LOGINHidup Gayatri yang seharusnya menjadi menantu malah berubah menjadi pembantu. Rumah yang sudah diwariskan untuk suaminya kini diambil kembali oleh mertuanya. Gayatri sudah tidak tahan dengan perlakuan mertua dan para iparnya. Melihat Gayatri yang hidup menderita, temannya berencana untuk membantu Gayatri kabur. Apakah rencana tersebut akan berhasil? Dan jika Gayatri kabur dari rumah apakah kebenaran akan suaminya yang menghilang akan terkuak?
View MoreGayatri menangis tersedu sambil menaburkan bunga ke atas permukaan air laut pelabuhan Bakauheni. Mengelap air mata yang membasahi pipinya, Gayatri mencium puncak kepala anak keduanya yang baru berusia dua tahun, sementara tangan kanannya mengusap kepalanya yang berdiri di sampingnya yang baru berusia lima tahun.
Bukan hanya Gayatri seorang saja yang menangis di sana, tetapi banyak orang-orang juga yang menangis sedih lantaran harus mengikhlaskan orang-orang terdekat dan yang dicintainya menghilang, pergi untuk selama-lamanya dan raganya tidak akan pernah ditemukan. Menghilang dalam gelap, dingin dan dalamnya lautan lepas.Sudah hampir dua pekan kapal feri yang mengangkut penumpang dari lampung menuju pelabuhan merak itu hilang. kabarnya kapal feri tersebut tenggelam di sekitaran Selat Sunda. Dari banyaknya penumpang kapal, hanya sekitar tujuh puluhan orang yang ditemukan, termasuk korban selamat yang hanya bisa dihitung dengan jari.Angin laut menerpa wajah Gayatri yang terlihat sangat sedih, wajahnya juga pucat karena tidak pernah sebentar pun tidak menangis."Ayo kita pulang," ucap Gayatri, mencoba tegar ketika Tim SAR dengan berat hati menghentikan pencarian korban tenggelamnya kapal feri itu.Sesampainya di rumah, Gayatri disuguhkan oleh tangisan histeris dari ibu mertuanya serta kedua adik iparnya. Televisi di ruang tengah menyala, menampilkan acara berita tentang Tim SAR yang berhenti mencari korban-korban dan menyatakan kalau semua penumpang itu tidak ada yang selamat."Hendar! Hendar! Hendar!" Ibu mertuanya berteriak memanggil anak sulungnya, satu-satunya anak laki-laki di keluarganya.Para tetangga yang memang sedang berkumpul di masing-masing rumah keluarga para korban itu mencoba menenangkan keluarga yang ditinggalkan.Ibu Nining, mertua Gayatri terjatuh pingsan. Gayatri buru-buru masuk ke dalam rumah, sebisa mungkin dirinya membantu mertuanya untuk segera sadar kembali.Tujuh hari kemudian, kehidupan mereka kembali normal meskipun perasaan mereka masih agak hampa karena kehilangan.Gayatri yang selesai memasak langsung pergi ke belakang rumah untuk mengambil cucian pakaian dan menjemurnya di depan rumah. Sengaja dirinya tidak langsung sarapan terlebih dahulu karena kalau dirinya ikut sarapan bersama mertua dan adik iparnya, pasti Gayatri akan langsung dimarahi. Kedua anak Gayatri pun belum diberi makan. Yang kecil hanya baru diberi minum susu saja.Sikap mertua dan adik iparnya langsung berbeda ketika Hendar sudah tidak ada. Yang tadinya pekerjaan rumah selalu dibagi-bagi, sekarang semua tugas Gayatri lakukan sendiri. Makanya akhir-akhir ini Gayatri selalu bangun jam empat pagi supaya nanti ketika Damilah akan berangkat ke sekolah, Gayatri tidak keteteran."Nanti kalau sudah selesai beres-beres rumah kamu jangan lupa pergi ke sawah buat bantuin ibu nanam sayuran. Jangan terlalu siang berangkatnya.""Iya, Bu," jawab Gayatri sambil merapikan posisi jemurannya.Bu Nining dan Damilah sudah pergi. Gayatri langsung menyuapi anak-anaknya makan makanan sisa karena sebagian sudah dibawa oleh ibu mertuanya dan juga Damilah yang dari bulan Januari sudah mulai les di sekolah dan pulangnya sampai sore."Nanti Gifari sama adek main di rumah Danang, ya. Soalnya ibu mau pergi ke sawah lagi. Jangan nakal ya, jagain adek. Ini uang buat jajan kalian berdua.""Iya, Bu," jawab Gifari sambil meminum air putih sambil habis.Sementara itu Gayatri mulai mencuci piring dan gelas yang kotor, setelah itu dilanjutkan dengan menyapu di dalam dan di luar rumah.***"Kamu ini dari mana saja? Kenapa baru datang sekarang? Dasar menantu lelet." Bu Nining langsung marah-marah begitu Gayatri sampai. Padahal hari ini masih pagi, sekitar pukul setengah tujuh lebih sepuluh menit."Maaf, Bu.""Maaf, maaf. Emangnya cukup minta maaf doang? Udah sana kamu pergi ke petakan sawah yang lain. Sekalian kamu pacul di sana biar pas nanam jadi gampang.""Iya, Bu." Gayatri dengan sigap mengambil cangkul dan mulai menggarap lahan tersebut.Sebenarnya petakan sawah yang sudah selesai dipanen sebulan yang lalu itu sudah digarap oleh orang lain. Tetapi karena kabar Hendar menghilang dan dinyatakan meninggal, Bu Nining menghentikan pekerja tersebut karena takut nantinya tidak terbayar, soalnya tulang punggung keluarga adalah Hendar. Jadi segala kebutuhan dari mulai Gayatri dan kedua anaknya, kemudian Bu Nining dan Damilah semua Hendar yang menanggung. Apalagi sekarang Damilah sudah kelas dua belas, makin banyak saja kebutuhan dari sekolah yang harus menelan banyak biaya. Apalagi sekarang harga sembako dan BBM sedang naik, sebisa mungkin keluarga Bu Nining harus menghemat.Siang harinya ketika mereka pulang, Gayatri pergi dulu ke kebun untuk mencari kayu bakar. Sementara Bu Nining langsung pulang ke rumah untuk tidur siang. Biasanya di rumah mereka sering masak nasi menggunakan magicom, tetapi karena menghemat, jadilah Gayatri harus menanak nasi menggunakan tungku.Gayatri menghela napas panjang. Ia sebisa mungkin menahan tangisnya supaya tidak pecah. Dalam keadaan dan situasinya saat ini, dirinya tidak boleh lemah karena Gayatri sama sekali tidak mempunyai pegangan.Gayatri dulunya adalah gadis yang hidup sebatang kara. Kata paman dan bibinya, orang tua Gayatri sudah meninggal dunia ketika Gayatri dilahirkan ke dunia ini. Dari kecil Gayatri sudah terbiasa hidup mandiri meskipun paman dan bibinya selalu mencoba memanjakannya.Ketegaran hati Gayatri runtuh ketika mendengar suaminya, orang yang paling dicintainya itu pergi untuk selama-lamanya meninggalkan dirinya dan kedua anaknya. Hidup Gayatri seketika terasa hancur. Kini tempat satu-satunya untuk bersandar itu tidak ada. Gayatri sekarang harus berdiri sendiri dan harus mencoba untuk kuat.Andai saja saat itu Gayatri tidak mengijinkan Hendar untuk merantau ke Bandung, bekerja di tempat temannya yang saat itu katanya sedang membutuhkan tambahan pekerja, pasti hal ini tidak akan terjadi. Hendar tersayangnya itu masih ada di sampingnya dan sikap mertua serta iparnya tidak akan berubah."Mas...," Sekuat apa pun Gayatri menahan tangisnya, hal tersebut nyatanya tidak berhasil. Perlahan air matanya jatuh, tetapi Gayatri buru-buru menghapusnya. Dirinya takut kalau ibu mertuanya melihat dirinya sedang menangis. Pasti nantinya akan menjadi sebuah masalah yang berkepanjangan.Di dalam hati Gayatri, dirinya mendoakan kebaikan untuk suaminya. Meskipun agak mustahil dan sedikit menentang takdir, tetapi selama raga Hendar belum juga ditemukan, Gayatri berharap kalau suaminya itu selamat di suatu tempat supaya nanti keluarga kecil mereka bisa berkumpul kembali.Gayatri menatap cincin pernikahannya dengan Hendar. Sampai sekarang Gayatri enggan melepaskan cincin suci tersebut. Biarlah cincin itu masih tetap Gayatri pakai, hitung-hitung untuk menjaga dirinya dari para laki-laki yang mencoba menggodanya. Biarlah para ibu-ibu mencemooh dirinya karena sudah janda ditinggal mati tetapi tidak melepaskan cincin pernikahan. Ibu mertuanya tidak memarahi Gayatri karena masih memakai cincin tersebut. Atau memang Bu Nining sengaja membiarkan Gayatri tetap memakainya karena anaknya masih ada yang gadis dan juga lajang. Jadi semua perhatian orang-orang pasti akan tertuju pada Gayatri karena mereka merasa iba atau karena Gayatri sudah dewasa.Dari segi fisik, rupa dan sifat, Gayatri jauh lebih unggul daripada Damilah. Bahkan saat ini Gayatri sudah memiliki anak dua pun, kecantikan Gayatri tidak pernah memudar. Tubuhnya tetap kurus ideal.Mata Gayatri menatap jam dinding di kamarnya. Sekarang jam menunjukkan pukul setengah lima pagi dan Gayatri sudah terbangun gara-gara perutnya lapar. Dengan berjalan mengendap-endap supaya tidak membangunkan tamu yang sedang tertidur lelap di rumahnya.Gayatri makan roti tawar dan menyeduh susu cokelat. Ia tidak bisa memasak karena kemarin tidak belanja, orang-orang yang ada di rumah membeli nasi dan lauk dari luar.Hari ini sepertinya warung kupat tahu Gayatri harus tutup kembali karena tidak ada bahan-bahan dan tubuh Gayatri belum sepenuhnya pulih."Sudah bangun, Tri?" Bram tiba-tiba ikut duduk di dapur, menemani Gayatri."Saya bikin gaduh, ya? Maaf kalau saya ngebangunin Pak Bram.""Nggak, kok. Saya kebetulan memang sudah bangun.... Kamu lapar? Biar saya yang beli sarapan kamu tunggu di sini.""Nggak usah, Pak. Biar saya saja yang belanja." Gayatri mencegah. Gayatri merasa tidak enak juga tiga hari ini Bram dan Cindy direpotkan olehnya."Kondisi tubuh kamu, kan, belum terlalu fit.
Sesuai janji, Bram mengajak Gayatri dan kedua anaknya jalan-jalan setelah kemarin seharian main ke Mall. Hari ini mereka pergi ke kebun binatang, itu permintaan Baiq karena dirinya ingin melihat gajah yang besar dan jerapah yang tinggi. Setelah puas berkeliling kebun binatang, mereka pergi ke water boom soalnya Ghifari ingin renang. Ia belum pernah ke kolam renang, dulu ia sering renang di sungai. Ah iya, waktu mereka di Tanggerang, mereka belum sempat pergi ke rumah orang tuanya Bram, padahal di sana ada kolam renang.Baiq dan Ghifari pindah-pindah berenangnya. Sebentar-sebentar di tempat mandi bola kemudian pindah ke tempat mandi busa. Baiq paling senang saat main perosotan. Gayatri sudah was-was saja melihat Baiq yang sudah beberapa kali naik ke perosotan. Takutnya pas melesat ke bawah, Baiq tenggelam. Meskipun kolamnya tidak dalam karena kolam khusus anak kecil, tetap saja Gayatri harus sigap dengan situasi apapun yang akan terjadi."Kenapa kamu nggak ikut berenang aja? Tuh ibu-ib
Ghifari memerkirakan sepedanya di depan rumah kontrakan bercat kuning gading. Di teras depan terdapat gerobak, meja dan kursi. Ada beberapa orang yang sedang duduk-duduk santai sambil mengobrol banyak hal."Bu, aku pulang," ucap Ghifari sambil mencium tangan Gayatri yang tengah mengulek bumbu kupat tahu."Kalau mau makan, lauk sama nasinya ada di meja makan ya. Jangan lupa ganti baju dulu.""Baik, Bu." Ghifari mengangguk patuh. Ia makan bersama adiknya yang sedang bermain mobil-mobilan sendiri. Biasanya jam segini Baiq sedang bermain di luar bersama anak-anak kontrakan yang lain."Jadi gimana, Mbak Tri? Mau ndak?" tanya Mbak Iim."Buat Mbak Diajeng saja," jawab Gayatri singkat.Orang-orang yang sedang di sana tertawa terbahak."Mbak Tri ini piye to? Dikasih lanang kok ndak mau?" Mbak Iim menggelengkan kepalanya. "Mbak Diajeng kan sukanya sama Mas Danang ya jelas nggak bakal milih Mas Adi."Gayatri hanya tersenyum kecil.Kini Gayatri tinggal di kota Semarang. Sudah hampir lima bulan ia
Sakit. Hendar merasakan rasa sakit yang teramat hebat pada tubuhnya. Ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Rasanya sangat berat dan kaku. Hendar tersadar tetapi matanya enggan terbuka. Telinganya juga mendengar suara-suara yang berada di sekitarnya.Aku kenapa? Hendar bertanya-tanya dalam hatinya."Ma! Mas Hendar gerak! Ia sudah sadar!"Sebuah suara yang tak asing itu membuat mata Hendar yang terpejam terbuka. Hal pertama yang Hendar lihat adalah cahaya putih yang menyilaukan matanya.Gayatri!Ketika teringat dengan Gayatri, Hendar sekuat tenaga mencoba bangun tetapi hasilnya tetap nihil. Ia masih tidak bisa bergerak.Gayatri, aku harus bertemu dengan Gayatri sekarang!Dalam hatinya Hendar terus menggumamkan nama Gayatri. Betapa menyesal hatinya atas apa yang telah ia lakukan selama ini.Dokter dan para perawat datang dan segera memeriksa Hendar sementara Hita dan ibunya disuruh keluar supaya tidak mengganggu pemeriksaan.***Gayatri membereskan dagangannya kare
Akhir-akhir kepala Hendar selalu pusing, pusing yang benar-benar berat dan kepalanya seperti berputar-putar. Hendar sempat memeriksakannya ke dokter dan kata dokter Hendar sehat-sehat saja tidak ada masalah yang serius. Ketika tertidur, mimpi Hendar pun tidak pernah indah. Ia sering bermimpi yang a
Suara bersisik di dapur membangunkan Gayatri dari tidurnya. Padahal saat ini jam menunjukkan pukul empat pagi, masih ada waktu setengah jam lagi bagi dirinya untuk terbangun dan mulai mengerjakan tugas rumah."Siapa yang lagi memasak?" gumam Gayatri. Ia kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan seg
Sudah dua minggu ini Gayatri tidak pergi kemana-mana, yang berbelanja kebutuhan pokok pun sekarang Cindy dan Bram, kadang Cindy bersama Bu Nela. Pokoknya, semenjak kejadian Bu Nining mengamuk di rumah sakit Hendar dan Bram langsung melindungi Gayatri dan anak-anaknya. Menjauhkan mereka dari keramai
Bram sedikit meringis ketika seorang perawat mengoleskan obat luka pada tubuh Bram yang penuh luka cakaran terutama di punggungnya. Begitupun dengan Gayatri, perempuan itu juga terluka di pipi kiri dan dagunya, sedangkan dahi kanannya sedikit memar karena terbentur ke bagian belakang mobil.Hendar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.