登入Tanpa sepatah kata pun, keduanya kembali berbagi ciuman yang dalam. Lumatan Rangga terasa begitu menuntut, sarat akan rindu yang meluap. Maria membalasnya dengan debar jantung yang kian mendera, ia meremas pundak tegap suaminya saat ciuman itu perlahan turun membasahi ceruk lehernya. Namun di sela-sela napasnya yang mulai memburu, Maria mencoba mendorong pelan dada bidang Rangga."Mas, pasti sangat lelah, kan? Perjalanan Nagoya-Surabaya, lalu langsung ke Kediri dan balik lagi ke sini tanpa tidur. Bagaimana kalau ditunda saja sampai kita tiba di Jepang nanti?"Rangga menggelengkan kepala, menatap Maria dengan sepasang mata yang dipenuhi oleh gairah yang tak terbendung. "Tidak bisa, Maria."Maria masih memandang suaminya. "Mas, ada satu hal lagi yang harus kusampaikan.""Apa?""Aku pakai pil kontrasepsi dari kemarin. Kebetulan aku baru saja suci haid seminggu yang lalu. Jadi kurasa menggunakan kontrasepsi pilihan terbaik untuk sementara waktu."Dahi Rangga sedikit mengernyit dengan kedu
"Di pesawat tadi malam aku tidur, Mas. Kalau kami berangkat ke Surabaya sekarang, bisa istirahat di sana," jawab Rangga."Kamu harus jaga fisikmu, Ngga," ujar Pak Ali."Iya, Pak. Insya Allah aku tidak apa-apa."Setelah ngobrol beberapa saat, Pak Ali dan Bu Hasna menyetujui rencana putra bungsunya. Wanita itu bangkit dari duduknya dan melangkah ke belakang. Menyiapkan cemilan untuk cucunya.Akhirnya Maria segera bersiap-siap. Rangga menyiapkan dokumen milik istri dan anaknya, juga booking hotel via online. Ia dapat hotel di Mezzanine T2. Hanya dua menit jalan kaki. Turun lift langsung check in counter. Jadi tidak ribet besok.Radit yang akan mengantarkan mereka. Rita akan menemani, tapi anak-anak tidak ada yang ikut karena khawatir kecapean, sedangkan besok harus sekolah.Untungnya Ibrahim tidak rewel saat dibangunkan dan dimandikan sang bunda. "A'im, nggak boleh rewel ya ikut Papa kerja," ucap Bu Hasna sambil menciumi pipi cucunya. Bocah itu mengangguk. Ibrahim sangat tampan dengan
MARIA- 45 Malam Pertama Jujur saja, Rangga pun berdebar sekaligus tidak sabar. Senyumnya mengembang. Ia meraih kedua tangan Maria dan menggenggamnya lama. Di jari manis Maria telah tersemat sebuah cincin pernikahan seberat lima gram yang Rangga beli dari Jepang. Di lingkaran bagian dalam, ada inisial nama mereka. RM."Maria, lihat aku," bisik Rangga dengan suara pelan dan tatapan lembut. Maria mendongak, menatap sepasang mata satu-satunya lelaki yang bisa menyentuhnya. Dengan gerakan hati-hati, Rangga meraih tali cadar putih yang mengikat di kepala Maria. Ia membukanya perlahan-lahan, menurunkan kain tersebut hingga terlepas sepenuhnya.Seketika itu juga napas Rangga seolah tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdesir hebat. Di bawah cahaya matahari sore, wajah Maria terpampang nyata tanpa sekat. Wajah yang selama tiga tahun lebih ia rindukan. Raut itu masih sama. Cantik, lembut, dan memancarkan keanggunan yang matang seiring berlalunya waktu. Bahkan bisa dikatakan, Maria semakin m
"Dia orang pertama yang menolong dan menguatkan saya saat berada di titik paling terpuruk dan hancur saat saya baru tiba di Malang. Saya merasa sedih, Bu. Karena di antara orang-orang baik yang selama ini ada di sekitar saya, hanya Mas Zein yang sampai hari ini belum tahu kalau saya sudah memutuskan untuk rujuk dan kembali bersama Mas Rangga.""Kamu bisa mengirim pesan, Aisyah."Maria menggeleng. Mereka hampir tidak pernah berkomunikasi lewat telepon. Hanya waktu itu saja Zein mengirimkan pesan. Setelah itu tidak ada lagi. Maria tidak benar-benar tahu siapa Zein ini, jadi khawatir nanti kalau mengganggunya. 🖤LS🖤"Bunda, cepat mandikan A'im. A'im mau tunggu Papa di depan!" seru anak berumur tiga tahun itu dengan ketidaksabaran yang menggemaskan. Dia baru selesai disuapi sarapan oleh Maria. Kemarin malam mereka sudah sampai di Kediri. Dijemput oleh orang kepercayaannya Pak Ali. Maria pun kenal dengan lelaki yang sering mengantar bepergian orang tua angkatnya itu.Setelah didandani de
Apalagi sekarang karier Rangga melesat bagai meteor. Bisa jadi sepulang dari Jepang nanti, posisi Rangga dipastikan akan naik kelas menjadi General Manager.Dalam kondisi kalut dan tidak tahu harus berbuat apa lagi, Tamara akhirnya meraih ponselnya lalu menghubungi sang mama."Aku nggak bisa menghubungi Rangga, Ma. Sekretarisnya tadi sore begitu judes saat kutanya. Dia malah memperingatkanku supaya jangan mengganggu Rangga," keluh Tamara dengan kesal.Di seberang telepon Bu Arsi terdengar menghela napas panjang, sebelum akhirnya berbicara dengan nada mendesak. "Tam, dengarkan Mama. Makanya sejak kemarin Mama bilang apa? Ikuti saja saran Mama. Kamu datangi rumah orang tuanya Rangga, lalu pura-pura hamil anak Rangga. Cuma itu satu-satunya cara instan buat mengikat dia lagi sebelum masa iddahmu habis.""Nggak mungkin, Ma," bantah Tamara."Kenapa nggak mungkin? Tinggal pakai hasil tes palsu, beres," seru Bu Arsi gemas."Mama nggak tahu bagaimana Rangga," teriak Tamara frustrasi. "Dia itu
MARIA- 44 Sah"Mas, kalau memang nggak memungkinkan dan terlalu ribet, sebaiknya aku dan A'im nggak usah ikut ke Jepang saja. Toh, dua bulan lagi Mas juga sudah selesai training-nya," kata Maria dengan nada tenang saat menerima telepon dari Rangga malam itu. Setelah Rangga menceritakan beberapa kendala ketika hendak membawanya dan Ibrahim ke Jepang.Rangga sengaja menghubungi Maria kembali setelah putra kecil mereka sudah tidur. Supaya bisa ngobrol dengan lebih leluasa."Kamu jangan khawatir soal itu, Maria. Kebetulan aku punya kenalan orang Indonesia yang sudah lama tinggal di sini. Dia akan membantu mencarikan sewa apartemen harian yang nyaman untuk kamu dan A'im selama di Jepang nanti. Yang dekat dengan apartemen tempatku tinggal sekarang ini."Maria menghela napas. "Tapi sayang sekali dengan uangnya. Sudah berapa banyak biaya yang harus Mas keluarkan hanya untuk membawa kami ke Jepang selama beberapa hari. Mulai dari tiket pesawat, sewa tempat tinggal, biaya hidup di sana hingga
MARIA- 28 Terus Maju"Siapa nama lengkapnya Ibrahim? Aku sebenarnya sudah mau nanya sejak kemarin.""Muhammad Ibrahim Al Fatih," jawab Maria lirih."Nama yang bagus." Rangga memandang Maria yang masih menyimpan botol ke dalam tas. Kemudian ia beralih ke arah kaleng susu. "Apa Ibrahim suka susu mer
"Papa," teriak Ibrahim sambil berlari dan menubruk kakinya yang tengah melepaskan sepatu. Kepalanya mendongak dan sepasang mata bulatnya yang bening memandang Rangga. Senyumnya lebar, memamerkan deretan gigi kecilnya yang putih dan tersusun rapi.Rangga seketika membungkuk dan merengkuh tubuh mungi
Sebagai seorang wanita, ia sangat paham kenapa Maria memasang benteng sedingin itu. Namun sebagai seorang ibu, ia juga mengerti betapa hancur dan merananya hati Rangga yang sedang menyesali kesalahan dan berusaha menebusnya."Ayo, sarapan dulu." Bu Hasna menyodorkan piring berisi nasi dan lauk pada
Rangga menggedong Ibrahim masuk ke dalam rumah. Mereka duduk ngobrol di ruang tengah. Namun tak lama kemudian, Pak Ali pamit masuk kamar karena sudah mengantuk. Bu Hasna masih menemani mereka. Namun wanita itu ke kamar mandi sejenak."Maria, berapa nomer rekeningmu. Aku akan mengirim uang bulanan u







