubah menjadi rasa cemas. Apakah ia terlalu terburu-buru? Apakah ia justru membuat Arkana semakin menjauh?"Arkana..." panggil Anindya lirih.Namun kata-kata itu berhenti di tenggorokannya ketika Arkana perlahan mengangkat tangan. Jemarinya bergerak sangat pelan. Begitu pelan hingga Anindya nyaris tidak merasakannya, seolah Anindya adalah porselain rapuh yang mudah pecah. Ujung jarinya menyentuh pipi perempuan itu. Hangat. Lembut.Arkana seperti sedang memastikan bahwa perempuan di hadapannya benar-benar nyata. Tatapan Arkana mulai berubah. Tak
Malam semakin larut. Rumah keluarga Pratama yang biasanya masih menyisakan kesibukan kini mulai tenggelam dalam keheningan. Sebagian besar lampu telah dipadamkan, menyisakan cahaya hangat dari beberapa sudut koridor.Di ruang keluarga, Arkana dan Anindya masih duduk berdampingan. Setelah tangisan, permintaan maaf, dan pengakuan hati mereka beberapa saat lalu, suasana di antara keduanya berubah begitu banyak.Tidak lagi canggung. Tidak lagi dipenuhi prasangka. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, mereka bisa saling memandang tanpa ada beban yang mengganjal di dada.Arkana tersenyum kecil. "Aku baru sadar...""Apa?""Kita ternyata bisa mengobrol selama ini."Anindya ikut tertawa pelan. "Padahal beberapa hari lalu kita bahkan sama-sama nggak mau bicara.""Berarti kita memang keras kepala.""Kamu lebih keras kepala.""Kamu juga."Anindya tersenyum geli. "Aku belajar dari siapa?"Arkana menggeleng sambil terkekeh pelan. Suasana yang sempat begitu menyesakkan kini perlahan
Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam ketika sebuah mobil hitam perlahan memasuki halaman kediaman keluarga Pratama.Begitu mobil berhenti, salah seorang petugas keamanan langsung mengenali pengemudinya."Nona Anindya?"Anindya tersenyum tipis. "Maaf sudah malam. Apa Arkana masih belum tidur?""Masih, Nona. Tuan Muda ada di ruang keluarga.""Terima kasih."Beberapa menit kemudian, seorang asisten rumah tangga mempersilakan Anindya masuk. Saat itu Arkana sedang sendirian di ruang keluarga, sebuah buku terbuka di pangkuannya. Namun sejak beberapa menit tadi, ia bahkan tidak benar-benar membaca. Pikirannya terus mengembara.Ketika mendengar langkah kaki mendekat, Arkana mengangkat wajah. Begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya... Ia membeku."Anin..." Suara itu terdengar hampir tidak percaya. "Kamu..."Anindya berdiri beberapa langkah di depannya. "Aku boleh masuk?"Arkana baru tersadar. "Iya... tentu."Arkana buru-buru memberi isyarat kepada asisten rumah tangga. "Kam
Rumah keluarga Wijaya terasa begitu sunyi malam itu. Di atas meja kerja, laptop Anindya masih menyala. Lembar demi lembar revisi skripsi terbuka di layar, tetapi sejak hampir satu jam yang lalu, tidak satu pun kalimat berhasil ia baca. Pikirannya terus kembali pada percakapannya dengan Arkana.'Kalau suatu hari nanti kamu berubah pikiran... aku akan melepaskanmu.' Kalimat itu masih terdengar jelas di telinganya. Anindya memejamkan mata. Seminggu telah berlalu sejak mereka bertemu di taman. Selama seminggu itu, Arkana benar-benar menepati janjinya. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan. Tidak ada bunga. Tidak ada kejutan kecil seperti yang biasa dilakukan laki-laki itu.Anindya tahu... Bukan karena Arkana tidak peduli. Justru karena Arkana terlalu menghargai permintaannya. Seharusnya ia merasa lega. Bukankah memang itu yang ia inginkan?Namun anehnya... Semakin lama Arkana tidak muncul, semakin kosong pula perasaannya. Anindya menghela napas panjang."Kenapa jadi begini..."Ia bangkit da
Perayaan lima puluh tahun perusahaan Mahendra berjalan semakin ramai. Musik berganti lebih hangat. Para tamu mulai berpindah dari meja formal ke kelompok-kelompok kecil. Bisnis dibicarakan sambil tersenyum. Aliansi lama diperkuat dengan gelas anggur. Dan gosip sosial mulai bergerak sama cepatnya de
Hari-hari setelah itu bergerak cepat. Terlalu cepat bagi sebagian orang. Namun terlalu lambat bagi yang sedang gelisah.Di Nusantara Academy, banyak siswa mulai terbiasa melihat satu pemandangan baru: Anindya Wijaya di dekat Arkana Pratama. Kadang membawa buku. Kadang membawa camilan. Kadang hanya
Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men
Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-d







