Share

Chapter 93

Penulis: Nyctus
last update Tanggal publikasi: 2026-07-02 22:07:38

Malam itu, setelah Tuan Adipati mengundang Anindya makan malam. Kediaman keluarga Pradikusuma tampak tenang seperti biasanya.

Tapi di ruang kerja, Tuan Adipati Pradikusuma duduk sambil memandang halaman belakang yang diterangi lampu taman. Di atas meja masih tergeletak map mengenai Anindya Wijaya.

Map itu sudah selesai beliau baca sejak beberapa hari lalu. Namun belum sekali pun beliau membukanya lagi. Karena yang ingin beliau nilai... bukan lagi data.

Pintu ruang kerja diketuk pelan.

"Masuk."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 123

    Sore itu, kediaman Tuan Adipati tampak sedikit lebih ramai dari biasanya. Para pelayan hilir mudik mempersiapkan ruang makan. Aroma masakan yang baru selesai dimasak memenuhi setiap sudut rumah, sementara meja makan panjang telah ditata rapi dengan peralatan makan terbaik.Di halaman depan, sebuah sedan hitam perlahan memasuki pelataran. Seorang pelayan segera membukakan pintu.Ranaditya Pratama turun dari mobil dengan langkah tenang. Jas berwarna abu-abu gelap yang dikenakannya terlihat sederhana, tetapi tetap memancarkan wibawa yang sulit dijelaskan."Selamat sore, Pak Ranaditya."Ranaditya menganggukkan kepala. "Sore."Belum sempat pelayan mempersilahkannya masuk, pintu utama telah terbuka lebih dahulu. Tuan Adipati berjalan keluar bersama istrinya, menyambut tamu yang telah mereka kenal selama puluhan tahun itu."Selamat datang, Ditya."Sudut bibir Ranaditya terangkat tipis. "Sudah lama kau tidak menyambutku sampai ke depan pintu."Tuan Adipati terkekeh pelan. "Kalau bukan hari in

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 122

    Selain Tuan Adipati, masih ada satu sosok yang memiliki tempat istimewa dalam kehidupan Arkana. Ranaditya Pratama, kakek dari pihak ayah, adalah seorang purnawirawan jenderal yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya kepada negara. Setelah kedua orang tua Arkana meninggal dunia, ia bersama Tuan Adipati membesarkan Arkana hingga tumbuh menjadi laki-laki seperti sekarang. Hubungan keduanya bukan hanya sebagai sesama kakek yang menyayangi cucu mereka, tetapi juga sebagai dua orang tua yang sama-sama kehilangan anak, lalu memilih berjalan berdampingan demi memastikan Arkana tidak pernah kehilangan arah dalam hidupnya.***Pukul lima pagi. Langit masih diselimuti semburat biru gelap ketika Ranaditya Pratama telah menyelesaikan putaran terakhir jalan kakinya di halaman rumah. Usianya telah melewati tujuh puluh lima tahun. Rambutnya memutih hampir seluruhnya. Garis-garis usia terpahat jelas di wajahnya. Namun tubuhnya masih tegap. Langkahnya mantap. Punggungnya nyaris tak pernah membung

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 121

    Malam mulai turun ketika Arkana akhirnya menyelesaikan seluruh urusan kuliahnya. Begitu keluar dari gedung fakultas, hal pertama yang dilakukannya adalah mengambil ponsel. Nama Anindya berada di urutan paling atas. Senyum tipis langsung menghiasi wajahnya. Tak lama kemudian, sambungan telepon tersambung."Halo?" Suara Anindya terdengar lembut dari seberang."Lagi sibuk?""Nggak. Baru selesai beresin beberapa catatan.""Kamu?""Baru selesai rapat kelompok.""Oh."Beberapa detik mereka hanya saling mendengar napas satu sama lain. Bahkan keheningan seperti itu terasa nyaman."Anin.""Hm?""Aku mau kasih kabar.""Apa?""Tadi siang aku sempat ditelepon Kakek."Anindya langsung lebih fokus. "Beliau bilang apa?""Beliau menerima usulku.""Usul?""Untuk makan malam bersama."Anindya terdiam."Maksudmu... Kamu, aku, dan Kakek?""Iya."Arkana tersenyum kecil. "Awalnya kupikir hanya Kakek. Tapi... Ternyata beliau ingin mengajak Kakek dari pihak Ayah juga."Kalimat itu membuat Anindya tanpa sadar

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 120

    Sore itu, Tuan Adipati duduk sendirian di ruang kerjanya. Secangkir teh hangat di atas meja telah lama kehilangan uapnya. Namun lelaki tua itu sama sekali belum berniat menyentuhnya. Pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Arkana beberapa jam sebelumnya."Aku serius dengan Anindya, Kek."Kalimat itu terus terngiang di telinganya. Selama bertahun-tahun, ia belum pernah mendengar cucunya berbicara dengan keyakinan seperti itu tentang siapa pun. Sejak awal, hanya Anindya yang pernah disebut oleh cucunya.Arkana bukan tipe laki-laki yang mudah membuka hati. Karena itulah, Tuan Adipati tidak bisa mengabaikan kesungguhan yang ia dengar dalam suara cucunya. Meski demikian... Keraguan di dalam hatinya belum sepenuhnya menghilang.Ia memang mengakui bahwa Anindya telah banyak membuktikan diri, baik kepada Arkana maupun kepada lingkungan sosial mereka. Perempuan itu juga jauh lebih dewasa dibanding beberapa tahun lalu. Lebih tenang. Lebih santun. Lebih mampu mengendalikan emosinya. Namun pe

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 119

    Rafael berdiri beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Amplop undangan yang tadi telah berpindah ke tangan Arkana kini tak lagi menjadi pusat perhatiannya. Yang terus memenuhi pikirannya justru pemandangan sederhana di meja makan itu.Anindya yang duduk dengan santai. Arkana yang sesekali mencuri pandang ke arah Anindya tanpa menyadarinya. Dan senyum kecil yang beberapa kali muncul di wajah keduanya. Semuanya tampak begitu... alami. Begitu nyaman. Begitu berbeda dengan hubungan yang selama ini ia jalani bersama Citra."Rafael?" Suara Arkana menyadarkannya."Hm?""Kamu nggak apa-apa?"Rafael tersentak kecil. "Oh... iya. Aku cuma sedikit kepikiran pekerjaan." Ia memaksakan senyum yang bahkan terasa asing bagi dirinya sendiri. "Kalau begitu, aku pamit dulu."Arkana mengangguk sopan. "Terima kasih sudah mengantar undangannya. Sampaikan salamku untuk Paman dan Bibi.""Pasti."Rafael menoleh kepada Anindya. "Sampai ketemu lagi."Anindya membalas dengan senyum sopan. "Iya. Hati-hati

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 118

    Pagi itu, suasana kediaman keluarga Pratama terasa jauh lebih hidup. Sinar matahari yang masuk melalui jendela besar ruang makan memberikan kehangatan yang berbeda.Anindya duduk berhadapan dengan Arkana. Rambutnya masih sedikit lembap setelah mandi. Beberapa helai rambut yang belum benar-benar kering jatuh di bahunya, membuat penampilannya terlihat sederhana, tetapi justru semakin anggun.Arkana diam-diam beberapa kali mencuri pandang. Melihat itu, Anindya mengangkat sebelah alis."Apa?"Arkana langsung menggeleng. "Nggak.""Nggak apa?""Nggak apa-apa."Anindya tersenyum geli. "Kamu dari tadi lihat aku terus.""Aku lagi memastikan.""Memastikan apa?""Kalau semalam benar-benar terjadi."Pipi Anindya langsung memerah. "Arkana!"Laki-laki itu terkekeh pelan. "Maaf. Tapi aku memang masih merasa seperti mimpi."Anindya menunduk malu sambil menyibukkan diri mengaduk teh hangat di depannya. Melihat reaksinya, senyum Arkana semakin lebar.Entah mengapa, pagi itu ia merasa jauh lebih ringan.

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 3

    Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 2

    Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 1

    Sorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera. “Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!” R

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 56

    Perayaan lima puluh tahun perusahaan Mahendra berjalan semakin ramai. Musik berganti lebih hangat. Para tamu mulai berpindah dari meja formal ke kelompok-kelompok kecil. Bisnis dibicarakan sambil tersenyum. Aliansi lama diperkuat dengan gelas anggur. Dan gosip sosial mulai bergerak sama cepatnya de

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status