Share

MJM 113

last update publish date: 2026-07-05 14:30:16

"Di pesawat tadi malam aku tidur, Mas. Kalau kami berangkat ke Surabaya sekarang, bisa istirahat di sana," jawab Rangga.

"Kamu harus jaga fisikmu, Ngga," ujar Pak Ali.

"Iya, Pak. Insya Allah aku tidak apa-apa."

Setelah ngobrol beberapa saat, Pak Ali dan Bu Hasna menyetujui rencana putra bungsunya. Wanita itu bangkit dari duduknya dan melangkah ke belakang. Menyiapkan cemilan untuk cucunya.

Akhirnya Maria segera bersiap-siap. Rangga menyiapkan dokumen milik istri dan anaknya, juga booking hotel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Adfazha
MasyaAllah bnr2 anak soleh ya Aim, pinter bgt sih lsg pules tau aja papanya pgn ambil jatah rapelan buka puasa wkwkkk Bangsul mah bebas yaa Uang Rangga gk berseri brpapun mahalnya tuh hotel ttp dibooking demi kenyamanan anak istri eaa lanjut Rangga cetak ddnya Aim yg byk
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
bebas ya mas Rangga...pelan pelan aja ga usah kesusu.. Maria dan Aim sudah kembali bersama .semoga lancar ya malam pertama rujuk ...
goodnovel comment avatar
~kho~
tuh kan bener, gak ada kata capek bwt Rangga mah..... wkwkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mencari Jejak Maria   MJM 114

    Tanpa sepatah kata pun, keduanya kembali berbagi ciuman yang dalam. Lumatan Rangga terasa begitu menuntut, sarat akan rindu yang meluap. Maria membalasnya dengan debar jantung yang kian mendera, ia meremas pundak tegap suaminya saat ciuman itu perlahan turun membasahi ceruk lehernya. Namun di sela-sela napasnya yang mulai memburu, Maria mencoba mendorong pelan dada bidang Rangga."Mas, pasti sangat lelah, kan? Perjalanan Nagoya-Surabaya, lalu langsung ke Kediri dan balik lagi ke sini tanpa tidur. Bagaimana kalau ditunda saja sampai kita tiba di Jepang nanti?"Rangga menggelengkan kepala, menatap Maria dengan sepasang mata yang dipenuhi oleh gairah yang tak terbendung. "Tidak bisa, Maria."Maria masih memandang suaminya. "Mas, ada satu hal lagi yang harus kusampaikan.""Apa?""Aku pakai pil kontrasepsi dari kemarin. Kebetulan aku baru saja suci haid seminggu yang lalu. Jadi kurasa menggunakan kontrasepsi pilihan terbaik untuk sementara waktu."Dahi Rangga sedikit mengernyit dengan kedu

  • Mencari Jejak Maria   MJM 113

    "Di pesawat tadi malam aku tidur, Mas. Kalau kami berangkat ke Surabaya sekarang, bisa istirahat di sana," jawab Rangga."Kamu harus jaga fisikmu, Ngga," ujar Pak Ali."Iya, Pak. Insya Allah aku tidak apa-apa."Setelah ngobrol beberapa saat, Pak Ali dan Bu Hasna menyetujui rencana putra bungsunya. Wanita itu bangkit dari duduknya dan melangkah ke belakang. Menyiapkan cemilan untuk cucunya.Akhirnya Maria segera bersiap-siap. Rangga menyiapkan dokumen milik istri dan anaknya, juga booking hotel via online. Ia dapat hotel di Mezzanine T2. Hanya dua menit jalan kaki. Turun lift langsung check in counter. Jadi tidak ribet besok.Radit yang akan mengantarkan mereka. Rita akan menemani, tapi anak-anak tidak ada yang ikut karena khawatir kecapean, sedangkan besok harus sekolah.Untungnya Ibrahim tidak rewel saat dibangunkan dan dimandikan sang bunda. "A'im, nggak boleh rewel ya ikut Papa kerja," ucap Bu Hasna sambil menciumi pipi cucunya. Bocah itu mengangguk. Ibrahim sangat tampan dengan

  • Mencari Jejak Maria   MJM 112

    MARIA- 45 Malam Pertama Jujur saja, Rangga pun berdebar sekaligus tidak sabar. Senyumnya mengembang. Ia meraih kedua tangan Maria dan menggenggamnya lama. Di jari manis Maria telah tersemat sebuah cincin pernikahan seberat lima gram yang Rangga beli dari Jepang. Di lingkaran bagian dalam, ada inisial nama mereka. RM."Maria, lihat aku," bisik Rangga dengan suara pelan dan tatapan lembut. Maria mendongak, menatap sepasang mata satu-satunya lelaki yang bisa menyentuhnya. Dengan gerakan hati-hati, Rangga meraih tali cadar putih yang mengikat di kepala Maria. Ia membukanya perlahan-lahan, menurunkan kain tersebut hingga terlepas sepenuhnya.Seketika itu juga napas Rangga seolah tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdesir hebat. Di bawah cahaya matahari sore, wajah Maria terpampang nyata tanpa sekat. Wajah yang selama tiga tahun lebih ia rindukan. Raut itu masih sama. Cantik, lembut, dan memancarkan keanggunan yang matang seiring berlalunya waktu. Bahkan bisa dikatakan, Maria semakin m

  • Mencari Jejak Maria   MJM 111

    "Dia orang pertama yang menolong dan menguatkan saya saat berada di titik paling terpuruk dan hancur saat saya baru tiba di Malang. Saya merasa sedih, Bu. Karena di antara orang-orang baik yang selama ini ada di sekitar saya, hanya Mas Zein yang sampai hari ini belum tahu kalau saya sudah memutuskan untuk rujuk dan kembali bersama Mas Rangga.""Kamu bisa mengirim pesan, Aisyah."Maria menggeleng. Mereka hampir tidak pernah berkomunikasi lewat telepon. Hanya waktu itu saja Zein mengirimkan pesan. Setelah itu tidak ada lagi. Maria tidak benar-benar tahu siapa Zein ini, jadi khawatir nanti kalau mengganggunya. 🖤LS🖤"Bunda, cepat mandikan A'im. A'im mau tunggu Papa di depan!" seru anak berumur tiga tahun itu dengan ketidaksabaran yang menggemaskan. Dia baru selesai disuapi sarapan oleh Maria. Kemarin malam mereka sudah sampai di Kediri. Dijemput oleh orang kepercayaannya Pak Ali. Maria pun kenal dengan lelaki yang sering mengantar bepergian orang tua angkatnya itu.Setelah didandani de

  • Mencari Jejak Maria   MJM 110

    Apalagi sekarang karier Rangga melesat bagai meteor. Bisa jadi sepulang dari Jepang nanti, posisi Rangga dipastikan akan naik kelas menjadi General Manager.Dalam kondisi kalut dan tidak tahu harus berbuat apa lagi, Tamara akhirnya meraih ponselnya lalu menghubungi sang mama."Aku nggak bisa menghubungi Rangga, Ma. Sekretarisnya tadi sore begitu judes saat kutanya. Dia malah memperingatkanku supaya jangan mengganggu Rangga," keluh Tamara dengan kesal.Di seberang telepon Bu Arsi terdengar menghela napas panjang, sebelum akhirnya berbicara dengan nada mendesak. "Tam, dengarkan Mama. Makanya sejak kemarin Mama bilang apa? Ikuti saja saran Mama. Kamu datangi rumah orang tuanya Rangga, lalu pura-pura hamil anak Rangga. Cuma itu satu-satunya cara instan buat mengikat dia lagi sebelum masa iddahmu habis.""Nggak mungkin, Ma," bantah Tamara."Kenapa nggak mungkin? Tinggal pakai hasil tes palsu, beres," seru Bu Arsi gemas."Mama nggak tahu bagaimana Rangga," teriak Tamara frustrasi. "Dia itu

  • Mencari Jejak Maria   MJM 109

    MARIA- 44 Sah"Mas, kalau memang nggak memungkinkan dan terlalu ribet, sebaiknya aku dan A'im nggak usah ikut ke Jepang saja. Toh, dua bulan lagi Mas juga sudah selesai training-nya," kata Maria dengan nada tenang saat menerima telepon dari Rangga malam itu. Setelah Rangga menceritakan beberapa kendala ketika hendak membawanya dan Ibrahim ke Jepang.Rangga sengaja menghubungi Maria kembali setelah putra kecil mereka sudah tidur. Supaya bisa ngobrol dengan lebih leluasa."Kamu jangan khawatir soal itu, Maria. Kebetulan aku punya kenalan orang Indonesia yang sudah lama tinggal di sini. Dia akan membantu mencarikan sewa apartemen harian yang nyaman untuk kamu dan A'im selama di Jepang nanti. Yang dekat dengan apartemen tempatku tinggal sekarang ini."Maria menghela napas. "Tapi sayang sekali dengan uangnya. Sudah berapa banyak biaya yang harus Mas keluarkan hanya untuk membawa kami ke Jepang selama beberapa hari. Mulai dari tiket pesawat, sewa tempat tinggal, biaya hidup di sana hingga

  • Mencari Jejak Maria   MJM 63

    "Iya, Bu," jawab Rangga sambil mengemudi. "Kenapa dulu Maria nggak mau ngomong kalau hamil. Malah sembunyi. Begitu kecewanya Dia sama kamu. Kasihan A'im." Bu Hasna belum bisa diam. Dia masih sedih mengingat Ibrahim sama Maria."Sudahlah, Bu. Memang jalannya sudah begini. Mau gimana lagi. Semua sud

  • Mencari Jejak Maria   MJM 62

    MARIA- 28 Terus Maju"Siapa nama lengkapnya Ibrahim? Aku sebenarnya sudah mau nanya sejak kemarin.""Muhammad Ibrahim Al Fatih," jawab Maria lirih."Nama yang bagus." Rangga memandang Maria yang masih menyimpan botol ke dalam tas. Kemudian ia beralih ke arah kaleng susu. "Apa Ibrahim suka susu mer

  • Mencari Jejak Maria   MJM 61

    "Papa," teriak Ibrahim sambil berlari dan menubruk kakinya yang tengah melepaskan sepatu. Kepalanya mendongak dan sepasang mata bulatnya yang bening memandang Rangga. Senyumnya lebar, memamerkan deretan gigi kecilnya yang putih dan tersusun rapi.Rangga seketika membungkuk dan merengkuh tubuh mungi

  • Mencari Jejak Maria   MJM 60

    Sebagai seorang wanita, ia sangat paham kenapa Maria memasang benteng sedingin itu. Namun sebagai seorang ibu, ia juga mengerti betapa hancur dan merananya hati Rangga yang sedang menyesali kesalahan dan berusaha menebusnya."Ayo, sarapan dulu." Bu Hasna menyodorkan piring berisi nasi dan lauk pada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status