MasukDi kehidupan pertamanya, Anindya baru menyadari ketulusan suami dan anaknya setelah mereka tewas dalam kecelakaan pesawat. Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA—hari pertama bertemu Arkana Pratama. Kali ini, ia tak akan memilih pria yang salah. Ia akan mengejar Arkana, memperbaiki takdir, dan merebut kembali keluarga yang pernah ia sia-siakan.
Lihat lebih banyakSorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera.
“Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!” Riuh tepuk tangan langsung memenuhi ruangan. Semua mata tertuju pada wanita cantik yang duduk di barisan depan. Gaun hitam berpotongan elegan membalut tubuh rampingnya. Rambut panjangnya ditata rapi, senyumnya sempurna, seperti tidak ada satu hal pun di dunia ini yang mampu mengganggunya. Di mata orang lain, Anindya memiliki segalanya. Ia lahir dari keluarga kaya raya. Kariernya berada di puncak, wajahnya selalu menghiasi billboard dan layar televisi. Bahkan suaminya adalah pewaris keluarga konglomerat besar. Hidupnya sempurna. Begitulah yang dipikirkan semua orang. Tak seorang pun tahu bahwa setiap malam Anindya tidur dengan hati kosong. Ia berdiri dan melangkah ke panggung dengan anggun. Kamera mengikuti tiap geraknya. Ia sudah terbiasa dengan kilatan lampu, sorak penonton, dan pujian yang terasa semakin hambar dari tahun ke tahun. Piala emas diletakkan di tangannya. Ia menatap benda itu sesaat. Dulu ia percaya penghargaan seperti ini adalah segalanya. Kini ia tak lagi yakin. “Terima kasih kepada semua orang yang sudah mendukung saya...” ucapnya sambil tersenyum. Namun kalimat itu terputus ketika seseorang berlari dari sisi panggung. “Nona Anin!” Itu Nara, manajernya. Wanita itu pucat, napas terengah, wajahnya penuh air mata. Anindya mengernyit. Siaran ini disaksikan jutaan orang. Nara tak mungkin bertindak seceroboh ini jika bukan sesuatu yang sangat buruk. “Ada apa?” tanyanya pelan. Nara memegang lengannya dengan tangan gemetar. “Pesawat Tuan Arkana... jatuh.” Dunia seolah berhenti. Anindya menatap kosong. “Apa?” “Pesawat pribadi Tuan Arkana Pratama...” suara Nara pecah. “Beliau... bersama Tuan Kecil.” Piala di tangan Anindya jatuh ke lantai marmer. Suara denting keras menggema ke seluruh ballroom. Tubuhnya membeku. Tuan kecil yang dimaksud Nara adalah Arsen. Putranya dengan Arkana yang baru berusia lima tahun. Pagi tadi, bocah kecil itu memeluk lututnya sambil tersenyum malu-malu. 'Mama ikut kami, ya?' Anindya bahkan tidak menoleh dari cermin meja rias dan hanya berkata dengan dingin. “Mama sibuk.” Arsen terdiam. Lalu seseorang datang mendekat. Suara roda kursi menyentuh lantai kayu terdengar pelan. Pria yang duduk di kursi roda itu adalah Arkana Pratama, suaminya. Pria tinggi dengan wajah tampan dingin yang duduk di kursi roda hitam eksklusif. Kakinya tertutup selimut tipis. Tangan kirinya berada di controller kursi roda elektriknya sementara tangan kanan lainnya mengusap kepala putra mereka. “Jangan ganggu mama,” katanya tenang pada Arsen. “Papa saja yang menemanimu.” Ia menatap Anindya sejenak pagi itu. Tatapan yang selalu sulit ia artikan. Arkana tak marah, memang tidak pernah marah padanya. Tak juga memohon. Tak juga kecewa. Hanya tenang... terlalu tenang. Itulah terakhir kali ia melihat mereka. Air mata mulai menggenang di mata Anindya. Kenangan lama menghantam kepalanya tanpa ampun. Kenangan akan hari pernikahan mereka muncul dalam ingatan Anindya. Ia mengenakan gaun putih mewah, wajah dingin seperti es. Di altar, Arkana duduk di kursi roda dengan jas hitam sempurna. Semua tamu membicarakan mereka diam-diam. Putri keluarga Wijaya menikahi pria cacat. Pewaris Pratama Holdings menikah karena skandal. Semua itu bermula dari malam pernikahan Rafael Mahendra—pria yang dulu sangat dicintainya. Karena patah hati, ia mabuk berat. Saat sadar, ia berada di kamar hotel bersama Arkana bersama ingatan akan malam panas yang mereka lalui bersama. Sebulan kemudian, hasil tes kehamilan menunjukkan dua garis merah. Dua keluarga memaksa pernikahan segera dilangsungkan, karena keluarga Pratama membutuhkan penerus dan keluarga Wijaya tidak bisa menanggung malu. Sementara Anindya membenci semuanya. Ia membenci Arkana, membenci kursi rodanya, dan membenci kenyataan bahwa hidupnya terikat pada pria yang tidak ia cintai. Padahal selama lima tahun pernikahan, Arkana tak pernah memaksanya melakukan apa pun. Ia tak pernah menuntut cinta, tak pernah menahan kariernya, tak pernah marah ketika ia pulang dini hari, tak pernah protes ketika ia mengabaikan anak mereka. Ia hanya diam. Selalu diam. Dan kini... Pria itu pergi, bersama anak yang tak pernah ia peluk sepenuh hati. “N... tidak...” bibir Anindya bergetar. Ia mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Lampu panggung terasa berputar, suara orang-orang mulai menjauh. Ia baru sadar sekarang, bahwa yang paling berharga bukan piala ini. Bukan pula sorotan kamera. Apalagi cinta sepihaknya pada Rafael di masa lalu, membuatnya semakin muak kepada dirinya sendiri. Kini Anindya sadar bahwa yang paling berharga justru pria di kursi roda yang selalu menunggunya pulang... dan anak kecil yang selalu memanggilnya mama. Tubuhnya roboh ke lantai, jeritan memenuhi ruangan. Di dalam gelap yang menelan kesadarannya, satu nama keluar dari bibirnya. “Arkana...” Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Anindya berharap diberi satu kesempatan lagi.Selain Tuan Adipati, masih ada satu sosok yang memiliki tempat istimewa dalam kehidupan Arkana. Ranaditya Pratama, kakek dari pihak ayah, adalah seorang purnawirawan jenderal yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya kepada negara. Setelah kedua orang tua Arkana meninggal dunia, ia bersama Tuan Adipati membesarkan Arkana hingga tumbuh menjadi laki-laki seperti sekarang. Hubungan keduanya bukan hanya sebagai sesama kakek yang menyayangi cucu mereka, tetapi juga sebagai dua orang tua yang sama-sama kehilangan anak, lalu memilih berjalan berdampingan demi memastikan Arkana tidak pernah kehilangan arah dalam hidupnya.***Pukul lima pagi. Langit masih diselimuti semburat biru gelap ketika Ranaditya Pratama telah menyelesaikan putaran terakhir jalan kakinya di halaman rumah. Usianya telah melewati tujuh puluh lima tahun. Rambutnya memutih hampir seluruhnya. Garis-garis usia terpahat jelas di wajahnya. Namun tubuhnya masih tegap. Langkahnya mantap. Punggungnya nyaris tak pernah membung
Malam mulai turun ketika Arkana akhirnya menyelesaikan seluruh urusan kuliahnya. Begitu keluar dari gedung fakultas, hal pertama yang dilakukannya adalah mengambil ponsel. Nama Anindya berada di urutan paling atas. Senyum tipis langsung menghiasi wajahnya. Tak lama kemudian, sambungan telepon tersambung."Halo?" Suara Anindya terdengar lembut dari seberang."Lagi sibuk?""Nggak. Baru selesai beresin beberapa catatan.""Kamu?""Baru selesai rapat kelompok.""Oh."Beberapa detik mereka hanya saling mendengar napas satu sama lain. Bahkan keheningan seperti itu terasa nyaman."Anin.""Hm?""Aku mau kasih kabar.""Apa?""Tadi siang aku sempat ditelepon Kakek."Anindya langsung lebih fokus. "Beliau bilang apa?""Beliau menerima usulku.""Usul?""Untuk makan malam bersama."Anindya terdiam."Maksudmu... Kamu, aku, dan Kakek?""Iya."Arkana tersenyum kecil. "Awalnya kupikir hanya Kakek. Tapi... Ternyata beliau ingin mengajak Kakek dari pihak Ayah juga."Kalimat itu membuat Anindya tanpa sadar
Sore itu, Tuan Adipati duduk sendirian di ruang kerjanya. Secangkir teh hangat di atas meja telah lama kehilangan uapnya. Namun lelaki tua itu sama sekali belum berniat menyentuhnya. Pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Arkana beberapa jam sebelumnya."Aku serius dengan Anindya, Kek."Kalimat itu terus terngiang di telinganya. Selama bertahun-tahun, ia belum pernah mendengar cucunya berbicara dengan keyakinan seperti itu tentang siapa pun. Sejak awal, hanya Anindya yang pernah disebut oleh cucunya.Arkana bukan tipe laki-laki yang mudah membuka hati. Karena itulah, Tuan Adipati tidak bisa mengabaikan kesungguhan yang ia dengar dalam suara cucunya. Meski demikian... Keraguan di dalam hatinya belum sepenuhnya menghilang.Ia memang mengakui bahwa Anindya telah banyak membuktikan diri, baik kepada Arkana maupun kepada lingkungan sosial mereka. Perempuan itu juga jauh lebih dewasa dibanding beberapa tahun lalu. Lebih tenang. Lebih santun. Lebih mampu mengendalikan emosinya. Namun pe
Rafael berdiri beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Amplop undangan yang tadi telah berpindah ke tangan Arkana kini tak lagi menjadi pusat perhatiannya. Yang terus memenuhi pikirannya justru pemandangan sederhana di meja makan itu.Anindya yang duduk dengan santai. Arkana yang sesekali mencuri pandang ke arah Anindya tanpa menyadarinya. Dan senyum kecil yang beberapa kali muncul di wajah keduanya. Semuanya tampak begitu... alami. Begitu nyaman. Begitu berbeda dengan hubungan yang selama ini ia jalani bersama Citra."Rafael?" Suara Arkana menyadarkannya."Hm?""Kamu nggak apa-apa?"Rafael tersentak kecil. "Oh... iya. Aku cuma sedikit kepikiran pekerjaan." Ia memaksakan senyum yang bahkan terasa asing bagi dirinya sendiri. "Kalau begitu, aku pamit dulu."Arkana mengangguk sopan. "Terima kasih sudah mengantar undangannya. Sampaikan salamku untuk Paman dan Bibi.""Pasti."Rafael menoleh kepada Anindya. "Sampai ketemu lagi."Anindya membalas dengan senyum sopan. "Iya. Hati-hati
Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-d
Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid
Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d
Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak