Share

Chapter 109

Penulis: Nyctus
last update Tanggal publikasi: 2026-07-18 15:54:15

Beberapa hari setelah menghadiri jamuan makan malam bersama para rekan bisnis dan bertemu dengan Rafael, Tuan Adipati Pradikusuma kembali mengunjungi kediaman keluarga Pratama.

Kunjungannya kali ini bukan untuk urusan perusahaan. Ia hanya ingin bertemu dengan cucunya. Arkana yang sedang berada di ruang baca segera menghentikan pekerjaannya begitu mendengar kedatangan sang kakek.

"Kakek."

Tuan Adipati mengangguk pelan. "Masih sibuk?"

"Sedikit. Tugas akhir sudah hampir selesai."

"Bagus."

Keduanya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 119

    Rafael berdiri beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Amplop undangan yang tadi telah berpindah ke tangan Arkana kini tak lagi menjadi pusat perhatiannya. Yang terus memenuhi pikirannya justru pemandangan sederhana di meja makan itu.Anindya yang duduk dengan santai. Arkana yang sesekali mencuri pandang ke arah Anindya tanpa menyadarinya. Dan senyum kecil yang beberapa kali muncul di wajah keduanya. Semuanya tampak begitu... alami. Begitu nyaman. Begitu berbeda dengan hubungan yang selama ini ia jalani bersama Citra."Rafael?" Suara Arkana menyadarkannya."Hm?""Kamu nggak apa-apa?"Rafael tersentak kecil. "Oh... iya. Aku cuma sedikit kepikiran pekerjaan." Ia memaksakan senyum yang bahkan terasa asing bagi dirinya sendiri. "Kalau begitu, aku pamit dulu."Arkana mengangguk sopan. "Terima kasih sudah mengantar undangannya. Sampaikan salamku untuk Paman dan Bibi.""Pasti."Rafael menoleh kepada Anindya. "Sampai ketemu lagi."Anindya membalas dengan senyum sopan. "Iya. Hati-hati

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 118

    Pagi itu, suasana kediaman keluarga Pratama terasa jauh lebih hidup. Sinar matahari yang masuk melalui jendela besar ruang makan memberikan kehangatan yang berbeda.Anindya duduk berhadapan dengan Arkana. Rambutnya masih sedikit lembap setelah mandi. Beberapa helai rambut yang belum benar-benar kering jatuh di bahunya, membuat penampilannya terlihat sederhana, tetapi justru semakin anggun.Arkana diam-diam beberapa kali mencuri pandang. Melihat itu, Anindya mengangkat sebelah alis."Apa?"Arkana langsung menggeleng. "Nggak.""Nggak apa?""Nggak apa-apa."Anindya tersenyum geli. "Kamu dari tadi lihat aku terus.""Aku lagi memastikan.""Memastikan apa?""Kalau semalam benar-benar terjadi."Pipi Anindya langsung memerah. "Arkana!"Laki-laki itu terkekeh pelan. "Maaf. Tapi aku memang masih merasa seperti mimpi."Anindya menunduk malu sambil menyibukkan diri mengaduk teh hangat di depannya. Melihat reaksinya, senyum Arkana semakin lebar.Entah mengapa, pagi itu ia merasa jauh lebih ringan.

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 117

    Hangat. Itulah hal pertama yang dirasakan Anindya ketika perlahan membuka matanya. Sinar matahari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai, menerangi kamar yang masih diselimuti suasana tenang.Beberapa detik, Anindya hanya memandangi langit-langit kamar. Lalu perlahan kenangan semalam kembali memenuhi benaknya. Pipinya langsung memanas. Tanpa sadar, senyum kecil menghiasi bibirnya. Perlahan ia memiringkan tubuh.Di sisi ranjang, Arkana ternyata sudah terbangun sejak beberapa waktu lalu. Laki-laki itu tidak sedang membaca buku ataupun memainkan ponselnya. Ia hanya duduk bersandar di kepala ranjang, memandang Anindya yang masih terlelap sejak tadi.Tatapan Arkana begitu lembut. Begitu damai. Seolah ia tidak ingin melewatkan sedetik pun wajah perempuan yang kini berada di sisinya. Melihat bulu mata Anindya mulai bergerak, senyum tipis langsung menghiasi wajahnya."Morning." Suara Arkana terdengar pelan.Anindya tersenyum malu. "Morning."Belum sempat ia mengatakan apa pun lagi, Arkana

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 116

    Arkana masih terpaku. Bibir Anindya baru saja meninggalkan bibirnya. Namun laki-laki itu sama sekali belum bergerak.Tatapannya hanya tertuju pada perempuan yang masih duduk di pangkuannya, menatapnya dengan mata yang jernih tanpa sedikit pun penyesalan.Keheningan menyelimuti lorong menuju kamar tamu. Begitu sunyi hingga suara napas mereka terdengar jelas. Anindya mulai merasa gugup. Keberanian yang tadi mendorongnya mencium Arkana perlahan berubah menjadi rasa cemas. Apakah ia terlalu terburu-buru? Apakah ia justru membuat Arkana semakin menjauh?"Arkana..." panggil Anindya lirih.Namun kata-kata itu berhenti di tenggorokannya ketika Arkana perlahan mengangkat tangan. Jemarinya bergerak sangat pelan. Begitu pelan hingga Anindya nyaris tidak merasakannya, seolah Anindya adalah porselain rapuh yang mudah pecah. Ujung jarinya menyentuh pipi perempuan itu. Hangat. Lembut.Arkana seperti sedang memastikan bahwa perempuan di hadapannya benar-benar nyata. Tatapan Arkana mulai berubah. Tak

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 115

    Malam semakin larut. Rumah keluarga Pratama yang biasanya masih menyisakan kesibukan kini mulai tenggelam dalam keheningan. Sebagian besar lampu telah dipadamkan, menyisakan cahaya hangat dari beberapa sudut koridor.Di ruang keluarga, Arkana dan Anindya masih duduk berdampingan. Setelah tangisan, permintaan maaf, dan pengakuan hati mereka beberapa saat lalu, suasana di antara keduanya berubah begitu banyak.Tidak lagi canggung. Tidak lagi dipenuhi prasangka. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, mereka bisa saling memandang tanpa ada beban yang mengganjal di dada.Arkana tersenyum kecil. "Aku baru sadar...""Apa?""Kita ternyata bisa mengobrol selama ini."Anindya ikut tertawa pelan. "Padahal beberapa hari lalu kita bahkan sama-sama nggak mau bicara.""Berarti kita memang keras kepala.""Kamu lebih keras kepala.""Kamu juga."Anindya tersenyum geli. "Aku belajar dari siapa?"Arkana menggeleng sambil terkekeh pelan. Suasana yang sempat begitu menyesakkan kini perlahan

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 114

    Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam ketika sebuah mobil hitam perlahan memasuki halaman kediaman keluarga Pratama.Begitu mobil berhenti, salah seorang petugas keamanan langsung mengenali pengemudinya."Nona Anindya?"Anindya tersenyum tipis. "Maaf sudah malam. Apa Arkana masih belum tidur?""Masih, Nona. Tuan Muda ada di ruang keluarga.""Terima kasih."Beberapa menit kemudian, seorang asisten rumah tangga mempersilakan Anindya masuk. Saat itu Arkana sedang sendirian di ruang keluarga, sebuah buku terbuka di pangkuannya. Namun sejak beberapa menit tadi, ia bahkan tidak benar-benar membaca. Pikirannya terus mengembara.Ketika mendengar langkah kaki mendekat, Arkana mengangkat wajah. Begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya... Ia membeku."Anin..." Suara itu terdengar hampir tidak percaya. "Kamu..."Anindya berdiri beberapa langkah di depannya. "Aku boleh masuk?"Arkana baru tersadar. "Iya... tentu."Arkana buru-buru memberi isyarat kepada asisten rumah tangga. "Kam

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 56

    Perayaan lima puluh tahun perusahaan Mahendra berjalan semakin ramai. Musik berganti lebih hangat. Para tamu mulai berpindah dari meja formal ke kelompok-kelompok kecil. Bisnis dibicarakan sambil tersenyum. Aliansi lama diperkuat dengan gelas anggur. Dan gosip sosial mulai bergerak sama cepatnya de

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 40

    Hari-hari setelah itu bergerak cepat. Terlalu cepat bagi sebagian orang. Namun terlalu lambat bagi yang sedang gelisah.Di Nusantara Academy, banyak siswa mulai terbiasa melihat satu pemandangan baru: Anindya Wijaya di dekat Arkana Pratama. Kadang membawa buku. Kadang membawa camilan. Kadang hanya

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 7

    Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 1

    Sorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera. “Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!” R

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status