LOGIN“Itulah mengapa kamu melakukan perjalanan ke Sanctuary Dome bersama Cade?” tanya Shin, merasa tertarik dengan perbincangan ini, “tidakkah kamu berpikir perjalananmu ini sangat berbahaya? Maksudku, bagaimana kamu bisa semudah itu memutuskan pergi ke sana?”Rose menatap langit-langit ruangan. “Keinginan untuk membawa ibuku pergi sudah ada dalam diriku sejak beliau dibawa pergi. Tapi aku tahu bahwa keinginan itu terlalu tinggi untuk direalisasikan, jadi aku hanya mendekam di rumah selama ini. Sampai akhirnya Cade menawarkan bantuan untuk membawaku ke sana. Bukan hanya itu, dia juga berniat membantuku menyelinap dan menyelamatkan ibuku.”“Cade seakan menjadi jalan keluar yang selama ini kucari-cari. Dia membawakan kesempatan yang tak akan datang lagi jika aku menolaknya. Itulah mengapa aku memutuskan untuk melakukan perjalanan dengannya. Wilayah Luar memang sebuah kejutan bagiku, tapi demi ibuku, dan juga Cade yang rela membantuku, aku tak boleh mundur,” ungkap Rose, diselingi batuk kec
Tak ada yang mengelakkan betapa dekatnya Rose dan Cade karena mereka sudah bersama sejak awal perjalanan. Shin juga mengerti itu dan sadar diri bahwa dia baru bergabung beberapa hari lalu. Namun entah mengapa, mendengar Rose mengira dirinya adalah Cade ... ada sedikit kekecewaan dalam dirinya.Apalagi, Rose terus-terusan mengulang pertanyaannya dengan nada memastikan.“Kamu Cade? Atau bukan?” ulang Rose dengan suara yang sama lirihnya.Padahal baru saja siuman, tapi Rose memiliki cukup energi untuk bertanya sebanyak itu. Mungkin Rose sendiri merasa ada yang janggal. Pandangannya yang masih buram membuatnya melihat Shin seperti Cade. Tapi tangannya pasti merasakan yang dia genggam bukanlah tangan Cade.Shin menghela napas pendek. “Kepalamu selalu dipenuhi oleh Cade, ya? Sampai orang bermata sipit sepertiku kamu anggap mirip dengannya.”Rose tampak terkejut, kemudian mengerjapkan mata berkali-kali. Mulutnya yang terbuka tidak mengeluarkan suara apa pun lagi selama beberapa detik, s
Wajah Alan begitu panik saat mendengar laporan dari Shin. Namun, setelah dirinya memeriksa sendiri kondisi Rose, dia menghela napas lega sembari mengusap peluh yang sempat membasahi dahinya.“Kenapa responsmu seperti itu?” tanya Shin, makin mengerut sampai kedua alisnya nyaris bertaut, “kamu tidak melihat Rose sedang meregang nyawa? Lakukan sesuatu!”“Rose baik-baik saja, Shin. Ini adalah reaksi tubuhnya terhadap obat-obatan yang kumasukkan ke dalam tubuhnya. Reaksi normal, bukan pertanda buruk,” jelas Alan perlahan, sekejap menghilangkan kepanikan Shin.Memang benar, orang awam yang melihat kondisi Rose saat ini pasti berpikir macam-macam. Sekilas tampak seperti orang yang tinggal mengembuskan napas terakhir.Demam Rose kembali melonjak. Tubuhnya begitu panas hingga kain kompres cepat mengering. Napasnya pun tersengal, dadanya naik-turun tak beraturan. Kerutan muncul di dahinya, selagi matanya terpejam kuat.“Sungguh? Tapi tubuhnya panas sekali,” kata Shin yang masih setengah y
Alan berkacak pinggang, menatap sinis ke arah Cade yang menggerutu kesal. Pria yang diajaknya bicara tidak menjawab, hanya memalingkan muka sambil mengusap-usap lehernya. Walau terkesan menghindar, Alan menganggap Cade sudah mengerti peringatannya.Pandangannya beralih pada Leon yang sedari tadi juga meringkuk di depan api unggun. Air muka Leon memang tampak sedih, tapi masih ada binar di matanya yang menandakan dia punya harapan .“Kamu sudah memakai vaksinnya?” tanya Alan.“Belum—ah, tapi aku mau suntik sendiri, oke? Tak butuh bantuanmu,” jawab Leon, panik melihat Alan berjalan cepat ke arahnya, “karena Cade tidak langsung memakainya seperti Shin, tadi aku jadi ragu. Tapi, selalu kusimpan di saku celana, kok.”Alis Alan bertaut, seolah tak percaya dengan kata-kata Leon. “Kalau begitu, pakailah—AAAAA!!”“Apa? Ada apa?” Leon terkejut bukan main mendapati Alan mendadak melompat ke balik punggungnya.Dengan penuh gemetar, jari Alan menunjuk sesuatu di rerumputan. “I-itu ... ada ke
“A-apa? Kenapa kamu berkata seperti itu?” Alan makin merengut melihat Cade yang begitu putus asa. “Aku sudah bersama Rose sejak awal dia keluar dari rumahnya. Aku yang membawanya pergi. Aku yang membuatnya mengalami semua hal ini termasuk terinfeksi oleh virus mutasi itu,” ungkap Cade, tatapan kosongnya tertuju pada api unggun, “kalau dia berubah, dia tak akan kembali, kan? Jadi, aku akan membiarkan diriku sendiri menjadi sama dengannya.”Alan baru saja ingin membuka mulut saat Cade menambahkan, “Dulu, Rose bilang ibunya pernah berpesan padanya untuk tetap hidup. Dan aku gagal menjaganya. Jangankan menemui ibunya di Sanctuary Dome, dia akan berakhir di sini karena diriku.”“Cade, berhenti!” tukas Alan, tiba-tiba saja sudah berada di samping Cade dan memegang kedua bahunya. Diguncangnya bahu Cade perlahan walau tidak berefek apa-apa. Hanya bergoyang sedikit, tatapan Cade pun masih sama kosongnya. Terdengar helaan napas panjang nan penuh penekanan dari mulut Alan.“Dengarkan aku,
Sesuai perkiraan Leon, di dekat sungai ada sebuah rumah kecil yang dahulu digunakan sebagai pos penyaringan air minum. Letaknya tepat di tepi sungai, tampak seperti telah lama ditinggalkan. Dinding beton dipenuhi retakan, sebagian atapnya runtuh, dan tanaman rambat menjalar hingga menutupi hampir seluruh jendela.Meski nyaris roboh, bangunan itu masih cukup kokoh untuk dijadikan tempat berlindung. Leon dan Cade sudah memeriksa kondisi bagian dalamnya.“Sudah kami bersihkan semuanya. Beruntung ada meja panjang yang bisa Rose gunakan untuk berbaring,” kata Leon, keluar dari rumah tersebut sembari mengibaskan tangan, “banyak mesin-mesin penyaring air di sana, jadi sepertinya hanya bisa ditempati Rose dan satu penunggu.”“Kalau begitu, kita bergantian jaga saja nanti. Aku akan berjaga saat dia butuh diperiksa. Sisanya, kalian atur saja bagaimana nyamannya,” usul Alan.Shin menyahut, “Bergantian tiap lima jam saja. Bagaimana menurutmu, Cade?”Tidak ada jawaban. Shin menoleh, mendapati
Mendengar Leon melantur seperti itu, Cade menukas, “Jangan mengada-ngada.”Pasalnya, perkataan Leon sempat membuat Cade hilang fokus sejenak. Cade melirik kanan, kiri, dan belakang melalui spion, memastikan tidak ada apa pun yang mengikuti mereka.“Hei, kamu yang bilang sendiri pada Rose tadi kal
“Aku menyuruhmu membuangnya, tapi kenapa kamu malah memungutnya?!” Rode berteriak marah ketika melihat Cad kembali dengan menyeret Leon dan membantunya naik ke mobil. Cade tidak menjawab, lanjut menaiki mobil dan melajukannya kembali. “Hei! Jangan abaikan aku!” bentak Rose tepat di samping tel
Sedikit miris bagi Rose mendapati dirinya justru membayangkan Cade di saat-saat seperti ini. Dia pun mengumpat dalam hati, menyalahkan perasaannya yang sejenak menjadi lembek karena dihadapkan oleh situasi yang mengerikan.‘Sialan, kenapa aku malah memikirkan dia! Dia juga sama saja mau menjualku.
“Rupanya dia wanita, ya. Hebat kamu, Leon! Dengan begini, kita bisa dapat 500 juga Goldyn!” Ketua Perampok berjenggot tebal yang bernama Milan, merangkul dan mengusap-usap rambut pirang LeonBeberapa jam lalu. Rose tidak bisa berkutik ketika Leon mengangkutnya ke mobil jeep pada perampok. Kakinya







