LOGINSejak percakapan antara Arkana dengan Tuan Adipati beberapa hari yang lalu, ada sesuatu yang berubah pada diri Arkana.Perubahannya tidak besar. Bahkan mungkin tidak akan disadari oleh orang lain. Namun bagi Anindya... Perubahan sekecil apa pun pada Arkana hampir tidak pernah luput dari perhatiannya.Arkana masih menghubunginya setiap pagi. Masih menjemputnya ke kampus dengan sopir keluarga Pratama. Masih menemaninya makan siang ketika jadwal kuliah mereka bertemu. Masih mengantar pulang seperti biasa. Semuanya tetap sama. Setidaknya di permukaan. Namun, Arkana menjadi jauh lebih pendiam.Ketika Anindya bercerita tentang dosen yang tiba-tiba memberi revisi tambahan, Arkana tetap mendengarkan, tetapi jawabannya hanya singkat."Hm.""Iya.""Bagus."Sesekali ia tersenyum. Tetapi senyumnya tidak lagi benar-benar sampai ke matanya.Anindya mencoba mengabaikannya. Mungkin Arkana sedang lelah. Mungkin tugas akhirnya sedang menumpuk. Mungkin ada masalah di perusahaan keluarga.Anindya tidak i
Beberapa hari setelah menghadiri jamuan makan malam bersama para rekan bisnis dan bertemu dengan Rafael, Tuan Adipati Pradikusuma kembali mengunjungi kediaman keluarga Pratama.Kunjungannya kali ini bukan untuk urusan perusahaan. Ia hanya ingin bertemu dengan cucunya. Arkana yang sedang berada di ruang baca segera menghentikan pekerjaannya begitu mendengar kedatangan sang kakek."Kakek."Tuan Adipati mengangguk pelan. "Masih sibuk?""Sedikit. Tugas akhir sudah hampir selesai.""Bagus."Keduanya kemudian berpindah ke ruang keluarga. Seperti biasa, pelayan menghidangkan teh hangat dan beberapa kudapan sederhana sebelum meninggalkan mereka berdua.Tuan Adipati tidak langsung membuka tujuan kedatangannya. Beliau lebih dulu menanyakan perkembangan kuliah Arkana, tugas akhirnya, hingga rencana memasuki Grup Pratama setelah wisuda nanti.Arkana menjawab satu per satu dengan tenang. Semua berjalan sesuai rencana. Ia dan Anindya tinggal menyelesaikan beberapa mata kuliah terakhir sebelum resmi
Beberapa hari setelah reuni, Rafael menghadiri sebuah jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh salah satu mitra bisnis keluarga Mahendra.Acara itu dipenuhi para pengusaha, komisaris, dan keluarga-keluarga besar yang telah lama saling mengenal. Sebagai putra keluarga Mahendra, Rafael memang beberapa kali mulai diminta ayahnya menghadiri acara seperti ini."Belajar mengenal orang-orang penting," begitu kata ayahnya.Rafael tidak terlalu menikmati acara semacam itu. Baginya, percakapan mengenai bisnis jauh lebih membosankan dibanding menghadiri presentasi kuliah. Namun sebagai penerus keluarga, ia tidak memiliki banyak pilihan.Setelah menyapa beberapa tamu, pandangannya tiba-tiba berhenti pada seorang pria tua berambut putih yang sedang berbincang dengan beberapa pengusaha. Posturnya masih tegap. Tatapannya tajam. Meski usianya tidak lagi muda, wibawanya tetap terasa begitu kuat.Rafael langsung mengenalinya. Tuan Adipati Pradikusuma. Kakek dari pihak ibu Arkana.Rafael menarik nap
Malam telah larut ketika Rafael akhirnya tiba di apartemennya. Setelah kuliah, Rafael memang memutuskan untuk tinggal sendiri. Ingin merasakan mandiri, alasannya dulu. Padahal, Rafael hanya tidak ingin merasa diawasi oleh orang tuanya. Terlebih karena hubungannya dengan Citra yang masih ditentang oleh orang tuanya. Rafael melepaskan jas tipis yang dikenakannya, lalu menjatuhkannya begitu saja ke atas sofa. Ruangan itu sunyi. Biasanya, setelah mengantar Citra pulang, ia akan langsung mandi lalu tidur. Namun malam ini berbeda.Entah mengapa, pikirannya justru kembali ke acara reuni yang baru saja selesai beberapa jam lalu. Rafael mengembuskan napas panjang. Bayangan teman-teman sekelas mereka satu per satu bermunculan di kepalanya.Lina yang tetap cerewet. Teman-teman yang masih tetap berisik dan bersemangat dengan gosip. Dan... Anindya.Rafael memejamkan mata. Ia masih ingat jelas saat melihat Anindya di restoran bersama Arkana. Selama bertahun-tahun mereka tidak benar-benar bertemu.
Malam itu, setelah mengucapkan selamat malam kepada Arkana, Anindya berjalan menuju kamarnya dengan langkah pelan. Rumah keluarga Wijaya sudah mulai sunyi. Ia meletakkan tas di atas sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang.Entah mengapa, pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang terjadi selama reuni. Namun, yang paling mengganggunya justru bukan Rafael. Melainkan Arkana.Anindya menghela napas pelan. Beberapa tahun terakhir, hubungan mereka berjalan begitu baik. Mereka hampir tidak pernah bertengkar. Jarang salah paham. Bahkan jika ada perbedaan pendapat, semuanya selalu selesai melalui percakapan yang tenang.Di mata siapa pun, mereka adalah pasangan yang nyaris sempurna. Namun... Anindya menyadari ada satu hal yang tidak pernah berubah sejak mereka resmi berpacaran.Arkana selalu menjaga jarak. Bukan jarak emosional. Justru sebaliknya. Arkana selalu ada ketika ia membutuhkan. Selalu mendengarkan. Selalu mengutamakan dirinya.Namun, ketika hubungan mereka mulai mengarah pad
Perjalanan pulang berlangsung tenang. Mobil melaju dengan kecepatan stabil, sementara lampu-lampu jalan silih berganti melewati jendela.Di dalam mobil, hanya terdengar alunan musik klasik yang diputar pelan oleh sopir. Arkana melirik ke arah Anindya. Sejak meninggalkan restoran, gadis itu lebih banyak diam.Anindya sesekali memandang keluar jendela. Sesekali menunduk sambil tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tepatnya bukan hanya sekali. Melainkan beberapa kali.Awalnya Arkana mengira Anindya hanya kelelahan. Namun setelah hampir lima belas menit berlalu, Anindya masih tampak melamun.Arkana akhirnya memanggil pelan. "Anin."Anindya menoleh. "Hm?""Kamu capek?"Anindya tersenyum tipis. "Sedikit.""Kamu kelihatan banyak pikiran.""Nggak juga."Jawaban itu terdengar ringan. Namun justru karena terlalu ringan, Arkana semakin merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan. Ia mengenal Anindya dengan cukup baik. Kalau Anindya benar-benar tidak memikirkan apa-apa, gadis itu biasanya akan ter
Setelah tarian pembuka selesai, pesta dansa Nusantara Academy justru semakin ramai. Semua orang membicarakan satu hal— Anindya Wijaya menolak Rafael Mahendra dan memilih berdansa dengan Arkana Pratama. Di mana-mana terdengar bisik-bisik kagum.“Anindya keren banget.”“Arkana ternyata cocok sama dia
Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men
Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-d
Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid







