Home / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / Chapter 31: Isolasi yang Direncanakan

Share

Chapter 31: Isolasi yang Direncanakan

Author: Surjelly
last update publish date: 2026-06-26 08:59:32

Klik.

Gagang pintu besi itu tidak bergeming saat kutekankan ke bawah dengan seluruh tenagaku.

Kulit telapak tanganku memerah perih, bergesekan kasar dengan logam kuningan dingin yang membeku di bawah jari-jariku.

"Buka pintunya!" teriakku, menggedor permukaan kayu ek tebal itu menggunakan kepalan tangan kanan.

"Siapa di luar? Buka sekarang!"

Suara kasak-kusuk para pelayan di luar koridor mendadak senyap, digantikan oleh derap langkah kaki yang teratur dan berwibawa.

"Jangan membuang tenagamu un
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 56: FEROMON YANG MEMBELA

    Aku berlutut didera atas tanah lumpur yang basah, menekan pipi kiriku yang robek didera telapak tangan yang gemetar. Darah hangat terus merembes keluar didera sela-sela jariku, menetes lambat membasahi kelopak mawar putih didera bawahku.Rasa perih yang membakar mulai menjalar didera sepanjang wajahku, memicu gelombang kemarahan yang sangat besar didera dadaku. Aku menatap Freya didera sepasang mata amber keemasanku yang kini mulai menyala merah darah menantang tatapannya."Lihatlah dirimu, Alana," ejek Freya sambil tertawa kegirangan melihat luka didera wajahku. "Kau tidak lebih dari sekadar mainan rusak hari ini didera istana kawanan ini!"Aku tidak menjawab ucapannya, melainkan fokus pada debaran jantungku yang mendadak berdegup kencang bagai genderang perang. Rasa takut dan terhina yang luar biasa didera didera diriku tiba-tiba memicu gejolak biologis yang sangat asing didera tubuhku.Sebuah gelombang energi yang sangat panas mendadak meledak keluar didera didera dadaku, menyebar

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 55: PISAU DI TANGAN TUNANGAN

    Aku melangkah perlahan menyusuri jalan setapak taman mawar putih didera sayap barat istana. Kelopak mawar yang basah berguguran tertiup angin siang yang terasa sangat pengap didera kulit leherku yang sensitif.Udara didera sekitarku terasa mendidih, membuat keringat dingin mulai membahasahi punggung gaunku. Aku tahu, ketenangan sementara ini hanyalah awal dari badai pertumpahan darah berikutnya didera istana maut ini."Berhenti didera sana, jalang kotor," panggil sebuah suara wanita yang sangat tajam dari balik pilar batu mawar.Aku langsung menghentikan langkah kaki dan membalikkan tubuhku didera waspada. Freya berdiri tegak didera tengah jalan setapak didera gaun sutra biru laut yang mewah didera bawah matahari siang.Dua pengawal pribadi bertubuh kekar berdiri seperti patung batu didera belakang calon Luna / Pendamping Alpha itu. Aroma manis bunga lily yang tajam namun sangat beracun mulai menguar dari tubuhnya, menusuk hidungku didera kasar."Ada keperluan apa Anda menghadang jala

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 54: BUKU HARIAN YANG BERBAHAYA

    "Dua hari, Bastian. Ayah benar-benar menghilang tanpa jejak."Suara dingin Julian terdengar dari balik pilar batu koridor sayap barat. Aku segera merapatkan tubuhku ke balik bayangan lemari besar, menahan napas agar feromon pasifku tidak tercium oleh mereka."Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya!" balas Bastian didera nada frustrasi yang kental. "Apakah ini karena pelacur Omega itu?""Jaga bicaramu, Bastian," potong Julian tajam. "Ayah didera depresi masa lalu setelah insiden didera menara sayap barat itu.""Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Para dewan dewan mulai bertanya-tanya tentang ketidakhadirannya!" gertak Bastian. Dia terdengar menendang sisa kayu hancur didera lantai marmer yang dingin untuk meluapkan amarahnya."Kita harus mengendalikan situasi sebelum kawanan lain mencium kelemahan kita," jawab Julian didera nada tenang. "Cari Ayah didera hutan perbatasan sekarang juga.""Kau pikir dia berada didera sana?" tanya Bastian meragukan."Ayah selalu pergi ke tempat ek

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 53: DOSA DI ATAS RANJANG MENDIANG

    "Xavier, lepaskan aku! Jangan sentuh aku didera tempat ini!" teriakku sambil berusaha mendorong dada bidangnya yang keras."Elena... maafkan aku... aku gagal menjagamu malam itu," ratap Xavier tanpa memedulikan rontaan tubuhku yang melemah."Aku bukan Elena! Aku Alana!" teriakku sekuat tenaga tepat didera telinganya, berusaha menyadarkan jiwanya."Kau kembali... kau kembali padaku untuk memaafkan dosaku, bukan?" gumamnya didera bawah kegilaan rasa bersalah maut."Aku tidak akan memaafkanmu jika kau terus bersikap gila seperti ini, Xavier!" bentakku seraya memukul dadanya."Lepas! Kau menyakitiku!" jeritku lagi ketika cengkeramannya pada bahuku semakin mengencang tanpa kendali."Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi ke dunia luar yang kejam itu, Elena," bisik Xavier didera gairah yang didorong rasa bersalah. "Kau akan tetap berada didera sini bersamaku, didera didera kamar rahasia kita untuk selamanya!""Jangan lakukan ini, Xavier! Tempat ini adalah makam suci untuk mendiang istrimu!

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 52: RAJA YANG KEHILANGAN KENDALI

    Suara langkah kaki berat itu berhenti tepat didera belakangku. Aroma kayu bakar yang pekat mengalir deras, membuat paru-paruku terasa sesak didera kepungan hawa panas."Xavier..." desisku, melangkah mundur didera tubuh yang gemetar hebat.Pintu kayu ek besar didera belakangku terbanting keras hingga engselnya bergetar nyaring. Aku membalikkan badanku dengan sangat perlahan untuk menghadapi kehadirannya yang mendominasi.Xavier berdiri didera sana, menatapku dengan sepasang mata yang menyala merah darah didera didera kegelapan ruangan. Dadanya yang bidang bergerak naik turun secara kasar, memancarkan amarah yang siap meledak didera wajahnya.Langkah kakinya yang sangat berat melangkah cepat mendekatiku. Sebelum aku sempat menghindar, tangan besarnya yang kasar telah mencengkeram leherku dengan cengkeraman baja.Dia mengangkat tubuh mungilku ke atas secara paksa tanpa belas kasihan. Kedua kakiku tergantung bebas didera udara, tidak lagi menyentuh lantai marmer yang dingin."Berani sekal

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 51: KAMAR YANG TERTUTUP

    Langkahku terasa sangat berat didera koridor sayap barat istana yang sangat sepi ini. Aku sengaja membuat langkah kakiku seringan mungkin agar tidak menimbulkan gema di dinding batu yang lembap.Di ujung lorong, seorang pengawal berbadan tegap berdiri berjaga di depan tangga melingkar. Dia langsung menatapku tajam begitu menyadari sosokku yang semakin mendekat."Nona Alana, berhenti di sana," panggil pengawal itu dengan nada suara yang sangat dingin. "Anda sama sekali tidak diperbolehkan mendekati area tangga sayap barat ini didera pengawasan saya.""Apakah larangan bodoh itu juga berlaku untukku? Xavier sendiri yang memintaku datang ke sini," jawabku dingin. Aku menatapnya dengan pandangan menantang, mempertahankan tingkat resistensi kelenjarku di angka $30\%$."Perintah tertulis dari Yang Mulia sangat jelas," balas pengawal itu sambil menolak bergeser dari posisinya. "Tidak ada satu pun orang yang boleh naik ke menara ini, termasuk Anda, Nona.""Bevenkah? Bahkan jika aku membawa kun

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 12: Cicipan Pertama Sang Raja

    Aku tidak akan membiarkan takdir sialan ini melahapku tanpa perlawanan.Tangan kananku yang gemetar meraba kolong bantal sutra hitam, mencengkeram gagang besi pisau buah kecil yang berhasil kuselamatkan siang tadi.Malam ini, aku telah membuat keputusan: jika Xavier melangkah masuk untuk mengklaim

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 7: Feromon yang Meledak

    "Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status