LOGINSaat keluarganya menjerumuskan Puspa ke dalam utang, dia justru diselamatkan oleh Jarren, musuh bebuyutannya. Jarren meminta balasan, yaitu pernikahan kontrak dan seorang anak. Semuanya tampak sederhana, sampai rahasia masa lalu dan perasaan yang tak pernah terucap mulai terungkap. “Kontraknya boleh berakhir. Tapi siapa bilang aku bakal melepas istriku?” Jarren menyobek surat cerai yang diajukan oleh Puspa.
View More“Ibu Puspa! Panggilan untuk Ibu Puspa, ayo dibayar utangnya 200 juta!”
Puspa yang sedang mengajar di depan kelas, seketika membeku. “Sekali lagi, panggilan untuk Ibu Puspa! Ibu mau ke sini atau–” Pengeras suara yang ada di setiap kelas itu kembali berbunyi, meski sepertinya siapa pun yang berbicara tidak dapat menyelesaikan ucapannya. “Itu tadi panggilan untuk Bu Puspa?” “Kamu dengar nggak? Bu Puspa punya utang 200 juta?” Bisik-bisik dari para siswa mulai terdengar. Belum sempat Puspa mencerna semua yang terjadi, pintu kelas tiba-tiba dibuka dengan kasar. BRAK! “Bu Puspa!” seru Anisa, rekan sesama gurunya dengan napas terengah-engah. “Ada yang cari Ibu. Ayo, Bu, ke ruang guru dulu!” Meski masih bingung dengan apa yang terjadi, Puspa akhirnya menurut. “Sebentar ya, jangan ada yang berisik atau keluar kelas,” pinta Puspa pada para siswa di dalam kelas. “Silakan analisis kasus yang sudah Ibu tulis di papan tulis. Sebelum Ibu kembali, tugas sudah harus ada kemajuan!” Puspa buru-buru merapikan ujung hijab cokelat mudanya yang sedikit bergeser sebelum mempercepat langkah mengikuti Anisa menuju ruang guru. “Maaf ya, Pa. Tadi kami benar-benar kewalahan menghadapi mereka dan lengah saat mereka diam-diam pakai mikrofon di sistem PA kita. Cuma ada guru perempuan, itu pun sedikit, yang lain sedang mengajar,” sesal Anisa. “Iya nggak apa-apa,” sahut Puspa sudah tidak fokus. Di ruang guru, seorang pria bertubuh besar berotot langsung berdiri mendekati Puspa yang baru tiba. “Kamu yang namanya Puspa?!” tanyanya sambil menunjuk-nunjuk wajah Puspa. “Bayar 200 juta sekarang atau kamu ikut kami sesuai perjanjian!” Tubuh wanita cantik itu tampak sangat kecil dibanding dua pria yang sedang dia hadapi di ruang guru. “Sebentar, Pak.” Puspa mengangkat kedua tangannya, memberanikan diri. “Saya nggak tahu kalian siapa? Saya juga merasa nggak pernah berutang.” “Nih, bukti utangmu!” Pria bertubuh kurus yang berdiri di sebelah temannya, mengulurkan selembar kertas pada Puspa. Puspa menerima uluran kertas itu. Saat melihat nominal utang 200 juta atas nama ayahnya, kedua bola mata Puspa membola dan tangannya gemetar. Keberanian yang tadi sempat Puspa tunjukkan, kini menghilang entah ke mana. Jadi ayahnya yang berutang? “Saya nggak ada uang segini, Pak,” sahut Puspa lirih. Puspa belum pernah berhadapan dengan debt collector sepanjang hidupnya. Apalagi mereka datang di saat jam mengajar dan kini mempermalukan Puspa di depan rekan-rekan sesama guru. Beberapa siswa juga mengintip dari jendela ruang guru. Mereka menatap penasaran apa yang terjadi pada Puspa, guru muda sekolah mereka yang terkenal tegas. Rasanya Puspa lemas dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jantungnya berdebar kuat dan keringat dingin mulai membasahi pelipis Puspa. Setiap kali melihat angka 200 juta itu, dada Puspa seperti menyempit dan dia menjadi sesak napas. “Dasar anak nggak tahu diri! Bapakmu pontang-panting cari utangan buat kamu, sekarang kamu malah berlagak nggak punya uang!” maki pria pertama. “B-buat saya?” tanya Puspa yang kini terlihat pucat. Dada Puspa naik turun semakin cepat. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi udara yang masuk terasa tidak pernah cukup. Suara mengi lirih terdengar setiap kali Puspa mencoba bernapas. Tangannya refleks mencengkeram dada. Wajah Puspa yang semula pucat perlahan berubah kebiruan di sekitar bibir. Pandangannya mulai berkunang-kunang. "Ngg ... ha ...." Suara Puspa tercekat. Puspa ingin memanggil seseorang, tetapi yang keluar hanya embusan napas berat. “Inhaler! Inhaler kamu di mana, Pa?” tanya Anisa yang pertama kali menyadarinya. “Apa? Ada apa?” Debt collector itu kini ikut panik. Puspa hanya mampu menunjuk ke luar ruang guru. Inhaler-nya tertinggal di kelas, tetapi dia tidak bisa menjawab. Lutut Puspa melemas. Tubuhnya bergoyang pelan sebelum kehilangan keseimbangan dan tidak sadarkan diri. Bruk! Saat terbangun dari pingsannya, Puspa mendapati dirinya sedang berada di atas ranjang IGD dengan tirai tertutup di sekelilingnya. Puspa memegangi dadanya yang kini sudah kembali bernapas dengan normal sambil menyapu pandangan ke sekeliling. Dia masih merasa sedikit pusing. Wanita itu mengambil tasnya yang ada di atas nakas untuk mengambil ponsel. Dia mencoba menghubungi ayahnya, tetapi tidak diangkat. Begitu pula saat menelepon ibunya. Puspa akhirnya mengirim pesan ke kakaknya. “Kak, aku ada di RS. Tolong jemput.” Namun tidak ada balasan hingga beberapa menit kemudian. Puspa perlahan turun dari ranjang setelah pusingnya mereda. Saat hendak keluar, tatapan Puspa langsung tertuju pada dua debt collector yang tadi menagih utang padanya sedang berbincang di depan area administrasi IGD. Jantung Puspa kembali berdebar dengan kencang. Dia menutup kembali tirai ranjangnya dan kembali mendekati ranjang. “Mereka nungguin aku?” tanya Puspa panik. Saat merasakan dadanya kembali menyempit, Puspa memejamkan mata dan segera mengatur napas. “Tenang, pasti ada jalan keluar,” ucap Puspa menenangkan dirinya sendiri. Puspa menggulir daftar kontak di ponselnya dari atas. Siapa tahu ada yang bisa membantu Puspa keluar dari sini, jika memang keluarganya tidak bisa. “Anisa nggak mungkin. Dia sedang ada kelas,” gumam Puspa kembali menggulir semakin ke bawah. Jari Puspa berhenti ketika melihat nama Jarren Dewandaru. Dia adalah musuh bebuyutan Puspa semasa SMA dan kabarnya sekarang bekerja sebagai pengacara. Bukan pengacara biasa, melainkan pengacara muda terkenal yang tidak pernah kalah dalam kasus. Semua pengacara lawan takut jika berhadapan dengannya. “Apa aku minta bantuannya aja?” tanya Puspa sambil menggigit bibir. Debt collector itu mengancam akan membawa Puspa entah kemana. Dia juga tidak mengerti soal hukum. Seharusnya Jarren bisa membantu Puspa. “Ah, enggak, enggak!” Puspa menolak idenya sendiri sambil menggeleng. “Masalah seperti ini pasti sangat receh baginya. Dia mana mau membantu? Lagian gengsi, Pa. Bisa-bisa dia cuma menertawakanmu!” Srek! Tiba-tiba tirai pembatas ranjang IGD-nya terbuka. Puspa spontan menoleh dengan cepat. Kedua matanya membola. Wanita itu justru melihat sosok yang paling tidak ingin dia temui dibandingkan debt collector tadi. “Jarren?!” “Halo, musuh lamaku,” sapa pria tinggi semampai itu sambil tersenyum sinis. “Kupikir aku nggak bakal ketemu kamu lagi. Masih membenciku?”Jarren menoleh ke arah Puspa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sesaat, Puspa sanksi dengan ucapan Anisa tentang Jarren. Apakah benar seorang pengacara menakutkan, bersikap seperti ini? Atau memang Jarren hanya bersikap seperti ini di depan Puspa? “Aku cari kamu,” jawab Jarren sambil mengangkat sebuah totebag di depannya. “Kamu tadi pagi nggak sarapan. Mbok maksa aku bawa ini buat kamu.” Jarren mengulurkannya pada Puspa. Wanita itu menerimanya dengan bingung. “Tapi aku udah makan siang,” sahut Puspa. “Itu camilan kering kok. Bisa kamu taruh di meja kamu buat ganjelan,” balas Jarren. “Oke ….” Puspa masih mengernyitkan dahi heran sambil menatap Jarren. “Kamu bentar lagi pulang, kan? Aku tunggu di mobil.” Jarren menunjuk area parkir yang sebenarnya tidak terlihat dari depan ruang guru. “Kamu duluan aja,” sahut Puspa. “Aku mau ketemu teman dulu pulang ngajar.” Raut wajah Jarren spontan berubah. Senyum tipisnya memudar. Dia teringat satu nama pria yang semala
Seolah Jarren hilang dari hadapannya, Puspa langsung bangkit sambil menerima telepon itu. “Iya, Dim?” Puspa melangkah ke arah jendela, menjauh dari Jarren. Sementara pria itu mengernyitkan dahi penuh curiga. Namun dia segera menggeleng begitu mengingat mereka tidak boleh mencampuri urusan masing-masing. Jarren mendengkus kasar. Dia mengambil ponselnya untuk mengalihkan perhatian. Lagipula Jarren tidak bisa mendengar apa yang Puspa bicarakan dengan pria antah-berantah bernama Dimas. “Siapa Dimas? Telepon malam-malam, nggak ingat waktu banget,” gerutu Jarren pelan. Tepat setelah itu, Puspa tertawa terbahak-bahak sangat kencang. Fokus Jarren kembali teralihkan. Dia berhenti menggulir layar. Mau tidak penasaran, tetapi Puspa tertawa sekencang itu. Hati suami mana yang tenang jika berada di posisi Jarren. Iya, kan? “Ya, ya, udah dulu ya …” Suara Puspa kembali terdengar saat wanita itu mendekat. “Kayaknya lebih enak ceritanya kalau kita ketemu langsung. Besok abis ngajar, ak
Saat bibir Jarren hendak mendarat pada bibir Puspa, napas wanita itu justru mengi. Puspa memegang kedua bahu Jarren dan mendorongnya menjauh. “Inhaler-ku.” “Di mana?” Jarren menatap Puspa khawatir. Puspa tidak menjawab, tetapi dia melangkah menuju tasnya di atas meja. Beberapa detik kemudian, Puspa menghirup inhaler-nya. Jarren memegang kedua bahu Puspa. Dia membantu wanita itu duduk di tepi ranjang. Konyol sekali. Asma Puspa kambuh saat Jarren hampir menciumnya? “Ini ciuman pertama kamu?” tebak Jarren sambil mengangkat salah satu alisnya. Puspa melirik sinis. “Apa maksudnya?” Puspa menurunkan inhaler di tangannya. “Ini pernikahan pertamaku. Memangnya kamu pikir aku cewek macam apa?!” “Kayaknya asma kamu sembuh kalau kamu kesal,” timpal Jarren. Kekhawatiran sudah menghilang sepenuhnya dari wajah pria itu. Puspa menggeleng. Dia menaruh inhaler ke meja terdekat. Sementara Jarren kembali ke walk-in closet tanpa pintu. “Sejak kapan kamu sakit asma?” tanya Jarren, berteriak da
Sesaat Puspa lupa kalau Jarren adalah seorang pengacara. Selalu berpikir lima langkah lebih depan daripada orang lain adalah kekuatan pria itu. Orang pintar menyelesaikan masalah di pengadilan. Namun pengacara hebat sepertinya akan mencegah masalah masuk ke pengadilan. Jadi Puspa membaca semua pasal dalam kontrak dengan hati-hati. Dahinya mengernyit. Pernikahan sah dan tinggal serumah. Tidak boleh selingkuh atau memberi harapan kepada orang lain. Wajib saling terbuka mengenai ancaman dan masalah hukum. Memiliki minimal satu anak. Hak dan kewajiban setelah perceraian, termasuk hak anak. Jika salah satu pihak melanggar kontrak, pihak yang dirugikan berhak meminta perceraian lebih awal. Tidak ada yang aneh, kecuali dua. Pertama, pasal yang menyatakan bahwa Puspa tidak boleh membantu keluarga secara finansial atau menandatangani dokumen tanpa persetujuan Jarren. “Kamu akan mengatur uangku?” Puspa mengangkat salah satu alisnya. “Mencegah keluargamu memanfaatkanmu.” Jarren mengoreksi.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore