Ada yang salah dengan taman mawar putih ini.Bukan karena kelopaknya yang terlalu pucat, melainkan karena hawa dingin tidak wajar yang tiba-tiba merayap naik, membekukan tengkukku.Seseorang sedang mengawasiku dari balik kabut labirin mawar."Memetik duri hanya akan membuat jemarimu yang rapuh terluka, Alana."Sebuah suara sedingin es memecah kesunyian dari arah belakang.Aroma peppermint tajam bercampur embun beku langsung menyerbu indra penciumanku tanpa ampun. Tubuhku menegang seketika.Julian melangkah keluar dari balik bayangan pohon cemara raksasa. Kemeja hitamnya terkancing rapi tanpa cela, matanya berkilat emas mati—tanpa emosi, namun penuh perhitungan."Pergi, Julian," desisku, melangkah mundur hingga punggungku membentur semak mawar berduri yang tajam."Ini wilayahku. Kau tidak punya hak untuk mengusirku," sahutnya tenang, melangkah maju untuk mengikis jarak di antara kami."Kau membiarkan ayahmu mencengkeram rahangku di Aula Besar kemarin pagi!" cecarku, menatapnya dengan ke
Magbasa pa