MasukKaluna Gunadhya tidak pernah kekurangan apa pun—kecuali satu hal: cinta yang setia. Lahir dari keluarga aristokrat pemilik kerajaan bisnis AG Group, hidupnya dipenuhi kemewahan dan kehormatan. Hingga satu malam, ia memergoki pria yang telah ia cintai bertahun-tahun tidur dengan sahabatnya sendiri. Lebih menyakitkan lagi, pria itu memilih wanita lain karena sebuah tanggung jawab. Hancur. Kaluna kembali ke Indonesia, membawa harga diri yang tercabik dan hati yang nyaris mati. Di saat itulah Satria Wirakusuma hadir—sekretaris pilihan sang ayah. Pria yang tahu batas. Pria yang sadar diri. Pria yang tidak punya apa-apa selain ketulusan. Satria mencintainya dalam diam. Kaluna menemukan kembali dirinya dalam pelukan pria sederhana itu. Namun mencintai Satria berarti menantang kasta. Dan keluarga Gunadhya tidak pernah kalah. Ketika cinta mereka terbongkar, Kaluna harus memilih: Nama besar dan tahta kekuasaan… atau pria yang rela kehilangan segalanya demi dirinya. Karena dalam dunia mereka, cinta bukan soal rasa. Cinta adalah soal kelas. Sekuel dari Berawal Dari Kontrak Berakhir Menetap - Maafkan Aku Menikahinya - Jodoh Di Tangan Ayah.
Lihat lebih banyak“Langsung balik?” Kanaya bertanya pada adik kembarnya ketika mobil mewah berwarna hitam itu berhenti tepat di depan Mansion.
Kaluna tidak menjawab, dia mengecup kening Arthur dan Davian bergantian sebelum akhirnya turun. Kanaya jadinya ikut turun sementara mobil kembali melaju masuk ke dalam garasi agar ketika para Nanny menggendong Arthur dan Davian ke kamar, bocah berusia empat dan dua tahun itu tidak kedinginan karena salju masih turun meski tidak lebat. Kaluna mengeratkan kedua sisi longcoat berbulu yang membalut tubuhnya. “Kayanya gue pulang aja … Brian mungkin masih kesal tapi gue akan coba membujuknya,” kata Kaluna disertai senyum ironi. “Gue heran deh Lun, masa masalah sepele doank, Brian sampe harus marah-marah … cuma gara-gara lo telat balas chat padahal dia tahu lo sama gue dan keponakan-keponakan lo … lagi liburan.” Kanaya misuh-misuh. Kaluna tersenyum lembut. “Itu tanda cintanya sama gue, Nay … semakin ke sini, Brian memang makin posesif.” Kaluna mendekat selangkah, menggenggam tangan Kanaya yang dibungkus sarung tangan suede mahal. “Sorry ya, gara-gara gue … kita harus pulang sehari lebih awal.” Kaluna meringis. “Ah, ribet lo mah … besok-besok enggak akan gue ajakin lagi.” Kening Kanaya mengkerut menegaskan kekesalan dalam ucapannya. Alih-alih mengambil hati, Kaluna malah tertawa pelan. “Jangan gitu donk, Arthur sama Davian cuma antengnya sama gue loooh … sama lo aja emaknya, sering tantrum.” Kanaya mendengkus, kemudian tersenyum. “Ya udah balik sana, peluk Brian lo tercinta.” Sesungguhnya Kanaya ingin sekali bertanya kapan Brian akan melamar Kaluna tapi dia tahu kalau itu sangat sensitif. “Thanks ya buat liburan fancy-nya.” Kaluna mengangkat empat paperbag di tangan kanan dan kirinya sambil berjalan mundur mendekati mobilnya yang terparkir di dekat gerbang besar. Kanaya mengangkat tangan kemudian berjalan masuk ke dalam rumah sambil mengulum senyum. Padahal uang bulanan Kaluna yang diberikan ayah mereka cukup besar tapi semenjak Kanaya menikah dengan Ryley yang merupakan Konglomerat NewYork—adik kembarnya itu sering kali minta ‘dijajanin’. Dan sebagai kakak, Kanaya selalu bangga setiap membelikan apapun keinginan adiknya tersebut. *** Banyak petugas membersihkan salju di jalanan sepanjang komplek perumahan elite itu. Kaluna mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah, bukan ke apartemennya melainkan ke apartemen Brian. Dia tidak sabar menunggu besok untuk berbaikan dengan Brian jadi meskipun jaraknya cukup jauh, akan tetap Kaluna tempuh. Satu jam mengemudi, akhirnya dia sampai. Seorang petugas membukakan pintu mobilnya dengan mata mengantuk karena waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. “Hey Berry,” sapa Kaluna. “Miss ….” Pria muda itu menunduk sekilas lalu mengambil alih kunci mobil dari tangan Kaluna yang kemudian melenggang masuk ke dalam gedung. Resepsionis mengenali Kaluna, memberikan anggukan samar penuh hormat. Kaluna sudah sering datang ke sini, dia hafal di lantai berapa apartemen mewah Brian berada. Dan ketika sampai di sana pun, dia langsung menekan beberapa angka di panel dekat handle pintu membuat pintu seketika terbuka. Kaluna masuk dengan langkah ringan, dia disambut ruangan yang lampunya temaram, dia sengaja hanya melewatinya begitu saja tanpa menyalakan lampu besar, khawatir mengganggu Brian. Tangannya tanpa beban ketika menekan handle pintu kamar Brian dan suasana temaram yang sama menyambutnya. Namun niat hati ingin berbaring di samping Brian, kaki Kaluna malah sulit digerakan, matanya membulat sempurna, nafasnya mulai memburu dan jantungnya berdetak menaikkan tempo. Bagaimana tidak, di atas ranjang itu Kaluna melihat Amanda-sahabat dekatnya sendiri sedang berbaring mengenakan baju tidur semi lingery, belahan dadanya terbuka lebar sembari dipeluk Brian yang hanya bertelanjang dada. Pemandangan itu begitu jelas karena Brian tidak mematikan lampu tidur di samping ranjang sehingga Kaluna bisa melihat dengan jelas wajah-wajah sialan yang salama ini baik kepadanya tapi nyatanya menikam Kaluna dengan sangat kejam dari belakang. Aroma after sex segera saja menusuk indra penciumannya. Tangan Kaluna yang gemetar tanpa sengaja menjatuhkan kunci mobil hingga bunyinya nyaring membentur lantai membangunkan Brian dan Amanda dalam sekejap. Mereka mendudukan tubuh dengan mata melebar sempurna menatap ke sosok yang berdiri di ambang pintu. “Luna …,” gumam Brian sambil mengucek matanya. “Kamu bukannya pulang besok malam?” Amanda bersuara, matanya menyipit untuk memperjelas penglihatan. “Kenapa? Kalian terkejut aku pulang lebih awal?” Sekuat tenaga, Kaluna mencoba menggerakan kakinya mendekati ranjang. “Kalau aku pulang besok … aku tidak akan bisa melihat pemandangan terkutuk ini!” serunya lalu melempar tas ke wajah Brian. Beruntung Brian cekatan menangkisnya sehingga tas Kaluna jatuh ke lantai dengan ponsel dan isi beauty case yang berserakan. “Luna!” seru Brian disertai tatapan marah dan mampu membuat hati Kaluna kian ngilu. “Apa? Kenapa kamu yang marah? Kamu yang selingkuh tapi kamu yang marah, dasar Brengsek!” Kaluna menjerit histeris, air mata mengalir deras tidak terbendung. “Pantas saja kamu sering cari-cari masalah, ternyata kamu ingin kita putus … Kamu lebih memilih pelacur ini? Iya?” Amanda memperlihatkan tampang menyebalkan yang seolah mengatakan meskipun dia pelacur tapi dia pemenangnya. Ditambah tangan dengan jemarinya yang dipoles naik polish merah menyala mengusap perut. Kening Kaluna mengernyit dalam. Apa? Tidak mungkin. Sebelum Kaluna menjadikan ranjang sebagai ring tinju, Brian pun turun dari sana, memungut tas dan barang-barang Kaluna kemudian menyeret Kaluna keluar dari kamar tidak peduli Kaluna memukul dan menamparnya membabi buta. “Tenangkan diri kamu dulu, baru kita bicara.” Brian berhenti di depan pintu apartemen, menyerahkan tas dan kunci mobil Kaluna. Di detik itu, Kaluna tidak memiliki tenaga untuk melawan lagi. Kaluna memilih membalikan badan usai merebut barang-barangnya dari tangan Brian kemudian pergi sambil terus menyusut air mata yang tidak berhenti mengalir. “Ya Tuhan!” Kaluna melirih sambil menutup wajahnya di dalam lift. Hubungan yang telah terjalin hampir sepuluh tahun itu dinodai dengan perselingkuhan. Kaluna berteriak sekencang-kencangnya namun tidak ada yang mendengar, dia sendirian, di dalam lift, dan di luar lingkungan keluarganya. Hampir semua sepupunya sudah menikah bahkan adik bungsunya akan segera dijodohkan setelah lulus S2. Dan dirinya, akan menjadi perempuan tua setelah dikhianati habis-habisan oleh pria Brengsek yang masih sangat dicintainya. Ah tidak, mungkin ini hanya mimpi. Besok Brian akan menjelaskan semuanya, Petugas resepsionis diam-diam mengawasi ketika Kaluna keluar dari lift, benaknya bertanya-tanya tentang apa yang terjadi karena Kaluna terus saja menyusut pipinya dan Berry-si petugas pintu langsung meminta petugas valet membawakan mobil Kaluna begitu sosok cantik itu muncul dengan mata merah dan sembab. Berry memukul kepalanya sendiri, dia baru ingat kalau gadis yang tadi dibawa Brian ke apartemennya belum turun dan mungkin itu penyebab air mata Kaluna mengalir deras kali ini. Berry membukakan pintu mobil untuk Kaluna dan mengucapkan hati-hati. “Kamu tahu, kan? Tapi kenapa kamu tidak mengatakannya?” tanya Kaluna dengan tatapan marah. Berry menegang, dia tergagap dan pintu mobil sport Kaluna kadung tertutup. Dini hari itu, tidak peduli jalanan licin oleh salju—Kaluna memacu mobil mahalnya membelah jalanan kota New York dengan kecepatan tinggi untuk sampai ke apartemennya.Tujuh menit kemudian, mobil Satria masuk halaman rumah seperti habis memenangkan balapan.“LUNA!” Dia berteriak dari luar sambil berlari masuk ke dalam rumah.Kaluna sedang rebahan di sofa menahan mulas dengan wajah sekusut rambutnya.“KENAPA LAMA?!”Dia tiba-tiba marah.Satria melongo. “Ini aku sampai sini cuma tujuh menit loh, harusnya sep—” Kalimatnya terpotong.“AKU MAU MELAHIRKAN!”Satria terperanjat, dia bergegas pergi ke kamar.Menyambar tas dari atas lemari kemudian memasukan bantal, lalu charger, dan dompet.Pria itu panik jadi benaknya tidak bisa berpikir jernih.“Satriaaaaaa, kamu apa bawa bantal? Di rumah sakit banyak bantal!”Satria seketika tersadar. “… oh iya sayang.” Mengeluarkan bantal dan memasukan keperluan Kaluna.“Bu, kami pergi ya.” Satria pamit sambil menggendong Kaluna.“Iya … iya, nanti Ibu dan bapak menyusul.” Ibu membantu membawakan tas ke dalam mobil.Lima menit kemudian mereka berangka
Pagi datang dengan tenang.Sinar matahari masuk dari sela tirai ruang rawat.Kaluna masih berbaring dengan rambut sedikit berantakan sementara Satria duduk di sofa kecil sambil memangku laptop tapi sejak lima belas menit lalu tidak ada satu pekerjaan pun yang benar-benar masuk ke kepalanya.Tatapannya lebih sering pindah ke Kaluna.Ke perut Kaluna.Ke monitor.Lalu kembali lagi ke Kaluna.Dokter masuk ketika visite pagi.Mengecek tekanan darah.Mengecek kondisi janin.Memeriksa beberapa hal.Lalu mengangguk puas. “Bagus.”Satria yang berdiri di samping ranjang seketika menegakan punggung. Dokter tersenyum. “Boleh pulang ya Bu.”Kaluna tampak lega sementara Satria membeku. “…pulang?”Dokter mengangguk. “Masih belum ada pembukaan.”Satria tampak berpikir keras. “…tapi semalam kontraksi.”Dokter tersenyum sabar. “Kontraksi palsu.”Satria masih mencoba bertahan. “Kalau nanti malam lahiran bagaimana?”Dokter tertawa kecil. “Kalau nanti malam lahiran ya balik lagi.”Sat
Meski bukan pagi lagi dan Satria juga bapak sudah berangkat ke tempat mereka mencari nafkah, tapi dari dapur rumah—masih tercium aroma bawang putih yang ditumis.Kaluna sedang memasak makan siang untuk suami tercinta. Dia berdiri atau lebih tepatnya setengah berdiri setengah bersandar.Perut delapan bulan lebih itu sekarang benar-benar sudah menguasai hidupnya.Untuk mengambil mangkuk yang jatuh saja dia perlu strategi.Untuk memakai sandal perlu negosiasi dengan gravitasi.Dan hari ini—dia sedang semangat untuk menyenangkan suaminya.Suaminya yang beberapa minggu lalu harus berjuang meluluhkan hatinya yang sedang diliputi cemburu.Ibu sebenarnya sudah melarang Kaluna memasak.“Udah, Neng… Ibu aja yang masak.”Tapi Kaluna tetap ngotot.“Enggak Bu… aku mau masak untuk Satria.”Ibu menghela napas.“Kenapa sih maksain banget? Perut kamu sudah besar.Kaluna menjawab santai sambil mengaduk.“Enggak maksain kok, Luna seneng masak buat Satria. Biar kaya istri-istri Solehah be
Sementara kehidupan di desa berjalan hangat dan tenang—ratusan kilometer dari sana—di tengah gedung kaca menjulang yang menjadi salah satu pusat operasional AG Group—seorang pria sedang membuat seseorang menyesali mulutnya sendiri.Ruang rapat lantai tiga puluh tampak penuh.Layar besar menampilkan grafik. Laporan. Target.Dan satu proposal kerja sama bernilai ratusan miliar.Semua mata tertuju pada pria yang duduk di ujung meja.Zyandru Gunadhya.Setelan abu gelap. Jam tangan sederhana.Tatapan dingin yang justru semakin mirip ayahnya dari hari ke hari.Sudah hampir setahun dia menggantikan Kaluna memimpin salah satu anak perusahaan AG Group.Dan seperti yang dulu banyak orang ragukan—dia ternyata bukan hanya anak orang kaya.Dia benar-benar bisa bekerja.Rapat selesai. Orang-orang mulai berdiri.Sampai satu pria menghampiri dengan senyum penuh percaya diri.Andre.Salah satu partner lama.Pria yang dulu sangat di
“Parkir di sana aja,” kata Kaluna sembari menunjuk space parkir kosong di depan loby restoran.“Aku antar kamu sampai loby dulu.” “Enggak usah, kita parkir aja dulu nanti barengan ke restonya.”Kaluna tidak ingin memperlakukan Satria seperti driver.Akhirnya Satria menurut dan langsung memarki
Pintu ruang kerja Kaluna terbuka pelan.Satria masuk dengan langkah tenang seperti biasa. Jasnya sudah dilepas menyisakan kemeja putih yang digulung hingga sikut.Ia berhenti beberapa langkah dari meja Kaluna.“Anda memanggil saya, Nona?”Nada suaranya formal. Terlalu formal.Kaluna yang sedan
“Ya udah deh, oke.”Satria yang berdiri di dekat mobil dengan pintu kabin belakang terbuka, sempat terlihat bingung.Kenapa Kaluna bersedia menerima ajakan dinner itu?Kenapa Kaluna tidak menjaga perasaannya?“Satria, kamu bawa pakaian ganti aku, kan?”“Bawa Nona … ada di
Siang itu langit Jakarta terlihat pucat di balik kaca gedung-gedung tinggi.Mobil sedan hitam mewah CEO anak perusahaan AG Group berhenti perlahan di depan gedung kantor Andre Pratama Group. Bangunan modern dengan fasad kaca itu memantulkan cahaya matahari siang yang terik.Satria turun lebih dul












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak