author-banner
Nyctus
Nyctus
Author

Nobela ni Nyctus

Memilihmu di Kesempatan Kedua

Memilihmu di Kesempatan Kedua

Di kehidupan pertamanya, Anindya baru menyadari ketulusan suami dan anaknya setelah mereka tewas dalam kecelakaan pesawat. Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA—hari pertama bertemu Arkana Pratama. Kali ini, ia tak akan memilih pria yang salah. Ia akan mengejar Arkana, memperbaiki takdir, dan merebut kembali keluarga yang pernah ia sia-siakan.
Basahin
Chapter: Chapter 96
Suasana ruang makan tetap hening beberapa saat. Tak seorang pun segera melanjutkan pembicaraan. Nyonya Pradikusuma diam-diam memperhatikan suaminya. Beliau mengenal pria itu lebih dari empat puluh tahun. Ketika Tuan Adipati diam selama ini... berarti ia sedang benar-benar mencerna setiap jawaban.Arkana sendiri baru menyadari telapak tangannya sedikit berkeringat. Ia tidak takut pada pertanyaan-pertanyaan kakeknya. Yang ia takutkan adalah... Anindya merasa sedang diadili.Namun saat ia melirik ke samping, gadis itu justru tampak tenang. Masih duduk tegak. Masih memasang senyum yang sopan. Seolah pembicaraan tadi adalah percakapan biasa.Tuan Adipati akhirnya meletakkan garpu dan sendoknya. "Nona Anindya.""Ya, Tuan.""Aku ingin meluruskan satu hal."Anindya mengangguk. "Saya mendengarkan.""Aku tidak pernah mempertanyakan kemampuan keluargamu.""Saya mengerti.""Keluarga Wijaya memiliki nama yang baik. Bisnis keluarga Wijaya juga berkembang dengan sangat baik." Beliau berhenti sejenak
Huling Na-update: 2026-07-05
Chapter: Chapter 95
Suasana ruang tamu terasa hangat. Namun kehangatan itu lebih banyak berasal dari Nyonya Pradikusuma.Beliau sesekali bertanya tentang keluarga Anindya, tentang persiapan kuliah, bahkan memuji pilihan warna gaun yang dikenakan Anindya. Sebaliknya... Tuan Adipati Pradikusuma hampir tidak berbicara.Tuan Adipati hanya mengamati. Mengamati cara Anindya duduk. Cara ia menjawab pertanyaan. Cara ia sesekali menoleh kepada Arkana. Bahkan cara ia mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang menuangkan teh.Tak lama kemudian, kepala pelayan mendekat. "Makan malam sudah siap, Tuan.""Baik."Keempatnya berjalan menuju ruang makan. Meja makan panjang itu sebenarnya mampu menampung lebih dari sepuluh orang. Namun malam itu hanya diisi empat orang.Arkana dan Anindya duduk berdampingan. Di seberang mereka duduk Tuan dan Nyonya Pradikusuma. Makan malam dimulai dengan tenang. Tidak ada pembicaraan berat.Nyonya Pradikusuma lebih banyak bercerita tentang kegiatan berkebunnya. Anindya mendengarkan denga
Huling Na-update: 2026-07-04
Chapter: Chapter 94
Hari yang dijanjikan akhirnya tiba. Menjelang sore, Anindya berdiri di depan cermin kamarnya. Ia memilih gaun sederhana berwarna krem dengan potongan yang anggun. Tidak terlalu mencolok, tetapi juga tidak terlalu santai.Ibunya memperhatikan dari belakang. "Sudah siap?""Hampir.""Ayahmu sudah menunggu di bawah."Anindya mengangguk. Hari ini, ayahnya sendiri yang mengantar sampai gerbang kediaman keluarga Pratama, tempat Arkana telah menunggu untuk menjemputnya menuju kediaman keluarga Pradikusuma.Sebelum turun, Anindya mengambil sebuah pot keramik berwarna putih. Di dalamnya tumbuh satu rumpun anggrek bulan dengan bunga-bunga putih yang sedang mekar sempurna.Ibunya tersenyum. "Memilih bunga?""Iya.""Kenapa anggrek?"Anindya hanya tersenyum tipis. "Rasanya... beliau akan menyukainya."Ibunya mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. "Tidak usah memikirkan bagaimana membuat mereka menyukaimu. Cukup jadi dirimu sendiri.""Baik, Bu."Namun jauh di dalam hati... Anindya tahu alasan sebenar
Huling Na-update: 2026-07-03
Chapter: Chapter 93
Malam itu, setelah Tuan Adipati mengundang Anindya makan malam. Kediaman keluarga Pradikusuma tampak tenang seperti biasanya.Tapi di ruang kerja, Tuan Adipati Pradikusuma duduk sambil memandang halaman belakang yang diterangi lampu taman. Di atas meja masih tergeletak map mengenai Anindya Wijaya.Map itu sudah selesai beliau baca sejak beberapa hari lalu. Namun belum sekali pun beliau membukanya lagi. Karena yang ingin beliau nilai... bukan lagi data.Pintu ruang kerja diketuk pelan."Masuk."Nyonya Pradikusuma masuk sambil membawa dua cangkir teh. "Kamu belum tidur.""Tidak mengantuk."Wanita itu duduk di sofa di seberang suaminya. "Kamu sedang memikirkan cucumu."Bukan pertanyaan. Tuan Adipati mengangguk pelan. "Ya.""Kamu bilang, besok Arkana membawa pacarnya.""Hm.""Lalu?"Tuan Adipati menghela napas pelan. "Anak itu tidak buruk.""Anindya?""Ya.""Kamu sudah menyelidikinya.""Bukan menyelidiki.""Mencari tahu."Nyonya Pradikusuma terkekeh kecil. "Kamu selalu memakai istilah yan
Huling Na-update: 2026-07-02
Chapter: Chapter 92
Beberapa hari kemudian... Kesibukan menjelang masuk kuliah semakin padat. Grup mahasiswa baru mulai ramai. Jadwal orientasi telah dibagikan. Anindya dan Arkana beberapa kali bertemu di kampus untuk menyelesaikan administrasi terakhir.Suasana kampus jauh berbeda dengan sekolah. Gedung-gedung tinggi. Mahasiswa berlalu-lalang tanpa mengenakan seragam. Dosen yang berjalan terburu-buru. Semuanya terasa baru."Rasanya aneh," kata Anindya sambil memandang halaman kampus. "Baru beberapa minggu lalu kita masih pakai seragam SMA."Arkana mengangguk. "Hidup memang cepat berubah."Sore itu, setelah semua urusan administrasi selesai, Arkana mengantar Anindya sampai ke gerbang kampus."Besok masih ada jadwal?" tanya Arkana."Tidak. Kamu?""Ada rapat di perusahaan."Anindya mengangguk. "Penerus perusahaan memang sibuk.""Aku masih belajar.""Kamu rendah hati atau sedang pamer?""Menurutmu?""Dua-duanya."Arkana tersenyum kecil. Senyum yang kini semakin sering muncul jika bersama Anindya.***Malam
Huling Na-update: 2026-07-01
Chapter: Chapter 91
Liburan kelulusan berlalu lebih cepat dari yang dibayangkan. Tanpa terasa, surat-surat dari universitas mulai berdatangan. Jadwal daftar ulang. Pengambilan kartu mahasiswa. Tes kesehatan. Pengenalan kampus. Semua menandakan satu hal. Masa SMA benar-benar telah berakhir dan babak baru akan segera dimulai.***Suatu siang, Arkana dan Anindya bertemu di sebuah kafe yang tidak jauh dari kampus tempat mereka akan kuliah.Di atas meja berserakan map berisi dokumen. Fotokopi ijazah. Pas foto. Bukti pembayaran. Hingga daftar perlengkapan yang harus dipersiapkan sebelum masa orientasi.Anindya menghela napas panjang. "Aku baru sadar... masuk kuliah ternyata banyak sekali berkas."Arkana menyesap kopinya. "Lebih baik sekarang daripada nanti.""Aku kira setelah lolos ujian semuanya selesai.""Itu baru awal."Anindya mengerucutkan bibir. "Kamu menyebalkan.""Aku hanya realistis."Mereka kembali memeriksa daftar dokumen. Sesekali saling mengingatkan jika ada berkas yang belum lengkap. Hubungan mer
Huling Na-update: 2026-06-30
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status