Share

Chapter 2

Author: Nyctus
last update publish date: 2026-04-25 21:10:46

Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.

Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia.

Anindya membuka matanya, ia mengerjap pelan, lalu langsung menegakkan tubuh. Ini bukan ballroom, bukan lantai panggung tempat ia pingsan, bukan juga kamar rumah sakit. Jadi di mana dia?

Sebelum Anindya sempat mencari-cari, di hadapannya berdiri gerbang megah bertuliskan Nusantara Academy, sekolah elit tempat anak-anak keluarga terpandang menempuh pendidikan.

Deretan mobil mewah berhenti di depan halaman. Para siswa mengenakan seragam rapi, berbicara dalam kelompok-kelompok kecil sambil sesekali melirik ke arahnya. Anindya menunduk menatap dirinya sendiri. Ia memakai blazer sekolah biru tua dengan rok lipit selutut dan tas tangan putih yang dulu sangat ia sukai.

Tangannya gemetar. Rasa bingung melanda dirinya. Ini.... Di mana dia? Tahun berapa ini? Anindya melihat HP yang ada di kantong seragamnya. Tahun 2015.

Anindya terkejut, apakah ia benar-benar kembali? Apakah ini mimpi? Anindya mencubit pipinya sendiri.

"Ouch..." Sakit, berarti ini bukan mimpi, bukan halusinasi.

Anindya kembali ke masa lalu. Jantungnya berdegup sangat cepat. Ingatan tentang kecelakaan pesawat, wajah kecil Arsen, dan tatapan tenang Arkana beberapa jam lalu masih terasa nyata seperti luka terbuka. Air matanya hampir jatuh.

Arkana masih hidup. Sementata Arsen... belum lahir. Masih ada waktu, masih ada kesempatan. Anindya masih bisa memperbaiki semuanya.

Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Hari ini... Anindya mengingat hari ini. Hari pertama semester baru kelas sebelas. Hari yang dulu tidak berarti apa-apa baginya, namun sekarang ia ingat dengan sangat jelas.

Hari ini adalah hari ketika Arkana Pratama pindah ke Nusantara Academy dan hari ketika semua kesalahpahaman pertama kali dimulai.

“Anin!”

Suara seorang teman memanggil dari kejauhan, tetapi Anindya tidak sempat menoleh. Tiba-tiba seseorang menabrak bahunya cukup keras.

“Ah!”

Tubuh kecil seorang gadis terhuyung ke samping, lalu jatuh ke lantai dengan gerakan terlalu dramatis. Buku-bukunya berserakan. Bibirnya bergetar, matanya langsung berkaca-kaca. Anindya membeku. Wajah itu, wajah yang dulu terlihat polos dan tak berbahaya.

Citra Lestari.

Di kehidupan pertama, gadis inilah yang perlahan meracuni pandangan Rafael terhadap dirinya. Setiap kejadian kecil dibuat seolah Anindya penjahat. Setiap benturan dibuat seolah Anindya menindas orang miskin. Sementara ia, si bodoh, selalu terpancing emosi.

“Anindya...” suara Citra bergetar manis. “Maaf... aku tidak sengaja...”

Padahal jelas-jelas gadis itu yang sengaja mengarahkan tubuhnya. Anindya hanya menatap datar. Dulu, ia akan langsung membentak. Tapi tidak hari ini. Hari ini ia hanya merasa jijik.

“Anindya!”

Suara laki-laki penuh amarah terdengar dari belakang. Seorang siswa tinggi dengan wajah tampan berlari cepat menghampiri mereka.

Namanya Rafael Mahendra. Cinta pertama yang dulu ia kejar selama bertahun-tahun. Pria yang selalu ia pikir sempurna. Kini, ketika melihatnya lagi, Anindya hanya merasa hambar.

Rafael membantu Citra berdiri dengan gerakan hati-hati, lalu menatap Anindya dengan mata tajam.

“Kau keterlaluan.”

Beberapa siswa mulai berkerumun.

“Apa maksudmu?” tanya Anindya tenang.

“Kau selalu merasa bisa melakukan apa saja karena keluargamu kaya.” Rafael mengepalkan tangan. “Menindas orang lain menyenangkan bagimu?”

Bisik-bisik langsung menyebar.

“Kasihan Citra...”

“Anindya memang galak, kan?”

“Parah banget.”

Anindya nyaris tertawa. Kalimat yang sama. Nada yang sama. Hari yang sama. Dulu, di momen ini, ia menangis dan menjelaskan panjang lebar. Ia mencoba membela diri, lalu berakhir makin dipermalukan.

Sekarang?

Ia sudah hidup terlalu lama untuk peduli pada drama anak sekolah.

“Kau selesai bicara?” tanyanya dingin.

Rafael terdiam sesaat, jelas tak menyangka reaksi itu. Citra buru-buru menarik lengan Rafael.

“Rafael, jangan marah... mungkin Anindya tidak sengaja...”

Nada lembut dan mata berair. Harus diakui, Citra adalah aktris hebat. Anindya menatap gadis itu sebentar, lalu mengalihkan pandangan seolah tak penting. Citra diabaikan total. Wajah Citra menegang sepersekian detik. Lalu suara roda menyentuh lantai batu terdengar dari arah gerbang.

Kerumunan mendadak hening, semua siswa menoleh. Sebuah kursi roda hitam bergerak perlahan memasuki halaman sekolah, didorong seorang pria paruh baya berseragam sopir. Duduk di sana seorang siswa laki-laki dengan seragam yang dikenakan sempurna. Wajahnya tampan tajam, rahang tegas, mata gelap tanpa emosi.

Arkana Pratama.

Napas Anindya tercekat. Ia tahu wajah itu. Ia pernah melihat wajah itu tertidur di sofa ruang kerja saat menunggunya pulang. Ia pernah melihat wajah itu pucat di rumah sakit saat demam namun tetap menyuruh pengasuh menjaga Arsen. Ia pernah melihat wajah itu terakhir kali pagi tadi. Arkana, suaminya... Masih hidup.

Namun melihat Arkana muda seperti ini membuat dadanya sesak. Arkana yang dingin, jauh, dan masih belum terluka karena dirinya.

Rafael langsung memanggil, “Arkana! Kau datang tepat waktu. Lihat apa yang dilakukan Anindya pada Citra.”

Arkana tidak menjawab. Tatapannya bergerak perlahan ke arah Citra, lalu ke buku-buku yang tersebar dan posisi tubuh Anindya. Lalu tatapannya kembali ke Rafael. Semuanya hanya dalam beberapa detik.

Akhirnya ia berkata datar, “Kalau dia mendorongmu, kau jatuh ke belakang.”

Seluruh suara berhenti, keadaan mendadak sunyi. Citra memucat. Arkana melanjutkan dengan nada tenang yang justru lebih tajam dari bentakan.

“Kau jatuh ke samping.”

Beberapa siswa saling berpandangan. Rafael mengerutkan kening. “Maksudmu apa?”

“Maksudku,” Arkana menatap sahabatnya lurus, “berhenti memaki orang hanya karena kau ingin percaya satu sisi cerita.”

Wajah Rafael berubah kaku. Tak ada yang berani bicara. Arkana lalu menoleh ke arah Anindya. Tatapan mereka bertemu untuk pertama kali dalam kehidupan keduanya.

Kali ini, tak ada cinta di mata pria itu, tak ada kelembutan. Pandangannya hanya berisi ketenangan dingin dan sedikit rasa ingin tahu. Namun itu cukup membuat mata Anindya panas.

Di kehidupan pertama, pria ini selalu membelanya diam-diam, namun ia membalasnya dengan kebencian. Tapi tidak kali ini. Tidak akan pernah lagi.

Anindya melangkah mendekat. Semua orang menahan napas. Ia berhenti tepat di depan Arkana, lalu tersenyum pelan.

“Terima kasih sudah membelaku.”

Arkana mengangkat alis tipis.

“Aku hanya tidak suka kebodohan.”

Jawaban kasar itu justru membuat dada Anindya hangat.

Ya. Ini Arkana yang ia kenal. Arkana yang dingin, tajam, dan terlalu jujur. Ia menunduk sedikit agar sejajar dengan wajah pria itu.

“Kalau begitu,” bisiknya pelan, “mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.”

Untuk pertama kalinya sejak datang ke sekolah itu, ekspresi Arkana retak dan untuk pertama kalinya, Anindya melihat harapan di masa depannya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 111

    Sudah dua hari sejak pertengkaran mereka di taman kampus. Dua hari. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka resmi berpacaran, Anindya benar-benar tidak menghubungi Arkana.Tidak ada pesan selamat pagi. Tidak ada foto makanan yang biasa ia kirim saat makan siang. Tidak ada pertanyaan sederhana seperti, 'Sudah makan?' atau 'Kuliahmu selesai jam berapa?'Semuanya menghilang. Arkana berkali-kali membuka layar ponselnya. Kotak percakapan mereka tetap menjadi yang paling atas. Namun tidak ada pesan baru. Ia beberapa kali ingin mengetik sesuatu.'Maaf.''Apa kita bisa bicara?''Aku jemput pulang?'Semua kalimat itu ditulis. Lalu dihapus kembali. Hingga akhirnya, pada malam kedua, Arkana menyadari satu hal. Jika ia terus diam, jurang di antara mereka hanya akan semakin lebar. Ia menarik napas panjang. Lalu menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar.Sekali.Dua kali.Tiga kali."...Halo."Suara Anindya terdengar pelan. Tidak dingin. Namun juga tidak sehangat biasanya."Anin...""Ada apa?"

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 110

    Sejak percakapan antara Arkana dengan Tuan Adipati beberapa hari yang lalu, ada sesuatu yang berubah pada diri Arkana.Perubahannya tidak besar. Bahkan mungkin tidak akan disadari oleh orang lain. Namun bagi Anindya... Perubahan sekecil apa pun pada Arkana hampir tidak pernah luput dari perhatiannya.Arkana masih menghubunginya setiap pagi. Masih menjemputnya ke kampus dengan sopir keluarga Pratama. Masih menemaninya makan siang ketika jadwal kuliah mereka bertemu. Masih mengantar pulang seperti biasa. Semuanya tetap sama. Setidaknya di permukaan. Namun, Arkana menjadi jauh lebih pendiam.Ketika Anindya bercerita tentang dosen yang tiba-tiba memberi revisi tambahan, Arkana tetap mendengarkan, tetapi jawabannya hanya singkat."Hm.""Iya.""Bagus."Sesekali ia tersenyum. Tetapi senyumnya tidak lagi benar-benar sampai ke matanya.Anindya mencoba mengabaikannya. Mungkin Arkana sedang lelah. Mungkin tugas akhirnya sedang menumpuk. Mungkin ada masalah di perusahaan keluarga.Anindya tidak i

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 109

    Beberapa hari setelah menghadiri jamuan makan malam bersama para rekan bisnis dan bertemu dengan Rafael, Tuan Adipati Pradikusuma kembali mengunjungi kediaman keluarga Pratama.Kunjungannya kali ini bukan untuk urusan perusahaan. Ia hanya ingin bertemu dengan cucunya. Arkana yang sedang berada di ruang baca segera menghentikan pekerjaannya begitu mendengar kedatangan sang kakek."Kakek."Tuan Adipati mengangguk pelan. "Masih sibuk?""Sedikit. Tugas akhir sudah hampir selesai.""Bagus."Keduanya kemudian berpindah ke ruang keluarga. Seperti biasa, pelayan menghidangkan teh hangat dan beberapa kudapan sederhana sebelum meninggalkan mereka berdua.Tuan Adipati tidak langsung membuka tujuan kedatangannya. Beliau lebih dulu menanyakan perkembangan kuliah Arkana, tugas akhirnya, hingga rencana memasuki Grup Pratama setelah wisuda nanti.Arkana menjawab satu per satu dengan tenang. Semua berjalan sesuai rencana. Ia dan Anindya tinggal menyelesaikan beberapa mata kuliah terakhir sebelum resmi

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 108

    Beberapa hari setelah reuni, Rafael menghadiri sebuah jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh salah satu mitra bisnis keluarga Mahendra.Acara itu dipenuhi para pengusaha, komisaris, dan keluarga-keluarga besar yang telah lama saling mengenal. Sebagai putra keluarga Mahendra, Rafael memang beberapa kali mulai diminta ayahnya menghadiri acara seperti ini."Belajar mengenal orang-orang penting," begitu kata ayahnya.Rafael tidak terlalu menikmati acara semacam itu. Baginya, percakapan mengenai bisnis jauh lebih membosankan dibanding menghadiri presentasi kuliah. Namun sebagai penerus keluarga, ia tidak memiliki banyak pilihan.Setelah menyapa beberapa tamu, pandangannya tiba-tiba berhenti pada seorang pria tua berambut putih yang sedang berbincang dengan beberapa pengusaha. Posturnya masih tegap. Tatapannya tajam. Meski usianya tidak lagi muda, wibawanya tetap terasa begitu kuat.Rafael langsung mengenalinya. Tuan Adipati Pradikusuma. Kakek dari pihak ibu Arkana.Rafael menarik nap

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 107

    Malam telah larut ketika Rafael akhirnya tiba di apartemennya. Setelah kuliah, Rafael memang memutuskan untuk tinggal sendiri. Ingin merasakan mandiri, alasannya dulu. Padahal, Rafael hanya tidak ingin merasa diawasi oleh orang tuanya. Terlebih karena hubungannya dengan Citra yang masih ditentang oleh orang tuanya. Rafael melepaskan jas tipis yang dikenakannya, lalu menjatuhkannya begitu saja ke atas sofa. Ruangan itu sunyi. Biasanya, setelah mengantar Citra pulang, ia akan langsung mandi lalu tidur. Namun malam ini berbeda.Entah mengapa, pikirannya justru kembali ke acara reuni yang baru saja selesai beberapa jam lalu. Rafael mengembuskan napas panjang. Bayangan teman-teman sekelas mereka satu per satu bermunculan di kepalanya.Lina yang tetap cerewet. Teman-teman yang masih tetap berisik dan bersemangat dengan gosip. Dan... Anindya.Rafael memejamkan mata. Ia masih ingat jelas saat melihat Anindya di restoran bersama Arkana. Selama bertahun-tahun mereka tidak benar-benar bertemu.

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 106

    Malam itu, setelah mengucapkan selamat malam kepada Arkana, Anindya berjalan menuju kamarnya dengan langkah pelan. Rumah keluarga Wijaya sudah mulai sunyi. Ia meletakkan tas di atas sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang.Entah mengapa, pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang terjadi selama reuni. Namun, yang paling mengganggunya justru bukan Rafael. Melainkan Arkana.Anindya menghela napas pelan. Beberapa tahun terakhir, hubungan mereka berjalan begitu baik. Mereka hampir tidak pernah bertengkar. Jarang salah paham. Bahkan jika ada perbedaan pendapat, semuanya selalu selesai melalui percakapan yang tenang.Di mata siapa pun, mereka adalah pasangan yang nyaris sempurna. Namun... Anindya menyadari ada satu hal yang tidak pernah berubah sejak mereka resmi berpacaran.Arkana selalu menjaga jarak. Bukan jarak emosional. Justru sebaliknya. Arkana selalu ada ketika ia membutuhkan. Selalu mendengarkan. Selalu mengutamakan dirinya.Namun, ketika hubungan mereka mulai mengarah pad

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 7

    Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 6

    Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 5

    Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 4

    Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status